Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS 115 TAMAT


__ADS_3

Suasana yang awalnya ricuh ingin menghakimi Ujang, karena sudah mengganggu ketentraman warga Kampung sukadarma. namun semua itu seketika berubah, ketika Fathan menceritakan kebaikan Ujang.


"Terus kalau begini, bagaimana?" tanya salah Seorang warga yang masih merasa bingung.


"Terserah Fathan dan Mang Kamal saja, karena dari semua ini mereka berdua lah yang sangat dirugikan," jawab Pak RT memberi arahan.


"Kalau saya tidak sedikitpun merasa dendam, karena yang terjadi terhadap diri saya, ini adalah perjalanan hidup yang tidak bisa dipungkir.i dengan adanya masalah ini saya semakin dewasa dan menghargai kehidupan," jelas Kamal yang sama seperti Fathan Tak sedikitpun merasa dendam dengan Ujang.


"Kalau kamu Tan?" tanya Pak RT sambil memalingkan pandangan menatap ke arah sang petani


"Asal Kang Ujangnya mau berubah, dan tidak mengulanginya lagi. saya tidak jadi masalah, yang terpenting  Maaf Kang Ujang! bukan saya mengancam, kalau Kejadian ini berulang kembali mencelakai saya atau keluarga saya atau perusahaan saya  maka saya tidak akan segan-senggan untuk membawa Mang Ujang ke pihak yang berwajib?" jawab Fathan dengan nada tegas.


"Terima kasih banyak Than....! terima kasih banyak....! Mamang memang nggak bisa melihat kebaikan kamu, Sekali lagi Mamang mohon maaf," ujar Ujang yang masih bersimpuh di hadapan Fathan.


"Ya sudah ayo kita sama-sama pulang ke kampung sukadarma, kita lanjutkan lagi pekerjaan kita jangan sampai para konsumen menunggu." ujar Kamal.


"Terus kedua Begundal ini bagaimana?" tanya salah seorang yang sedang menjaga kedua orang seruan Ujang untuk melukai Fathan.


"Itu urusan Kang Ujang, biarkan saja mereka mengurusnya." jawab Fathan sambil pergi meninggalkan tempat itu.


Akhirnya para warga kampung sukadarma mulai membubarkan diri dan melepaskan ikatan kedua preman yang tadi mau menghabisi Fathan, mereka berdua dibebaskan begitu saja, karena warga Kampung sukadarma sebenarnya sudah merasa kenyang dengan pertikaian dengan warga kampung sukaramah. mereka tidak ingin menambah masalah lagi dengan orang yang baru, sehingga mereka membebaskan kedua preman itu dengan mengultimatum tidak boleh mengganggu lagi warga kampung sukadarma.


Farhan yang sama seperti warga yang lainnya, dia pun pergi mendekat ke arah motor butut miliknya. motor yang biasa dipakai menjemput Fathan ketika mudik waktu lebaran.


Melihat Bapaknya yang dari tadi belum menyapanya, Fathan pun meminta Asep untuk membawa mobil Kirana. sedangkan dia berlari menuju arah motor Farhan, tanpa bertanya dan berbicara dia pun naik, sama seperti ketika dulu pulang dari Jakarta.


Farhan pun sama, dia tidak mengeluarkan suara sepatah pun yang ada dia mulai menarik tuas gas motornya hingga motor itu melaju meninggalkan tempat yang tadi dijadikan pertarungan. Sedangkan para warga lainnya mereka bergegas menuju mobil pick up, ada juga yang ikut mobil Kirana yang dikemudikan oleh Asep. sedangkan Ujang dan Darmi ditemani oleh Pardi, sebelum pulang Mereka menyelesaikan masalah dulu dengan preman buruannya.


Motor yang dikendarai oleh Farhan terus melaju mengikuti mobil pick up yang berada di depan, motor lama yang tidak bisa dibawa mengebut, hingga akhirnya mereka pun agak sedikit Tertinggal.


Di atas motor tidak ada satu orang pun yang berbicara. Fathan dia mengenang kembali ke masa-masa lalu di mana dia masih akrab dengan orang tuanya. dalam hatinya dia merasa bahagia, meski Farhan belum mengungkapkan apa-apa. tapi melihat Farhan sudah mau menyelamatkannya itu adalah bukti bahwa sekarang orang tuanya sudah berubah, orang tuanya tidak membencinya lagi, Bahkan dia rela berkorban demi anaknya.


Begitu juga dengan Farhan, dia pun mengingat kembali kenangan-kenangan masa lalu bersama Fathan. hingga tak terasa butiran bening pun jatuh membasahi pipi. Farhan yang tidak memakai helm sehingga air mata yang membasahi pipi tertiup oleh angin bukit yang lumayan kencang hingga air mata itu menuju ke arah belakang. sehingga Fathan bisa melihat ada cairan yang terbang di sampingnya.

__ADS_1


Dengan perlahan Fathan pun mulai memeluk bapaknya dari belakang, dengan pelukan yang hangat. pelukan seorang anak yang sangat kangen dengan orang tuanya.


Mereka terus melaju di atas dua roda yang Sudah usang, hingga lama-kelamaan Mereka pun tiba di depan rumah mereka. tanpa ada pembicaraan sedikitpun Fathan pun turun dari motor, kemudian masuk ke dalam rumah untuk menemui ibunya. namun sebelum masuk dia melihat tulisan yang ada di depan pintu yang bertuliskan Fathan sang petani, awalnya tulisan itu adalah Fathan sang arsitektur muda.


Melihat tulisan itu Fathan pun melirik ke arah Farhan yang baru saja memarkirkan motornya. tidak ada pertanyaan atau jawaban hanya Seuntai senyum yang terlukis di kedua sudut bibir mereka, Fathan pun berlari menuju ke arah Farhan kemudian memeluknya kembali.


"Maafkan Fathan Pak....! Maafkan kalau selama ini Fathan terus menyakiti hati bapak," ujar sang anak yang sedang memeluk orang tuanya.


"Sama Bapak juga minta maaf. kalau selama ini Bapak tidak pernah mendukung keinginan kamu. Bapak sudah salah menilai kamu. kita mulai lagi dari awal, kita akan bertani bersama, demi mewujudkan cita-cita kamu...!" jawab Farhan dengan tersendu.


Lama berpelukan akhirnya Farhan pun melepaskan pelukan anaknya, kemudian dia mengajak Fathan untuk masuk. namun sebelum mereka sampai ke pintu terlihat di sana sudah banyak orang yang menunggu, membuat Fathan mengurutkan dahi karena dari orang-orang yang menunggunya ada orang Yang Tak asing, yaitu Wira karena dan Winda Ibu Kirana.


Melihat anak dan suaminya yang pulang dengan penuh luka lebam-lebam karena pukulan ketika tadi menghadapi preman. Sri pun berlari sambil memeluk anaknya, dia pun mulai menghujani anaknya dengan pertanyaan, mengembalikan lagi rasa simpati yang sempat hilang beberapa tahun terakhir.


Setelah puas melepaskan rasa rindu yang sudah lama tidak bertemu. Fathan pun menghampiri Winda dan wira kemudian dia mengulurkan tangan untuk mengajak calon mertuanya bersalaman. tak lupa dia mencium punggung tangan kedua orang tua dari kekasihnya.


"Ada apa Kok bapak sampai ke sini?" tanya Fathan yang masih merasa heran.


"Emang nggak boleh kami Kalau kami berkunjung ke rumah kamu?" tanya Wira sambil mengulum senyum.


"Nggak usah heran dan nggak usah bingung, saya datang ke sini karena kami sudah bosan menunggumu datang ke rumah. hingga akhirnya kita buat berinisiatif sendiri untuk menanyakan keseriusan kamu terhadap anak saya!" jawab Wira dengan suara lembut namun terdengar tegas.


"Besan jangan ngobrol di sini, mendingan kita ngobrol di rumah saja." ajak Farhan yang sebenarnya dia sudah menghubungi Wira untuk melakukan pertemuan membahas anaknya. awalnya Wira pun menolak karena itu sangat tidak etis ketika keluarga perempuan yang mengadakan lamaran di rumah calon suaminya. tapi dengan bujuk rayu Farhan yang sangat pintar bernegosiasi, akhirnya Wira pun menyetujui hingga Mereka pun berkumpul di rumah Farhan.




Malam hari semua warga kampung yang semuanya sudah tergabung dalam anggota kelompok keranjang sayur. bahkan Ujang dan Pardi pun mendaftarkan diri untuk ikut bergabung membangun kampung sukadarma. mereka semua berkumpul di hadapan rumah Farhan, sehingga malam itu terasa berbeda dengan malam-malam yang lainnya. karena kalau mengadakan rapat mereka lebih memilih rumah Kamal yang berada di depan jalan.



Di malam itu pula Fathan mengikrarkan Janji Suci di depan semua orang yang hadir menyaksikan ijab qobul pernikahannya, di saksikan kedua orang tuanya dan kedua orang tua Kirana. mereka menikah secara sah baik menurut agama dan negara. namun untuk resepsi pernikahan mereka harus bersabar terlebih dahulu, sampai benar-benar pandemi yang sedang melanda setiap penjuru daerah yang berada di Indonesia hilang seutuhnya.

__ADS_1



5 bulan berlalu dari semenjak pernikahan Fathan. pertanian keranjang sayur maju begitu pesat, kehidupan para anggotanya subur Makmur gemah ripah loh jinawi. kebahagiaan Kirana yang berjuang bertahun-tahun akhirnya dia bisa mewujudkan, bahkan rahimnya sudah terlihat sedikit membesar hasil dari buah cinta dia dan sang petani.



Satu hari warga Kampung sukadarma terlihat mereka merayakan resepsi pernikahan Fathan yang begitu luar biasa. karena Ujang yang sudah bertobat dia menyumbangkan sebagian hartanya untuk ikut merasakan kebahagiaan orang yang biasanya dia benci. ditambah banyak sponsor sponsor yang membiayai acara resepsi itu. Dan keluarga Kirana bukan keluarga orang yang biasa-biasa juga. Hingga hartanya tidak akan habis dimakan 7 turunan.



Semua orang semua warga merasa ikut bahagia dengan keberhasilan Fathan dan keberhasilan mereka juga. Karena sekarang Mereka bisa berkumpul bersama keluarga tanpa harus terpisah untuk mencari nafkah kehidupan. karena di kampung sukadarma lapangan pekerjaan sudah sangat banyak, bahkan sampai sekarang mereka masih butuh pekerja tambahan.



Kampung sukadarma yang awalnya Hidup Hanya setahun sekali, itupun ketika waktu lebaran tiba. sekarang hampir setiap hari keadaan Kampung Mereka terlihat sangat ramai, Apalagi setelah pandemi covid menghilang. para turis lokal maupun mancanegara mulai berdatangan untuk menikmati suasana Asri di Kampung sang petani.



Keluarga Fathan mereka sangat bahagia, Farah sudah menikah dengan dokter Ardi. Sarah sudah lulus dari sekolah sekarang dia pun melanjutkan sekolah di Institut Pertanian. Fathan menyayangi semua anaknya tanpa ada yang berbeda-bedakan, bahkan sekarang dia tiap hari ikut bersama Fathan untuk membantu pertanian keranjang sayur.



Tamat!



Terima kasih bagi para pembaca yang sudah meluangkan waktu untuk membaca novel saya. walaupun masih banyak kekurangan dan kesalahan, tapi saya saya akan terus berusaha agar kedepannya saya bisa berubah menjadi lebih baik.



Mohon maaf bila ada penyebutan nama atau tempat yang sama, karena cerita ini hanyalah cerita fiktif belaka l. sampai jumpa di novel-novel saya selanjutnya. Ada pula novel saya yang sedang tayang yang berjudu :l babi beranting, babi berantig kisah ranti. 2 penghianat, jalan sntriku dan barista mencari cinta.


__ADS_1


Terima kasih see you...! Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


__ADS_2