Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
ks. 105


__ADS_3

Ngapel


Setelah makan tengah malam, akhirnya Fathan pun diantarkan oleh Kirana menuju kamar tamu untuk beristirahat terlebih dahulu, kemudian Gadis itu naik ke lantai atas untuk beristirahat.




Truk....! truk...! truk!



"Fathan....! Fathan!"



Panggil Kirana dari luar kamar, Setelah lama mengetuk namun Fathan tak kunjung menjawab, Hingga Kirana pun mendorong pintu kamar dengan perlahan kemudian masuk ke dalam. terlihat pria pujaan hatinya masih tertidur dengan lelap, membuat Kirana tersenyum kemudian menghampiri lalu duduk di samping ranjang, sambil menatap wajah Fathan yang terlihat lucu.



"Kamu tetap tampan walaupun kamu sedang tidur, wajahmu imut....!" gumam Kirana yang tak melepaskan pandangan.



"Lagi ngapain kamu di kamar?" tanya Winda yang kebetulan melewati pintu Fathan.



"Mau membangunkannya Bu...!" jawab Kirana yang sedikit membuang wajah karena malu dipregoki oleh ibunya.



"Kenapa malah masih menatapnya? cepat bangunkan pasti dia belum salat subuh."



"Sayang...! bangun sayang....!" ujar Kirana sambil menepuk-nepuk pipi Fathan membuat sang petani itu perlahan mulai membuka mata, kemudian memindai area sekitar. namun ketika tatapannya beradu dengan Kirana, tiba-tiba matanya membulat dengan sempurna.



"Kenapa kamu ada di sini? apa kamu jangan-jangan..!" ujar Fathan sambil bangkit kemudian memperhatikan sekujur tubuhnya, Mungkin dia takut di prakarsai oleh Kirana.



"Biasa aja kali, emangnya aku cewek Apakah?" ujar Kirana sambil mengulum senyum.



"Kenapa Ibu ada di sini?"



"Mau membangunkanmu, kamu pasti belum salat subuh kan, ayo bangun salat subuh Kemudian kita sarapan....!"



"Emang jam berapa?"



"Jam 08.00!"



"Astagfirullahaladzim, Masa iya sih malu banget aku kesiangan."



"Nggak usah malu, mendingan kamu mandi, terus salat subuh...!" saran Kirana.



Dengan bergegas Fathan pun masuk ke kamar mandi, namun tak lama dia pun sudah keluar sambil tersenyum malu-malu.



"Mandi di kamar aku saja...! Soalnya di kamar ini tidak ada Sabunnya," ujar Kirana yang sedang membuka gorden jendela, seolah mengerti apa yang berada di pikiran Fathan.



"Malu lah Bu...! kalau harus mandi di kamar ibu?"


__ADS_1


"Ya sudah kamu nggak usah mandi pakai sabun kalau malu."



"Emang nggak apa-apa, Kalau saya ikut mandi di kamar ibu?" Tanya sang petani dengan ragu-ragu.



"Ibu lagi...! Ibu lagi.....! kesel aku sama kamu tuh!"



"Iya maaf....! Emang nggak apa-apa kalau saya ikut mandi di kamar Rana?"



"Kalau apa-apa, mana mungkin saya menawari kamu. Ya sudah ayo!" ajak Kirana setelah membuka jendela.



Kemudian mereka pun keluar dari kamar tamu, kemudian naik ke lantai atas lalu masuk ke kamar Kirana.



"Nih handuknya...!" ujar Kirana sambil melemparkan handuk ke arah Fathan tercium wangi khas perempuan.



Setelah mendapat handuk Fathan pun masuk ke kamar mandi, terdengar guyuran air yang membasahi tubuhnya. Kirana setelah mengantar Fathan ke kamarnya, dia pun keluar meninggalkan sang petani itu membersihkan badannya terlebih dahulu.



Fathan terlarut dalam membersihkan tubuhnya, setelah selesai dia pun menggunakan handuk. namun ketika hendak keluar dari kamar mandi, dia pun terdiam karena dia lupa mengambil bajunya terlebih dahulu.



Lama terdiam, akhirnya dia memutuskan untuk meminta bantuan Kirana agar mengambilkan bajunya. sang petani itu mulai membuka pintu kamar mandi lalu memanggil-manggil nama kekasihnya, namun Kirana yang sejak dari tadi keluar tidak menyahuti, membuat sang petani itu memberanikan diri keluar dari kamar mandi



Ceklek!



Tiba-tiba pintu kamar Kirana Terbuka, membuat Fathan yang sedang berhati-hati kaget dengan sempurna, dengan cepat dia membalikkan tubuh mau masuk kembali ke dalam kamar. Namun sayang kakinya yang basah membuat pijakannya licin.




Bugh!



Hahahhahaha!



Tubuh petani itu terjatuh ke lantai, beruntung jatuhnya dengan duduk. disambut dengan gelak tawa Kirana yang merasa lucu melihat tingkah Fathan, Gadis itu tertawa terpingkal-pingkal seolah menemukan kebahagiaan dari apa yang diderita oleh Kekasihnya.



"Kenapa kamu tertawa?" tanya Fathan sambil memicingkan mata.



"Lagian ngapain kamu harus berlari, akhirnya celaka dengan tingkah laku sendiri."



"Lagian Kenapa Rana masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu?" ujar Fathan yang terlihat masih meringis.



"Ngapain harus ngetuk pintu, kan Ini kamar saya. sudah nih bajunya."



"Jaga matamu...!"



"Halo....! kayak badanmu menarik saja," ujar Kirana yang terus memindai tubuh Fathan yang terlihat atletis walaupun sedikit menghitam karena sering tersengat matahari.

__ADS_1



Dengan mendengus kesal, Fathan pun bangkit kemudian masuk kembali ke kamar mandi, dengan membawa baju yang diberikan oleh Kirana.



Setelah selesai mengganti baju, Fathan pun keluar, kemudian dia pun mengqadha salat subuh di kamar Kirana, disaksikan oleh kekasihnya yang duduk di atas kasur.



"Sejak kapan salat Dhuha pakai Qunut?" ledek Kirana sambil mengulum senyum.



"Lagian Kenapa nggak membangunkan saya tepat waktu?"



"Nggak apa-apa....! Ayo turun kita sarapan dulu!" Ajak Kirana sambil bangkit dari tempat duduknya, tanpa memperdulikan pertanyaan Fathan dia pun keluar dari kamar.



Sesampainya di lantai bawah Kirana pun menghampiri ibunya, yang sedang duduk di ruang tengah sambil menonton televisi.



"Bapak ke mana Bu?"



"Bapak olahraga, belum pulang." jawab Winda matanya terus terfokus Menatap layar.



"Terus pesanan sarapan Kirana sudah sampai?"



"Belum...!" jawab Winda singkat.



"Tunggu dulu ya...! pesanannya belum sampai, kita menonton TV saja terlebih dahulu," jelas Kirana sambil mengajak duduk Fathan.



Sang petani itu hanya menundukkan pandangan karena merasa malu berhadapan dengan Winda calon mertuanya. Entah mengapa sekarang dia menjadi minder, mungkin gara-gara usaha kebanggaannya sedang ditimpa musibah.



Televisi yang berada di ruang tamu sedang menyiarkan berita tentang Bagaimana susahnya Warga Jakarta mencari sayuran segar, karena pasar-pasar dan supermarket supermarket ditutup akibat Lockdown. Fathan yang memperhatikan dia pun teringat kembali dengan hasil pertaniannya yang tidak bisa dikirim ke kota akibat pandemi.



Fathan membayangkan Bagaimana kalau hasil pertaniannya bisa dikirimkan ke Jakarta, mungkin masalah yang sedang menimpa kelompok keranjang sayur akan segera teratasi.



"Kenapa diam?" tanya Kirana memecah heningnya suasana.



"Nggak apa-apa Bu...! sayang banget ya, pasar ditutup. ini mengakibatkan kedua belah pihak merugi, pihak pertanian tidak bisa menjual barangnya, pihak Konsumen tidak bisa membeli barang yang mereka butuhkan," ujar Fathan.



"Sudah...! di sini tidak boleh memikirkan pertanian. di sini ada yang lebih penting dari semua itu...!" Ketus Kirana yang mengerti Ke mana arah pembicaraan kekasihnya.



"Permisi Bu....!" Ujar Satpam Penjaga rumah sambil manggut memberi hormat.



"Yah Kenapa Pak Wardi?" tanya Winda sambil menatap ke arah orang yang baru datang menghampiri.



"Ada ojek online yang mengantar makanan Bu."



"Tuh pesanan kamu sudah datang...!" ujar Winda memberitahu anaknya.

__ADS_1



Kirana pun bangkit kemudian dia mengikuti satpam yang baru saja keluar. Fathan yang merasa tidak berani ditinggal sendirian dia pun meminta izin sama Winda untuk ikut keluar, dengan alasan ingin melihat suasana pagi di kota Jakarta.


__ADS_2