
Kampung Sukaramah
Asap sate mengepul mengikuti arah angin, penjual sate terus disibukkan dengan pesanan-pesanan pembeli yang undur datang. terlihat di salah satu meja lesehan ada dua orang remaja yang sedang mengobrol, setelah menghabiskan makanannya, karena ada piring kotor masih tersimpan di atas meja itu.
"Jangan cemberut!" Ujar Fathan setelah melihat Kirana menekuk wajah karena kesal, dengan sifatnya yang tak ada romantis-romantisnya.
"Kenapa? Lagian kamunya nyebelin!"
"Karena kalau cemberut seperti itu, seperti orang yang lagi nongkrong di toilet."
"Apa kamu bilang!"
"Awwwwww!"
Desis Fathan sambil meringis menahan sakit, karena tangannya yang ada di atas meja dicubit kuat oleh Kirana.
"Kamu nggak ada romantis-romantisnya sih! padahal aku sudah menunggu waktu lama, untuk mempunyai waktu sedekat ini. kamu terlalu sibuk memikirkan pertanian. Dulu pas waktu kerja kamu sibuk dengan pekerjaanmu."
"Ada kok! kamunya aja yang nggak paham?"
"Apa keromantisan yang dipunyai oleh sang petani ini?" tanya Kirana sambil menatap kagum ke arah Fathan.
"Membayarkan nasi uduk tadi pagi!"
"Apa hubungannya romantis, sama membayarkan nasi uduk?"
"Karena seorang laki-laki yang bertanggung jawab, dia akan memikirkan kesehatan calon istrinya, calon ibu dari anak-anaknya."
Mendengar ucapan Fathan seperti itu, membuat kedua sudut bibir Kirana terangkat dengan sempurna. meski ucapan Fathan sangat datar dan tidak ada sisi romantisnya, tapi perkataan sang petani itu mampu menggetarkan hati Kirana. Dan ketika bisa mengobrol lama seperti sekarang, itu sudah lebih dari romantis.
__ADS_1
"Jangan cengar-cengir melulu! mending Ayo kita pulang! nanti takut kesorean." ajak Fathan sambil meneguk kembali air teh yang masih tersisa. Membuat senyum Yang Terukir di wajah cantik Kirana memudar seketika.
"Nanti aja sih! Aku kan masih betah menikmati pemandangan indah." tolak Kirana sambil menunjuk ke arah lembah yang terlihat sawah membentang dengan luas, di akseni oleh sungai-sungai yang membelah.
"Kalau mau ke sini lagi. Nanti ajak Farah atau Sarah atau juga kamu bisa mengajak Zahra. untuk menikmati pemandangan sepuasnya. aku harus cepat pulang, aku sudah tidak sabar menyampaikan berita baik ini kepada anggota kelompok." ujar Fathan sambil merapikan barang-barangnya. Tanpa menunggu jawaban dari Kirana, dia pun menghampiri kasir untuk membayar makanan mereka.
Kirana yang melihat kekasihnya sudah berdiri, dengan mendengus kesal sambil menekuk wajah. dia pun bangkit lalu berjalan menuju ke arah mobil, meninggalkan Fathan yang masih menunggu kembalian.
Tak lama setelah Kirana masuk mobil. Fathan pun datang kemudian masuk ke dalam. seolah pria yang tidak memiliki perasaan, Fathan yang melihat Kirana menekuk wajah, dia hanya senyum sebentar. kemudian memutar kontak, sehingga mobil Kirana menyala. Fathan menginjak pedal gas melepas kopling pergi meninggalkan warung sate.
Kirana yang didiamkan begitu saja, hanya menatap ke arah luar jendela, melihat pohon-pohon yang berlarian seperti menjauh. lama tak ada pembicaraan, Kirana pun akhirnya menatap ke arah Fathan.
"Kamu nggak punya perasaan banget sih?" dengusnya menunjukkan raut wajah kesal.
"Perasaan apa lagi sih nona manis?" jawab Fathan sambil melirik sebentar ke arah Kirana, kemudian pandangannya terfokus kembali ke arah jalan.
"Yah, kalau kekasihnya marah! diapain kek, minta maaf kek, atau dirayu kek, dipuji kek!" cerocos Kirana menyampaikan kekesalannya.
"Apaan sih kamu!" jawab Kirana yang bingung harus mengekspresikan wajah seperti apa, di satu sisi Dia sangat senang ketika Fathan bilang bahwa dirinya sangat cantik, namun di sisi lain dia sangat kesal karena pria itu tidak memiliki rasa peka sama sekali.
"Kalau ini ekspresinya marah apa senang?" tanya Fathan yang merasa senang ketika melihat gadis yang duduk di samping kemudi Salah Tingkah seperti itu.
"Sudah jangan banyak ngomong! mending kamu fokus menyetir. nanti kayak di cerita novel-novel yang akhirnya tragis. kalau nggak masuk jurang, mobilnya menabrak pohon. kalau di film-film Hidayah kapnya terbuka, Lalu ada asap mengepul." sanggah Kirana tak mempedulikan pertanyaan Fathan.
Kedua Insan itu terus bercengkrama, saling meledek, saling memuji, saling mengungkapkan perasaan dengan cara masing masing. yang perempuan sangat agresif, yang laki-laki sangat pasif. namun hati mereka tidak bisa berbohong, mereka berdua memiliki rasa yang sama dan tujuan yang sama, hanya beda pengungkapan saja.
Mobil yang dikemudikan oleh Fathan terus melaju menyusuri jalan yang berkelok-kelok, hingga mereka tiba di pertigaan di mana para warga menjemput saudaranya ketika mendekati waktu hari raya Idul Fitri. Fathan pun membelokkan kemudi ke samping kiri. dari sini ke Kampung sukadarma mobil tidak bisa melaju dengan kencang, karena jalan yang berlubang dan berbatu ,aspal yang sudah menghilang, persis seperti sungai yang kekeringan.
Dengan perjuangan yang sangat gigih, akhirnya mobil itu tiba di gapura kampung sukadarma, yang bertuliskan Kampung sukaujang. namun tiba-tiba mobil itu terhenti, karena melihat banyak orang yang berlarian ke sana kemari. merasa tidak ada yang beres Fathan pun dengan cepat menghentikan mobil, lalu keluar. ternyata setelah keluar terdengar banyak teriakan-teriakan histeris seperti ada marabahaya.
__ADS_1
"Ada apa Bi?" tanya Fathan sambil menahan seorang wanita yang berlari.
"Pertanian kita ada yang menyerang!" jawab wanita itu dengan raut wajah ketakutan.
"Ada yang menyerang bagaimana?" tanya Fathan yang tidak mengerti.
"Nggak tahu awalnya Seperti apa, namun para warga kampung sukaramah tiba-tiba mendatangi kebun membuat keributan. sehingga para kampung sukadarma yang tidak terima, mereka melawan untuk mengusir warga kampung sukaramah."
"Ya Allah! ada apa ini?" ujar Fathan sambil menarik nafas, jantungnya terasa berdegup dengan kencang, menerka-nerka apa yang terjadi di kebun.
"Ada apa?" tanya Kirana yang mengikuti turun, karena Dia merasa penasaran dan heran kenapa orang-orang pada berlarian seperti itu.
"Bi! tolong ajak Kirana untuk bersembunyi!"
"Ini ada apa?" tanya Kirana yang tidak mendapat jawaban.
"Sudah jangan banyak tanya! kamu sekarang ikut sama Si Bibi! kamu jangan keluar dari rumah sebelum situasinya kembali aman." bentak Fathan dengan membulatkan mata, karena dia sangat tahu tentang kampung sukaramah.
Melihat Fathan semarah itu membuat Kirana sedikit meringis ketakutan, tak terasa butiran bening pun jatuh. karena baru pertama kali dia merasakan dibentak oleh orang.
"Ayo Neng!" ajak si bibi sambil menarik tangan Kirana.
Ditarik seperti itu Kirana pun tak bisa menolak, dia hanya menyusut cairan bening yang mengalir di pipinya. sambil terus menatap ke arah Fathan, seolah bertanya kenapa dia semarah itu, padahal dia bertanya dengan baik-baik.
Melihat wanita yang dipujanya menetihkan air mata, membuat hati pria itu sedikit terenyuh, merasa bersalah. karena dia lepas kontrol, di satu sisi dia ingat sama warga, satu sisi dia ingat sama pertanian, Fathan takut kalau warga kampung sukaramah menghancurkan pertaniannya. namun dia tidak berlarut-larut memikirkan hal Kirana. dengan cepat Fathan pun berlari menuju ke arah kebun. hatinya terasa gelisah, jantungnya terus berdegup. nafasnya terengah-engah, karena dia berlari menggunakan tenaga penuh.
Sebelum sampai ke kebun, Fathan bertemu dengan dua orang yang tidak dikenal. mungkin kedua orang itu hendak menuju ke arah Kampung. tanpa bertanya lagi salah satu dari kedua orang itu langsung menerjangn sambil melayangkan pukulan ke arah wajah Fathan. namun Fathan bukan lelaki yang Sembarangan, dia adalah atlit silat sewaktu dia kuliah dulu. melihat tinju yang Menghadang ke arah wajah, Fathan hanya menarik langkah kakinya ke samping, dan sedikit membuang wajahnya. hingga pukulan itu hanya melewati matanya, dengan cepat dia pun menangkap tangan itu, lalu ditariknya dengan kuat, kaki yang tadi melangkah ke samping dengan cepat dimasukkan ke arah dada.
Bugh!
__ADS_1
Hmmmmmmpp!
Suara pria yang menyerang Fathan tertahan, karena lutut sang petani itu masuk tepat ke arah ulu hatinya. pria itu langsung roboh tak mampu bangkit kembali.