Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 99


__ADS_3

Kirana Pergi


"Mau ngapain Sep, pakai narik narik tangan segala?" tanya Kamal yang semakin merasa heran dengan tingkah laku tetangganya.


Seperti tadi, sebelum Asep berbicara, dia pun menatap kembali ke rumah Kamal, seperti sedang mengisyaratkan ada sesuatu yang sangat penting, yang sangat rahasia. "Sebenarnya saya sudah berjanji tidak akan membocorkan rahasia ini sama siapapun, namun saya Dilema Mang!"


"Dilema bagaimana?"


"Kalau saya tidak menyampaikan hal ini, saya takut menyesal di kemudian hari dan takut disalahkan."


"Jangan berbelit, coba kamu Terangkan apa yang membuatmu terlihat aneh seperti ini!" jelas Kamal yang terlihat serius menatap ke arah Asep.


"Begini Mang, saya diminta oleh Bu Kirana untuk mengantarkannya pulang ke Jakarta, Saya tidak berani menolak. namun yang saya takutkan Bu Kirana kecewa dengan Kang Fathan yang tak sedikitpun memberikan respon atas perasaan yang Bu Kirana berikan."


"Jadi, Kirana mau pulang?" Tanya Kamal yang terlihat kaget.


"Iya benar, begitu Mang!"


"Fathan sudah tahu?"


"Belum mang, kan baru tadi sebelum maghrib Bu Kirana datang ke rumah saya, jadi saya belum sempat menemui Kang Fathan."


"Ya Allah kebangetan banget si Fathan, Masa iya wanita secantik itu diacuhkan begitu saja."


"Yah, Mang...! kadang saya juga tidak mengerti dengan pemikiran Kang Fathan, padahal menurut saya bu Kirana adalah wanita yang paling sempurna, selain cantik Bu Kirana  baik terhadap siapapun, bahkan dia berani mengorbankan uang tabungannya demi kelancaran pertanian kita," jelas Asep yang terlihat menyesalkan sikap atasannya.


Kamal pun terdiam, dia berpikir mencari jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh keponakannya. suara nyamuk yang berseliweran di telinga, mereka berdua acuhkan, pikiran mereka difokuskan untuk menyelesaikan masalah yang sedang menimpa kedua Insan Pelopor pertanian kampung sukadarma.


"Bagaimana Mang?" tanya Asep yang seolah tidak sabar karena dia sudah melihat Kirana keluar dari rumah kamal.


"Begini saja Sep, kamu tahan Kirana untuk pulang, saya akan menemui Fathan, Saya ingin berbicara sama dia. kalau lima belas menit saya tidak datang, berarti Fathan memang benar-benar kebangetan, tidak menghargai perjuangan orang lain. Dan kamu boleh pergi mengantarkan Kirana," ujar Kamal memberi keputusan.


"Baik Mang...! kalau seperti itu saya akan menemui Ibu Kirana, soalnya saya sudah janji sehabis magrib saya akan datang ke rumah mamang," jawab Asep kemudian dia mengambil handphonenya yang terasa bergetar, menandakan ada yang memanggil. Asep melihat layar handphonenya, setelah itu ditunjukkan sama kamal.

__ADS_1


"Ya sudah sana buruan temuin...! tapi tahan dulu," jawab Kamal setelah melihat orang yang menelpon Asep adalah Kirana.


Asep mengangguk, tanpa membuang waktu dia pun bergegas menuju rumah kamal, karena takut Kirana menunggu. sedangkan orang yang mempunyai rumah itu, berlari menggunakan sekuat tenaga menuju ke kantor keranjang sayur, karena Kamal yakin Fathan tidak berada di rumah, Soalnya tadi ketika salat magrib Fatan tidak ikut berjamaah.


Jangkrik jangkrik terdengar begitu nyaring, seperti sedang memberikan semangat sama Kamal yang terus berlari dengan membawa tujuan ingin mendamaikan Fathan dan Kirana. suara kodok pun tak tinggal diam, seperti sedang memberikan instrumen soundtrack di kehidupan Kamal.


Jarak yang lumayan tidak begitu jauh, sehingga Kamal pun tiba di kantor keranjang sayur. dengan tetap berlari Dia menuju ke arah ruang kerja Fathan, tanpa meminta izin dia pun langsung mendorong pintu kamar itu, membuat Fathan terperanjat kaget.


Fathan pun menatap heran ke arah Kamal yang terlihat napasnya ngos-ngosan karena habis berlari begitu kencang. "ada apa Mang kok berlari seperti itu?"


"Ada apa, ada apa! kamu itu jadi orang gak peka sama sekali! apa perasaanmu sudah hilang, terbawa dengan ambisimu yang begitu luar biasa." jawab Kamal yang menatap tajam ke arah Fathan, membuat sang petani itu semakin merasa heran.


"Kenapa Mamang kok tiba-tiba marah sama saya. maaf kalau saya punya salah sama Mamang," ujar Fathan yang seperti biasa terlihat santai.


"Kenapa..! kenapa! sampai kapan kamu mau terus memikirkan pertanian yang sudah hancur, sampai orang-orang yang menyayangimu semuanya pergi meninggalkanmu?" jawab Kamal Tak sedikitpun memelankan suara.


"Ya Allah Mang! ini sebenarnya ada apa, jujur saya benar-benar nggak ngerti?" jawab Fathan sambil bangkit kemudian mendekat ke arah Kamal yang masih berdiri di ambang pintu.


"Mau sampai kapan kamu terfokus memikirkan pertanian, sehingga kamu melupakan orang-orang yang menyayangimu. ingat Fathan semua orang yang melakukan kebaikan, walaupun mereka tidak berharap balasan, tapi mereka akan merasa lebih dihargai ketika kamu menunjukkan respon yang menghormati. sekarang Kirana mau pulang ke Jakarta!" jawab Kamal menjelaskan.


"Ini semua gara-gara kamu..! ingat Kang Farhan meninggalkanmu gara-gara keegoisanmu. sekarang wanita yang selalu menunggumu, dia pun akan pergi. Mau sampai kapan kamu seperti ini?"


"Kapan Kirana pergi Mang?" tanya Fathan yang terlihat panik.


"Sekarang...! saya meminta Asep untuk menahannya sebentar, agar kamu bisa menemui dia terlebih dahulu."


Mendengar jawaban dari Kamal, Fathan pun dengan cepat keluar dari ruangan kantornya, menuju parkiran keranjang sayur. lalu dia menyalakan motor besarnya namun ketika dia mau menarik tuas gas, Kamal yang tadi berlari menuju ke kantor keranjang sayur, dia pun berteriak untuk pulang bersama.


"Ya Allah, maaf Mang! saya panik, saya lupa..!" jawab Fathan.


Setelah Kamal naik ke atas motor, dengan cepat sang petani itu menarik tuas gas menuju ke arah Kampung sukadarma.


"Kira-kira Kirana sudah pergi apa belum ya mang?" tanya Fathan.

__ADS_1


"Kurang tahu juga, kalau Asep bisa menahan mungkin belum. Tapi kalau dia tidak bisa menahan mungkin sudah berangkat," jawab Kamal yang terdengar acuh.


"Jangan seperti itu dong Mang berbicaranya, saya semakin merasa bersalah," pinta Fathan, matanya terus terfokus menatap ke arah jalan yang dia lewati.


Motor itu terus melaju dengan kencang, tak menghiraukan bebatuan yang membuat laju motor itu sedikit oleng ke kanan dan ke kiri. namun Fathan yang sudah Mahir mengendarai motornya, dia tidak terjatuh sehingga dia pun tiba di depan rumah kamal.


Fathan Merasa lega karena mobil Kirana masih terparkir di halaman, namun lampunya sudah menyala mungkin Kirana sudah mau pergi. di teras rumah Kamal Sari dan Idan Masih Berdiri menatap ke arah mobil, namun ketika melihat motor Fathan datang pandangan mereka pun terbagi ke dua arah.


Dengan cepat sang petani itu, memarkirkan motor menghalangi mobil Kirana agar mobil itu tidak kabur.


"Jalan sep!" titah Kirana, yang sudah berada di dalam mobil.


"Ada motor Kang Fathan menghalangi Bu."


"Mau ngapain dia?" tanya Kirana yang terlihat cuek, namun hatinya sedikit berdegup, karena baru pertama melihat Fathan spanik itu.


"Kurang tahu Bu!"


Truk! truk! truk!


Kaca pintu mobil pun diketuk oleh Fathan, sambil terus memanggil-manggil nama Kirana.


"Bu Kirana! Bu Kirana! Tolong buka pintunya, Saya ingin berbicara sebentar." teriak Fathan yang terlihat sangat panik.


"Bagaimana Bu?" tanya Asep yang terlihat panik juga karena mendapat ketukan seperti itu.


"Sudah tabrak aja motornya! Jangan hiraukan orang yang tak tahu rasa cinta," seru Kirana.


"Kalau motornya ditabrak, nanti mobil kita yang rusak Bu. sehingga kita tidak jadi pulang," jawab Asep mengingatkan.


"Oh iya benar! Ya sudah diamin aja," ujar Kirana seolah ingin menguji keseriusan Fathan. Sudut bibirnya terlihat terangkat sedikit, dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang sejak lama ia impikan, diperjuangkan oleh pria pujaannya.


"Bu...! Bu Kirana, Tolong buka pintunya! tolong Bu! saya mau ngomong sebentar." ujar Fathan yang terlihat tidak bosan terus mengetuk-ngetuk pintu mobil Kirana.

__ADS_1


Namun wanita itu tetap cuek, dengan melipatkan kedua tangannya, Bahkan dia memasang earphone agar suara ketukan tidak terdengar, matanya pun terpejam seolah sedang sangat menikmati momen membahagiakan itu.


__ADS_2