
"Saya boleh berbicara sebentar?" pinta Ujang sambil menatap serius ke arah Farhan.
"Mau Bicara tentang apa kang, kayanya serius banget?" Tanya Farhan sambil mengerutkan dahi.
"Ayo ikut saya....!" ajak Ujang sambil berjalan menuju teras rumah, di mana Di situ ada kursi yang kosong.
Sesampainya diteras mereka berdua pun duduk, sambil menikmati rok0k masing-masing.
"Ada apa ya kang?" tanya Farhan yang belum mendapat jawaban dari rasa penasarannya.
"Kapan acara pernikahan Neng Farah sama Pak dokter?" tanya Ujang mulai terlihat serius.
"Kurang tahu Kang, mungkin besok sebelum mereka pulang, baru kita akan membicarakan rencana baik itu."
"Oh begitu, Rencananya mau resepsi seperti apa yang Akang akan lakukan untuk ikut membahagiakan kebahagiaan Anak akang?"
"Belum tahu Kang, soalnya kan baru mau dibicarakan besok."
"Maaf nih Kang Farhan, kalau saya boleh memberi saran, Akang adalah salah satu orang terhormat di kampung sukadarma. Kalau menurut saya, acara resepsinya harus meriah dan harus mewah kalau hanya biasa-biasa saja itu akan menjatuhkan harga diri Akang, sebagai orang terhormat di kampung ini. Apalagi orang-orang sudah tahu, bahwa calon menantu Akang adalah dokter, sedangkan kalau dokter minimal gajinya sudah besar. masa iya acara pernikahannya harus biasa-biasa saja," hasut Ujang mulai menyalakan kompor.
"Iya, tapi saya hanya pihak perempuan, saya tidak bisa memutuskan, semuanya tergantung dari pihak laki-lakinya mau mengadakan acara resepsi seperti apa."
"Nggak boleh seperti itu Kang, biasanya acara pernikahan itu di kampung mempelai istri, berarti itu adalah tanggung jawab Akang. kalau tidak bisa memeriahkan acara pernikahan Neng Farah, maka Akang dan keluarga calon menantu Akang yang akan menanggung malu, berbeda kalau Akang mengadakan acara yang meriah, selain menyelamatkan martabat keluarga sendiri, Akang juga bisa mengangkat martabat calon menantu," jelas Ujang panjang lebar.
"Gak tahu lah kang! Saya bingung, Kalau harus mengadakan acara pernikahan mewah untuk putri saya."
__ADS_1
"Apa yang jadi bingung, cerita sama saya! jangan anggap saya ini siapa-siapa, saya adalah warga kampung sukadarma, yang akan selalu menolong tetangganya, yang sedang kesusahan."
"Kalau mengadakan resepsi pernikahan yang mewah, itu pasti membutuhkan biaya yang sangat banyak. sedangkan biayanya dari mana. Saya tidak punya uang sebanyak itu, manamungkin Fathan mau membantu pernikahan adiknya."
"Akang.....! akang....! masalah itu gampang banget kang, saya bisa membantu. Akang boleh meminjam sama saya, dengan bunga seminim mungkin, atau kalau mau meminjam karena saya tahu, Akang tidak pernah meminjam uang, akang bisa menggadaikan tanah Akang.
"Wah....! berat. kalau minjem atau menggadaikan dua-duanya harus dibayar. minjem harus dibayar, gadai harus ditebus, saya tidak mungkin punya uang sebesar itu. Karena seperti yang kang ujang ketahui, saya sudah tidak punya penghasilan hanya mengandalkan anak-anak saya.
"Kalau minjam dan gadai tidak mau, Akang bisa menjual sawah dan Kebon Akang. saya siap mengajukan penawaran yang tidak akan mengecewakan, Saya akan membeli semua sawah dan kebun di harga 150 juta, bagaimana itu Tawaran bagus bukan?"
Mendengar tawaran Ujang, Farhan pun membulatkan mata, karena tawaran itu adalah tawaran terbesar buat tanahnya. kalau ditaksir sawah dan kebun yang dimiliki oleh Farhan, paling laku antara 80 sampai 100 juta, itu pun akan susah menjualnya karena di kampung tidak ada orang yang mempunyai uang sebanyak itu. Apalagi letak tanah Farhan berada perkampungan, yang njop-nya masih sangat rendah
"Kenapa diam Kang, Bagaimana tawaran saya bagus bukan?" tanya Ujang sambil mengulum senyum, karena dia yakin bahwa hasutannya sudah mulai masuk.
Akhirnya mereka berdua terlarut dalam obrolan-obrolan yang di dalamnya adalah hasutan Ujang. Lintah darat kampung sukadarma ingin menghancurkan Fathan, melalui orang-orang terdekatnya, melalui harta-harta yang sedang sang petani itu garap.
Kira-kira pukul 10.00, Pardi pun mengajak Ujang untuk segera pulang ke rumah. karena dia merasa tidak enak kalau harus bertamu sampai semalam itu, meski Ujang awalnya menolak karena dia sedang asik memasukkan hasutan-hasutan kepada bapaknya Fathan. namun setelah Pardi mengingatkan tidak baik Kalau bertamu semalam itu, Akhirnya Kedua saudara ipar itu berpamitan sama Farhan. kemudian mereka berjalan menuju rumah Kamal di mana mobil Jeep Rubicon mereka terparkir. tanpa ada pembicaraan Mereka pun masuk ke dalam, lalu Ujang menyalakan mesinnya.
Tak lama mobil pun keluar dari halaman rumah Kamal, menuju ke arah selatan. kira-kira 10 menit berlalu akhirnya mobil itu tiba di salah satu rumah terbesar dengan halaman yang terluas di kampung sukadarma. dengan cepat Pardi pun turun, kemudian membuka pintu gerbang rumah Ujang.
Setelah pintu terbuka mobil yang dikendarai Ujang pun masuk ke dalam halaman rumah terbesar itu, lalu memarkirkannya di carport yang sudah disediakan. Pardi yang menunggu di gerbang dia pun kembali menutup pintu rumah kakak iparnya. hingga akhirnya Kedua saudara itu berjalan menuju teras.
"Bagaimana?" tanya Pardi.
"Kayaknya ide kamu sangat cemerlang banget, soalnya Si Farhan sudah mulai tergoda oleh bujuk rayu Akang."
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu, mana janji Akang yang mau ngasih uang 5 juta?"
"Janji apaan?" sanggah Ujang.
"Janji kalau saya memberikan ide yang bagus, yang bisa menghancurkan Fathan, saya akan dikasih uang sebesar 5 Juta."
"Itu kan dulu Par...! sekarang sudah lama, jadi Akang tidak harus membayarnya." Jawab Ujang sambil mengulum senyum.
"Kok Akang ingkar janji, saya setiap hari memikirkan cara bagaimana saya bisa masuk sedikit demi sedikit untuk menghancurkan keluarga Fathan. sekarang akang yang saya bela-belain seperti ini. Saya menyesal telah membantu Akang," ujar Pardi sambil bangkit dari tempat duduknya, dia berniat untuk pulang ke rumah.
"Tenang....! tenang saudara ipar! jangan marah seperti itu. Akang cuma bercanda, sebentar Akang ambil dulu uangnya." tahan Ujang sambil tetap mengulum senyum, Mungkin dia merasa lucu melihat adik iparnya. Tak lama kemudian dia bangkit lalu masuk ke dalam rumah, sedangkan Pardi dia duduk kembali, dengan mengeratkan Gigi, merasa kesal karena dikerjai oleh kakak iparnya.
Setelah menunggu agak lama, Ujang pun kembali sambil membawa beberapa uang lembaran berwarna merah, membuat mata Pardi terbelalak. Tanpa berbasa-basi uang itu diserahkan sama Pardi.
"Kok cuma 2 juta?" tanya Pardi sambil menatap tajam ke arah Ujang, setelah menghitung uang yang baru diberikan.
"Itu cuma bonus buat kamu, karena kamu sudah mau berpikir membantu akang. nanti kalau tanah Si Farhan sudah jatuh ke tangan Akang, kamu akang mendapatkan lebih. kamu Jangan meragukan perkataan Akang, walaupun seperti ini, Kakak iparmu tidak akan pernah berbohong." jelas Ujang sambil tetap mengulum senyum, mungkin hatinya sedang asik membayangkan kehancuran yang akan Fathan alami.
"Oh seperti itu, tapi bener ya?"
"Iya bener, nggak percayaan amat sih sama orang."
"Ya sudah, terima kasih," ujar Pardi yang terlihat hendak memasukkan uang pemberian kakak iparnya ke dalam saku. namun dengan cepat Ujang menepuk tangan itu, karena jarak mereka sangat dekat, agar pembicaraan mereka tidak perlu memerelukan intonasi suara yang tinggi, takut kedengaran oleh orang lain atau istrinya.
"Ada apa lagi Kang?" tanya Pardi yang menatap heran ke arah Ujang.
__ADS_1