Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS 44


__ADS_3

Dendam Lama


Dari arah atas langit pun sudah menghitam, lampu-lampu di sekitar area parkir mulai menyala, menandakan waktu siang sebentar lagi akan tertutup, digantikan waktu malam. terlihat dari pintu rumah sakit ada seorang laki-laki, yang sedang bergegas berjalan, pria itu memakai baju yang kotor bercampur tanah. karena semenjak pertarungannya melawan warga Kampung sukaramah, Fathan belum sempat pulang ke rumah, belum sempat mengganti baju. Lagian Fathan tidak terlalu memperhatikan stylenya, dia lebih mementingkan keselamatan pamannya yang bernama Kamal.


Sang petani itu terus berjalan menuju ke arah parkir, mencari orang yang menyusulnya ke rumah sakit. tak lama mencari, karena area parkir di rumah sakit Sukabumi kota terbagi dua, satu dari bawah satu dari arah atas. biasanya parkir para pengunjung rumah sakit akan berada di bawah, diparkiran atas hanya mobil-mobil dokter atau pegawai rumah sakit. Makanya ketika Fathan mencari keberadaan orang dengan cepat dia sudah menemukan. Dia  melihat ada 4 perempuan yang sedang berdiri di samping mobil, dari 4 perempuan itu ada satu wanita yang terus menangis, meski beberapa kali sudah ditenangkan.


"Kak Fathaaaaaan!" Panggil Sarah sambil Melambaikan tangan, memberi tahu keberadaan orang yang sedang kakaknya cari.


Melihat adiknya Melambaikan tangan, Dengan cepat Fathan pun menghampiri ke arah mobil SUV berwarna putih.


"Bagaimana Kang Kamal Tan? Bagaimana keadaannya?" tanya Sari setelah melihat Fathan berdiri di hadapannya, suaranya Terdengar sangat parau, karena dari rumah sampai ke rumah sakit dia tak henti-hentinya menangis.


"Mang Kamal sudah di tolong Bi. jadi Bibi nggak usah khawatir, sekarang doakan saja agar Mang Kamal cepat sembuh seperti sedia kala."


Mendengar jawaban keponakannya, Sari Pun yang awalnya hanya menangis senggukkan, sekarang dia menangis dengan kencang, menangisi keadaan suaminya yang belum Ia ketahui.


"Sudah jangan menangis! Mang Kamal Nggak apa-apa kok Bi. Ayo kita lihat keadaannya!" ajak Fathan membesarkan hati bibinya, kemudian sang petani itu mengambil tas yang tadi sudah dikeluarkan oleh Kirana, tas yang berisi keperluan keperluan Kamal dan keluarga itu ketika menunggu pasien.


Dengan digandeng oleh Sri dan Kirana. Sari Pun berjalan menuju ke ruang inap di mana suaminya terbaring lemah di sana. setelah sampai tangisannya pun pecah kembali, memenuhi ruangan kamar, membuat para pasien lain sedikit agak mendengus kesal, mungkin merasa terganggu oleh kebisingan itu. Bagaimana tidak menangis ketika seorang istri melihat keadaan suami yang terbujur lemah di atas ranjang pasien, dengan berbagai infusan yang menusuk ke tubuhnya. Apalagi Kamal yang sejak dari tadi hanya memejamkan mata, menambah kekhawatiran Sari sebagai istrinya.


Melihat kejadian yang sangat mengkhawatirkan, Kirana pun menarik tangan Fathan, agar keluar dari ruangan.


"Kamu benar-benar tega Tan!" ujar Kirana sambil mendengus kesal.


"Tega apanya Bu?" tanya Fathan sambil mengerutkan dahi.


"Masa pamanmu ditaruh di ruang kelas 3, kenapa kamu nggak rawat Mang Kamal di ruang kelas VIP atau minimal kelas satu. Di Mana Hatimu Tan? di mana? Cukup aku saja yang kekurangan perhatian kamu, jangan keluargamu. Terus kalau ruang seperti ini, nanti gimana kita tidurnya. tidur ibumu, tidur adikmu, tidur bibimu?" cerocos Kirana menyalahkan Fathan, sekaligus menyampaikan kekesalan yang ada di dalam hatinya.


"Belum sempat dipindahkan Bu!" Jawab Fathan sambil menundukkan kepala, dia dimarahi seperti itu tidak balik marah, karena memang pada dasarnya dia selalu menerima pendapat orang lain.


"Belum sempat, Apa kamu nggak ngerti? ayo kita urus administrasinya, kita pindahkan ruangan Mang Kamal agar lebih privasi. Agar tidak mengganggu pasien lain." saran Kirana sambil menarik tangan Fathan menuju ke ruang administrasi Untuk memindahkan Kamal ke ruang yang lebih luas, agar bisa menampung semua keluarganya, dan tidak mengganggu pasien-pasien lain. Karena walau sudah diperingatkan namun ketika banyak orang seperti itu akan susah mengontrolnya. Biasanya obrolan yang awalnya biasa namun lama-kelamaan akan menimbulkan kebisingan juga.


"Tapi Bu!"


"Nggak ada tapi-tapian! kamu takut aku nggak bisa membayar, atau kamu takut uangmu terpakai untuk menolong pamanmu?"


"Nggak bu! saya benar-bener panik melihat kondisi Mang Kamal, sehingga saya tidak berpikir seperti ibu."


Sesampainya di ruang administrasi, Mereka pun menyelesaikan administrasinya, dan meminta Kamal untuk dipindahkan ke ruang VIP, agar keluarga Fathan bisa beristirahat dengan nyaman.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan administrasi Kamal, Mereka pun kembali ke ruang rawat. tak lama para perawat pun datang untuk memindahkan Kamal ke ruang VIP, semua pembayaran telah Fathan selesaikan dengan menggunakan BPJS ditambah uang pribadinya untuk melengkapi kekurangan.


Setelah Kamal dipindahkan ke ruang VIP, Fathan pun menyempatkan diri untuk membersihkan badan terlebih dahulu, karena rasanya sangat lengket, apalagi tadi ketika dia bertarung Ia beberapa kali jatuh ke tanah.


Setelah selesai mandi, dia mengganti baju dengan baju yang dibawa oleh Kirana, yang sudah disiapkan oleh ibunya.


"Makan dulu Tan!" tawar Sri setelah melihat anaknya keluar dari kamar mandi.


"Iya kalian makan dulu!" tambah Sari, Sekarang dia sudah terlihat agak tenang, karena dia sudah melihat kondisi suaminya yang sudah ditolong. Meski belum bisa membuka mata namun ketika Kamal di ajak mengobrol Dia sudah memberikan respon.


"Iya kita makan bareng aja ya!" jawab Fathan sambil menyimpan handuk.


"Jangan disimpan di situ! Itu kan handuk basah, masa kamu nggak ngerti?" seloroh Kirana yang melihat Fathan hendak memasukkan handuk basah itu ke dalam kantong.


"Terus?"


"Sini!" pinta Kirana sambil mengambil handuk yang ada di tangan Fathan. kemudian dia pergi keluar untuk mengeringkan handuk di rak jemuran. karena biasanya kalau ruang VIP sudah dilengkapi rak jemuran seperti itu.


Setelah menjemur pakaian Kirana pun masuk kembali ke dalam, dan gadis kota itu membantu Sri dan Sarah Menyiapkan makan malam. Makanan yang seadanya, makan nasi yang tadi dibawa oleh Sri dari rumah. Setelah semuanya siap, mereka semua makan bersama dengan lauk seadanya. karena tadi ketika Kirana menawarkan untuk membeli lauk makan di jalan, namun Sari menolak karena dia ingin cepat sampai ke rumah sakit, untuk melihat keadaan suaminya. Sari yang sejak dari tadi menangis, dengan paksaan Idan dia pun mau memasukkan beberapa suap nasi ke mulutnya, agar dia memiliki tenaga kembali untuk meratapi kesedihannya.


walau makan dengan lauk seadanya, namun dengan kebersamaan keluarga, makanan itu terasa nikmat. Hingga akhirnya nasi yang dibawa tadi pun habis tak tersisa. membuat Kirana menitikkan air mata.


"Dulu aku sering menghabiskan uang banyak, agar selera makanku bertambah. namun aku tidak menemukan kenikmatan itu, baru sekarang aku menemukan makanan ternikmat dalam hidupku. hanya dengan lauk seadanya, hanya dengan ikan asin, sambal dan lalap." ujar Kirana sambil menundukkan pandangan.


"Kenikmatan itu adalah milik Allah! nikmat makan adalah nikmat yang umum diberikan. karena kalau diberikan hanya buat orang yang memiliki kekayaan maka orang miskin seperti kita akan merasa iri, karena tidak merasakan nikmat itu. tapi Allah sangat Adil! Allah memberikan rasa nikmat pada makanan kepada seluruh makhlukNya. baik yang miskin, ataupun yang kaya. mereka sama-sama bisa menikmati makanan yang masuk ke mulutnya, walaupun yang dimasukkan itu berbeda jenis."


"Contohnya Bu!"


"Contohnya kalau orang kaya ingin makan nikmat itu harus pergi ke restoran mahal, sedangkan orang miskin mereka makan nasi dengan lauk seadanya saja sudah nikmat. Karena orang miskin bisa bertemu dengan nasi saja itu sudah sangat bersyukur. Itulah kunci nikmatnya sebuah makanan."


"Berarti makanan bisa nikmat, kalau kita memakannya dengan penuh rasa syukur."


"Benar seperti itu. rasa syukurlah yang akan membuat kita tenang ketika menjalani kehidupan," ujar Sri memberikan pengertian meski dirinya sendiri pun belum bisa menjalankan ilmunya.


"Terima kasih atas pengertiannya Bu!" ujar Kirana sambil menyeka matanya dengan tisu.


"Sudah jangan nangis! kirain Ibu tadi kamu ingat sama orang tuamu, karena hampir beberapa bulan kamu belum pernah pulang ke Jakarta."


"Nggak Bu! nanti Kirana pulang kalau ditemani oleh anak ibu."

__ADS_1


"Kapan?"


"Katanya sehabis panen padi sekarang."


"Syukurlah! semakin Cepat kalian menikah semakin baik Biar nggak ada fitnah."


"Emang ibu setuju?" tanya Kirana untuk kesekian kalinya.


"Setuju!" jawab Sri sambil mengulum senyum, Kemudian dia pun merapikan bekas makan mereka. Dibantu oleh calon mantu dan anaknya.


Kamal yang terbaring di ranjang pasien, sekarang sudah mulai bisa diajak berbicara sedikit-sedikit, Walau keadaannya masih sangat mengkhawatirkan. Namun melihat perkembangan seperti itu membuat Fathan sedikit agak lega. Dia terus meminta pamannya itu jangan banyak berbicara terlebih dahulu, dan meminta Kamal agar banyak beristirahat, supaya luka yang diderita cepat sembuh.


"Dan! ayo kita ngobrol di luar, sambil ngopi." ajak Fathan, karena dia ingin segera menyelesaikan masalah yang dialami warga kampung sukadarma.


"Mau ke mana?" tanya Kirana yang mendengar.


"Cari kopi! biarkan Mang Kamal beristirahat. Lagian ada bibi sama ibu yang menjaga."


"Ikut dong! Boleh nggak?"


"Boleh, ayo!"


Akhirnya ketiga remaja itu meninggalkan ruangan inap, setelah meminta izin terlebih dahulu sama orang tua masing-masing. mereka terus berjalan menuju parkiran, lalu keluar gerbang rumah sakit. terlihat ada beberapa kedai yang masih buka, karena Rumah Sakit Kota Sukabumi, dikelilingi kafe-kafe dan restoran untuk tempat nongkrong. karena rumah sakit itu berada di pusat kota, sehingga tak susah mencari tempat untuk ngobrol.


Mereka bertiga masuk ke salah satu Cafe kemudian duduk di salah satu meja.  Fathan mengangkat tangan untuk memesan kopi, setelah pesanan dibuat Fathan pun menatap ke arah Idan.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Fathan mengawali pembahasan.


"Kurang tahu Tan! mungkin ini adalah dendam lama, karena seperti yang kita ketahui Kampung sukaramah adalah musuh bebuyutan kampung sukadarma. kampung sukaramah itu tidak pernah akur dengan Kampung Tetangganya."


"Awalnya bagaimana?"


"Tadi siang! ketika aku dan teman teman lainnya mengerjakan proyek pembuatan aplikasi pengontrol sayuran. tiba-tiba ada segerombolan anak muda yang mencari kamu, Setelah aku selidiki ternyata Mereka ingin membalaskan dendam 10 tahun yang telah lalu."


"Dendam 10 tahun lalu?" ulang Fathan bertanya.


"Iya! kamu ingat dulu Habis pulang sekolah, kita pernah bertemu dengan anak sekolah warga kampung sukaramah. kalau nggak salah salah satu dari mereka bernama Sobri."


Mendengar cerita Idan, Fathan pun terdiam mengingat-ingat  kejadian masa lampau. terukir jelas dalam memori otaknya, di mana Dia sedang tawuran sesama anak sekolah. namun tawuran itu bukan didasari dengan tawuran antar sekolah pada umumnya. namun tawuran itu adalah tawuran warga kampung. sehingga salah satu dari warga kampung sukaramah ada yang terluka sangat parah. dan Fathan pun ingat anak yang dilukainya itu bernama Sobri.

__ADS_1


Melihat dari kejadian itu, Fathan pun mulai bisa menyimpulkan. Kenapa tadi Sobri dan satu temannya pergi ke arah Kampung sukadarma, Mungkin mereka mau mencari keberadaan Fathan, untuk membalaskan dendam masa lampau.


__ADS_2