Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
ks. 24


__ADS_3

PANEN


Semenjak saat itulah, keluarga Fathan kembali rukun, kembaliĀ  hangat seperti sebelumnya. membuat Sarah dan Farah merasa bahagia, karena Kakaknya bisa kembali ke pelukan mereka. sedangkan padi dan sayuran yang Fathan tanam, menunjukkan perkembangan yang sangat memuaskan. padi yang dikira oleh Sri tidak akan jadi, ternyata rumpun-rumpunnya terlihat sangat besar dan subur. sayuran-sayuran yang dikira tidak akan subur ternyata tumbuh dengan gemuk. membuat Fathan dan kedua asistennya sangat bahagia melihat pertumbuhannya yang seperti itu.


Kita Ringkas cerita dua bulan setelah pemukulan Farhan kepada anaknya. siang itu matahari yang tidak terlalu terik menyinari kampung sukadarma. terlihat di saung kebun ada tiga orang yang sedang ngopi sambil ngobrol.


"Kayaknya sebentar lagi kita panen Tan! terus kira-kira ngejualnya ke mana?" tanya Kamal sambil menyeruput kopi yang tinggal ampasnya.


"Kita jual ke pasar Mang! kebetulan Kemarin saya sudah menghubungi Seno. untuk bertanya bagaimana cara menjual hasil pertanian. Alhamdulillah dia mau membantu, bahkan kalau pertanian saya menggunakan hidroponik dia berani merekomendasikan ke supermarket supermarket yang ada di kota Sukabumi!"


"Pertanian apalagi tuh kang! hidroponik itu?" tanya Asep yang baru mendengar istilah itu.


"Pertanian yang media tanamnya air. dan menekan nutrisi pada tumbuhan agar tumbuhan itu tumbuh seperti media tanam biasanya!"


"air Bagaimana? kayak kangkung air gitu?"


"Bukan Sep! tapi biasanya lebih menggunakan paralon yang dialiri oleh air, nanti paralon itu dikasih lubang untuk menyimpan benih."


"Wah kayaknya harus di coba nih, Kang! soalnya itu sangat aneh!" Pinta Asep.


"Nanti ke depannya kita coba, sekarang kita fokus dulu di pertanian yang tradisional." jawab Fathan.


"Oh iya, Kemarin saya ketemu sama Kang Dadun, dia sekarang menaikkan janjinya. kalau hasil pertanian itu bisa terjual dengan lancar. maka dia akan memberi keleluasaan Untuk menggarap kebunnya." ujar Kamal mengingatkan janji Dadun yang hendak memberikan pengurusan tanahnya, ketika Fathan berhasil mengembangkan pertanian.


"Sudahlah Mang! jangan didengarkan. Nanti juga kalau kita sudah berhasil pasti dia akan berubah lagi, Lagian kita nggak butuh tanah orang-orang seperti itu." jawab Fathan yang sudah mulai paham karakter-karakter orang yang ada di kampungnya.


"Oh iya Kang! Hampir lupa, tadi malam aku sama bapak ngobrol. Bagaimana kalau Akang urus kebun kita juga. pembagian hasilnya itu terserah Akang. Menurut bapak, sayang katanya kalau tanah dibiarkan begitu saja." ujar Asep seperti diingatkan.


"Boleh! Sebenarnya saya ingin bukan kamu doang Sep, tapi seluruh warga kampung kita Bergerak dalam bidang pertanian. saya ingin orang-orang Kampung kita tidak harus Merantau, ketika mereka ingin menafkahi keluarganya. Apalagi kemarin melihat Kang Bita, yang harus pulang ke kota ketika merawat ibunya di rumah sakit. saya ngerti ketika kita meninggalkan pekerjaan, maka perusahaan akan terasa pincang, memang seperti itulah ketika kita bekerja di orang, kita harus tanggung jawab. namun pekerjaan itu bisa kita pilih, agar tidak terlalu membebani kehidupan kita. kata Pak Ustad juga mencari nafkah hukumnya wajib, Tapi kalau bisa Carilah nafkah yang Balance antara nafkah dan keluarga." jawab Fathan mengungkapkan tujuan yang selama ini ia pendam. Baru kali ini dia berbicara dengan kedua asistennya.


"Serius, kang! sebenarnya banyak orang yang sudah ngobrol dengan saya, mereka menyampaikan bahwa Mereka ingin tanah mereka diurus oleh akang! namun saya malu untuk menyampaikan hal itu." Adu Asep.


"Iya Sebenarnya saya juga udah sering mendengar, bahkan ada beberapa orang yang langsung datang ke saya. namun kalau semuanya diurus sama saya sendiri, itu sama aja bohong. karena saya ingin mengajarkan tentang tata cara bertani yang baik dan benar. bukan membiarkan Mereka menonton, Saya ingin mereka ikut bermain dengan kita!"


"Terus kenapa Akang belum menyanggupi?"


"Karena benar apa yang dikatakan orang-orang, bertani itu tidak semudah membalikan telapak tangan yang sehat. harus ada perencanaan, perawatan dan penjualan. kita sudah melewati dua fase, tinggal satu fase lagi. karena akan sia-sia ketika kita bertani tapi hasil pertanian kita tidak tahu akan dikemanakan. nanti kalau semuanya sudah tersusun dengan rapi, saya baru akan mulai. tapi tidak sendiri, mereka yang punya tanah, harus terlibat agar mereka memiliki ilmu yang akan diwariskan kepada anak cucu mereka, agar kedepannya tidak ada warga kampung yang pergi ke kota hanya untuk mencari kehidupan. saya ingin warga Kampung kita kedepannya, ketika pergi ke kota hanyalah liburan, bukan untuk bekerja."


Mendengar penuturan atasannya seperti itu, membuat asep dan Kamal saling menatap. tak menyangka bahwa orang yang mereka ikuti memiliki pemikiran semulia itu. mereka sangat bangga dan bahagia karena tidak salah mengikuti orang.

__ADS_1


"Terus kapan, kita mulai panen? Mamang lihat minggu-minggu ini sayuran kita sudah layak untuk dipanen?" tanya Kamal.


"Dua hari lagi kita panen. besok saya akan ke kota, saya akan mengecek Di mana pasar yang hendak menerima sayuran kita. sambil menunggu mobil Saya dikirim." jelas Fathan.


"Akang beli mobil? hebat! belum aja panen tapi sudah punya mobil." ucap Asep yang terkagum-kagum, tak lupa kedua ibu jarinya diangkat.


"Hahaha. nggak beli sep! saya kredit!" jawab Fathan.


"Nggak apa-apa! yang penting kelihatan punya mobil." ujar Asep.


"Enggak kok! saya kredit bukan buat gaya-gayaan, cuma buat kebutuhan. Soalnya kalau kita sewa, itu sama aja dengan kredit. namun ke depannya Semoga aja kita bisa membeli cash." jawab Fathan.


Tring! tring! tring!.


Lagi asik mengobrol handphone Fathan berbunyi, membuat kedua orang asistennya terdiam seketika. dengan cepat Fathan pun mengangkat telepon itu.


"Halo, ada apa Pak Seno?" tanya Fathan sama orang di ujung telepon.


"Mobil hari ini saya kirim. kalau bisa besok kamu menemui saya dengan membawa sayuran. agar pertemuan dengan pengepul, kita tidak terlalu sia-sia. dan kita bisa memberi sample bahwa sayuran yang kita olah, adalah sayuran terbaik." ujar Seno memberi arahan.


"Waduh! berarti saya harus panen sekarang dong, biar pagi-pagi bisa dibawa?"


"Baik Pak! terima kasih banyak sudah membantu saya. kalau tidak ada Bapak mungkin saya tidak akan bisa seperti ini." ujar Fathan


"Udahlah Tan! kamu tuh jangan seperti itu. kita saling membantu. Lagian semenjak kamu mengupload video di channel YouTube kamu. tentang mesin-mesin yang dibeli dari toko saya. Alhamdulillah sekarang omset toko saya naik sampai 200%, setelah saya selidiki ternyata mereka datang ke toko saya itu gara-gara melihat channel kamu. jadi di sini kita saling menguntungkan, kita bisnis dan bisnis. Tidak ada kata membantu, kita saling membutuhkan!" ujar Seno menegaskan.


"Siap pak Seno!" jawab Fathan.


Memang benar setelah 3 bulan bergelut dalam pertanian dan dalam kanal YouTube. Chanel Fathan subscribernya sudah hampir 2000-an, upload yang konsisten, ramah dengan viewer itulah menjadi kunci kesuksesan Fathan.


"Ya sudah, nanti kalau mobilnya sudah datang tolong kabarin saya. terima kasih!" ucap Seno mengakhiri pembicaraan.


"Sama-sama Pak!" jawab Fathan sambil memutus telepon itu, kemudian menatap ke arah kedua asistennya.


"Aduh! kayaknya besok kita harus panen Mang."


"Kenapa mau panen mukanya sedih seperti itu?" tanya Kamal sambil menatap ke arah keponakannya.


"Ini adalah perjuangan. saya nggak menyangka kalau perjuangan kita bertahan sampai ke sini. Terima kasih Mang Kamal! Terima kasih Asep! telah menemani saya, telah membantu saya, menemani saya, mengingatkan saya. kalian memang rekan yang luar biasa." Ujar Fathan yang tak dapat membendung cairan kebahagiaan yang mengalir ke pipinya.

__ADS_1


Mendengar penuturan Fathan. Roman wajah Kamal pun berubah seketika, seolah tersadar mereka sudah berjuang sejauh itu. tak terasa butiran bening jatuh di pipinya, karena walau bagaimanapun kamal adalah saksi pertama perjuangan Fathan dari awal sampai sekarang.


"Terima kasih juga telah mengajak Mamang ikut mengubah sejarah Kampung kita. semoga ini adalah langkah awal perubahan, dan kedepannya semua harapan Mulia kamu tercapai." Ujar Kamal sambil memeluk Fathan melepaskan Rasa Bahagia yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata, hanya dengan deraian air mata perasaan itu bisa diungkap.


Tring! tring! tring!


Suasana Haru itu terganggu dengan suara telepon milik Kamal. dengan cepat dia pun mengambil lalu melihat siapa yang nelpon.


"Halo ada apa Bu, Ada apa sih telepon-telepon. ganggu aja!" Tanya Kamal sambil mengusap cairan bening yang masih mengalir di pipinya. Telepon itu di loud speakernya, seperti kebiasaan pada umumnya para bapak-bapak.


"Ada mobil pick up baru pak, di rumah. Tapi nggak tahu siapa yang mengantar, dan untuk siapa."


"Emang ibu nggak tanya?"


"Nggak Pak! Mobilnya baru datang, orangnya belum turun. tapi kayaknya itu dealer Pak." jelas Sari sambil berbisik.


Tring! tring! tring!


Sekarang giliran handphone Fathan yang berbunyi, dengan cepat Fathan pun mengambil lalu melihat nomor baru.


"Halo! saya Pandi Pak, maaf kalau mengganggu dan menelepon dengan nomor baru. soalnya kartu saya tidak support dengan Kampung bapak." ujar Pandi.


"Kenapa Pan, ada masalah?"


"Saya sudah sampai di depan rumah bibi bapak!"


"Sebentar saya pulang!" jawab Fathan sambil menutup telepon itu kemudian dia bangkit.


"Sebentar ya Bu!" ujar Kamal ikut memutus telepon dari istrinya.


Dengan segera Mereka pun bangkit dari tempat duduknya, lalu turun dari Saung kemudian menaiki motor masing masing. Fathan naik motor sendiri, sedangkan Asep dibonceng oleh Kamal.


Sesampainya di rumah Sari, benar saja di situ sudah banyak orang yang berkerumun, melihat mobil yang baru datang. dengan cepat Fathan pun menghampiri Pandi yang sedang mengobrol dengan Sari.


"Hebat banget kamu Tan! panen aja belum, Tapi sudah punya mobil!" crocos Sari sambil menghampiri keponakannya.


"Alhamdulillah Bi! walaupun kredit tapi masih ada orang yang percaya." jawabnya sambil tersenyum kemudian dia menghampiri Pandi.


Pandi pun menyuruh Fathan untuk melakukan test drive namun Fathan menolak. Karena dia sangat percaya sama Fandi dan Seno. Setelah menandatangani pengiriman pandi pun berpamitan untuk pulang ke kota. tak lupa seperti biasa Fathan memberikan uang bensin buat Pandi.

__ADS_1


__ADS_2