Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
ks. 71


__ADS_3

Hasutan Ujang


"Yah, kita percayakan aja sama anak lelaki kita. Mana Mungkin dia  berani berbohong sama kita, dari dulu juga kan, kita sudah tahu bahwa Fathan tidak pernah berbohong. Seperti ketika dia mau bertani, sampai sekarang dia masih tetap menjalani janjinya." jawab Sri menenangkan pikirannya sendiri. walaupun Sebenarnya dia juga merasa khawatir, karena Fathan yang sekarang bukan Fathan yang dulu. Memang dia memiliki banyak uang, tapi uang itu bukan uang sendiri, melainkan uang kelompok, sehingga Sri tidak yakin kalau Fathan bisa menggunakannya semena-mena.


"Iya coba kamu mengambil pekerjaan yang ditawarkan oleh bos kamu dulu. kamu bekerja sebagai manajer yang gajinya 100 jutaan, mungkin kita tidak akan kesusahan seperti sekarang." Ujar Farhan yang masih tetap menyalahkan keputusan sang petani muda itu.


"Sudahlah Pak, jangan mengungkit masalah yang sudah berlalu. yang terpenting saya akan menyiapkan uang sesuai yang Bapak butuhkan. ya sudah, sehubung waktu sudah terlalu siang, Fathan mau mengontrol pertanian keranjang sayur dulu," ujar Patan sambil bangkit.


"Tapi beneran kan, kamu mau bantu bapak?:


"Bener lah Pak, Insya Allah. Fathan usahakan," jawab sang petani sebelum masuk ke kamarnya.


Setelah mengganti bajunya, dengan pakaian kerja. Fathan pun keluar dari kamar untuk menuju ke kantor keranjang sayur. diikuti oleh Kirana dan Sarah, sehubung adik yang paling kecilnya itu sedang libur sekolah sehingga dia memutuskan untuk ikut kakaknya bertani. Sambil membuat video bersama Kirana.


****


Sore hari, terlihat di Jalan Besar Kampung sukadarma ada mobil Jeep Rubicon, mobil Jeep yang mahal, namun Ujang bisa membelinya, karena dulu ketika dia membeli, orangnya sedang terlilit hutang. sehingga Ujang mengambil paksa mobil itu, dia hanya menambah beberapa puluh juta saja. Mobil mahal itu sudah pindah tangan kepadanya.


Jeep Rubicon putih itu terus melaju menuju ke arah salah satu sudut Kampung, hingga akhirnya dia berhenti di salah satu rumah yang terlihat besar, setara dengan rumah warga-warga kampung yang berpenghasilan di atas rata-rata. rumah yang  halamannya lumayan luas ditumbuhi dengan bunga-bunga yang sedang bermekaran. terlihat di teras rumah itu ada seorang pria yang sedang meneguk kopi, ditemani dengan sebatang rok0k yang di Hapit oleh kedua jarinya. Dia terlihat kaget setelah melihat ada mobil orang terkaya di kampung sukadarma parkir di depan rumah.


Dengan cepat orang itu pun bangkit dari tempat duduk, menghampiri ke arah mobil. karena melihat Ujang sudah turun dari mobil. "ada apa nih bos, kommain ke sini?" Sapa orang itu sambil mengurung senyum menyambut kedatangan Ujang.


"Ah biasa aja Kang Dadun, bilangnya jangan bos-bosan. kita kan sama, kita warga kampung yang memiliki kedudukan yang sama, dan hak-hak yang sama. jadi Akang tidak boleh berlebihan," ujar Ujang sambil membalas senyuman pria yang bernama Dadun. kemudian dia mengulurkan tangan, tak lupa memeluk tetangganya itu. membuat Dadun sedikit kalang kabut, karena tidak biasa diperlakukan seperti itu.


"Walaupun memiliki hak yang sama dan tanggung jawab yang sama. tapi akang kan lebih berjasa di kampung ini," jawab Dadun membuat hidung Ujang terlihat kembang kempis.


"Ah Akang bisa aja. Oh ya, Sibuk nggak nih?" tanya Ujang yang terlihat tidak mau berbasa-basi.

__ADS_1


"Nggak Kang, Saya lagi santai. Ayo mampir ke gubuk saya."


"Kalau nggak sibuk, mendingan kita jalan-jalan sore yuk. soalnya mobil saya kasihan, Sudah lama tidak dipanaskan." ajak Ujang membuat Dadun mengerutkan dahi


"Sebentar....! sebentar. Ini Sebenarnya ada apa sih Kang? Kok saya agak takut," tanya Dadun yang belum mengerti.


"Pardi....! tolong belikan rokok 234 buat Kang Dadun," seru Ujang sambil mengeluarkan uang lembaran merah, kemudian diserahkan kepada saudara iparnya itu.


"Saya nggak dibeliin Kang?" Tanya Pardi sambil menatap ke arah Ujang.


"Sekalian beli aja," jawab Ujang yang terlihat baik. padahal jangankan membeli rok0k untuk orang lain, membeli rok0k untuk dirinya sendiri saja, Dia pun ogah. Ujang lebih memilih meminta rok0k Pardi yang harganya sangat murah. Tapi kalau di hadapan orang lain dia akan terlihat baik bagai malaikat yang sedang mengepakkan sayapnya.


Setelah menerima pemberian uang dari Ujang, Pardi berjalan menuju warung yang tidak jauh dari rumah Dadun. tak lama dia pun kembali sambil membawa 3 bungkus rok0k. yang dua bungkus diserahkan ke Ujang, setelah rokok yang berada di tangannya, Ujang pun menyerahkan kepada Dadun.


"Ini Sebenarnya ada apa sih Kang?" tanya Dadun yang belum mendapat jawaban.


Setelah berada di dalam, Ujang pun mulai menyalakan mesin mobil itu, sehingga terdengar auman yang begitu khas keluar dari tunggangannya. membuat Siapa saja orang yang mendengar akan tertarik dengan suaranya yang begitu mempesona. setelah mobil menyala, dengan perlahan Ujang pun mulai menginjak gas, melepaskan kopling. hingga akhirnya mobil Jeep Rubicon itu maju dengan perlahan, meninggalkan Rumah Dadun.


"Enak nggak Kang Dadun, naik mobil mahal seperti ini?" tanya Ujang memecah heningnya suasana.


"Mantap ya Kang. saya kira naik mobil seperti ini, akan tidak enak. seperti naik mobil mobil pick up yang suka digunakan oleh si Asep."


"Hahaha, ini mobil mahal Kang, saya juga kalau tidak terpaksa, saya tidak akan punya mobil semahal ini."


"Terpaksa bagaimana?"


"Dulu ada orang yang meminjam uang sama saya, namun dia tidak memiliki uang untuk membayarnya. Sehingga dia mau menjual mobilnya, untuk membayar hutang-hutangnya. Namun sayang mobilnya tidak laku, karena mobil mahal Siapa yang mau. apalagi kegunaannya Kalau di kampung tidak jelas. kalau mobil di kampung itu harus bisa membawa barang, bukan untuk berjalan-jalan seperti ini. akhirnya dia memutuskan membayar hutangnya dengan mobil ini, namun saya harus menambah 70 juta. Tapi walau harus menambah uang,  itu termasuk harga murah. Karena kalau beli harga aslinya harus 1,8 miliar.

__ADS_1


"Mahal juga ya Kang! kirain mobil seperti ini murah Kang."


"Sebenarnya Murah lah Dun, kalau punya uangnya. dan kamu juga sebenarnya bisa memiliki mobil seperti ini."


"Nggak mungkin Kang, penghasilan saya aja cuma 3 juta. Mana mungkin saya bisa punya uang sampai ratus-ratus juta seperti itu."


"Kamu tuh bodoh Dun...! pantesan aja kamu tidak maju."


"Ya Kang, saya bodoh. makanya kehidupan saya tidak maju-maju." Jawab Dadun yang terlihat tidak tersinggung.


"Sebenarnya Kalau kamu pintar sedikit, kamu akan mudah memiliki mobil Jeep Rubicon seperti saya. yang terpenting kamu mau menjalankannya.


"Menjalankan apa kang?"


"Kamu tuh sebenarnya tidak bodoh, tapi dibodohi oleh si Fatan."


"Dibodohi bagaimana?" tanya Dadun yang semakin tidak mengerti.


"kamu hanya dibayar 3 juta perbulan, sedangkan tanahmu yang dikelola oleh pertanian mata keranjang, lebih dari itu. bahkan mungkin berpuluh-puluh kali lipat, kamu pernah tahu Berapa hasil panen dari tanah yang kamu serahkan kepengurusannya?"


"Tahu Kang, Lumayan hasilnya sangat bagus, karena pengolahannya yang tepat."


"Bayangin saja. sekali panen kamu mendapat penghasilan 25 juta, paling kecil 10 juta. itu kalau harga tanamannya lagi biasa, tapi kalau sedang luar biasa, pertanian akan menghasilkan lebih dari itu. contoh ketika cabe lagi mahal, banyak kan orang-orang yang kaya mendadak, hanya dari beberapa kilo cabe. sedangkan pertanian terus panen, apalagi kalau tanaman-tanaman yang lama. seperti pepaya, kamu cukup Modal sekali, tapi keuntungan terus akan mengalir."


"Maksudnya bagaimana Kang, saya orang bodoh. jangan terlalu berbelit ketika berbicara."


"Bayangkan.....! kalau kebun kamu yang ditanami pohon pepaya itu, sekali panen menghasilkan paling minim 1 ton, kali paling murah Rp5.000. kamu sudah mendapat 5 juta. sedangkan panen pohon pepaya, paling telat 2 minggu sekali, ada yang seminggu sekali. bayangin saja hasil yang kamu dapat, ketika tanah yang kamu miliki dikelola sendiri, kamu mendapat penghasilan 20 juta, Jauh betul daripada 3 juta."

__ADS_1


Mendengar penjelasan Ujang yang panjang lebar, membuat Dadun terdiam seketika, seolah Sedang berpikir mencerna Apa yang dibicarakan oleh Ujang. Setelah lama berpikir Dadun  pun mulai Mengerti, mulai Paham dengan apa yang disampaikan oleh Ujang.  Membenarkan dengan apa yang dikatakan lintah darat itu, bahwa dia telah dibodohi oleh Fathan. dia bertani, dia yang mengurus, tapi hasilnya diberikan sama pertanian, di bagi rata sama orang-orang yang memiliki tanah yang sedikit.


__ADS_2