Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 96


__ADS_3

"Fathan...! kamu nggak usah maksain, nanti saja kamu bisa susul orang tuamu setelah kamu sehat," tahan kamal yang berjalan mengikuti Fathan.


Kirana yang sebenarnya sudah tidak berharap lebih dengan Fathan, melihat kekasihnya berjalan dengan sempoyongan, dia pun tak tega. akhirnya bangkit kemudian menyusul Kamal dan Fathan yang sudah berada di luar.


"Ayo Mamang antar, kamu lagi sakit...!" tahan Kamal sambil memegang tangan Fathan.


"Biarkan Mang...! Biarkan saya menyusul orang tua saya. mungkin saya punya salah, sehingga mereka pergi menjauh," jawab Fathan yang terdengar rancu.


"Yah makanya...! Ayo Mamang antar," jelas Kamal sambil menatap nanar ke arah Fathan, dia yakin keponakannya memang sedang mengalami sakit berat, sehingga pembicaraannya agak sedikit melantur.


Kamal pun berjalan mendekat ke arah motor miliknya, lalu menyalakan motor itu kemudian mengajak Fathan untuk naik. namun ketika Fathan duduk di atas motor tiba-tiba tubuhnya pun terjatuh, dengan Cepat Kamal menkick standar motornya, lalu membantu Fathan untuk bangkit.


"Mending kamu istirahat saja dulu! menyusul orang tuamu bisa nanti, setelah kamu baikan" nasehat Kamal.


"Nggak Mang...! kalau nanti-nanti orang tua saya keburu jauh," jawab Fathan sambil kembali naik ke motor.


"Jangan naik motor Tan...! nanti kamu jatuh lagi. ya sudah Ayo Mamang antar masuk kembali ke dalam!" ajak Kamal sembari menarik tangan Fathan, untuk turun dari motornya.


Sang petani yang keras kepala itu, dia tidak menurut dia malah mengajak Kamal untuk segera naik ke motor, membuat Kirana yang melihat sedikit tersentuh.


"Ya sudah...! Naik mobil ajah Mang Kamal," tawar Kirana yang kebetulan hari itu dia membawa mobil, karena mobil miliknya Sudah lama tidak dipanaskan.


"Yah bener bu...! Jadi kalau naik mobil tidak akan jatuh seperti tadi," jawab Kamal menarik turun Fathan dari motor, kemudian dia menggandeng keponakannya itu menuju ke mobil milik Kirana.


Setelah semua orang masuk, Kirana pun mulai menyalakan mobil, kemudian segera pergi meninggalkan keranjang sayur, menuju Jalan Besar Kampung sukadarma.

__ADS_1


Mobil SUV putih itu terus melaju dengan perlahan, menghindari lubang-lubang besar yang bertata rapih di seluruh area jalan yang mereka lewati. Fathan yang sudah sangat kepayahan, dia beberapa kali mengigau memanggil-manggil nama orang tuanya, membuat hati gadis itu merasa teriris menyaksikan kekasihnya seperti itu.


UWeeeek! Uweeek!


Tiba-tiba Fathan muntah, mungkin kondisi tubuhnya yang sangat lemah, sehingga ketika menaiki mobil dengan guncangan yang kasar, membuat perutnya terasa mual hingga dia tak kuat menahan.


"Apa yang Mamang bilang, Kamu harusnya Istirahat di kantor atau di rumah!" Gerutu Kamal yang sedikit kesal, karena Fathan sangat susah dinasehati. padahal biasanya Fathan selalu menerima pendapat orang lain, mungkin sekarang kondisi pikiran yang sedang kalut, ditambah tubuh yang sakit membuat dia tidak bisa berpikir jernih.


Mendengar nasehat pamannya, Fathan hanya melirik sebentar. kemudian dia muntah kembali sehingga Kirana pun menepikan mobilnya, kemudian dia mengambil botol minum. lalu diserahkan sama Kamal untuk diberikan kepada Fathan


Dengan telaten Kamal pun membantu Fathan untuk minum, agar dia tidak terus-terusan muntah. setelah meminum beberapa tegukan Fathan pun menyandarkan tubuh ke kursi mobil, matanya tetap terpejam, nafasnya terlihat pelan, badannya bergetar menggigil seolah kedinginan.


"Bagaimana nih Mang?" tanya Kirana yang merasa bingung.


"Sudah kita jangan turuti kemauan Fathan, kita ke Puskesmas saja untuk mengecek kesehatannya!" saran Kamal karena melihat kondisi keponakannya tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh. Apalagi jarak Kampung situmekar dan kampung sukadarma sangat jauh  ditambah jalanan yang jelek, itu akan membutuhkan waktu 6 jam di perjalanan.


Sesampainya di Puskesmas, Fathan pun diperiksa kemudian diberikan pertolongan. beruntung sakit yang diderita oleh Fathan bukan diakibatkan oleh virus, melainkan kecapean karena sering begadang memikirkan kemajuan pertanian yang dikelolanya. sehingga kira-kira pukul 05.00 sore dia pun sudah diperbolehkan untuk pulang.


Akhirnya mobil SUV milik Kirana pun Kembali menuju ke kampung sukadarma, Sesampainya di depan rumah kamal terlihat Sri, Idan dan Asep, mereka sedang duduk di teras rumah menunggu kepulangan Fathan


Setelah memarkirkan mobil, Asep dan Idan pun bergegas menghampiri, kemudian membantu Fathan membawanya ke rumah Kamal, kemudian dia pun ditempatkan di kamar Idan untuk beristirahat.


"Kenapa Kang, Kok bisa seperti ini?" tanya Sari setelah mereka selesai membantu Fathan.


"Ternyata Kang Farhan bukan mau berlibur ke kampung situmekar, melainkan Mereka pergi meninggalkan Fathan."

__ADS_1


"Terus bagaimana?"


"Yah nggak tahu, Akang juga bingung!" jawab Kamal sambil menghela nafas.


"Oh iya neng Kirana, selama Kang Farhan dan teh Sri belum pulang, Eneng sebaiknya tinggal di rumah bibi. kalian jangan tinggal di rumah berduaan," ujar Sari sambil menatap ke arah Kirana yang sejak dari tadi hanya terdiam.


Pikiran Kirana yang sangat kalut melihat kondisi Fathan. walau bagaimanapun dia masih tetap mengharapkan cinta sang petani itu. namun melihat kondisi sekarang rasa-rasanya cita-citanya akan semakin menjauh, sehingga dia terlihat begitu lesu, tidak bersemangat untuk hidup.


"Iya Bu! kebetulan kamar di rumah mamang kamarnya ada banyak. ibu tinggal pilih mau kamar yang mana?" Timpal Kamal seolah mendapat ide, masalah mana yang harus secepatnya diselesaikan.


"Baik Mang...! Terima kasih atas pengakuannya," jawab Kirana singkat, kemudian dia menundukan pandangan kembali, pikirannya terbang ke mana-mana memikirkan hal-hal terburuk yang akan menimpanya. Memikirkan bagaimana dia masih bisa bertahan, sedangkan orang yang diperjuangkan sama sekali tidak menggubrisnya, seolah dia tidak ada di kehidupan Fathan.


"Ya sudah sana kemasi bareng-bareng Neng, pindahkan ke sini."


"Baik Bi...!" jawab Kirana sambil bangkit dari tempat duduk, kemudian dia pun keluar menuju rumah Farhan.


"Perlu bantuan Bu?" tawar Asep.


"Boleh... tolong bantu bawakan barang-barang saya yang berat," jawab Kirana sambil terus berjalan diikuti oleh Asep.


Sesampainya di rumah Farhan, rumah itu terlihat gelap karena belum ada lampu yang dinyalakan. dengan Sigap Asep pun menyalakan lampu, sehingga rumah Fathan pun terlihat terang.


Kirana masuk ke dalam rumah, kebetulan pintunya tidak dikunci, bahkan kuncinya pun masih menempel di lubang pintu, mengisyaratkan bahwa Farhan bukan orang yang tega. sehingga dia membiarkan rumah itu tetap diisi oleh anak yang menurutnya sangat tidak memiliki rasa hormat.


Kirana dengan tergesa-gesa merapikan barang-barang miliknya, kemudian dimasukkan ke dalam koper, lalu diserahkan kepada Asep untuk dibawa ke rumah Kamal.

__ADS_1


Asep terlihat bolak-balik antara rumah Farhan dan rumah Kamal, Untuk memindahkan barang-barang milik kekasih atasannya. Hingga ketika bedug magrib berkumandang, semua barang kirana sudah pindah ke rumah Kamal.


Fathan yang sedang sakit, dia terus dirawat oleh Sari dengan penuh kasih sayang, meski sekarang Fathan pemikirannya sedang Kacau, namun keluarga Kamal mengingat kebaikannya ketika Fathan sedang Jaya, sehingga mereka tidak setengah-setengah mengurus sang petani itu.


__ADS_2