Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
Ks 66


__ADS_3

Lamaran Farah


Maksud kami datang ke sini, tidak lain tidak bukan karena ada sesuatu yang kami ingin tuju. menurut kabar berita bahwa di kampung ini ada bunga yang sedang Mekar, hingga wanginya semerbak sampai tercium oleh kumbang dari daerah Cisaat. sehingga kumbang itu merengek meminta sama orang tuanya, untuk menghisap bunga yang sedang Mekar itu. Siapa tahu saja bunga itu belum ada kumbang yang menghinggapi di dalam hatinya," ujar Pak Ustadz Ahmad mulai menyampaikan tujuannya.


"Alhamdulillah kalau harum bunga di kampung Kami sampai tercium ke daerah kota. menurut pengakuan keluarga dan bunganya sendiri, sampai sekarang belum ada kumbang yang hinggap, atau datang secara resmi sama orang tuanya. hanya kumbang yang dari kota ini yang berani mengungkapkannya," jawab Pak ustadz sukadarma sama menggunakan bahasa yang sangat puitis.


"Syukurlah kalau belum ada yang punya, Bagaimana kalau dipinang oleh kumbang kami?"


"Untuk yang itu saya tidak bisa menjawab, mungkin yang akan menjawab jenisnya sendiri, Karena saya hanya sebagai perantara tidak bisa memutuskan." Jawab Pak Ustad sukadarma diplomatik.


"Sekarang di mana bunga itu?" Tanya pak ustad Ahmad.


Orang-orang pun melirik menatap ke arah kamar yang mulai terbuka, keluarlah Farah yang begitu Anggun dan sangat cantik, dibalut kebaya kuning keemasan Senada dengan warna hijabnya, di atas kepalanya terlihat ada mahkota melengkapi kecantikan sang gadis malam itu, dikawal oleh Sarah dan Sri, sedangkan Kirana mengikuti di belakang.


Para warga yang duduk di dalam, mereka bergeser memberikan tempat agar Farah bisa bergabung bersama mereka. setelah gadis cantik itu duduk barulah orang-orang yang hadir bisa menarik nafas lega.


"Nak Ardi, silakan...! saya hanya sebagai penyambung lidah mewakili orang tua, Sedangkan untuk mengutarakan niat, silakan nak Ardi sendiri yang menyampaikan...!" ujar Pak Ustadz Ahmad memberikan waktu kepada pemuda yang diantar oleh keluarganya.


"Benar pak ustad, kita hanya sebagai penyambung lidah. untuk saling mengungkapkan biarkan mereka yang berbicara langsung. nanti kalau kita yang berbicara bisa-bisa kita dikira sebagai orang yang berminat," jawab Pak Ustad sukadarma dicampuri dengan canda, agar suasana tegang sedikit sirna.


Ardi Yang diberikan waktu seperti itu, dia terlihat menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya dengan pelan. sebelum berbicara dia mengambil air minum yang ada di hadapannya, seolah sedang menenangkan diri, menyiapkan mental dengan apa yang hendak dia sampaikan.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ujar pria kota itu mulai membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh," jawab orang-orang yang hadir dengan serempak.


"Perkenalkan nama saya Ardi, namun orang-orang lebih mengenalnya, maaf kalau menurut Pak Ustadz Asmadi Bukan sombong, namun begitulah keadaannya. saya sering dipanggil dokter Ardi di lingkungan tempat kerja saya, di rumah sakit Sekar Wangi Cibadak.


"Saya datang ke sini, istilah kata. jauh dijugjug, Anggang di Teang. karena ada salah satu gadis yang menarik hati saya, mengganggu di setiap detik dalam hidup. Ketika saya memejamkan mata khayalan saya selalu bersamanya, Ketika saya membuka mata, maka yang terlihat hanyalah bunga Kampung sukadarma ini," ujar dokter Ardi yang tidak kalah puitis dengan para pendahulunya, membuat Farah yang sedang tertunduk wajahnya memerah bagaikan tomat.


"Lanjut!"


"Kebetulan bunga Kampung sukadarma adalah rekan kerja saya di rumah sakit, sehingga saya sudah sangat mengenalnya. suatu saat Saya memberanikan diri bertanya tentang kehidupannya, beliau pun menjawab bahwa sampai sekarang bunga kampung sukadarma tidak sedang dekat atau didekati oleh pria lain. di saat itulah saya mulai memberanikan diri mengungkapkan perasaan kagum saya terhadapnya. Namun sayang gadis ini belum menjawab, Dia malah memberikan tantangan."


"Tantangan apa itu pak Dokter?"


"Kalau saya serius, kalau saya suka sama Farah, maka datangilah orang tuanya. mendapat tantangan seperti itu membuat saya merengek meminta kedua orang tua saya, pak Karto dan ibu nendah, untuk segera mendatangi kampung sukadarma. Nah, sekarang saya sudah berada di sini, saya ingin meminta jawaban yang jelas dari Neng Farah, tentang perasaan yang saya pernah ungkapkan," ujar dokter Ardi yang terlihat tidak canggung, namun terlihat tangannya sedikit bergetar, karena walaupun dia sering melakukan presentasi presentasi tentang ilmu kedokteran ketika seminar, tapi ini berbeda karena ada kekhawatiran, ketakutan yang membayanginya.


Mendapat pertanyaan dari Calon tunangannya, Farah hanya semakin menundukkan kepala, nafasnya terlihat seperti ditahan, agar tidak ada yang mendengar. Karena ruangan itu menjadi Hening seketika menunggu jawabannya.


"Terserah bapak!" jawab Farah dengan pelan, sehingga tidak terdengar oleh orang-orang yang hadir di situ.


"Apa Neng kami tidak mendengarnya," tanya pak ustad.


Ditanya seperti itu Farah tidak menjawab, wajahnya semakin memerah tak menentu. Rasa Bahagia, rasa senang, rasa ingin berbicara banyak berkumpul menjadi satu. namun ada rasa malu yang menahan semuanya.


"Terserah bapak!" Jawab Sarah yang berada tepat di samping kakaknya, tadi dia mendengar apa yang diungkapkan oleh Farah, merasa gemas karena kakaknya tidak kunjung menjawab sehingga dengan refleks Dia berbicara seperti itu. Membuat semua perhatian tertuju ke arahnya, hingga gadis SMA itu dengan cepat menutup mulut, Mungkin dia malu diperhatikan seperti itu.

__ADS_1


"Ooooh, Terserah Bapak begitu?" tanya Pak Ustad memastikan.


Farah pun hanya mengangguk, tidak mengeluarkan suara lagi, malam itu entah kenapa dia menjadi sangat pendiam, padahal biasanya dia sangat riang dan pecicilan.


"Nah, begitu Kang Farhan. Farah menyerahkan semuanya kepada Akang," ujar Pak ustadz sebagai penyambung kalimat.


Sekarang Tatapan orang-orang yang hadir semuanya tertuju, menatap ke arah pria paruh baya yang duduk berdampingan dengan istrinya. mendapat pertanyaan seperti itu, Farhan hanya celingukkan seolah meminta bantuan. namun setelah lama dan para ketua Kampung sukadarma memberi kode, agar dia cepat menjawab, Dia pun terlihat berdehem, untuk membuang dahak yang ada di tenggorokannya.


"Perkenalkan nama saya Farhan, saya adalah bapaknya Farah. sebagai orang tua saya tidak bisa menjawab pertanyaan Pak Dokter Ardi, karena yang akan menjalani rumah tangga itu bukan saya, melainkan kalian berdua. Jadi semua keputusan ada di tangan Farah, anak saya. bagaimana Neng kamu mau dipersunting oleh Pak dokter?" ujar Farhan yang terlihat wajahnya dipenuhi dengan kebahagiaan karena anaknya bisa dipersunting oleh seorang dokter.


Pandangan pun kembali ke arah Farah yang masih tertunduk malu, namun dia tidak langsung memberikan jawaban. Entah mengapa lidahnya terasa kelu, sehingga rasanya Dia berat untuk berbicara.


"Bagaimana Neng, mau apa tidak?" tanya pak ustad yang terlihat seolah tidak sabar.


Kepala Farah sedikit mendongak menatap ke arah pria yang mengutarakan keberaniannya berbicara di hadapan umum bahwa dia sangat mencintainya. mungkin Gadis itu ingin memastikan dengan apa yang dibicarakan oleh Ardi. Namun sayang ketika Farah menatap kearah pria yang menunggu jawabannya, pria itu sedang menatap ke arahnya. sehingga pandangan itu saling beradu membuat hati Farah bergejolak tak karuan. setelah mendapatkan kepastian dan keyakinan Farah pun mulai menganggukkan kepala, sebagai jawaban bahwa dia menerima suntingan dokter muda itu.


"Alhamdulillah...!" ujar para warga serentak karena mereka ikut merasakan yang sedang dialami oleh Kedua keluarga, yang Mungkin sebentar lagi akan bersatu.


Akhirnya acara lamaran itu dilanjutkan dengan mengobrol-ngobrol ringan, sembari menikmati hidangan yang disediakan oleh keluarga Farhan. begitulah warga Kampung ketika ada salah satu orang yang merasakan kebahagiaan, maka orang lain pun harus sama ikut merasakan kebahagiaan yang sedang dialami. sama seperti ketika sedang mengalami kesusahan, maka semuanya harus merasakan hal yang sama. sehingga saling tolong menolong, saling gotong royong, Sudah menjadi kebiasaan yang sangat lumrah di kampung itu.


Selesai makan malam bersama, para tamu pun diantar oleh Asep beserta para anggota keranjang sayur lainnya untuk menginap di Mini Hotel milik pertanian keranjang sayur, agar mereka tidak terlalu capek, agar mereka bisa istirahat terlebih dahulu sebelum besok pulang kembali ke kota.


Warga Kampung pun mulai bubar meninggalkan rumah Farhan, hanya Ujang bersama Pardi dan keluarga-keluarga terdekat yang masih duduk sambil mengobrol.

__ADS_1


"Kang Farhan....! Kang Farhan.....! Panggil Ujang sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia menghampiri Farhan.


"Ada apa Kang?"


__ADS_2