Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 83


__ADS_3

Pak Usro


"Apa itu subscriber, Mir?" Tanya Pak Usro sambil menetap ke arah cucunya.


"Ya itulah kek....! susah kalau dijelaskan. foto dulu dong kang Fathan, nanti biar aku pamerin sama teman-teman di sekolah." Jawab Mirna sambil melirik ke arah Fathan.


"Boleh...!" ujar Fathan sambil mengulum senyum, karena baru pertama kalinya ada orang yang meminta foto seperti itu, layaknya seorang artis yang sedang digandrungi oleh fansnya.


Mirna terlihat mengeluarkan handphone, kemudian mereka mengambil foto bersama. setelah berfoto dengan sang petani, Mirna pun meminta izin masuk kembali ke dalam rumah.


"Berarti Kang Fathan sudah sangat terkenal ya, sampai cucu saya bisa mengenali Akang...!" Puji Pak Usro memecah heningnya suasana.


"Ah..! Tidak juga Pak, mungkin kebetulan saja cucu bapak sering menonton channel YouTube saya, sehingga dia mengenal saya."


"Oh begitu..! Kita kembali lagi ke pokok permasalahan kita. maksud dan tujuan Akang menemui saya ada apa? soalnya saya khawatir, takut ada sesuatu yang sangat penting!"


"Begini Pak, Saya bersama para anggota keranjang sayur sekarang sedang melakukan kerjasama dengan supermarket yang berada di Kota Sukabumi, untuk menyuplai sayuran. namun beberapa Minggu belakangan ini, saya menemui kendala. karena sebagian anggota Saya, keluar memisahkan diri. Sehingga kebutuhan sayuran yang dibutuhkan oleh supermarket berkurang, karena terbatasnya ruang Tani. maksud dan tujuan saya datang ke sini, Saya ingin mengajak kerjasama para warga Desa Ciparay, untuk menjadi penyuplai sayuran ke supermarket. Dan Kenapa saya menemui Bapak, karena tadi Ketika saya mampir di warung. Menurut Si Bibi, sebaiknya saya mendatangi bapak, untuk membicarakan masalah ini. karena semua warga Kampung selalu menjual sayurannya ke bapak," jelas Fathan panjang lebar agar bisa dipahami oleh Usro.


"Begitu..! tapi kalau untuk menjadi penyuplai supermarket, Apakah sayuran Kampung sini bisa masuk ke sana, karena yang Bapak ketahui supermarket menerapkan kualitas yang tinggi untuk kita, agar sayuran kita masuk ke tempat usaha mereka."


"Memang seperti itu Pak, tapi walaupun begitu semua kualitas sayuran pasti sama saja, yang membedakan hanya pengemasan atau pun pemilihan barang."


"Jadi maksud Kang Fathan mendatangi bapak, untuk apa? Maaf kalau saya kurang paham, karena maklum saya sudah Sepuh, jadi tidak terlalu responsif." Tanya Pak Usro sambil mengulum senyum.


"Kira-kira, Bapak mau apa tidak mengadakan kerjasama dengan saya, untuk sama-sama menjadi penyuplai supermarket."


"Kalau saya mau mau saja Kang! itu akan menjadi kebanggaan bagi para petani di Desa Ciparay, karena pertanian mereka bisa masuk ke supermarket."


"Kalau Bapak mau, boleh saya melihat sampel hasil pertanian warga Desa Ciparay, agar saya bisa menentukan kualifikasi seperti apa, Ketika nanti kita melakukan kerjasama."


"Oh sangat boleh! kalau Akang mau, Kebetulan saya sudah memborong beberapa pertanian untuk dijual ke pasar. nanti silakan Akang cek pertanian yang seperti apa yang bisa masuk ke supermarket, setelah mengetahui baru kita membicarakan kerjasama."

__ADS_1


"Kapan kita bisa mengecek pertaniannya Pak?"


"Sekarang juga boleh," jawab Pak Usro.


"Ya sudah ayo kita berangkat!" Ajak Fathan yang terlihat bersemangat.


"Mendingan Kang Fathan minum dulu! makan dulu jamuannya! tapi mohon maaf kalau ada yang kurang! maklum kita tinggal di kampung."


"Ah..., sama saja Pak! saya juga orang kampung," ujar Fathan sambil mengambil minum kemudian dia meneguknya, Lalu mengambil kukus pisang yang terasa nikmat, sambil terus ditemani obrolan-obrolan ringan tentang kerja sama dengan supermarket.


Seusai  menyantap jamuan yang disuguhkan oleh Pak Usro, Fatan dan Asep pun diajak tuan rumah untuk mengecek pertanian, namun ketika mereka hendak berangkat Mirna yang sejak dari tadi memperhatikan dari dalam, dia pun ingin ikut, menurut pengakuannya dia ingin mengabadikan momen kebersamaan dengan idolanya, hingga akhirnya mereka berjalan menuju ke arah kebun.


Sesampainya di kebun, Fathan pun mulai melihat-lihat sayuran yang terhampar luas di sana, dia mulai menjelaskan spesifikasi spesifikasi yang harus dipenuhi oleh para petani, ketika sayuran mereka mau masuk ke supermarket.


Walau hasilnya tidak memuaskan, tapi Fathan merasa lega karena di kampung itu banyak pertanian yang bisa dipilih dan masuk spesifikasi sayuran yang bisa dijual di supermarket, meski Fatan tidak bisa menampung seluruh sayuran hasil pertanian warga Desa Ciparay. setelah mereka mengontrol sayuran-sayuran, Fathan dan Pak Usro pun kembali ke rumah.


"Bagaimana?" tanya Pak Usro setelah mereka duduk di ruang teras.


"Seperti yang saya tadi sudah sampaikan, bahwa tidak semua bisa masuk kualifikasi sayuran yang harus dibawa ke supermarket, mungkin Bapak juga lebih paham sayuran mana yang layak untuk masuk, sayuran mana yang tidak layak."


"Kalau bapak setuju mengadakan perjanjian kerjasama untuk sama-sama menyuplai sayuran ke supermarket, saya akan menawarkan keuntungan yang tidak akan membuat Bapak menolak, Saya hanya meminta 25% dari keuntungan penjualan sayuran bapak."


"Tapi Apa kelebihannya, kalau sayuran saya dimasukkan ke supermarket?" Tanya Pak Usro sambil menatap ke arah sang petani.


"Ketika Sayuran bapak masuk ke supermarket, harganya cenderung stabil tidak akan turun, dan kalau pun turun itu tidak akan seperti di pasar yang harganya sangat anjlok. sehingga seanjlok anjloknya harga di supermarket, tidak akan sama ketika anjlok di pasar. Petani tidak akan rugi bahkan mungkin bisa untuk."


"Jadi para petani nggak akan pernah rugi, kalau hasil pertaniannya dimasukkan ke supermarket?" tanya Pak Usro memastikan.


"Benar...! Namun kita harus tetap menjaga kualitas, agar mereka bisa terus menjajakan sayuran yang segar, sayuran yang baik dan sehat. karena seperti yang sudah kita ketahui harga tidak akan membohongi kualitas barang," jawab Fathan menjelaskan.


"Kalau harga tomat dibayar berapa, ketika tomat itu dibeli oleh pihak pasar hanya Rp5.000. kalau dijual ke supermarket berapa?"

__ADS_1


"Kalau di supermarket harganya bisa Rp20.000- Rp25.000, harganya bisa berkali-kali lipat dengan harga pasar namun ada kekurangannya  ketika harga pasar naik, kita tidak akan menikmati kenaikan itu, karena kita sudah terikat dengan kontrak harga yang sudah ditentukan, yang sudah disepakati."


"Lumayan juga ya, kalau perbandingannya sampai 400%." tanggap Pak Usro yang terlihat mulai tertarik.


"Iya Pak, namun ketika di pasar mengalami lonjakan yang tinggi tetapi kita tetap sama yakni Rp20.000. itu adalah harga termahal yang pernah ada di pasar, jadi Kita tidak akan rugi namun kita hanya tidak untung saja." ujar Fathan menjelaskan.


"Ya sudah kapan bapak bisa mengirim sayuran ke supermarket, apa bagaimana?" tanya Pak Usro seolah tidak sabar.


"Bapak kirim aja hasil pertanian para warga ke saya, namun saya akan menyortirnya terlebih dahulu, memisahkan mana yang masuk, mana yang nggak. sisanya baru bapak boleh bawa ke pasar, biar kita tetap untung dan kita Jangan terpaku ke supermarket. Dan tidak membuang hasil pertanian."


"Oh iya tentang pembagian bagi hasil, kalau saya mendapat untung 10.000, maka Kang Fathan mengambil 2500 begitu?"


"Benar pak, Itu pun kalau bapak sepakat. karena seperti yang Bapak ketahui saya tetap membutuhkan akomodasi perjalanan, dari kampung sukadarma ke kota Sukabumi. Sehingga saya membutuhkan pembagian hasil dari apa yang Bapak dapat."


"Benar juga, Berarti sebelum saya membawa ke pasar. saya bawa dulu hasil pertanian saya ke kampung sukadarma. nanti sisanya baru dibawa ke pasar?" tanya Pak Usro memastikan.


"Benar, begitu Pak! nanti saya melakukan pengecekan dengan hati-hati, agar sayuran yang Bapak kirimkan, tidak lecet dan tidak lembek. saya akan sehati-hati mungkin, agar tetap kondisi sayuran Bapak ketika dibawa ke pasar masih dalam keadaan segar.


"Baiklah kalau seperti itu, tapi pembagian penghasilannya jangan segitu, kita bagi, saya 70 buat kang Fathan 30%. biar Pak Fatan juga mendapat untung, Jangan hanya kerja bakti, karena dengan 70% saya sudah untung berkali-kali lipat."


"Terima kasih banyak Pak atas pertolongannya dan kesediaan untuk bergabung dengan pertanian saya, semoga kerjasama ini bisa terjalin dengan baik!"


"Kapan saya harus mengirim pertanian saya ke kampung sukadarma?" Tanya Pak Usro yang belum mendapat jawaban.


"Mulai besok saja, Bapak biasa mengirim ke Kota Sukabumi jam berapa?"


"Biasanya saya mengirim ke kota sehabis subuh, kalau ada para petani yang panen sore."


"Nah, itu lebih baik...! jadi sebisa mungkin pagi-pagi Bapak sudah sampai di sana. nanti saya akan Jelaskan lagi Bagaimana perinciannya, agar Bapak lebih paham."


"Baik kang Fatan! Terima kasih atas tawarannya," ujar Pak Usro sambil menguluarkan tangan sebagai bentuk perjanjian kerjasama mereka.

__ADS_1


Selanjutnya mereka bertiga pun mengobrol ngalor, ngidul. Namun pembahasannya tidak jauh dengan kerjasama yang mau mereka bangun, untuk bersama-sama menjadi penyuplai supermarket.


Kira-kira pukul 05.00 sore Fathan dan Asep pun berpamitan, dengan membawa hati yang lega serta bahagia, karena setiap masalah yang mereka hadapi selalu ada jalan keluar.


__ADS_2