Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 35


__ADS_3

Diskusi Alot


Sore hari setelah melaksanakan salat ashar, Idan pun memanggil Fathan, untuk berdiskusi dan menyampaikan temuannya.


"Bagaimana?" tanya Fathan mengawali acara pertemuan tersebut.


"Begini Tan! Setelah saya melakukan riset dan diskusi dengan teman-teman saya, ada beberapa yang harus diperbaiki dan ada beberapa pula yang harus ditambah."


"Contohnya?" tanya Fathan yang menatap serius ke arah sepupunya.


"Yang harus diperbaiki yaitu adalah irigasi perairan untuk kebun. Karena setelah tadi kami cek, irigasi untuk menyiram tanaman itu hanya menggunakan mesin air. Menurut kami itu tidak ramah lingkungan dan tidak menghemat pengeluaran." jelas Idan menyampaikan penemuannya.


"Harusnya seperti apa?" tanya Fathan memberikan keleluasaan agar sepupunya itu mengungkapkan apa yang menjadi idenya. karena sejatinya Fathan adalah orang yang tidak keras kepala, dia akan sangat menyambut baik semua pendapat yang disampaikan oleh orang lain.


"Di sebelah timur kita kan ada gunung, dulu sewaktu kita masih remaja kita sering main ke sana, untuk mencari kayu bakar. Kamu tahu kan di sana ada sumber mata air yang sangat besar." tanya idan menghentikan penjelasannya.


"Iya tahu, kenapa?"


"Bagaimana kalau kita mengambil sumber mata air itu, untuk menyiram tanaman, agar tidak repot-repot harus menarik air dari sungai menggunakan mesin."


"Bukannya kalau mengambil air dari Gunung, itu akan membutuhkan biaya yang sangat besar." tanya Fathan sambil menatap ke arah Idan.


"Memang sangat besar! namun perawatannya sangat mudah dan tidak akan membutuhkan biaya lagi kedepannya. kita hanya mengeluarkan biaya satu kali, untuk kesenjangan selama-lamanya, mungkin kedepannya hanya perbaikan-perbaikan ringan. kami udah menghitung semua rincian pembiayaannya." ujar Idan sambil menyerahkan tulisan rencana anggaran biaya, untuk membuat irigasi air menggunakan paralon.


Fathan pun melihat dengan teliti apa yang ada di dalam tulisan itu, setelah selesai mempelajari Fathan pun mengangguk-anggukkan kepala. kemudian menatap kembali ke arah Idan. "Farah, sini!" Panggil Fathan kepada adik pertamanya, yang sedang mengobrol dengan Kirana dan Zahra. orang yang dipanggil pun mengangguk kemudian bergabung dengan para pemuda itu.


"Ada apa kak?" Tanya Farah sambil membagi tatapan ke arah orang-orang yang sedang berdiskusi.

__ADS_1


"Tolong laporkan keuangan kelompok usaha keranjang sayur!"


Farah pun bangkit kemudian masuk ke dalam rumah kamal. tak lama dia pun kembali sambil membawa buku laporan keuangan. kemudian dia pun mulai menyampaikan uang yang dimiliki oleh kelompok usaha keranjang sayur.


"Total uang yang ada sekarang berjumlah 200 juta, namun uang ini untuk membackup gaji para anggota bulan depan. karena kakak selalu memberikan Perintah agar mementingkan gaji para karyawan. saya harus mempunyai tabungan untuk membayar gaji anggota. Dan sisanya juga sebagai tabungan untuk membayar angsuran mesin-mesin kita. yang masih menunggak.


"Berapa total menggaji karyawan, dan membayar setoran."


"170 juta Kak! namun uang ini akan terus bertambah seiring panen yang kita hasilkan bulan ini, mengingat baru kemarin kita selesai membayar gaji." jelas Farah menyampaikan hasil kinerjanya.


"Nah, ada sisa uang 30 juta, Bagaimana? Terus kalau kalian mau bergabung dengan kelompok usaha, maka uang 30 itu akan digunakan untuk menggaji kalian." tanya Fathan sambil menatap ke arah Idan.


"Tenang aja Tan! kita membicarakan masalah bukan tanpa solusi. kita berlima sudah berencana untuk saat ini kita tidak akan mengambil Gaji kita. dan nanti ketika kita resign kita akan mendapatkan pesangon. Kami berencana menggunakan uang pesangon untuk membuat saluran irigasi." jelas idan membuat hati Fathan sedikit lega.


"Terus ada satu lagi!" lanjut teman Idan.


"Kalau bisa Mang Kamal sama Asep juga ikut bergabung Kak! karena mereka adalah orang-orang pertama yang mendirikan kelompok usaha keranjang sayur." tambah Farah mengingatkan.


"Benar! benar! saya Hampir lupa, karena keasikan membahas kemajuan kelompok usaha. tolong panggil Mang Kamal sama Asep!" Pinta Fathan sama Farah.


Akhirnya orang yang dimintai tolong pun bangkit dari tempat duduknya. kemudian dia berjalan menuju ke arah rumah Asep, sedangkan Idan memanggil orang tuanya yang berada di dalam rumah. hingga akhirnya semua orang pun terkumpul gabung dalam acara rapat tersebut.


"Silakan lanjutkan! pemikiran apa yang akan kalian tuangkan untuk membangun pertanian keranjang sayur agar lebih maju." ujar Fathan mempersilahkan.


"Silahkan Bakrie!" ujar Idan mempersilahkan temannya yang tadi hendak berbicara.


Sebelum berbicara Bakrie pun menarik nafas terlebih dahulu, seperti orang yang hendak menyampaikan sesuatu yang berat. "begini Tan! Maaf, kalau saya menggurui. alangkah baiknya kita memanfaatkan tanah-tanah yang belum tergarap, untuk membuat rumah kaca atau istilah kerennya green house. agar tanaman kita menjadi lebih subur dan terkontrol. karena dengan adanya green house, kita bisa memanipulasi keadaan lingkungan, agar sesuai dengan kebutuhan tanaman." jelas Bakrie mengemukakan penemuannya.

__ADS_1


"Ide bagus tuh! Saya sangat senang ketika banyak orang yang peduli dengan pertanian, terus ide apa lagi?"


"Kita Jangan terpaku dengan tanaman sayuran, kita harus membuat terobosan dengan menanam bunga. karena menurut riset yang saya pelajari, sekarang tanaman bunga juga diminati oleh kalangan masyarakat, dan ketika kita menanam bunga akan bisa Mengundang para wisatawan wisatawan lokal. dan kedepannya siapa tahu ada wisatawan asing berkunjung ke tempat kita." Jelas Bakrie dengan semangat 45.


"Ya Allah, terima kasih banyak atas semua ide Kalian. terus kira-kira Berapa biaya untuk mewujudkan semua ide kalian?"


Idan pun kembali menyerahkan berkas yang sudah tersusun rapi kepada Fathan. kemudian ketua kelompok itu mulai menganalisa apa yang tertuang dalam rencana anggaran biaya, membuatnya menarik nafas pelan.


"Tenang aja Tan! seperti yang awal kita bicarakan kita memberikan masalah bukan tanpa solusi. kita sudah memikirkan semuanya dengan matang matang. untuk biaya penuangan ide kami. nanti setelah kami resign dari pekerjaan, tempat kami bekerja sekarang .Kami yakin, kamiĀ  pasti akan mendapat uang pesangon, dari Kantor Perusahaan tempat kita bekerja. jadi kamu bisa memanfaatkan uang itu untuk biaya pembuatan semua ide yang kita sampaikan. Kami yakin kamu bisa mengembalikan uang itu, setelah kami melihat dengan mata kepala sendiri kemajuan usahamu yang sangat pesat." ujar idan seolah mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh sepupunya itu.


"Aku sudah tidak tahu harus berkata apa lagi, untuk membalas kebaikan kalian. Semoga apa yang kita rencanakan bisa terealisasi secepatnya. Oh iya, kalau boleh tahu kira-kira hasil dari pesangon Kalian ada berapa?" jelas Fathan sambil menatap ke arah mereka berlima.


"Mungkin kalau di Total semuanya 80 jutaan Tan. kita bertahap terlebih dahulu sesuai dengan kemampuan keuangan kelompok, nanti kedepannya baru kita lanjutkan setelah uang hasil dari pertanian terkumpul."


"Emang butuh biaya berapa?" Tanya Kirana menyela diskusi mereka, karena dia juga sangat tertarik ketika ada bunga dibahas dalam diskusi itu.


"180 juta, biaya yang dibutuhkan untuk Membangun fasilitas green house dan saluran irigasi."


"Kebetulan uangku masih utuh tidak terpakai sedikitpun, karena semenjak aku bekerja di kelompok keranjang sayur aku mendapatkan penghasilan. Jadi uangku masih utuh 100 juta. kalau mau kamu bisa memanfaatkan uang itu, untuk membiayai pembuatan green house dan saluran irigasi." ujar Kirana tanpa sedikitpun terlihat keraguan. Membuat beberapa orang menatap heran ke arahnya. "dan kalau masih kurang, kamu bisa menjual mobilku." lanjut Kirana dengan penuh percaya diri.


"Aduh! jangan nanti orang tuamu marah." Tolak Fathan dengan halus.


"Nggak! nggak akan marah! karena uang itu adalah uangku sendiri. kalau mobil iya, itu adalah uang orang tuaku. namun kalau melihat tujuannya seperti ini, aku yakin mereka tidak akan merasa keberatan." jelas Kirana menepis prasangka Fathan.


"Ya sudah kalau seperti itu, Saya akan ambil uang yang 100 juta itu. namun saya tidak akan mengambil semuanya, Saya hanya akan mengambil sesuai dengan kebutuhan. Kalau uang pesangon dan tabungan kelompok tidak mencukupi." Jawab Fathan memberi keputusan.


"Alhamdulillah semua Keinginan kita dimudahkan oleh Allah." Ujar Kamal yang matanya terlihat mengembun penuh cairan kebahagiaan. karena Semenjak dia ikut bergabung dengan Fathan, tidak ada kesulitan yang sangat berarti, Dalam mengembangkan taraf kehidupan warga kampung sukadarma.

__ADS_1


__ADS_2