
"Amin...! semoga aja kamu selalu dilindungi oleh Allah subhanahu wa ta'ala," ujar Darmi setelah melaporkan semua yang ia ketahui tentang suaminya.
Seusai mengobrol sebentar dengan Fathan, Darmi pun berpamitan untuk kembali ke rumahnya. takut Ujang Curiga dengan apa yang sedang ia lakukan, karena dia hanya meminta izin untuk ke warung.
Setelah Darmi pergi, Kirana pun masuk kemudian dia duduk di kursi yang tadi Darmi tinggalkan. "Ada apa?" tanya Kirana sambil menatap penuh rasa penasaran terhadap kekasihnya.
"Nggak ada apa-apa. Oh iya, Besok saya mau ke kota. diundang menjadi pembicara di salah satu seminar tentang pertanian."
"Boleh ikut?" tanya Kirana penuh harap.
"Bukan nggak boleh, tapi kita harus berbagi tugas. kamu bantu mengurus pertanian kasihan kalau kita tinggalkan semuanya, nanti mereka kebingungan. lagian sorenya kan kita mau ke kampung situmekar untuk menjemput Bapak. lalu lusanya kita akan pergi ke Jakarta untuk melamar mu." ujar Fathan sambil mencubit hidung Kirana membuat wajah Gadis itu memerah seperti tomat.
"Nggak bohong kan?"
"Enggak, aku kan pagi-pagi berangkat, acara seminarnya jam 09.00 sampai dzuhur, nanti setelah Dhuhur pulang ke sini lalu kita berangkat ke kampung situmekar, Kita menginap dulu di sana semalam, besok paginya kita langsung berangkat ke Jakarta bersama keluargaku.
"Ya sudah kalau seperti itu."
Akhirnya ruang kerja sang petani itu terdengar begitu riang, karena selain obrolan obrolan yang membahagiakan. terdengar pula suara tertawa yang begitu renyah mungkin mereka menganggap bahwa dunia saat ini adalah milik mereka berdua sehingga beberapa orang ada di dalam kantor mereka saling berbisik, namun meski gitu mereka tetap bahagia karena semua perjuangan yang atasannya lakukan. baik Kirana maupun Fathan sekarang sudah menjadi kenyataan. mereka berdua sangat sukses, Fathan sukses di bidang pertanian, sedangkan Kirana sukses mendapatkan cinta yang sudah lama ia kejar.
Keesokan paginya, sesuai dengan apa yang direncanakan. Fathan sudah berangkat menuju ke Kota Sukabumi untuk menghadiri acara undangan dari dinas pertanian untuk memberikan penyuluhan dan motivasi-motivasi bagi para petani yang berada di kota dan di Kabupaten Sukabumi, untuk terus menggeluti pertanian. karena orang-orang yang biasa bekerja di kantor kehidupan mereka sangat bergantung dengan adanya para petani, mungkin kalau seluruh petani Indonesia berhenti maka para pekerja kantoran tidak akan makan.
Kira-kira pukul 12.00, sesuai dengan apa yang direncanakan Fathan yang membawa mobil Kirana. dia pun pulang menuju ke kampung sukadarma untuk menjemput Kirana, dan berencana pergi menemui orang tuanya yang sudah lama meninggalkan rumah.
Matahari siang itu terasa sangat terik, kendaraan yang berulang memenuhi seluruh area penjuru jalan yang berada di Kota Sukabumi. mobil yang dikendarai oleh Fathan terus melaju menuju ke arah selatan Kota Sukabumi, sehingga akhirnya mobil itu melewati terminal Jubleg .
Fathan yang bepergian seorang diri, karena semua anggota kerajaan sayur yang disibukkan dengan berbagai macam orderan yang datang untuk melengkapi kebutuhan sehari-hari para pelanggannya. dia terus mengendarai mobil hingga akhirnya tiba di jalan yang jauh ke mana-mana, karena jalan yang dilewati adalah Jalan Kampung sehingga masih banyak tanah-tanah yang masih terbengkalai Tidak terurus hanya ditumbuhi rumputan Ilalang dan tebu rimbarau, sama seperti Kampung sukadarma beberapa tahun yang lalu.
__ADS_1
Mobil Fathan terhenti sesaat setelah melihat ada beberapa orang yang mencegat mobilnya, membuat sang petani itu mengerutkan dahi tidak mengerti dengan apa yang terjadi. karena di jalan itu dari dulu sampai sekarang tidak ada pembegalan.
"Turun...! turun! turun!' bentak salah seorang dengan wajah yang paling sangar, sedangkan keempat orang yang lainnya tidak jauh berbeda.
"Ada apa ini Kang?" tanya Fathan yang pembukaan kaca pintu mobil.
"Buruan turun....!"
Dengan gagah dan berani, Fathan pun membuka pintu mobilnya. karena dia beranggapan Kenapa harus takut kalau tidak bersalah namun setelah sang petani itu keluar tanpa berbasa-basi salah satu dari mereka melayangkan satu pukulan menuju ke arah wajah Fathan.
"Kurang ajar....!" jawab sambil menangkis serangan lawan. namun tak sampai di situ tangan lain pun datang menuju ke arah perut, sehingga Fathan mengecilkan perutnya akhirnya serangan itu hanya memakan angin.
Melihat kondisi yang tidak memungkinkan Fathan pun mencari tempat yang agak luas, karena di situ terhalang oleh mobil. dengan waspada dia memperhatikan keseluruhan orang yang hendak menganiayanya, namun dia sama sekali tidak mengetahui Siapa orang itu.
"Kalian Siapa, mau apa?" tanya Fathan yang membagi tatap ke arah lawannya.
"Jangan banyak bacot....! kamu harus mampus Hari ini. makan nih setan....!" jawab salah seorang yang tadi menyerunya untuk turun. dengan cepat dia pun menyerang Fathan dengan Mengayunkan satu tinjuan menuju ke arah wajah namun Fathan yang dulunya adalah atlet beladiri ketika kuliah di kampus. Dia tidak gentar, dengan Sigap dia menangkis serangan itu kemudian memasukkan satu pukulan ke arah perut lawan.
Serangan Fathan tepat mengenai sasaran, sehingga orang yang menyerangnya pun jatuh ke tanah dengan memegangi perut yang terasa mual seperti hendak mengeluarkan semua isinya.
"Serang....!" ujar salah seorang sambil berlari menerjang ke arah Fathan diikuti oleh 3 orang yang lainnya. sedangkan orang yang tadi diserang dia pun sudah bangkit kembali lalu membantu rekan-rekannya mengeroyok Fathan.
Melihat kondisi yang tidak memungkinkan, walaupun sehebat apapun dia dalam bertarung, namun ketika diserang bersamaan seperti itu pasti akan kewalahan. meski tidak mudah dilumpuhkan, tapi satu lawan lima itu sudah tidak memungkinkan sehingga Fathan pun ketika ada satu kesempatan Dia menendang orang yang paling lemah, sampai orang itu terjatuh kemudian dia pun berlari menyusuri Jalan menyelamatkan diri.
Orang-orang yang hendak menghajarnya Mereka pun tidak tinggal diam, setelah membantu kawannya yang terjatuh bangkit Mereka pun bergegas mengejar Fathan. hingga akhirnya acara kejar-kejaran pun tak terelakkan, orang-orang yang melintasi daerah itu mereka hanya menonton atau hanya mempercepat laju kendaraannya. mungkin mereka tidak mau terbawa dalam masalah atau, rasa simpatinya sudah hilang sehingga melihat orang yang diserang hati mereka pun tidak tergeming.
Dari arah depan Fathan terdengar ada suara motor butut yang melaju mendekat ke arah sang petani yang sedang berlari menyelamatkan diri. semakin lama motor itu pun semakin mendekati, hingga akhirnya Fathan pun melihat bahwa orang yang berada di atas motor adalah Farhan bapaknya.
__ADS_1
"Bapak...!" gumam Fathan sambil terus berlari mendekat ke arah motor.
"Kenapa kamu lari?" tanya Farhan yang memarkirkan motor, Bukannya dia membawa kabur atau menyelamatkan anaknya, tapi dia malah terdiam berdiri menatap ke arah lima orang yang mengejar anaknya.
"Nggak apa-apa Pak, olahraga saja...!" Jawab Fathan.
"Kamu takut dengan berandalan cunguk seperti itu?"
"Bukan takut Pak...! tapi saya realistis, karena ini bukan film India yang satu orang bisa melawan satu kampung," jawab Fathan yang sudah menatap kembali ke arah 5 lawannya.
"Kamu berani melawan 3 orang?" tanya Farhan setelah memindai ke orang-orang yang berdiri di hadapan mereka.
"Berani Pak?"
"Kalau berani kamu lawan 3, Bapak lawan yang dua." saran Farhan sambil mengencangkan ikat celananya, kemudian dia membuka baju terlihatlah badan yang besar memamerkan otot-otot di lengannya.
"Nggak apa-apa Pak?" tanya Fathan ragu-ragu.
"Musuh Jangan dicari, kalau ada musuh Jangan lari."
Akhirnya mereka pun bersiap-siap untuk melanjutkan pertarungan 2 lawan 5. tanpa diberi aba-aba pertarungan yang tidak sepadan itu dimulai. dengan cekatan kedua orang anak dan bapak Terus menghindari serangan-serangan musuh, sesekali melancarkan serangan balasan. namun meski seperti itu postur tubuh lawannya yang berbeda jauh, ditambah mungkin mereka sangat sering melakukan pertempuran seperti sekarang, Sehingga kedua orang itu mulai kewalahan.
"Bagaimana nih pak?" tanya Fathan di sela-sela pertarungannya.
"Gempur terus...!' jawab Farhan yang sedikit lengah sehingga satu pukulan mengenai wajahnya.
"Kurang ajar Kalau berani jangan curang...!" bentak Farhan sambil membalas pukulan orang yang memukulnya, orang yang dipukul bukan benda mati dengan cepat dia pun menghindar.
__ADS_1
"Banyak bacot...! kalau bertempur itu terserah bagaimana yang terpenting musuh kita terkapar. kalian anak dan bapak nanti akan aku kuburkan di satu lubang yang sama."
"Sombong...!' jawab Farhan sambil meludah.