Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
ks 30


__ADS_3

BERTANI


Tring! tring! tring!


Ketika Kirana masuk ke mobil terdengar handphonenya yang di dasbor menyala, menandakan ada yang menelpon. dengan cepat melihat Siapa yang menelepon, namun setelah tahu Siapa yang menghubunginya. dia acuh tak menghiraukan. dia terus terfokus menuju ke arah depan. Hendak menjalankan kembali mobilnya.


Tring!


Handphonenya kembali berbunyi, menandakan ada satu pesan yang masuk. dengan malas Kirana pun membukanya.


"Kamu ngapain ke Sukabumi? pakai kabur dari rumah segala lagi!" isi pesan yang dikirim oleh Winda, membuat Kirana mengerutkan dahi, karena dia tidak memberitahu siapapun tentang keberangkatan ke Sukabumi. Merasa pelariannya udah ketahuan, Kirana pun memecat tombol Panggil."


"Jangan kira kami nggak tahu, kamu sekarang ada di Sukabumi. semua benda yang kamu miliki, kami sudah kontrol dengan GPS!" Ujar Winda di ujung telepon.


"Emang kenapa? ibu mau blokir semua nomor rekeningku? silahkan aku nggak takut!" Tantang Kirana yang sering membaca novel, sehingga dia sudah menyiapkan sedemikian rupa tentang pelariannya.


"Iya kamu nggak takut! karena kamu sudah mengambil uang itu, kamu mau ngapain, menemui pria yang sama sekali tidak menyukaimu?"


"Dia sangat menyukaiku Bu! namun gara-gara ibu dan bapak yang memaksanya untuk meneruskan perusahaan keluarga. akhirnya dia lebih memilih mundur."


"Udahlah mending kamu pulang! Terus menjalin hubungan sama David, dia sama seperti kita, yang memiliki tujuan hidup yang sama." Seru Winda.


"Ibu aja yang sama David! aku kan sama Fathan."


Tap! tap! tap!


Telepon itu diputus, membuat Winda meremas kuat handphone yang digenggamnya.


"Bagaimana?" tanya Wira.


"Susah pak! Apa perlu kita susul ke Sukabumi."


"Biarkan saja Bu! nanti anak manja itu kalau uangnya sudah habis, pasti dia merengek-rengek ke kita. dan akhirnya dia pun menyerah pulang kembali ke rumah."


"Emang bapak nggak khawatir? dia berada di kampung orang."


"Saya yakin Fathan orangnya sangat baik, dia nggak mungkin tega melukai anak kita!" jawab Wira menyembunyikan kekhawatirannya.


Setelah telepon itu diputus, Kirana mulai melanjutkan perjalanannya sampai dia berhenti di salah satu rumah yang di depannya terlihat banyak mesin pertanian, sesuai yang diberitahu oleh ibu-ibu yang sedang menyapu tadi. dengan cepat dia turun dari mobil, lalu menghampiri rumah bibinya Fathan.


"Selamat pagi Apa benar ini rumah bibinya Fathan?"


Ditanya seperti itu Sari hanya mengerutkan dahi, karena dia baru pertama melihat wanita secantik Kirana.


"Haaaay! Pagi!" ujar Kirana mengulang perkataannya.


"Selamat pagi juga Non! mau cari siapa?" tanya Sari yang terlihat tergagap.


"Apa benar ini rumah bibinya Fathan?" seolah tak bosan Kirana kembali mengulang pertanyaannya.


"Benar, Mau ada keperluan apa?"


"Saya temannya dari Jakarta, Saya ingin bertemu keponakannya."


"Oh, seperti itu. tapi Fathannya lagi berada di sawah, mungkin dzuhur dia baru pulang."


"Sawahnya di mana ya, Bi?"


"Farah! Faraaaaah!" Teriak Sari memanggil seseorang, dengan cepat orang yang dipanggil pun menghampiri.

__ADS_1


"Tolong antarkan wanita cantik ini bertemu dengan kakakmu!"


"Hai, kamu adiknya Fathan ya?" sapa Kirana sambil mengulum senyum.


"Kok kakak tahu?"


"Tahulah! Fathan sering cerita tentang kamu."


"Masa sih! Oh iya Kakak mau diantar ketemu Kak Fathan?"


"Mau! mau!" jawab Kirana sambil menganggukkan kepala.


"Ya Sudah Ayo ikut!" seru Farah sambil memakai sandal, kemudian dia berjalan menuju jalan besar.


"Mau pakai mobil?" tanya Kirana


"Nggak usah kak! lagian jalannya jelek, enakan jalan kaki!"


"Emang gak jauh?"


"Enggak, kak!" jawab Farah membuat Kirana sedikit meringis, karena jarak dibilang nggak jauh di kampung, bisa sampai 10 km.


Akhirnya dua Gadis itu berjalan, menyusuri jalan besar menuju area pesawahan. Dengan terus berbincang dan berkenalan. meski baru datang ke kampung sukadarma, Kirana mendapat penyambutan yang begitu baik. berbeda ketika di kota, dia tidak pernah menyapa orang-orang yang dari luar kota.


15 menit berjalan, akhirnya mereka sampai ke tempat yang dituju. terlihat Fathan ditemani beberapa petani sedang melakukan diskusi.


"Jadi setelah kita panen, biarkan tanah itu bernapas terlebih dahulu. sambil kita meregenerasi tanah dengan pupuk dasar." Fathan memberikan pengertian kepada para anggota.


"Bukannya pupuk itu, nanti setelah tumbuh, Tan?" tanya seorang anggota.


"Iya kalau pupuk seperti urea, itu nanti setelah tumbuh. karena pupuk urea sifatnya, seperti gas yang cepat menguap. berbeda dengan TSP dan NPK, yang tahan lumayan lama, sehingga bisa dicampur dengan pupuk dasar." jawab Fathan.


"Kak Fathan! Kak!" terdengar suara adiknya yang memanggil, dengan cepat Fathan pun membalikan pandangan ke arah datangnya suara, terlihat Farah yang sedang diikuti oleh seorang wanita yang membuatnya mengerutkan dahi.


"Ada orang yang mencari Kakak?" Ujar Farah menjelaskan.


"Ada apa Bu, kok Ibu bisa sampai ke sini?" tanya Fathan tak menghiraukan perkataan adiknya.


"Enggak, Saya datang ke sini, mau belajar bertani. bukannya pak Fathan mengajak semua orang untuk bertani?" Jawab Kirana menyembunyikan perasaan yang begitu bergejolak.


"Ya sudah! ngobrolnya jangan di sini, Ayo kita ke Saung biar nggak kepanasan!" ajak Fathan mempersilahkan.


Akhirnya mereka bertiga, berjalan menuju salah satu Saung yang ada di pinggir sawah. terlihat di halaman Saung itu, ada Asep dan Kamal yang sedang menimbang pupuk.


"Siapa tuh Kang!" ledek Asep sambil mengedipkan sebelah mata.


"Kamu jangan ikut campur! kamu itu di sini kerja." Dengus Kamal sambil tersenyum.


Yang diledeknya hanya menunjukkan muka datar, dia terus masuk ke dalam Saung, diikuti oleh kedua wanita yang mengekor di belakangnya.


Setelah berada di dalam Saung, Farah pun membuka tikar yang terbuat dari daun pandan, sebagai alas tempat duduk mereka. kemudian dia mengambilkan air minum lalu dihidangkan di atasnya.


"Kak Fathan! Farah masih banyak pekerjaan, boleh nggak farah pulang aja?" Pinta adiknya, karena merasa dia sudah selesai menyelesaikan tugasnya.


"Boleh, Terima kasih ya!" jawab Fathan sambil tersenyum.


Setelah meminta izin kepada Fathan dan Kirana. Farah pun keluar dari Saung, kembali lagi ke rumah bibinya.


"Kenapa Ibu sampai datang ke sini?" tanya Fathan mengawali pembicaraan, memecah Canggung yang melanda kedua Insan itu.

__ADS_1


"Nggak apa-apa! saya hanya cuma mau belajar bertani." Jawab Kirana Kukuh dengan jawabannya.


"Nanti kulit ibu gosong, kalau ikut bertani!"


"Nggak apa-apa!" jawab Kirana singkat, tampa berani mengangkat pandangan. dari jauh dia sangat ingin bertemu dengan Fathan, namun setelah berdekatan hatinya menjadi ciut. rasa malu dan rasa-rasa yang tidak bisa diungkapkan memenuhi dirinya.


"Apa Pak Wira sama ibu Winda tahu, Ibu Kirana ke sini?"


"Tahu! tahu!'


"Nggak bohong?"


"Nggak pandai! Aku gak kayak kamu, yang sering membohongiku!"


"Bohong apa?"


"Katanya mau nelpon, katanya mau terus ngasih kabar, katanya nggak akan melupakan aku. Katanya, katanya, katanya. tapi nyatanya nggak ada buktinya. Kalau aku nggak datang ke sini, mungkin kamu sudah menikah dengan wanita yang bernama Zahra."


"Maksudnya?"


"Kamu mau menikah dengan wanita yang bernama Zahra, yang kata kamu anak pak ustad, yang jadi sekretaris."


"Hahaha!"


"Jangan ketawa! ini tidak lucu Fathan!"


"Ibu ada-ada aja! Oh iya, bener Ibu mau bertani?" Tanya Fathan.


"Benar, emang aku kelihatan sedang berbohong apa?"


"Ya sudah, habiskan minumnya! nanti kita pergi ke sawah."


"Mau apa?"


"Katanya mau belajar bertani!' jawab Fathan.


"Yah, siap!"


Setelah menghabiskan minum yang disuguhkan, Fathan mengajak Kirana untuk kembali pergi ke sawah. terlihat beberapa orang yang masih berkumpul termasuk Asep dan Kamal.


"Kenalkan! ini namanya Ibu Kirana. anak pemilik perusahaan properti di Jakarta. beliau datang ke sini, ingin belajar bertani, Mungkin beliau sudah bosan dengan teori ngaduk mengaduk!" jelas Fathan memperkenalkan wanita yang ada di sampingnya.


Para anggota kelompok pun tersenyum, menyambut kehadiran Kirana, sekaligus memperkenalkan dirinya masing-masing.


"Asep! Tolong kamu contohin Bagaimana cara mencangkul yang baik dan benar, karena Ibu direktur kita ini sudah tidak sabar, untuk mulai belajar." Pinta Fathan sama Asep.


Asep pun mengangguk, kemudian dia mencontohkan tentang cara menyangkul, setelah beberapa saat dia pun berhenti, sambil menatap ke arah atasannya.


"Bagaimana Bu Kirana, sudah paham?" tanya Fathan sambil menatap ke arah Kirana.


"Paham kok! paham! gampang!" jawab Kirana sambil hendak turun ke sawah, namun dia tidak memakai perhitungan. sehingga galengan yang ia pijak ambrol, dan tak Ayal lagi tubuhnya terpeleset terjatuh ke belakang. beruntung dengan Sigap Fathan menahan tubuh yang hendak jatuh itu, sehingga membuat mata mereka beradu pandang.


"Kiwik! kiwik! "siul Asep, membuat kedua orang berbeda jenis itu, menjadi salah tingkah. dengan cepat mereka melepaskan pelukannya.


"Kalau turun ke sawah itu, Lepas dulu sepatunya! jadinya seperti ini, Ibu kepeleset!" ujar Fathan menyembunyikan rasa malu, membuat Kirana tersenyum bahagia melihat momen itu.


"Kenapa senyum-senyum, kayak kambing yang mau nikah. lepaskan sepatunya!" Pinta Fathan, yang sama. dia juga menyembunyikan kebahagiaan itu.


Kirana pun mengangguk, lalu membuka sepatu yang ia pakai. kemudian dengan perlahan dia mulai mengambil Cangkul yang dipegang oleh Asep.

__ADS_1


"Awas hati-hati Sep! Jangan deket-deket, nanti kamu ke cangkul lagi!" ujar Fathan mengingatkan, membuat Asep mundur menjauh dari Kirana.


Setelah dirasa aman, Kirana pun mulai mencangkul lumpur sawah. kemudian melemparkan cangkulannya itu ke arah belakang. Asep yang sedang berdiri di belakangnya, dia tak sempat menghindar sehingga lumpur yang dicangkul oleh Kirana, memenuhi wajah Asep, membuat warga yang menonton tertawa.


__ADS_2