Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 76


__ADS_3

Rasa Balas Budi


Dadun ditemani kedua sahabatnya yaitu Parmin dan Nanang, mereka terus bergerak mencari orang-orang yang mau keluar dari kelompok keranjang sayur, dengan iming-iming ketika mereka bertani sendiri, kehidupan anggota akan lebih sejahtera, karena penghasilannya tidak harus dibagi dengan kelompok.


Lama-kelamaan akhirnya berita Dadun yang mau keluar mengajak anggota kelompok yang lain sampai ke telinga Kamal. siang itu, kamal dan Asep yang kebetulan baru pulang mengantar hasil pertanian ke penyuplai supermarket di kota. sedang duduk di saung Kamal, karena ayahnya Idan itu membuat Saung sendiri, agar ketika capek dia bisa berteduh. soalnya sekarang dia tidak kuat berdiri lama, akibat luka yang diderita ketika ditusuk oleh warga kampung sukaramah.


"Ada apa Sep, tumben-tumbenan kamu main ke Saung Mamang?" tanya Kamal sambil menatap ke arah anak muda yang sedang merok0k.


"Nggak ada apa-apa mang, Saya cuma mau ngobrol aja sekalian beristirahat. Soalnya kalau beristirahat di kantor, rasanya sangat bising." jawab Asep sambil menghempaskan asap dari mulutnya.


"Kirain ada apa, ya sudah bikin kopi! kebetulan tadi Mamang bawa termos dari rumah," ujar Kamal sambil menunjuk ke arah wadah penyimpanan air panas.


"Kopi apa Mang, Soalnya kalau kopi hitam perut saya suka perih."


"Gayamu anak muda...!" jawab Kamal sambil mengulum senyum. "tuh, kebetulan tadi Mamang beli moccacino."


"Nah, kalau ini saya suka Mang!" ujar Asep sambil mengambil tas yang terbuat dari karungng, wadah bekal Kamal. kemudian dia mengambil satu bungkus kopi sachet. "Mamang mau ngopi lagi?" tanya Asep sambil melirik ke arah orang tua Idan.


"Boleh, Soalnya kalau di rumah tidak boleh sama Bibi, kalau di kantor tidak boleh sama Idan!" jawab Kamal.


Akhirnya Asep pun mulai menuangkan dua bungkus kopi sachet, satu ke dalam gelas, yang satunya ke dalam tutup termos. kemudian dia menuangkan air panas, sehingga terlihat kopi itu bergejolak, mungkin menggeliat karena kepanasan.


"Dua puluh tujuh kali ngaduk yah, mang. biar rasanya semakin mantap," tanya Asep sambil memutar-mutar sendok mengaduk kopi yang baru diseduh.


"Kalau mau yang enak itu, 99 Kali ngaduk Sep! Tidak boleh kurang tidak boleh lebih," jawab Kamal sambil tersenyum.


"Ah si Mamang, bisa aja bercandanya." Balas Asep sambil tersenyum kemudian menggeserkan kopi yang sudah diaduk didekatkan kepada Kamal. "rok0knya Mang!" tawar Asep sambil mengeluarkan rok0k putih berhuruf A

__ADS_1


"Widih....! Gagah amat rok0knya Sep."


"Dapat ngasih Mang!" jawab Asep sambil mengulum senyum.


"Iya mamang juga tahu, Mana mungkin kamu mau membeli rok0k semahal ini, mendingan ngisep tembakau dengan daun Aren kan?" jawab Kamal yang mengambil rok0k pemberian asep, kemudian dia mengambil satu batang lalu membakarnya.


"Iya bener Mang...! kalau buat kita orang kecil, rasanya Sayang kalau untuk membeli rok0k semahal ini. Mending uangnya dipakai makan di restoran Padang, sudah pasti kenyang apalagi pakai telur dadar, bisa pecah tuh perut." jawab Asep membalas candaan Kamal.


Mereka berdua terlalut dalam obrolan-obrolan mengenai pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, meski Asep masih muda, namun semenjak bergabung dengan Fathan dan bisa membawa mobil, sehingga dia mulai bisa beradaptasi dengan orang orang banyak, ketika mengobrol dia akan sangat nyambung, layaknya orang dewasa pada umumnya.


"Jujur kamu ke sini mau ngapain?" tanya Kamal di sela-sela pembicaraannya, karena semenjak dari tadi Asep belum menyampaikan tujuannya.


"Begini Mang...! Kita kan sudah hampir 2 tahun ikut sama Kang Fatan. selama Waktu itu, saya sudah menganggap Kang Fatan sebagai kakak saya sendiri, bahkan sebagai guru dalam hidup saya. berkatnya pula lah, kehidupan keluarga yang awalnya sangat kekurangan, sekarang alhamdulillah cukup. bahkan Bapak saya yang lumayan sudah sakit-sakitan, tidak harus repot-repot bekerja menggali sumur orang. karena saya, Alhamdulillah bisa mencukupi kebutuhan bapak dan ibu, tanpa harus Merantau seperti orang-orang yang lain." jawab Asep mulai sedikit mengulas tentang masa lalunya.


"Terus?"


"Seperti yang Mang Kamal ketahui, Saya hanya lulusan sekolah dasar. itu pun tidak bisa dibanggakan, karena saya adalah peringkat pertama dari belakang. namun ketika saya bertemu dengan Kang Fathan, kelemahan saya itu tertutupi, sehingga orang-orang yang baru bertemu dengan saya, mereka tidak menganggap saya sebodoh itu. berkat Kang Fathan pula saya bisa membawa mobil, mengemudikan berbagai macam-macam alat pertanian. itu sangat luar biasa, dulu, jangankan membawa mobil , berhayalnya pun saya tidak berani."


"Begini Mang! Mamang sudah mendengar belum tentang Kang Dadun bersama Kang Parmin dan Kang Nanang, yang hendak keluar dari kelompok keranjang sayur?" tanya Asep mulai menjelaskan pokok permasalahannya.


"Mendengar secara langsung sih belum, Tapi kalau kabar-kabar burung, mamang sudah mendengar." jelas Kamal.


"Apa Kang Fathan, sudah tahu masalah ini?"


"Kayaknya belum, Soalnya dia selalu sibuk mengurusi video, dan orderan yang masuk dari supermarket dan pasar."


"Syukurlah kalau begitu! saya takut, ini akan menambah beban pikiran ketua kita."

__ADS_1


"Iya kadang Mamang suka kasihan sama Fathan. orang tuanya masih tidak mau menerima kesuksesannya, ditambah melihat pertanian yang kadang tidak konsisten, yang kadang terkena hama, meski bisa ditanggulangi tapi tetap membutuhkan Pemikiran yang sangat menyita waktu, dan menguras tenaga."


"Benar Mang! kalau saya perhatikan Kang Fatan setiap hari, setiap waktunya tidak ada yang terbuang. demi memikirkan kemajuan anggota kelompok keranjang sayur. tapi kita sebagai orang yang setia sama beliau, Kita Harus berpikir membantu sebisa kita, semampu kita, jangan sampai semuanya ditanggung oleh Kang Fathan." ujar Asep yang terlihat dewasa.


Mendengar perkataan Asep, Kamal pun terdiam seolah sedang mencerna apa yang disampaikan oleh sopir keranjang sayur. lama terdiam akhirnya Kamal terlihat menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya dengan perlahan. "Benar Sep! sebenarnya bukan kamu saja yang merasa mempunyai hutang Budi sama Fathan. meski dia masih muda, namun dia mampu membantu Mamang membayar hutang ke Kang Ujang. dan benar pula Apa yang disampaikan oleh kamu, kita tidak boleh berdiam diri, menutup telinga. kita harus membantu Fathan, sebisa kita, semampu kita!' ujar Kamal menyampaikan isi hatinya.


"Emang Alasannya kenapa, kok Mereka ingin keluar dari keranjang sayur?"


"Mamang kurang paham Sep, soalnya Mamang juga tidak terlalu terfokus memikirkan hal itu."


"Kita harus menemui mereka Mang! sebelum Penyakit ini menyebar ke yang lain. karena menurut Kang Fatan membuang, membunuh satu pohon pisang, itu lebih baik daripada kehilangan satu kebun."


Kamal pun terdiam kembali, seolah menimbang baik dan buruk apa yang disarankan oleh Asep. namun setelah dipikir-pikir apa yang disampaikan oleh anak muda itu memang benar adanya. dia harus secepatnya bergerak mengantisipasi agar tidak menyebar ke mana-mana.


"Ya sudah....! habiskan kopimu, kita temui Kang Dadun!" seru Kamal sambil mengambil gelasnya, kemudian dia meneguk habis kopi miliknya.


Setelah menghabiskan kopi masing-masing, Kamal dan Asep turun dari saungnya. kemudian mereka berdua berjalan menapaki Jalan Gang yang ada di perkebunan. Disamping kanan kiri Gang itu ditumbuhi oleh tanaman-tanaman yang terlihat subur. Dari atas langit matahari mulai terasa terik, karena sebentar lagi berada di atas ubun-ubun. Apalagi siang itu tidak ada awan yang menghalangi, membuat para petani tidak kuat dengan panasnya.


"Mau ke mana Kang Kamal, panas-panas begini kok masih berkeliaran?" tanya salah Seorang warga yang kebetulan dilewati oleh Kamal.


"Mau menemui Kang Dadun!"


"Mau apa?" tanya orang itu sambil bangkit dari tempat berteduhnya, kemudian dia menghampiri kamal.


"Mau memastikan desas desus yang sedang semerbak tidak sedap dikelompok keranjang sayur."


"Desas-desus tentang mereka yang mau keluar bukan?" orang itu memastikan.

__ADS_1


"Benar Kang...! Soalnya kalau dibiarkan takut menyebar ke mana-mana."


"Iya Kang! Saya juga merasa tidak enak, karena saya adalah orang yang memiliki tanah yang tidak luas, sehingga mereka merasa iri karena penghasilan saya sama seperti penghasilan mereka, yang mempunyai tanah yang lebih luas.


__ADS_2