
Hasutan Ujang
Matahari siang itu terasa sangat panas, seperti panasnya hati Sri setelah mengetahui anaknya akan melaporkan Farhan, ketika mereka berniat memaksa menjual sawah mereka.
Wanita itu terlihat berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke arah sang suami, yang sejak dari tadi berdiri di dekat motor. Farhan tidak mau berbicara dengan anaknya yang keras kepala, kertas yang ada di tangannya, kertas yang berisikan persetujuan ahli waris ketika hendak melakukan jual beli sebidang tanah, Farhan remas dengan begitu kuat lalu menghempaskannya ke tanah. hatinya sangat hancur ketika mengetahui Fathan menolak niatnya, meski sebenarnya Farhan sudah bisa membayangkan dari awal kalau sang petani itu tidak akan mengizinkan untuk menjual sawah, tapi entah mengapa hatinya terasa sangat perih, mendapat perlakuan tidak mengenakan.
"Ayo kita pulang Kang!" ajak Sri sambil menyeka air mata yang terus berjatuhan.
Orang yang diajak berbicara tidak menjawab, dia naik ke atas motor lalu menghidupkannya, setelah motor itu menyala Sri pun naik. tanpa basa-basi pasangan suami istri itu, pergi meninggalkan kantor keranjang sayur.
Di perjalanan tidak ada sepatah kata yang keluar dari bibir mereka, keduanya terdiam membayangkan kejadian yang baru saja mereka alami, mereka sangat kecewa dengan sikap Fathan yang berlebihan, dan tidak pantas dilakukan oleh seorang anak kepada orang tuanya.
Sesampainya di depan Gang, Sri pun turun dari motor karena biasanya dia lebih memilih berjalan, karena takut naik motor ketika harus melewati Gang sempit seperti itu.
"Mau ke mana lagi kang?" tanya Sri yang melihat suaminya tidak memasukkan motor ke dalam rumah.
"Akang harus menemui Kang Ujang, akang takut dia masih menunggu kita."
"Apa yang harus kita lakukan, kalau kejadiannya seperti ini?" Tanya Sri yang merasa bingung.
"Mau tidak mau, kita harus membatalkan rencana jual beli itu, karena Kang Ujang pasti tidak akan mau membeli tanah kita, kalau syarat-syaratnya tidak lengkap."
"Terus bagaimana dengan Farah?" Tanya Sri yang terlihat khawatir.
__ADS_1
"Nggak tahu, Akang juga bingung. makanya akang mau menemui kang Ujang, Siapa tahu saja beliau mempunyai solusi Untuk masalah kita." ujar Farhan, tak menunggu jawaban dari Sri dia pun menarik tuas gas motor, lalu pergi menuju ke rumah terbesar di kampung sukadarma.
Sesampainya di gerbang rumah Ujang, terlihat Ujang bersama Pardi sedang mengobrol di teras. melihat kedatangan Farhan Pardi pun bangkit kemudian berlari menuju ke arah gerbang untuk membukakan pintu.
Setelah pintunya terbuka, Farhan pun memasukkan motor ke halaman rumah Ujang, kemudian dia menghampiri tuan rumah yang sejak dari tadi memperhatikan kedatangannya.
"Kenapa wajahnya ditekuk begitu Kang?" tanya Ujang pura-pura tidak tahu, padahal dia sudah bisa menebak Apa yang sedang dihadapi oleh tamunya.
"Gagal kang, semuanya gagal...!" ujar Farhan sambil menjatuhkan tubuh di atas kursi.
"Gagal bagaimana?" tanya Ujang.
"Anak saya, si Fathan! Dia tidak setuju dengan rencana saya yang hendak Menjual sawah, dia malah mengancam akan melaporkan saya ke penegak hukum, kalau saya berani Menjual sawah itu."
"Gak tau lah kang! Saya bingung, yang jadi permasalahannya sekarang saya malu sama Akang, karena saya tidak bisa Menjual sawah saya, karena syarat jual beli Harus ada izin dari ahli waris, itu akan sangat sulit, Pasti Kang Ujang juga sudah tahu bagaimana keras kepalanya anak saya."
"Masalah jual beli tidak jadi juga tidak apa-apa, awalnya Saya hanya mau menolong kang Farhan yang sedang membutuhkan uang untuk melaksanakan resepsi pernikahan. seperti yang Akang ketahui, sekarang saya sebenarnya tidak sedang membutuhkan sawah, sekarang saya lebih membutuhkan uang untuk bertahan hidup di Serangan pandemi ini. namun ada hal yang lebih penting yang harus kang Farhan pahami dari kejadian yang menimpa kita," ujar Ujang yang terlihat sangat bijak.
"Nah, nah, paham Seperti apa Kang, Saya dari tadi memikirkan Bagaimana cara menghadapi si Fathan, namun sampai saat ini saya belum menemukan cara yang pas untuk memberi pelajaran anak itu, agar dia mengerti, agar dia sadar, bahwa bertani itu sangat tidak menjanjikan. buktinya Sekarang dia sedang terpuruk karena tidak bisa mengirim sayuran ke pasar ataupun ke supermarket," ujar Farhan yang merasa bahagia, karena dia menganggap Ujang sebagai Dewa penolongnya. Farhan tidak tahu, Ujang hanya memanfaatkan situasi.
"Ya kita harus paham kang! Kalau Akang itu sebagai orang tua harus mempunyai Wibawa di hadapan anak-anaknya, Kalau benar si Fathan mengancam hendak melaporkan ke pihak yang berwajib, ketika akan memalsukan tanda tangannya. itu adalah ancaman yang luar biasa, ancaman yang tidak bisa dianggap remeh."
"Kok bisa seperti itu?" tanya Farhan yang sedang kalut sehingga dia tidak bisa menggunakan akal sehatnya.
__ADS_1
"Dari kejadian yang menimpa Kang Farhan, Fathan sudah tidak memiliki rasa hormat terhadap orang tuanya, mungkin sekarang sebenarnya dia sudah berharap kalau Akang, maaf! secepatnya meninggal, agar dia bisa menguasai lahan pertanian milik Kang Farhan, sehingga ambisinya tidak akan menemui halangan," jelas Ujang semakin memanaskan situasi.
Mendengar hasutan Ujang, Farhan terdiam seolah Sedang mencerna pemikiran orang yang berada di hadapannya. semakin lama dia semakin merasa bahwa apa yang dikatakan oleh Ujang itu benar adanya, Fathan sudah tidak memiliki rasa hormat, sudah tidak menganggapnya sebagai orang tua.
"Padahal Apa susahnya dia menyetujui permintaan orang tuanya, Lagian tanah yang mau dijual bukan tanah dia melainkan tanah Akang sendiri. kalau tidak terbentur aturan, maka saya akan sangat senang membantu Kang Farhan." lanjut Ujang ketika melihat tamunya Dilema, dia mulai memasukkan hasutan-hasutan kebencian, agar Farhan semakin menjauh dari Fathan, hingga dia akan leluasa menghancurkan sang petani itu.
"Iya bener Kang Farhan, kalau tanah yang mau dijual adalah tanah Fathan, maka wajar dia menolak atau mempersulit penjualan tanah. tapi ini, tanah akang sendiri! Ini adalah bentuk salah satu penghinaan dari seorang anak terhadap orang tuanya," Timpal Pardi yang sejak dari tadi terdiam.
"Nah, Pardi yang kurang pengetahuan saja Dia Mengerti kemauan Anak Kang Farhan!" ujar Ujang yang meremehkan pemikiran Pardi, Padahal dia bisa menghancurkan pertanian yang dikelola oleh Fathan itu hasil dari pemikiran adik iparnya. "Pardi tolong bikinkan kopi, agar pikiran Kang Farhan bisa fresh kembali!" lanjut Ujang menyuruh bawahannya, sambil mengedipkan mata memberi kode.
Mendapat perintah dari Ujang, sebenarnya Pardi sangat kesal karena diremehkan. namun dia sudah lama bergabung dengan Ujang, sehingga hinaan-hinaan seperti itu, tidak dianggap. yang terpenting uang Ujang terus mengalir membasahi kehidupannya. Pardi pun bangkit dari tempat duduk, kemudian dia masuk ke dalam rumah hendak membuat minuman sesuai yang diperintahkan oleh majikannya.
Sedangkan Farhan yang sejak dari tadi terdiam, dia mulai terlihat menarik nafas dalam, matanya yang menatap kosong ke arah meja, membuktikan bahwa sekarang Farhan sedang tidak memiliki pendirian, maka ketika ada hasutan-hasutan akan mudah hinggap di dalam jiwa yang sedang bergoyang.
"Benar juga Kang, setelah saya tela'ah, Ternyata saya tidak dihargai oleh anak saya. Fathan, dia selalu menentang perintah saya yang menginginkannya untuk bekerja kembali, bahkan dia tanpa ragu menaikkan intonasi suara ketika membicarakan tentang pertanian," ujar Farhan Setelah lama terdiam.
"Iya saya juga sudah tahu, makanya Kang Dadun, Kang Parmin dan Kang Nanang mereka keluar dari pertanian, karena anak itu keras kepala!" tambah Ujang menguatkan.
"Iya saya tidak beruntung memiliki anak!" Desis Farhan yang terdengar berat.
"Menurut saya..! tapi mohon maaf bukan saya menggurui."
"Yah kenapa Kang Ujang?" tanya Farhan yang terlihat antusias.
__ADS_1