Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
ks. 65


__ADS_3

Farah Dilamar


Hari-hari berikutnya, para warga kampung sukadarma terus disibukkan dengan bertani dan mengirim hasil pertanian ke kantor penyuplai sayuran supermarket.


Pertanian keranjang sayur, semakin hari semakin meningkat. karena Fathan mengurusnya dengan begitu luar biasa, dibantu oleh orang-orang yang berkompeten di bidangnya. sehingga pertanian itu terus membuahkan hasil karena ketika ada tanaman yang sakit, bisa segera ditanggulangi dengan bantuan aplikasi keranjang sayur Smart farming yang dibuat oleh Idan. Pembukuan dan manajemen keuangan diregang oleh Kirana yang sangat ahli sehingga tidak ada satu bulan pun para anggota yang tidak gajian.


Mini Hotel mulai dibangun di tepian-tepian sawah, sehingga sudah mulai banyak para wisatawan wisatawan lokal yang mengunjungi tempat itu. mereka ingin menikmati keindahan kampung sukadarma yang terlihat sangat hijau Ranau ditumbuhi oleh sayuran-sayuran dan pohon-pohon buah di setiap sudutnya.


Gaji anggota keranjang sayur mulai meningkat, yang awalnya dari Rp2.500.000 sekarang sudah naik menjadi 3 juta, ada yang 5 juta tergantung posisi yang mereka duduki, membuat kehidupan para warga kampung itu terlihat sangat makmur. Karena kebutuhan di kampung paling besar Rp30.000 per hari. karena mereka sudah tidak harus membeli beras, ditambah selalu ada hasil pertanian yang tidak bisa dikirim namun masih bisa dimanfaatkan. Itu sudah menjadi poin positif bagi para petani.


Namun kehidupan tidak selalu sejalan dengan apa yang diharapkan, kehidupan akan terus dicoba untuk meningkatkan kualitas orang yang menjalaninya.


Malam itu para tetua kampung sukadarma terlihat berkumpul di rumah Farhan, karena orang tua Fathan itu mengundang semuanya, untuk menyaksikan hari bahagia dalam hidupnya


Farah yang sudah hampir enam bulan lebih bekerja di Rumah Sakit Sekarwangi Cibadak. malam itu terlihat sangat cantik menggunakan baju kuning keemasan, bersama mahkota yang menempel di luar hijabnya. malam itu wajah Farah dihiasi dengan senyum, bagai mana tidak, malam itu adalah malam bahagia dalam hidupnya. karena sebentar lagi dia akan dilamar oleh salah satu dokter muda yang ada di tempat kerjanya.


Bahkan bukan cuma Farah yang merasakan kebahagiaan. seluruh keluarga Fathan, mereka ikut merasakan kebahagiaan itu. hanya Kirana yang merasa sedih, bukan dia tidak senang dengan Farah yang dilamarĀ  namun sampai saat ini, Fathan kekasihnya belum juga menemui orang tuanya di Jakarta. awalnya sang petani itu berjanji akan secepatnya menemui orang tua Kirana, namun Fathan seolah melupakan janjinya, alasannya seperti biasa, alasan klasik, pertanian sedang membutuhkan pikirannya. Sehingga sang petani itu menunda Lagi Dan Lagi.


Namun walau seperti itu, Kirana tetap sabar menunggu sampai hari Bahagia itu tiba. Walaupun dia harus menunggu sampai 1000 tahun, mungkin dia akan tetap bertahan menunggu cintanya terbalaskan.


"Sudah sampai mana calon suamimu?" tanya Farhan sama anaknya yang masih dihias di dalam kamar.


"Sebentar lagi juga sampai pak, menurut Asep mungkin 15 sampai 30 menit lagi tiba di sini," jawab Farah masih tetap menatap ke arah cermin, di mana bayangan wajah cantiknya terlukis dengan sempurna.


"Tapi bener kan dia mau datang ke sini?" ujar Farhan seolah meragukan keterangan dari anaknya, karena dia tidak mau kejadian ketika syukuran atas keberhasilan Fathan terulang kembali, dia tidak mau menanggung malu lagi di hadapan para warga kampung sukadarma.

__ADS_1


"Bener Pak...! kan Asep yang jadi sopirnya, Asep juga yang menjadi petunjuk jalan ke kampung sukadarma," jawab Farah masih tetap mengulum senyum, tanpa ada sedikitpun ketakutan yang terlukis di wajahnya.


"Ya sudah, kalau seperti itu, Kamu dandan yang cantik Agar calon suami terpesona, dan calon mertuamu bisa kagum!" pungkas Farhan sambil keluar dari kamar anaknya, kemudian dia menemui para tetua Kampung sukadarma, yang sudah mulai berdatangan.


Rumah yang lumayan besar itu, terlihat sudah dipenuhi oleh orang-orang penting yang ada di kampung petani itu, mulai dari Pak RT, pak ustad, Pak Tua, bahkan Kang Ujang bersama Pardi pun hadir karena Farhan mengundangnya. Walau bagaimanapun Ujang adalah salah satu orang terpenting di kampung sukadarma.


"Kang Farhan.....! Kang Farhan.....!" Panggil Ujang setelah melihat shohibul bait keluar dari kamar.


"Iya ada apa kang ujang?" jawab Farhan yang wajahnya terlihat berseri-seri dia menghampiri Ujang yang memangilnya.


"Selamat.....! akhirnya anak Akang ada yang meminang juga.


"Terima kasih Kang, sudah datang untuk menghadiri acara syukuran anak saya yang mau dilamar."


"Kalau Fathan Susah kang, Padahal saya sudah sering mengingatkan agar dia segera menikahi Kirana, namun seperti yang akang ketahui Fathan adalah orang yang memiliki kepala batu, dia tidak mau mendengar ucapan saya."


"Iya harusnya dipaksa Kang, nggak baik lama-lama berpacaran, apalagi perempuan tinggal di rumah si laki-laki. Emang Akang tidak malu dengan omongan-omongan miring Tetangga," kompor Ujang mulai dinyalakan.


"Jang Farhan.....! Jang Farhan!" Panggil suara kakek-kakek yang terdengar dari arah lain.


"Ya sudah silakan nikmati jamuannya Kang, namun seadanya. Saya mau menemui aki sabroni dulu," ujar Farhan mempersilahkan tamunya untuk duduk, kemudian dia berjalan menuju ke arah orang tua yang memanggilnya. Farhan bukan tidak mau memperpanjang pembicaraan anak laki-lakinya itu, namun sekarang dia lebih terfokus memikirkan kebahagiaan Farah.


"Ada apa Mbah?" tanya Farhan yang sudah sampai di dekat pria tua.


"Kapan calon tunangan Neng Farah datang?"

__ADS_1


"Eebentar lagi Bah, mohon Sabar ya...!"


"Kirain masih lama, Abah pengen buang air kecil dulu, maklum sudah tua, jadi klepnya sudah tidak sekuat dulu."


"Oh kalau mau buang air kecil, Abah bisa menggunakan toilet saya. Ayo, Mari saya antar!" ajak Farhan sambil membantu kakek-kakek itu bangkit dari tempat duduknya.


Rumah Fathan itu terus disibukkan dengan orang-orang yang mengobrol, sambil menunggu calon tunangan Farah datang. diselingi dengan mengunyah cemilan-cemilan yang sengaja dihidangkan oleh Farhan.


Lama menunggu, akhirnya terlihat dari arah gapura, ada dua mobil yang mendekat menuju ke arah rumah Kamal. setelah sampai ke rumah Kamal, karena rumah Farhan berada di dalam gang, sehingga mobil tidak bisa ikut masuk ke dalam. keluarlah beberapa orang dengan berpakaian rapi layaknya orang kota pada umumnya.


"Di mana rumahnya Pak Asep?" tanya pria muda yang paling tampan, dari orang-orang yang turun dari mobil. Bagaimana tidak, Dia memiliki postur tubuh yang tinggi, dengan badan tegap, kulitnya putih bersih, wajahnya yang oval dihiasi kumis tipis, dan cambang yang sedikit panjang, namun tidak brewok.


"Di dalam Pak, silakan....!" Ujar Asep sambil meregangkan tangan, mempersilahkan orang itu berjalan duluan.


Akhirnya rombongan itu berjalan menuju ke arah rumah Farhan, melewati Gang yang biasa dilalui oleh Fathan ketika hendak keluar dari rumahnya. melihat kedatangan orang yang ditunggu, Farhan bersama warga lainnya dengan cepat bangkit untuk menyambut kedatangan calon tunangan anaknya .


"Assalamualaikum.....!" ujar seseorang pria yang memakai peci, mungkin itu adalah delegasi keluarga pria yang hendak melamar Farah.


"Waalaikumsalam," jawab semua warga serempak. "Silakan masuk..!" Tambah Pak Ustad yang sudah ditugaskan oleh Farhan untuk menyambut tamu Agungnya.


Keluarga calon tunangan farah pun disambut dengan baik dan sangat hangat. mereka diajak duduk bersama di ruang tamu yang lumayan luas, karena bisa menampung banyak orang. Sedangkan para warga yang tidak terlalu berkepentingan, mereka memutuskan untuk keluar memberi keleluasaan bagi Kedua keluarga itu, untuk berbicara lebih banyak.


Setelah mengobrol agak lama, berbasa-basi, berpanca kaki Dari mana asal muasal. orang yang berpeci yang tadi mengucapkan salam, mulai membuka pembicaraan. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, nama saya Ahmad, saya wakil dari keluarga Pak Karto bersama ibu Nendah, kami datang ke sini Bukan Tanpa Alasan atau tanpa tujuan, karena sangat sayang perjalanan berkilo-kilo kalau tidak memiliki tujuan yang sangat penting. kami datang ke sini untuk mempererat tali silaturahmi sebagai sesama muslim dan sebagai sesama warga negara." ujar pria yang bernama Ahmad dilanjutkan dengan pidato-pidato pada umumnya, yang isinya adalah perkenalan keluarga orang yang bernama Karto.


Selesai menyampaikan maksud dan tujuannya, tibalah giliran pak ustad kampung sukadarma yang menyambut. "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, saya Asmadi, biasanya para warga Kampung sukadarma, Maaf bukannya sombong. saya dipanggil Pak Ustad, sama seperti Pak Ustad Ahmad, yang hanya penyambung lidah. padahal walaupun tidak dengan kita, kalau niat yang baik tujuannya baik, mereka bisa bersilaturahmi. mungkin karena mereka menghormati kita sebagai salah satu ketua Kampung, sehingga mereka mempercayakan sama kita." Jawab pak ustad kemudian dia melanjutkan pidato-pidato penerimaan, layaknya pada umumnya.

__ADS_1


__ADS_2