Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS 42


__ADS_3

Kondisi Kamal


"Kakak......! kang Kamal Kak......!" Suara Sari pecah setelah sadar dari pingsannya.


perlahan Kirana membangkitkan tubuh wanita paruh baya itu, wanita yang sedang merasakan kepedihan karena suaminya harus dilarikan ke rumah sakit. Kirana  menyandarkan tubuh lemas Kedinding, agar Sari bisa menuguk air putih.


"Sabar Sari! sabar.......!" jawab Sri sambil mengusap ngusap pundak adiknya, seolah lagi mentransfer energi. agar adiknya bisa kuat menghadapi segala cobaan, yang sedang menimpa keluarganya.


Sari hanya menghela napas pelan, kemudian menyusut cairan yang mengalir membasahi pipi, dengan telapak tangannya. namun cairan itu terus keluar seperti tidak mau surut, seolah dibelakang bola matanya ada sumber air.


"Apa yang harus kita lakukan Bu?" tanya Kirana yang sejak dari tadi memijat-mijat pergelangan kaki Sari. Semenjak tinggal di kampung sukadarma dia sudah menganggap keluarga Fathan adalah keluarganya, jadi Kirana tidak ragu untuk melakukan yang terbaik membantu keluarga itu.


"Nggak tahu Kirana! Ibu juga bingung, harus berbuat apa...?" jawab Sri sambil menghela napas.


"Apa gak sebaiknya kita menyusul Mang Kamal Ke rumah sakit?"


"Nyusul pakai apa?"


"Kan ada mobil Kirana Bu....."


"Terus nyusulnya ke mana Na? Kita kan nggak tahu Mang Kamal di bawah ke rumah sakit mana?".


"Bentar kirana telepon Fathan dulu." jawab gadis kota itu, sambil mengambil handphone dari dalam tasnya. kemudian dia memencet tombol Panggil, ketika nomor Fathan sudah ketemu.


Tuuuuuuuut! tuuuuuuut! tuuuuuut!


Suara telepon ketika menunggu panggilan diangkat. suara yang terdengar sangat nyaring karena di ruangan itu tidak ada orang yang berbicara, hanya isakan tangis dari Sari yang terdengar. Lama menunggu namun telepon Fathan tidak diangkat, membuat Kirana sedikit merasa kesal. "Kebiasaan!" dumel hati Kirana.


"Bagaimana?" tanya Sri sambil menatap penasaran ke arah wanita kota itu.


"Nggak diangkat bu."


"Coba hubungi nomor Kak Farah! soalnya menurut keterangan para warga. Kak Farah juga ikut mengantar Mang Kamal Ke rumah sakit." ujar Sarah memberikan saran.


Gadis kota itu tak menyia-nyiakan waktu, dengan cepat dia pun mengalihkan layar handphone, mencari nomor calon adik iparnya. tak lama mencari karena nomor kontak di handphonenya hanya sedikit.


Tuuuuuuuut! tuuuuuuut! tuuuuuut!

__ADS_1


Suara penunggu panggilan itu terdengar kembali, membuat semua orang orang yang ada di situ menahan nafas, menunggu panggilan terhubung.


"Halo! ada apa Kak Kirana?" tanya Farah setelah teleponnya diangkat.


"Mang Kamal mau dibawa ke rumah sakit mana?"


"Mungkin ke rumah sakit Kota Sukabumi Kak! Rumah Sakit Bunut." jawab Farah menjelaskan.


"Udah pasti?" tanya Kirana seolah meragukan jawaban dari calon adik iparnya.


"Pasti Kak! walaupun kak Fathan belum berbicara. Namun Farah yakin Mang Kamal akan dibawa ke sana, karena rumah sakit itu adalah Rumah Sakit terbesar di Sukabumi."


"Terima kasih, kamu hati-hati di jalan." ujar Kirana sambil menutup telepon kemudian membagi tatap ke arah orang-orang yang sedang berada di rumah Sari.


"Bagaimana?" tanya Sri yang seolah tidak sabar.


"Mang Kamal mau dibawa ke rumah sakit Kota." jawab Kirana yang terlihat memasukkan kembali handphonenya ke dalam tas.


"Sari, apa kamu mau menyusul Suamimu ke Rumah Sakit Kota?" tanya Sri sambil menatap adiknya yang masih terus menangis tersendu-sendu.


"Sebentar ya! atau kalau bisa Tolong kamu Siapkan baju ganti untuk suamimu. Kakak mau membungkus nasi buat orang-orang yang mengantar Kamal. Dan jangan lupa surat-surat penting milik Kamal harus dibawa untuk mengurus administrasi di rumah sakit." ujar Sri membagi tugas.


"Iya Kak!' jawab Sari sambil perlahan bangkit.


"Bentar! Bibi tunggu aja. Bibi kasih tahu baju mana yang mau dibawa, biar Kirana dan Sarah yang menyiapkan." tahan kekasih Fathan itu memberikan tawaran.


"Terima kasih!" jawab Sari dengan suara pelan, kalau tidak jeli maka tidak akan mendengarnya.


"Ya sudah kalian bantu Bibi menyiapkan semua kebutuhan Mang Kamal, Ibu mau membungkus nasi terlebih dahulu."


"Sekalian nasi yang ada di rumahku, tolong dibungkus juga Kak! Sayang kalau nggak dimakan." pinta Sari sambil menatap nanar ke arah kakaknya.


"Akhirnya mereka bertiga pun disibukkan dengan menyiapkan baju-baju dan perlengkapan-perlengkapan ketika menginap di rumah sakit. begitulah keadaan warga kampung, di mana ketika ada orang yang kena musibah, mereka akan berbondong-bondong saling membantu.


Setelah semuanya siap, Kirana pun mengambil mobil yang terparkir di dekat gapura. beruntung tadi ketika Fathan turun kunci mobilnya masih tergantung di lubangnya. tanpa berlama-lama Kirana pun membawa mobil itu kembali ke rumah Kamal, untuk menjemput calon mertua dan calon bibi ipar yang hendak menyusul suaminya yang kena musibah.


Setelah memasukkan barang-barang, mereka pun masuk ke mobil. dengan perlahan Kirana pun mulai menginjak pedal gas pergi meninggalkan kampung sukadarma, untuk menyusul Kamal yang dibawa ke rumah sakit. sedangkan orang-orang yang disusul mereka masih terlihat sangat panik, karena mobil yang mereka tumpangi terasa berjalan sangat lambat. padahal Asep yang sudah Mahir mengemudikan mobil, membawanya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.

__ADS_1


Sesekali Fathan melihat wajah pamannya yang terlihat sudah pucat bahkan seringkali Dia memanggil nama pamannya itu, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. dari sudut matanya terlihat cairan bening yang mengucur membasahi pangkal hidung. Fathan merasa ketakutan yang teramat dalam, karena kalau terjadi sesuatu sama pamannya, maka orang yang pertama yang sangat menyesal adalah dirinya. sebab Kamal bisa terluka separah sekarang, itu gara-gara menyelamatkan nyawanya.


"Mang Kamal.....! yang kuat Mang!" ujar Fathan sambil menatap wajah Kamal yang terbaring di pahanya.


Idan yang duduk di samping kamal, dari tadi dia pun tak henti-hentinya menangis, tidak kuat melihat orang yang sudah mengorbankan hidupnya, sehingga dia bisa tumbuh sebesar sekarang, terbaring lemas tak berdaya.


"Bapak......! bapak......! jangan tinggalkan Idan Pak.......!" ujar Idan sambil terus mengusap-ngusap tubuh orang tuanya.


Mobil yang dikendarai terus Mengikuti alur jalan yang sangat berliku-liku, dengan kecepatan sedang, kadang juga tinggi. Sehingga akhirnya mobil pick up itu masuk ke daerah kota. perjalanan kendaraan yang dibawa oleh Asep tidak secepat tadi, karena harus menghindari angkot-angkot yang biasa berhenti di samping jalan.


Mobil milik keranjang sayur, terus menyela-nyela di tengah-tengah mobil yang berlalu lelang di jalan raya. mobil terus menanjak menuju ke arah Selabintana. namun baru beberapa meter dari pusat Kota, mobil itu belok ke sebelah kiri, kemudian masuk ke pintu gerbang rumah sakit.


Melihat mobil yang dikendarainya sudah sampai di depan pintu. dengan cepat Fathan dan beberapa warga lainnya turun dari mobil, kemudian Fathan masuk ke dalam meminta perawat untuk membawa ranjang transfer pasien. melihat kepanikan Fathan dengan cepat para perawat pun mendorong salah satu ranjang, kemudian membawanya ke luar.


Kamal yang di topang oleh Idan, dengan cepat membantu mengangkat memindahkan tubuh bapaknya ke ranjang transfer pasien. setelah tubuh Kamal dipindahkan dengan cepat para perawat pun mendorong tubuh itu masuk ke ruang ICU, sedangkan Fathan diminta mengurus administrasinya.


"Ada BPJS nya Pak?" tanya seseorang yang bekerja di ruang administrasi.


"Ada Bu! namun bisa nggak menyusul? sekarang Tolong selamatkan Paman saya."


"Baik kalau seperti itu, silakan tanda tangani di sini. dan Kalau bisa secepatnya bawa bpjs-nya, kalau belum punya Tolong segera urus agar memudahkan pasien." saran administrasi rumah sakit.


"Terima kasih!"


Setelah mengurus administrasi, Fathan berlari menuju ke ruang ICU, di mana Kamal sedang dirawat. dia menghampiri Idan yang sedang terduduk di kursi koridor rumah sakit.


"Bagaimana?" tanya Fathan sambil menatap ke arah sepupunya.


"Lagi diobati Tan!" jawab Idan yang seolah enggan berbicara.


"Semoga tidak terjadi sesuatu sama Mang Kamal."


"Amin!' jawab Idan.


"Yang lain pada ke mana?" tanya Fathan sambil memindai area sekitar, karena dia tidak melihat ada warga kampungnya di situ.


"Mereka mau melaksanakan salat Ashar dulu Tan, emang kenapa?" tanya Idan sambil menatap penasaran ke arah sepupunya.

__ADS_1


__ADS_2