Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 64


__ADS_3

Mulai Menyuplai


Keesokan paginya, pagi-pagi sekali. seperti yang sudah diutarakan oleh Farah, gadis itu dia berangkat bersama Asep menuju ke Kota Sukabumi, nanti setelah Asep mengirim sayuran kepasar dia akan langsung mengantar Farah ke tempat kerjanya.


Setelah kepergian Farah, semua keluarga Farhan pun masuk kembali ke dalam rumah. namun ketika Kirana mau masuk ke dalam, dengan cepat Fathan menahan tangan gadis itu, lalu menariknya ke arah bangku panjang yang ada di teras.


"Mau apa sih, pakai narik-narik segala...!" Ketus Kirana sambil mencoba menghempaskan tangannya, agar bisa terlepas dari genggaman pria kekar yang ada di hadapannya.


"Saya mau ngomong sebentar Bu."


"Mau ngomong apa?" Kirana kembali bertanya dengan raut wajah ketusnya.


"Saya mau minta maaf atas ucapan saya kemarin, saya tidak bermaksud seperti itu. namun saya hanya ingin Ibu tahu, bahwa saya sangat mencintai ibu, saya tidak mau membuat ibu kecewa, dan tidak mau membuat Ibu menunggu. tapi saya hanya manusia biasa, yang tidak sesempurna itu, tidak sesuai dengan kemauan yang Ibu mau," jawab Fathan panjang lebar.


"Intinya?"


"Intinya saya juga sangat sakit, ketika saya mengucapkan kata itu. saya sangat mencintai ibu, tolong Jangan Pergi. Tetaplah disini Temani saya sampai maut memisahkan kita." jawab Fathan sambil memegang lembut kedua tangan gadis itu.


Perkataan Fathan yang sepuitis itu, perkataan yang baru Kirana dengar selama hidupnya. membuat gadis itu terperanga sambil mendongakan pandangan, menatap lekat wajah Fathan, seolah ingin tahu apa yang sebenarnya ada di dalam hati sang petani itu.


"Maafkan saya bu, saya berjanji tidak akan mengulangnya lagi." hanya kata itu yang keluar dari bibir Fathan, matanya yang menatap kedua bola mata Kirana, membuat gadis itu mulai menundukkan pandangan, rasa malu, rasa senang, Rasa Bahagia, bercampur menjadi satu. hati Kirana terasa bergetar dengan kencang, padahal dia sangat menunggu momen seperti ini, Tapi entah mengapa ketika berhadapan langsung bersama Fathan, dia menjadi wanita kaku dan pemalu.


"Maafkan saya...! ibu mau kan, memaafkan saya? lelaki yang tak tahu malu, yang tak tahu untung karena dicintai wanita secantik ibu." tanya Fathan dengan suara pelan matanya terus menatap ke arah wajah Kirana yang tertunduk.


Ditanya seperti itu Kirana mulai mendongakkan pandangan, kemudian dia menatap kedua bola mata sang petani, namun dia tidak kuat bertatap lama-lama, jantungnya terasa mau copot, hingga Gadis itu menundukkan pandangan kembali. Tapi entah mengapa kepalanya mulai mengangguk-ngangguk, padahal dari keinginannya, dia ingin lama marah sama Fathan, agar dia merasakan diperjuangkan seperti gadis-gadis yang lain. tapi itu hanya khayalan belaka, dia menjadi salah tingkah ketika berada di hadapan Fathan, sehingga dengan mudah dia memaafkan kesalahan yang begitu fatal.


"Makasih ya Bu, Terima kasih....!"


Kaki Fathan pun melangkah mendekat ke arah Kirana, membuat jantung Gadis itu terus berdegup dengan kencang. tak kuat menahan goncangan dalam jiwanya dia pun Menutup Mata, untuk menerima apa yang akan dilakukan oleh Fathan.


Ehem! ehem! ehem!


Terdengar suara orang yang mendehem, membuat kedua Insan itu dengan cepat menjauh. Kirana mulai membuka mata menatap ke arah orang yang berdehem, ternyata ada tetangga rumahnya, yang baru pulang dari masjid sehabis melaksanakan salat subuh.


"Permisi.....! dan maaf mengganggu," ujar orang itu sambil mengulum senyum. Mungkin dia sebenarnya tahu apa yang hendak dilakukan oleh Fathan, Awalnya dia tidak ingin mengganggu, namun dia juga tidak mau melihat sepasang insan yang hendak memamerkan kemesraannya.


Fathan dan Kirana hanya saling menatap, kemudian mengulum senyum. "ya kang, baru pulang dari masjid?" jawab Fathan berbasa basi menyembunyikan kekakuannya.

__ADS_1


"Iya permisi ya....! maaf mengganggu nih....!" jawab pria itu sambil tetap mengurung senyum, kemudian dia pun berjalan menuju ke arah rumahnya.


Setelah kepergian orang itu, Kirana dan Fathan pun saling menatap, saling mengulum senyum. Entah mengapa hati Kirana begitu cepat bisa memaafkan kesalahan Fathan, Apakah ini yang dinamakan cinta sejati.


*****


Hari-hari berikutnya kantor keranjang sayur terasa agak sepi, karena ditinggal salah satu karyawan yang mengurus keuangan, sehingga membuat Kirana dan Idan Harus Memiliki pekerjaan tambahan untuk membantu mengurus keuangan keranjang sayur. namun Walau begitu mereka berdua tetap enjoy, menikmati setiap kebersamaan bersama karyawan-karyawan lain yang bekerja di kantor keranjang sayur.


Detik pun terus berganti, menit pun datang tak terhenti, hari-hari pun berlalu tanpa Sembilu. hingga akhirnya mereka tiba di waktu yang sudah ditentukan, di mana Fathan harus mulai mengirim hasil pertanian keranjang sayur ke kantor penyuplai supermarket.


Pagi itu, kira-kira pukul 09.00 di kantor keranjang sayur,  terlihat beberapa mobil truk dan pick up yang berjajar memenuhi area parkirnya. para petani mereka berbondong-bondong mengangkut hasil pertaniannya untuk dibawa ke kantor penyuplai sayuran supermarket yang berada di wilayah Sukabumi.


Terlihat wajah-wajah para petani itu dihiasi dengan senyum penuh kebahagiaan, senyum penuh kebanggaan karena jerih payah mereka bekerja selama ini, bisa tembus ke pasar supermarket. itu adalah pencapaian yang luar biasa yang mereka capai selama dalam hidupnya, sehingga mereka bisa merasa sebahagia seperti itu.


"Wortel dimuat dengan mobil yang mengangkut wortel, kentang dibawa oleh mobil pengangkut kentang! awas jangan sampai tertukar," atur Fathan sambil memegang buku dan bolpoin untuk mencatat barang apa saja yang hendak dia Kirim ke kantor penyuplai sayuran supermarket.


"Semuanya aman terkendali Jang, Bapak juga sambil bekerja sambil mengawasi," jawab Pak RT yang terlihat bersemangat.


"Terima kasih Pak, kita harus mengontrol agar pelanggan kita tidak kecewa dan terus mau melakukan kerjasama."


Kira-kira pukul 10.00, akhirnya mobil-mobil yang hendak mengangkut sayuran itu sudah penuh diisi oleh hasil pertanian para petani keranjang sayur.


Sebelum mobil-mobil pengangkut sayuran berangkat, Fathan meminta pak ustad berdoa terlebih dahulu, agar pekerjaan yang sedang mereka kerjakan, diberikan kelancaran, kemudahan dan diberikan hasil yang sangat melimpah.


Akhirnya para warga pun duduk di tanah sambil mengangkat tanga,  pak ustad mulai memimpin doa sebagai bentuk rasa syukur atas kenikmatan yang Allah berikan. dan Pak ustadz juga berdoa, agar semua usaha yang mereka sedang jalani diberikan kelancaran tidak ada gangguan.


Setelah selesai berdoa, Asep sebagai koordinator pengirim sayur ke supermarket, dia mulai menjalankan mobilnya. Dia berangkat paling depan membimbing para sopir-sopir lain, disambut tepuk tangan yang begitu meriah mengantar kepergian mereka.


Para petani yang tergabung dalam kelompok keranjang sayur, mereka terus menatap kepergian mobil yang beriringan, yang membawa hasil pertanian mereka. sampai akhirnya mobil pengangkut sayur tak terlihat, barulah mereka berjalan menuju ke teras keranjang sayur. karena Fathan tadi sudah meminta mereka, jangan kerja terlebih dahulu sehubung ada sesuatu yang ingin dia bicarakan.


Setelah mereka duduk bersama, air kopi pun mulai dibawa oleh Zahra bersama para ibu-ibu yang lainnya. kemudian disuguhkan ke Pak Tani yang terlihat wajah mereka berseri-seri.


"Terus sekarang kita harus bagaimana Jang, kita sudah mencapai sejauh ini, Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya Pak RT mengawali bermusyawarahan, karena mengingat waktu istirahat masih lama, sehingga Pak RT memutuskan untuk membahas hal-hal yang penting, yang menyangkut dengan pertanian keranjang sayur.


"Kita sekarang harus mengadakan syukuran, karena kita sudah mencapai sejauh ini, hasil pertanian kita bukan masuk ke pasar lagi, tapi hasil pertanian kita bisa diterima di supermarket, banyak orang yang menginginkan posisi kita. namun Alhamdulillah kita bisa dengan mudah sampai ke posisi yang orang lain inginkan."


"Mau mengadakan syukuran seperti apa," tanya pak ustad menimpali.

__ADS_1


"Tiga minggu yang lalu, Ketika kita pulang dari penandatanganan kontrak. saya bersama Bu Kirana sempat mampir di restoran sate kambing yang ada di perempatan, restoran yang sudah menjadi primadona di tengah-tengah masyarakat kita. ketika selesai makan, saya berencana mengajak para anggota keraanjang sayur, untuk mengadakan syukuran di sana, setelah pengiriman pertama berhasil. kira-kira setuju, apa enggak?" jawab Fathan mengungkapkan keinginannya yang sudah sejak dari lama dia Tahan, karena baru sekarang lah, Fathan mulai mengirimkan hasil pertaniannya.


"Waduh...! Sayang Jang, kalau makan di tempat seperti itu. makanannya sedikit tapi harganya mahal," jawab salah satu warga Kampung. mereka selalu menganggap bahwa uang adalah segalanya, ditambah mereka rasa bukan pekerja yang setiap bulan uang akan datang mengalir, Selama masih kerja, pasti uang itu akan datang.


"Iya benar....! kalau Hanya untuk menikmati makanan sedikit, dengan harga yang mahal. mendingan nggak usah  kita mengadakan syukuran seperti biasa saja."


"Yah benar Kang, kalau untuk makan sate kita bisa buat sendiri. kita bisa kenyang, anak istri juga ikut merasakan." Timpal anggota yang lain yang sama persis pemikirannya.


"Terus harusnya bagaimana dong?" tanya Fathan membalikkan Keinginan mereka.


"Mohon maaf nih Jang...! kalau bapak boleh memberi saran, menurut hemat Bapak, mendingan kalau kita mau mengadakan syukuran dengan makan sate, mending kita beli kambingnya saja, nanti biar ibu-ibu yang mengolah." ujar Pak RT memberikan saran.


"Nah itu ide bagus, kalau kita membeli sate yang seporsi bisa sampai 40.000 per orang, ditambah sopnya itu sangat mahal. kalau kita membuat sate sendiri, maka kita bisa membeli dua domba." timbal warga yang lain yang setuju dengan pendapat Pak RT.


"Bagaimana yang lain, apakah setuju dengan apa yang disarankan oleh Pak RT?" tanya Fathan sambil membagi tatap ke arah anggota keranjang sayur


"Setuju...! setuju...!" jawab para warga serempak.


"Iya bener Jang, kalau kita mengadakan syukuran di kampung kita, maka semua warga akan ikut menikmati dan ikut merasa bersyukur atas apa yang kita capai, walaupun mereka bukan anggota kelompok," ujar pak ustad menambahkan.


"Ya Sudah...! saya ikut para anggota saja, tapi kapan kita mengadakan acara itu?" tanya Fathan yang kembali membagi tatap.


"Bagaimana kalau malam minggu, soalnya kan itu nggak lama, tinggal dua hari lagi. Jadi kita bisa mempersiapkan dan mencari domba yang besar, agar cukup buat makan Sekampung," jawab Pak RT memberikan saran.


"Iya Malam Minggu aja..! biar leluasa." Timpal warga yang lain.


"Bagaimana setuju Kalau malam Minggu kita mengadakan acara syukuran?"


"Setuju....! setuju...! jawab para anggota serempak.


"Nah kalau setuju, siapa yang memiliki domba dan mau dijual, atau kita harus mencari domba ke pasar?"


"Mending cari di petani aja Tan, kalau di pasar itu dombanya biasanya kurus kurus," ujar Kamal baru mulai memberikan pendapat, karena sejak dari tadi dia hanya terdiam menyimak.


"Nah kalau nyari sama petani, Siapa di antara kita yang mau menjual dombanya?" tanya Fathan.


Mendapat pertanyaan seperti itu, para warga pun terdiam saling menatap seolah sedang mencari Siapa di antara mereka yang mau menjual kambing peliharaannya, sambil saling bertanya mencari tahu di mana ada kambing yang akan dijual.

__ADS_1


__ADS_2