
Ditanya seperti itu, Kirana hanya menundukkan pandangan, dia tidak berani menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh bapaknya. Rasa malu mulai menyeruak memenuhi jiwanya, sehingga membuat wajahnya yang putih terlihat memerah. Kirana sama seperti gadis yang lain yang akan malu, ketika ditanya tentang perasaan oleh orang tuanya.
"Cita-cita mendapatkan pengakuan dari Fathan?" tanya Wira menebak.
"Iya Pak," jawab Kirana singkat sambil mengangguk, matanya masih tertuju ke arah papan yang dia duduki.
"Mau sampai kapan kamu membuang waktu seperti ini, mengejar cinta yang tak pernah kamu dapatkan. Mau sampai kapan kamu terjebak di dalam dunia Khayalan? kamu lihat bapak, lihat ibumu yang selalu memikirkan kamu. Apa kamu nggak merasa kasihan setiap malam kami tidak bisa tidur nyenyak, makan tidak enak, karena kamu tidak berada di samping kami. Mending kalau kamu sudah menjadi tanggung jawab orang lain, kamu masih tanggung jawab Kami sebagai orang tua."
"Kirana tidak membuang-buang waktu Pak, Kirana yakin Fathan akan secepatnya melamar Kirana. dia sudah berjanji mengutarakan niatnya bahwa setelah panen padi sekarang, dia akan menemui bapak dan ibu di Jakarta." Jawab Kirana membantah.
"Kamu masih aja keras kepala, perasaan Bapak sudah mendengar perkataan ini beberapa kali. namun Mana buktinya, Fathan masih belum datang menemui bapak. Sudahlah Kirana....! kamu harus sadar diri, bahwa Fathan itu tidak mencintai kamu," jelas Wira sambil menatap lekat anaknya yang masih tertunduk.
"Barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti dia akan menemukannya. seperti kesungguhan cinta Kirana buat sang petani itu. Kirana yakin, suatu saat dia akan membuktikan semua ucapannya, membuktikan janji-janji yang pernah dia ungkapkan."
"Kirana...! Kirana...! kamu mau sampai kapan begini terus, berharap dengan Bayang Semu, berharap sama yang tidak ada buktinya. Asal kamu tahu, ketika kita sedang mencari sesuatu, dan kita tidak bisa menemukannya. maka kamu harus sadar bahwa kamu sudah menemukannya?"
"Menemukan apa?"
"Menemukan bahwa pencarianmu gagal. ingat manusia selalu memiliki batas kemampuan. sehingga ketika dia tidak bisa menggapai apa yang dia inginkan, maka di situlah dia harus sadar diri, bahwa dia hanyalah makhluk yang tidak bisa berbuat apa-apa, yang tidak bisa berbuat banyak untuk merubah takdir. Sekarang sudah saatnya kamu untuk sadar, bahwa kamu tidak berarti bagi Fathan."
"Stop Pak....! jangan berbicara seperti itu, jangan hancurkan perjuangan Kirana yang sudah lama menunggu cinta Kirana tersambut. Mending Sekarang bapak doakan saja, agar Fathan cepat memenuhi janjinya."
"Ya ampun....! Kirana, Kirana. Apa kamu masih belum mengerti, kamu terus berkorban namun pengorbananmu Tidak Dianggap. sekarang lihat keadaan dirimu yang berada di tengah kebun seperti ini. di Jakarta kamu bisa menjadi manajer perusahaan di perusahaan bapak, jabatanmu akan tinggi, penghasilanmu akan melimpah."
"Maaf Pak Kirana tidak butuh semua itu, yang Kirana butuhkan Hanyalah Cinta Fathan, karena seorang perempuan tidak diharuskan untuk mencari dunia. tugas perempuan hanyalah berbakti sama pria yang sah menjadi suaminya."
"Apaa....! kamu tidak butuh dengan harta bapak?" Tanya wira sambil menatap lekat terhadap anaknya.
"Benar Pak! Kirana tidak butuh semua itu."
"Ya sudah kalau ini yang kamu mau. bapak akan membuat surat warisan tentang aset yang dimiliki oleh Bapak. dan kamu tidak akan mendapatkan sepeser pun dari harta yang Bapak miliki."
"Silakan Pak....! silakaaan! karena mesti dengan kekayaan bisa mewujudkan kesenangan. namun kebahagiaan tidak harus dengan kekayaan. Kebahagiaan adalah Hak yang harus dimiliki oleh setiap makhluk hidup, dan Setiap orang pasti akan merasakan meski beda cara."
__ADS_1
Mendengar jawaban anaknya yang terdengar keras kepala. Wira hanya menarik nafas dalam, seolah kehabisan akal dengan cara apa dia harus membuat anaknya sadar, bahwa cinta yang sedang dia perjuangkan, itu hanyalah cinta semu, cinta yang akan membuat Kirana hidup semakin susah.
Dari arah luar Saung terlihat ada tiga orang yang berjalan dengan tergesa-gesa, menuju masuk ke arah Saung. setelah sampai salah satu dari ketiga pria itu menundukkan pandangan, lalu dengan perlahan menghampiri ke arah Kirana dan wira yang sedang berdebat. beruntung perdebatan itu sudah berakhir, sehingga ketika orang yang datang tidak mengetahui.
"Pak Wira....! Bapak kapan datang ke sini?" Sapa Fathan sambil mengambil tangan pria paruh baya itu ,lalu mencium punggungnya, kelakuan itu diikuti oleh Idan.
"Baru saja datang, kebetulan saya ada proyek di sekitar Sukabumi. Saya putuskan mampir ingin mengecek kabar anak saya. karena seperti yang kamu ketahui bahwa anak saya tidak pernah pulang. jangankan pulang, memberikan kabar pun tidak pernah dia lakukan." jawab Wira sambil melirik ke arah anaknya yang sedang tertunduk.
"Maafkan Kirana Pak...! Padahal saya sudah sering menyuruhnya untuk menjenguk Bapak, namun katanya Nanti nanti terus."
"Ya Sudah, saya mohon pamit dulu tan. karena saya sudah mengetahui keberadaan anak saya," ujar Wira sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Tunggu dulu sebentar Pak. kita kan belum mengobrol, saya juga belum menyambut Bapak dengan baik."
"Gak Apa-apa, nanti lain kali, saya akan mampir ke sini mengajak ibu Winda. kayaknya dia akan senang kalau melihat sayuran yang begitu subur," jawab Wira yang tetap bangkit kemudian dia mengulurkan tangan untuk mengajak orang-orang bersalaman.
"Tunggu dulu pak, tunggu sebentar!" tahan Fathan.
"Bapak mau pulang ke Jakarta, Kapan mau ke sini lagi, nanti saya yang akan mengajak Kirana menemui bapak."
"Kurang tahu Tan, soalnya saya cuma mengontrol pekerjaan saja. ya sudah, bapak titip Kirana, jaga dia baik-baik. dan Kalau kamu sayang sama dia, kamu cepat resmikan hubungan kalian, jangan membuat Kami khawatir," tegas Wira sambil turun dari kantor keranjang sayur. Kemudian dia memakai sepatunya kembali. namun Fathan sebisa mungkin menghentikan pria itu agar tidak cepat pulang.
"Tunggu dulu sebentar Pak! Saya sedang memanen sayuran buat oleh-oleh Ibu Winda di rumah."
"Terima kasih, tapi nggak usah merepotkan." jawab Wira yang seolah enggan berlama-lama di kampung sukadarma.
"Tolong hargai para petani yang sudah meluangkan waktu memanen sayuran, mereka berharap rezeki mereka bisa Bapak cicipi!"
Akhirnya perdebatan kecil itu pun terjadi. pria yang tua ingin segera cepat pulang, pria yang muda menahan agar calon mertuanya tidak buru-buru. Setelah lama berdebat akhirnya Wira pun menurut dengan apa yang disarankan oleh Fathan, karena sang petani itu berjanji dia tidak akan lama.
Benar Saja tak lama terlihat beberapa petani yang datang sambil membawa keranjang keranjang yang terisi oleh sayuran, mungkin semua sayuran yang ada di pertanian keranjang sayur, mereka panen untuk menjadi buah tangan buat keluarga Wira. melihat Apa yang dibawa dengan begitu banyak, Wira pun terperangga kaget melihatnya. keranjang Itu disimpan di dekat mobilnya.
"Ini buat apa?" tanya Wira sambil menatap ke arah Fathan.
__ADS_1
"Buat oleh-oleh Ibu, di rumah!"
"Ini kebanyakan Tan!"
"Iya, tapi kan bisa bagi-bagi buat Tetangga." Fathan yang sudah mengenal kondisi keberadaan Komplek rumah calon mertuanya, karena Kirana sering menjelaskan bahwa walau mereka tinggal di dalam Kompleks elit, namun ikatan ketetanggaan mereka sangat erat.
"Emang kamu nggak rugi, ngasih saya sebanyak ini?"
"Nggak Pak, ini nggak seberapa kalau dibanding dengan kebaikan bapak yang dulu pernah menerima saya bekerja di kantor properti, yang Bapak kelola."
"Ya sudah, terima kasih. saya pamit dulu, saya titip anak saya. dan ingat dengan apa yang saya minta," jawab Wira sambil masuk ke dalam mobilnya. para petani yang tadi membawa keranjang keranjang yang berisi sayuran dan buah-buahan, mereka pun mulai memasukkan keranjang keranjang itu ke dalam mobil Wira.
Setelah semua oleh-oleh masuk ke dalam. mobil SUV itu mulai melaju pergi meninggalkan kantor keranjang sayur, diantar oleh tatapan-tatapan orang-orang yang masih belum beranjak dari tempat parkiran. hingga akhirnya setelah mobil SUV itu tidak terlihat, Mereka pun Kembali ke tempat masing-masing untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Bapak mau ngapain datang ke sini?" tanya Fathan sambil berjalan beriringan dengan Kirana.
"Bapak mau menjenguk anaknya, yang sudah lama tidak pulang demi mempertahankan cinta orang yang belum bisa menepati janjinya," jawab Kirana dengan datar.
Mendengar pembicaraan mereka berdua yang terlihat agak serius. Asep dan Idan mereka berbelok ke arah samping Saung keranjang sayur, mereka berdua tidak mau mencampuri urusan pribadi kedua insan itu. karena setelah melihat Apa yang hendak mereka bicarakan, mereka yakin bahwa itu adalah pembahasan yang akan terlihat serius.
Matahari sudah mulai terasa menyengat, karena waktu sudah menunjukkan pukul 10.30. Kirana dan Fathan Terus berjalan masuk menuju ke tempat tadi Wira duduk, setelah sampai mereka pun duduk dengan tenang.
"Maafkan saya....! sampai saat ini saya belum bisa menepati janji saya. kalau ibu merasa lelah atau Ibu merasa bosan menunggu. Ibu boleh mencari pria lain yang bisa cepat membahagiakan ibu."
"Apa kamu bilang...! seenaknya aja kamu ngomong seperti itu. Aku sudah berjuang sampai saat ini. kamu dengan entengnya berbicara seperti itu, apa kamu benar-benar enggak punya perasaan, Apa kamu benar-benar tidak punya hati." Jawab Kirana yang terdengar kesal, matanya yang memerah sehabis tadi dia menangis, kembali terlihat memancarkan sinar yang sangat tajam.
"Bukan seperti itu Bu! saya takut, saya tidak bisa membahagiakan ibu. karena Fokus saya sekarang ke pertanian"
"Iya saya tahu, tapi kamu jangan berbicara seperti itu. sakit tahu mendengarnya...!"dengus Kirana sambil menundukkan pandangan, pipinya yang lembut dialiri oleh cairan bening yang tumpah dari matanya.
Melihat kekasihnya bersedih seperti itu, Fathan yang tidak terlalu memiliki sipat romantis, dia bingung hendak melakukan apa. sehingga tangannya dengan refleks mengusap cairan bening yang masih mengalir di pipi Kirana.
"Maafkan saya bu....! saya juga sakit kalau berbicara seperti itu, namun saya takut saya tidak bisa membahagiakan ibu."
__ADS_1