Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 82


__ADS_3

Desa ciparay


"Boleh saya beli rokok kang?" tanya Asep sambil mengulum senyum, karena dia tahu kalau Fathan tidak terlalu suka merok0k.


"Boleh, tapi yang ada sepatunya, biar saya nanti minta." jawab Fathan.


"Ada rok0k Sapur Bi?"


"Nggak ada! ada juga gudang micin, dan rok0k coklat." Jawab si Bibi warung memberitahu.


"Ya sudah, gudang micin aja satu Bi!"


SiBibi warung pun membuka toples yang di dalamnya berisi rok0k, kemudian dia mengeluarkan satu batang lalu diserahkan sama Asep.


"Satu bungkus, Bi!"


"Oh, satu bungkus. kirain satu batang, maklum di sini jarang ada yang mau beli satu bungkus, Kalau rok0k coklat di sini jagonya." ujar Si Bibi sambil memasukkan kembali rokok ke dalam bungkusannya, kemudian dia melihat dan menghitung lalu menatap kembali ke arah Asep. "kurang kalau sebungkus!"


"Ya sudah seadanya aja!" jawab Asep sambil mengeluh senyum.


Setelah memberikan rok0k, sibibi pun ikut Duduk di pintu yang menghadap ke bangku, kemudian dia memperhatikan kedua pelanggan barunya. mungkin dia heran melihat Fathan yang membawa motor besar, karena motor seperti itu sangat jarang dimiliki oleh warga kampungnya.


"Kalau boleh tahu, akang-akang ini mau ke mana, atau pulang dari mana?" tanya si bibi berpanca kaki, layaknya pedagang kampung pada umumnya.


"Saya sedang mencari pertanian, apa Bibi tahu di mana di sini ada orang-orang yang bertani?"


"PerTanian apa dulu, karena kalau pertanian itu biasanya dibagi dua, ada pertanian kebun ada pertanian sawah?" tanya si bibi memastikan.


"Kebun Bi!"


"Kalau kebun adanya di Desa Ciparay, semua warga di kampung itu mereka bermata pencaharian petani kebun, kalau untuk pertanian padi bukan di sini tempatnya."


"Terus dimana Bi tempatnya?" tanya Asep yang terlihat penasaran.


"Di desa sindangraja, Kecamatan Curug kemar. di situlah para petani padi, karena kebutuhan beras warga kampung di sini, di suplai oleh para petani padi dari desa itu," jelas si bibi dengan detail.


"Oh ya Bi, kembali ke pertanyaan awal, hasil dari para petani sayuran dijualnya ke mana?" Tanya Fathan menatap serius.

__ADS_1


"Biasanya ke pasar Sukabumi dan ke pasar Cianjur, ada juga yang dibawa ke Jakarta, tergantung bandarnya."


"Oh, ada bandarnya juga!"


"Adalah, Jang! kalau nggak ada, bagaimana para petani mau mengurusnya, karena mereka akan selalu disibukkan di perkebunan."


"Berarti kalau saya membutuhkan hasil pertanian mereka, saya harus menemui bandar."


"Iya, temui saja Pak Usro. dia adalah Bandar terbesar yang berada di kampung Ciparay, semua orang sudah mengenalnya. ngomong-ngomong Kenapa Aden bertanya seperti itu?"


"Panggil Fathan aja Bi. Nama saya Fathan, Saya dari kampung sukadarma, salah satu kampung yang berada di desa Palasari Kecamatan Nyalindung. Saya mencari petani karena saya membutuhkan hasil pertanian mereka, Itupun kalau cocok dengan hasil pertaniannya dan harganya," jelas Fathan.


"Oh begitu, Emang buat jualan di mana?"


"Saya buat dijual lagi Bi!"


"Kalau menurut saya, temui saja Pak Usro karena biasanya para warga tidak mau menjual kepada Bandar yang baru mereka kenal, karena biasanya para Bandar suka menghutang terlebih dahulu tapi suka lupa membayarnya. Maka dari itu para petani sepakat menjual ke Pak Usro kalau menjual ke yang lain Mereka takut rugi tapi. Namun, walaupun seperti itu, kalau mau akang-akang boleh menemui para petani untuk berdiskusi dengannya. karena Pak ustro orangnya sangat baik, jadi kemanapun para petani menjual beliau tidak akan mempermasalahkan. yang terpenting adalah hasil pertanian para petani, Bisa laku terjual. karena sebenarnya Pak Usro Dia sangat keteteran kalau harus menyalurkan seluruh hasil dari pertanian warga Kampung Ciparay."


"Rumahnya jauh nggak bi?" tanya Fathan.


"Bagaimana nih?" Tanya Fathan sambil melirik ke arah Asep yang sejak dari tadi hanya diam memperhatikan obrolan mereka berdua.


"Jangan tanggung Kang! Kita harus terus berjuang! Sekarang kita cek saja dulu pertaniannya Seperti apa, nanti kalau masuk kualifikasi kita, baru menentukan harga." saran Asep memberi masukan.


Akhirnya mereka bertiga pun ngobrol ngalor ngidul Tanpa Ada Judul, tanpa ada cerita, sambil menunggu kopi dan rok0k mereka habis. setelah dirasa capeknya mulai hilang, Fathan dan Asep pun berpamitan untuk menuju rumah Pak Usro.


Mereka berdua terus menyusuri jalan yang lumayan agak terjal, namun lumayan daripada jalan yang tadi mereka lewati. karena kalau dibandingkan, ini lebih mendingan, karena jalan yang sekarang masih ada aspalnya, meski sudah banyak yang terkelupas.


Kira-kira 15 menit berlalu, Mentari sore pun udah mulai menguning tidak memancarkan panas, menyinari hamparan sayuran milik para warga Kampung Ciparay, sayuran dengan berbagai jenis membuat Fathan merasa bahagia karena perjuangan mereka tidak sia-sia.


Dengan perjuangan yang begitu melelahkan, akhirnya Fathan dan Asep pun tiba di salah satu rumah yang berbeda dengan rumah-rumah yang lainnya, persis seperti yang si Bibi warung jelaskan. rumah yang lumayan besar dengan memiliki halaman yang luas, di situ terparkir dua mobil pick up, mungkin biasa digunakan untuk mengangkut sayuran, karena masih ada sisa-sisa sayuran di baknya.


"Assalamualaikum...!" ujar Fathan mengucapkan salam, setelah mereka berada di gerbang rumah besar itu.


"Waalaikumsalam...! jawab orang tua yang memakai peci putih dengan baju koko Senada dengan warna pecinya, ke bawahnya memakai sarung, wajahnya terlihat sumringah menyambut tamu yang baru datang.


"Maaf mengganggu! Apa benar, ini rumahnya Pak Usro?" Tanya Fathan sambil manggut.

__ADS_1


"Benar Saya sendiri, maaf ada apa ya?" Tanya Pak Usro sambil mengurutkan dahi.


"Saya ada kepentingan sedikit Pak!"


"Ya sudah masuk dulu, nanti ngobrolnya di dalam." ujar Pak Usro yang terlihat sangat ramah membuat Fathan merasa lega.


Akhirnya mereka bertiga pun berjalan menuju teras rumah, kemudian Pak Usro mempersilahkan mereka berdua duduk. setelah mempersilahkan para tamunya, Pak Usro pun masuk ke dalam tak lama dia pun kembali sambil membawa teko beserta gelas buat minum.


"Nggak usah repot-repot Pak!" tolak Fathan yang merasa tidak enak.


"Gak Repot kok, cuma Air ini." jawab Pak Usro sambil menuangkan air ke dalam gelas, kemudian mempersilahkan tamunya untuk minum terlebih dahulu.


"Aduh, jadi gak enak ngerepotin begini...!" ujar Fathan yang terlihat malu-malu.


"Nggak.....! nggak ngerepotin. Oh iya ,kalian dari mana, kayaknya kita baru bertemu sekarang?"


"Saya Fathan Pak, saya dari kampung sukadarma."


"Oh kampung sukadarma yang sekarang pertaniannya sangat pesat?"


"Alhamdulillah kalau seperti itu?"


"Iya, Bapak sering mendengar kampung itu disebut, apalagi pertanian mereka sangat maju berbeda dengan pertanian di kampung bapak yang masih menggunakan cara tradisional. Bapak bersama keluarga sudah Berencana untuk main ke kampung itu, namun sampai sekarang belum sempat."


"Ditunggu kunjungannya Pak!" ujar Fathan sambil mengulum senyum merasa bangga karena kampungnya sekarang sudah terkenal.


Dari arah dalam terlihat ada seorang gadis kira-kira berumur 17 tahun, dia membawa pisang kukus untuk dihidangkan. mata Gadis itu menatap heran ke arah Fathan, karena mungkin dia mengenalnya, membuat Fathan menjadi salah tingkah mendapat tatapan seperti itu.


"Ini Kang....! kang....! kang! kang siapa ya, Lupa?" tanya gadis itu sambil mengkerlingkan mata mengingat-ingat Fathan.


"Saya Fathan teh!" kenal Fathan.


"Iya Kang Fathan! Nah, kalau yang ini Kang Asep kan?" ujar wanita itu sambil menunjuk ke arah orang yang disebutkan.


"Mirna, kok kamu kenal sama mereka?" tanya Pak Usro sambil menatap ke arah gadis itu.


"Kenal kek! karena Mirna sering menonton channel YouTube milik keranjang sayur, milik sang petani muda ini. channel YouTubenya sudah hampir  800.000  subscriber," jelas gadis yang bernama Mirna.

__ADS_1


__ADS_2