Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 35 B


__ADS_3

Akhirnya


"Iya, Alhamdulillah mang! kita selalu diberikan kemudahan. Jawab Fathan yang terlihat sama matanya mengembun, dia merasa terharu dengan pencapaian yang ia dapatkan.


"Terus bagaimana, kalau ternyata uang pesangon kalian tidak turun?" ujar Farah menengahi.


"Kami yakin uang pesangon itu akan turun, karena sudah sesuai dengan aturan yang berlaku di negara kita." jawab Idan dengan percaya diri.


"Kalaupun tidak turun dan kalian mau kembali ke kampung. pintu kelompok keranjang sayur akan selalu terbuka bagi semua warga kampung sukadarma." jelas Fathan menepis keraguan Farah.


"Terima kasih banyak Tan! doakan saja agar tidak ada kendala." jawab Idan yang merasa bahagia atas penyambutan Saudara sepupunya.


"Oh iya, Kalian kan bekerja di bidang software engineer. tolong buatkan saya aplikasi pengontrol tanaman, agar ketika terkena penyakit, kita bisa mengidentifikasinya dengan cepat. Dan bisa melakukan penyembuhan dengan sigap."


"Rasanya sangat sulit Tan! namun kami akan mencoba membuat aplikasi itu. Tapi tolong kasih waktu karena ini tidak akan mudah."


"Siap! Kita akan bekerja bersama-sama."


Akhirnya para anggota kelompok usaha bersama atau KUB. keranjang sayur, mereka terlarut dalam pembahasan-pembahasan mengenai kemajuan perusahaan mereka. hingga akhirnya azan maghrib berkumandang dari arah mushola, membuat acara rapat tersebut dihentikan sementara.


Setelah melaksanakan salat Isya, Fathan terlihat merasa kaget setelah melihat Idan sudah bersiap-siap hendak pergi kembali ke kota.


"Kamu mau ke mana dan? Baru saja kemarin datang. sekarang udah mau pulang lagi?"tanya Fathan yang menghampiri sepupunya.


"Saya mau pulang dulu ke kota, saya mau mengurus resign dengan kantor. doakan agar kita mendapat uang pesangon yang lebih dari harapan, agar apa yang kita rencanakan bisa tercapai." ujar Idan sambil menepuk bahu Fathan, kemudian dia memeluk sepupunya itu dengan begitu erat.


Setelah selesai berpamitan, akhirnya mereka pun kembali ke kota, menggunakan mobil Travel yang sudah dipesan dari tadi siang. setelah mereka yakin bahwa bertani tidak akan menurunkan pendapatan mereka. diantar oleh tatapan-tatapan keluarga yang berkumpul di rumah Kamal.


Seminggu berlalu, akhirnya orang yang ditunggu pun datang. idan bersama 4 temannya kembali ke kampung sukadarma. untuk melanjutkan misinya membangun saluran irigasi dan menciptakan Greenhouse untuk tanaman.


Fathan dan Idan dibantu oleh warga-warga yang lainnya, mereka berbondong-bondong bekerja sama, membangun saluran irigasi menggunakan paralon untuk menunjang kebutuhan tanaman mereka. selesai membuat irigasi perairan, pemerjaan Mereka pun dilanjutkan dengan membuat rumah kaca, sehingga membuat kampung sukadarma yang Biasanya seperti Kampung mati, sekarang terlihat Mulai hidup mulai ada kebahagiaan dan harapan menghiasi hari-hari para warga kampung itu.


Setelah selesai semuanya, air pun mengalir begitu deras, basahi kebun kebun kelompok keranjang sayur. rumah-rumah kaca pun berdiri dengan begitu kokoh, karena Fathan yang berprofesi sebagai arsitek dia menciptakan rumah itu Tidak asal-asalan. sehingga dua bulan berlalu Mereka pun mulai melihat hasilnya. tanaman-tanaman yang awalnya subur semakin subur, sehingga mereka bisa mendapatkan keuntungan yang berlebih. bunga-bunga yang sedang bermekaran menambah kelengkapan hasil pertanian keranjang sayur. Kirana yang ditugaskan untuk mengelola akun media sosial keranjang sayur, semakin merasa betah karena follower akun media sosial itu semakin bertambah banyak. hingga pertanian keranjang sayur dikenal seluruh penjuru Indonesia, namun ada sesuatu yang membuat hati Kirana terganjal, karena Fathan yang sudah berjanji akan menemui orang tuanya setelah menyelesaikan panen dia mengingkari. Bahkan bukan hanya mengingkari, Fathan pun seolah tidak ingat dengan apa yang pernah dia ucapkan.

__ADS_1


Dari naiknya dan antusias para follower, hingga suatu hari Fathan pun dipanggil oleh salah satu perusahaan yang bergerak sebagai penyedia sayuran di supermarket, untuk membahas kerjasama di kantornya.


Hingga pagi itu, Setelah melaksanakan salat subuh. Fathan ditemani Kirana menuju ke kota untuk membahas rencana kerjasama. hingga pukul 06.00 mobil yang dikendarai oleh Fathan sampai di kantor, penyuplai sayuran di supermarket.


"Apa kita nggak kepagian?" tanya Kirana sambil menatap ke arah Fathan.


"Enggak, daripada kita telat, mending kita datang lebih awal." jawab Fathan yang selalu bersemangat ketika menyangkut ke dalam usahanya.


"Kalau masalah pekerjaan selalu giat, namun kalau masalah kita, Kamu seolah melupakannya?" dengus Kirana menyindir.


"Harus dong! Ya sudah, ayo kita cari sarapan terlebih dahulu, sebelum kita menemui orang kantor." ujar Fathan yang seolah tidak mengerti dengan apa yang disampaikan oleh gadis cantik yang duduk di sampingnya. dengan Acuh dia pun keluar dari mobil, lalu membukakan pintu Kirana. namun perlakuan itu tak membuat Kirana merasa senang, karena dia menginginkan lebih dari itu.


Dengan malas Kirana pun mengikuti Fathan yang sudah berjalan mendahului, menuju salah satu penjual nasi uduk yang berada di pinggir trotoar.


"Nasi uduk 2 Bu!" Pinta Fathan setelah sampai di tempat penjual sarapan.


"Dibungkus, apa makan di sini?" tanya penjual sambil menatap ke arah pelanggannya.


"Makan di sini aja Bu!" jawab Fathan sambil menggeser bangku agar mudah ketika mereka mau duduk.


"Halo Pak Bagas! maaf mengganggu pagi-pagi." jawab Fathan Setelah telepon itu terangkat


"Nggak! Pak Fathan nggak harus minta maaf, harusnya Saya yang meminta maaf karena saya membuat Bapak menunggu."


"Enggak apa-apa Pak! Lagian ini kesalahan saya yang datangnya ke pagian. Barusan Saya hanya ingin memberitahu bahwa saya sudah ada di kantor. bapak tenang-tenang aja, jangan merasa terburu-buru." jawab Fathan.


"Ya sudah! saya sebentar lagi berangkat, Nanti kalau saya sudah sampai ke kantor, saya akan hubungi kembali Pak Fathan."


"Baik Pak! Santai saja  lagian saya lagi sarapan di penjual nasi uduk, dekat kantor bapak.


Akhirnya telepon itu terputus, Fathan pun menatap ke arah piring berisi nasi kuning, lengkap dengan orek tempe dan telur balado.


"Ayo makan! kenapa masih diam?" tanya Fathan sambil menatap ke arah Kirana yang duduk di hadapannya.

__ADS_1


"Nunggu kamu! biar kita makan bareng." jawab Kirana.


"Ya sudah, ayo berdoa dulu!' ajak Fathan sambil membaca doa sebelum makan. setelah itu dia pun tanpa memperdulikan Kirana, mulai melahap nasi yang ada di hadapannya.


"Tan!" Panggil Kirana setelah mereka selesai sarapan. waktu berdua seperti ini mereka jarang dapatkan, sehingga Gadis itu tidak menyia-nyiakan waktu untuk mengobrol serius dengan kekasihnya.


"Kenapa, tidak Enak ya makanannya?" tanya Fathan sambil menatap ke arah orang yang bertanya.


"Gak Enak bagaimana? itu kan makanannya sudah habis. Aku mau nanya serius sama kamu?"


"Mau bertanya apa?" ujar Fathan balik bertanya tanpa sedikitpun merubah wajahnya yang terlihat datar.


"Kapan kamu mau menemui orang tua saya? dulu kamu pernah bilang setelah selesai panen. sekarang sudah hampir mau panen lagi, kamu belum mengajak saya untuk pulang." tanya Kirana dengan berhati-hati takut menyinggung perasaan Fathan.


"Ya Allah, sampai lupa. Maafkan aku Kirana! Maaf bukannya aku melupakan janjiku, namun kamu tahu sendiri akhir-akhir ini kita kan sangat sibuk. Jadi aku benar-benar lupa." jelas Fathan sambil merekatkan dua telapak tangannya di hadapan wajah.


"Terus kapan?" tanya Kirana dia tidak mau menerima alasan apapun. yang dia butuhkan hanya keseriusan pria yang ada di hadapannya.


"Setelah panen sekarang? saya akan memberanikan diri untuk menemui orang tua kamu."


"Nggak bohong?"


"Insya Allah nggak, Sekali lagi saya mohon maaf."


"Janji?"


"Sangat janji!" seperti yang dulu pernah dia lakukan, Fathan pun mengangkat jari kelingking, sebagai tanda keseriusan pembicaraannya.


"Terus kalau kamu bohong?"


"Saya nggak akan berbohong lagi! tolong Maafkan kesalahan saya yang dulu, dan terima kasih sudah membantu saya mengingatkan janji itu."


Mendengar penuturan pria yang selalu dia kagumi. kedua sudut bibir Kirana pun naik ke atas, merasa bahagia karena masih ada harapan untuk bisa hidup bersama Fathan. Meski itu hanya baru kata-kata Namun Entah mengapa hati Kirana merasa berbunga-bunga.

__ADS_1


Tring! tring! tring!


Raut kebahagiaan di wajah Kirana pun memudar seketika,  setelah mendengar suara telepon Fathan berbunyi. Karena pandangan Fathan yang memenuhi wajahnya sekarang beralih menatap ke arah layar handphone.


__ADS_2