
Romantis
Siang itu di kantor penyuplai makanan untuk supermarket, terlihat ada tiga orang yang sedang terlarut membahas kerja sama, antara pihak petani dan penyuplai.
"Silakan tanda tangan di sini pak!" ujar Bagas setelah mencapai kesepakatan kerjasama itu. kemudian dia menunjuk draft kerjasama yang harus ditandatangani oleh Fathan.
Sang petani itu pun mengangguk, kemudian dia mencoret kertas kerjasama itu sesuai dengan tanda tangannya.
"Semoga kerjasama Kita berjalan dengan baik!" ujar Fathan sambil mengulurkan tangan, setelah kedua pria itu saling menandatangani kontrak.
"Amin!" jawab Bagas yang memegang tangan Fathan sebagai simbolis kerjasama.
Selesai menjalankan kerjasama, Fathan dan Kirana pun berpamitan keluar dari kantor penyuplai sayuran supermarket, kemudian mereka menghampiri mobil Kirana yang terparkir.
"Makan dulu yuk!" ajak Kirana.
"Iya! tapi kita cari makan nanti aja di jalan. Aku nggak sabar ingin memberitahu kabar gembira ini kepada seluruh anggota kelompok." jawab Fathan sambil membukakan pintu untuk Kirana.
"Ya sudah!"
Akhirnya mereka pun masuk ke mobil, Fathan yang bertugas mengemudi, dengan cepat menyalakan mobil itu meninggalkan kantor Bagas, dengan membawa hati yang sangat bahagia. karena semua pekerjaan yang dia lakukan perlahan mulai menunjukkan hasil.
"Mau makan apa?" tanya Fathan ketika mereka sudah keluar dari kota Sukabumi.
"Sate, kayaknya enak Tan!"
"Emang gak takut gemuk?" Fathan menanyakan hal yang paling ditakutkan oleh para wanita.
"Enggaklah! Lagian kalau aku gemuk, nanti akan tertolong oleh gantengnya suamiku. Aku penasaran karena menurut penuturan warga Kampung sukadarma, sate itu adalah salah satu sate yang rasanya sangat nikmat. Boleh ya please!" Ujar Karla sambil mengedip-ngedipkan matanya membuat wajah gadis cantik itu terlihat sangat menggemaskan.
"Oh, sate yang ada di belokan, yang dekat masjid?" Jawab Fathan seperti biasa dengan wajah datarnya.
"Mungkin! aku kan nggak tahu, Lagian aku bukan orang sini." jawab Kirana yang mendengus sedikit agak kesal, harapan gadis cantik itu, pipnya akan dicubit lembut oleh Fathan.
"Ya Sudah kita makan di situ, sambil melaksanakan salat zuhur."
Siang itu, di jalan Kabupaten Sukabumi terlihat ada mobil SUV yang melaju membelah jalan. Matahari sangat terik karena matahari itu berada tepat di atas tempat di ubun-ubun. mobil itu berhenti di salah satu warung sate yang sudah sangat dikenal oleh khalayak ramai. kemudian keluarlah sepasang remaja, yang satu tampan namun agak sedikit hitam. yang satunya lagi seorang perempuan dengan wajah yang sangat cantik dan kulit yang kuning langsat.
"Ini tukang satenya?" tanya Kirana sambil menatap ke arah Fathan.
__ADS_1
"Iya benar!"
"Uh! wanginya enak banget yah! apa gara-gara lapar?" tanya Kirana yang terlihat menelan ludah.
"Sebelum kita salat. kita pesan dulu! biar nanti, setelah salat kita bisa langsung makan." jawab Fathan sambil mendekati ke arah orang yang sedang membakar sate.
"Sate pak?" tanya pria yang sedang mengipas-ngipas arangĀ yang di atasnya ada daging kambing yang sedang dibakar. jam segitu belum terlalu ramai, karena biasanya warung sate ini akan dipenuhi oleh pengunjung setelah sore. soalnya banyak para sopir truk, yang mengirim hasil pertanian yang berangkat sore hari. Mereka akan mampir untuk mengisi perutnya terlebih dahulu.
"Iya Pak! dua porsi."
"Dibungkus apa makan di sini?"
"Makan di sini pak! namun saya mau ke masjid dulu."
Penjual sate itu hanya mengangguk tanda penerimaan pesanan. setelah memesan sate, Fathan yang diikuti Kirana bergegas menuju ke arah Masjid, yang tak jauh dari penjual sate itu.
Sesampainya di masjid, Fathan pun mengambil air wudhu kemudian masuk ke dalam masjid. namun dia tidak langsung salat, dia menunggu Kirana untuk mengajaknya salat berjamaah. Fathan yang telat datang kemasjid, sehingga ketinggalan salat berjamaah dzuhur.
Selesai salat, Fathan pun berdoa dan mengucapkan rasa syukur atas kenikmatan yang Tuhan berikan. karena kehendakNya lah, dia bisa bekerja sama dengan perusahaan penyuplai sayur di Kota Sukabumi. Doa sang petani itu diamini oleh Kirana yang duduk di belakangnya.
Setelah salat, Fathan pun mengulurkan tangan untuk mengajak kirana bermusyafahah. rasanya sangat menyejukkan bagi hati gadis kota itu, ternyata kebahagiaan itu bukan diukur secara materi, namun kebahagiaan hadir ketika bisa berjalan beriringan, satu tujuan, satu Irama, Satu keyakinan.
Selesai melaksanakan salat, mereka berdua pun keluar dari masjid, lalu menuju ke warung penjual sate. setelah sampai di warung, Mereka pun duduk di meja lesehan yang paling samping, karena warung itu yang berada di pinggir lereng, sehingga bisa Menikmati keindahan alam yang ada di lembah.
"Nggak membungkus buat Bapak Tan?" tanya Kirana Setelah meneguk air teh hangat.
"Enggak! Lagian kalau sate dimakan dingin, kurang mantap. sate harus langsung dimakan ketika sudah diangkat dari pembakaran." jelas Fathan.
"Nggak apa-apa kali Tan! kalau mau membawa, bawa aja! nanti aku yang bayarin."
"Nanti aja Kirana! kalau kerjasama kita sudah mulai berjalan, kita ajak seluruh anggota kelompok dan seluruh warga kampung untuk makan di sini, sebagai bentuk rasa syukur kita."
"Wah ide bagus tuh!" jawab Kirana.
"Iya! doakan saja agar semua usaha yang kita jalankan lancar."
"Amin! Oh iya, nanti kalau keluargaku main ke Kampung sukadarma, Nanti kita ajak mereka makan di sini." Ujar Kirana memberi saran.
"Boleh! Emang kapan Pak Wira mau ke sini?"
__ADS_1
"Belum tahu Tan! Kan kamunya juga belum mendatangi Mereka lagi."
"Iya, yah!" Jawab Fathan seolah tidak antusias.
"Kenapa, kok kayaknya gak semangat seperti itu?"
"Semangat kok!" jawab Fathan dengan wajah datarnya.
"Maaf nih Tan! boleh aku bertanya?" tanya Kirana sambil menatap Mata indah milik pria yang ada di hadapannya, menunjukkan apa yang akan disampaikan sangat serius.
"Yah! mau nanya apa?"
"Sebenarnya kamu cinta nggak sama aku?" tanya Kirana dengan ragu-ragu. meski malu, namun dia ingin punya kejelasan. karena begitulah wanita, mereka hanya menginginkan kepastian dari orang yang dicintainya.
Ditanya seperti itu, Fathan hanya menatap lekat bola mata yang sedikit bulat milik Kirana, membuat Gadis itu terlihat tidak nyaman.
"Kenapa menatapnya seperti itu?" tanya Kirana yang terlihat salah tingkah.
"Terasa nggak?" jawab Fathan malah balik bertanya.
"Apanya yang terasa?" ujar Kirana sambil mengerutkan dahi, tidak mengerti apa yang diucapkan oleh kekasihnya.
"Ketika mata kita beradu, ada getaran-getaran yang tidak bisa diucapkan oleh kata-kata. dan yang perlu kamu ketahui, bahwa cinta itu keluar bukan dari ucapan. cinta keluar dari hati! Maka tidak ada kata-kata yang pantas untuk mengungkapkan rasa cinta. Karena rasa hanya bisa dirasakan oleh perasaan, tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata."
Mendengar jawaban Fathan seperti itu, membuat hati Kirana sedikit ciut. karena bukan itu yang dia mau, dia ingin mendengar pria yang selalu diharapkan menjadi pendampingnya, mengakui, mengucapkan, meresmikan menghalalkan dan yang lainnya.
"Kenapa diam?"
"Aku butuh pengakuanmu Tan!"
"Pengakuan seperti apa?"
"Pengakuan Cinta dari mulutmu! karena kita memiliki mulut untuk mendeskripsikan sebuah rasa. walaupun rasa tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata, namun kita akan memahami ketika mendeskripsikan rasa itu dengan benar. seperti orang yang menyebutkan rasa garam itu asin, maka kita pun bisa mengerti rasa asin itu seperti apa."
"I love you!" ujar Fathan untuk pertama kalinya dia mengungkapkan hal seperti itu.
"Are you Serius?" Tanya Kirana seolah tidak percaya.
"Sangat serius!"
__ADS_1
"Terima kasih ya! aku juga sangat sayang sama kamu."
"Sudah tahu!" jawab Fathan dengan muka datarnya, membuat Kirana menekuk wajah. karena keromantisannya diganggu oleh sikap pacarnya yang sangat menyebalkan, namun sikap itulah yang membuat Kirana terus mengejar cinta pria yang ada di hadapannya.