Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
ks 29


__ADS_3

MENUJU KAMPUNG SUKADARMA


"Pria itu, Jangan dibiarkan berkeliaran begitu saja. karena dia akan menemukan tambatan yang lain." hasut Windy seolah belum puas memanasi Kirana.


"Kamu jangan buat gua khawatir dong!"


"Serius! gua kasihan aja sama lu! kalau lu bukan sahabat terbaik gua, mana mungkin Gua ngomong seperti ini?


"Terus apa, yang harus gua lakukan?"


"Kejarlah Cintamu sampai dapat! sampai pria itu bertekuk lutut di bawah kakimu!"


"Harus ya, seperti itu?"


"Harus! setiap kebahagiaan maka akan ada perjuangan yang berat."


Akhirnya kedua wanita cantik itu pun mengobrol seperti biasa, namun Sejauh apapun obrolannya mereka akan kembali membahas sosok pria yang sedang bertani. apalagi Windy dengan semangat mengompori sahabatnya, membuat Kirana semakin merasa gelisah.


Hari-hari berikutnya Kirana pun dihantui oleh ketakutan, takut kalau pria idamannya kecantol wanita lain. dia akan merasa sangat Terpukul jika itu terjadi.


Seminggu berlalu, ketika Kirana berada di kantor. dengan memberanikan diri dia pun kembali menghubungi Fathan, meski dia akan tahu apa yang akan terjadi, namun seolah dia tidak bosan untuk Mengejar Cintanya.


"Halo ada apa Bu?" tanya Fathan seperti biasa dengan suara datarnya.


"Kamu sibuk?"


"Kebetulan lagi nggak."


"Kenapa kamu nggak nelpon saya lagi, katanya kamu mau menghubungi saya."


"Aduh maaf Bu! saya lupa, sekali lagi saya mohon maaf. Oh iya foto yang Ibu kirim sangat cantik!" ujar Fathan membuat Kirana mengepalkan tangan lalu menariknya ke bawah.


"Aduh!"


"Kenapa Bu?"


"Nggak apa-apa!" jawab Kirana sambil meringis menahan rasa ngilu di area sikut yang terkena meja.


"Kak Fathan! yang ini bagaimana?" terdengar suara seorang wanita yang bertanya sama Fathan.


"Coba kamu diskusikan sama Farah, nanti saya bantu." jawab Fathan membuat Kirana mengerutkan dahi, menerka-nerka Siapa perempuan yang baru saja bertanya. Dia tahu kalau Farah itu adiknya Fathan, namun dia tidak tahu siapa orang yang bertanya.


"Ada siapa di situ?" tanya Kirana memberanikan diri.


"Oh itu, namanya Zahra! sekretaris kelompok usaha bersama keranjang sayur, yang baru Tadi malam kami dirikan." jawab Fathan dengan jujur.


"Zahra itu, cewek?"


"Iya, Zahra itu perempuan, anaknya Pak Ustad. kalau cowok namanya Juhri. Kenapa emang Bu?" ujar Fathan bercanda, namun berbeda dengan yang terjadi kepada Kirana. dia seperti mendengar petir di siang bolong, benar apa yang dikatakan oleh sahabatnya, kalau dibiarkan Fathan akan mencari tambatan hati yang lain.


"Ya sudah! saya lagi kerja." hanya kata itu yang keluar dari bibir Indah gadis cantik.  tak kuat menahan perasaan yang membakar seluruh area tubuhnya, yang tiba-tiba terasa panas.


Tap! tap! tap!

__ADS_1


Telepon itu diputus sepihak oleh Kirana. itu adalah hal yang baru saja terjadi dalam kehidupannya, karena biasanya Fathan lah yang akan memutus telepon duluan. namun berbeda dengan kali ini, justru Kirana lah yang memutus telepon itu. mungkin kalau ada rekor yang mencatat, ini adalah rekor pertama dalam sejarah hidup Kirana.


Dengan hati kesal, kirana pun bangkit dari tempat duduknya untuk menemui HRD kantornya.


"Maaf ada keperluan apa ya Bu?"


"Saya boleh minta data karyawan lama, yang sudah resign."


"Oh boleh, Mau cari data siapa?"


"Fathan!"


Setelah mendengar permintaan atasannya, HRD itu pun bangkit untuk mencari data milik Fathan. setelah ketemu HRD itu pun memberikannya kepada Kirana.


Setelah mendapat apa yang ia mau, Kirana pun kembali ke ruangannya, lalu membuka data-data Fathan untuk dipelajari.


Hari itu dia tidak bekerja, dia terus mempelajari data-data Fathan, mulai dari mencocokkan dengan Google Map, rute-rute yang menuju ke alamat dan yang lain-lainnya.


Siang hari, dia keluar dari kantor menuju Bank untuk menarik semua asetnya. Namun sayang dia Hanya bisa menarik uang yang dimiliki sebesar 100 juta, namun menurut Kirana itu cukup daripada tidak memegang uang sama sekali.


Sore hari, setelah dia pulang dari kantor. dengan cepat dia pun mulai mengemasi barang-barangnya, dimasukkan ke dalam koper.


Malam hari, setelah dirasa kedua orang tuanya sudah tertidur. dengan mengendap-ngendap dia pun mulai keluar dari rumah, lalu memasukkan semua barang yang ia bawa ke dalam mobil. kemudian Dia menyuruh satpam rumahnya untuk membukakan pintu, awalnya satpam itu menolak, namun setelah Kirana menjelaskan, akhirnya satpam it membiarkan anak atasannya pergi.


Setelah berada di luar rumah , dia mengarahkan kemudi menuju arah selatan ke jalan Cikini, setelah berada di Jalan Cikini mobil itu terus melaju di Jalan Pegangsaan Timur. Kirana terus mengemudi Sampai akhirnya dia masuk tol Cililitan, Sampai akhirnya dia bergabung dengan Tol Jagorawi.


Kirana terus memacu mobilnya, membelah kegelapan malam menuju ke arah Bogor. setelah itu dia mengambil lajur kiri untuk masuk ke arah Ciawi, kemudian dia terus tetap di jalan Itu, sampai akhirnya dia keluar di exit tol Cigombong, salah satu Kecamatan yang berada di Kabupaten Sukabumi.


Pukul 06.30 pagi, akhirnya Kirana sudah melewati terminal bus Sukabumi. dia terus mengikuti jalur yang ditunjukkan oleh maps. namun perutnya mulai terasa melilit, karena belum sempat terisi. terfokus memikirkan Bagaimana caranya melarikan diri, sampai-sampai Dia melupakan perutnya.


Kirana pun menghentikan mobil di salah satu kios penjual bubur ayam, meski dia merasa agak sedikit jijik. namun daripada, daripada. dengan terpaksa akhirnya dia masuk ke dalam kios itu.


Kirana pun mulai memesan satu mangkok bubur ayam, kemudian dia duduk sambil menunggu pesanannya diantarkan, tak menunggu berapa lama pesanan itu dihidangkan.


Suasana dingin perkampungan yang ada di Kabupaten Sukabumi, membuat bubur yang tadi dikira tidak enak. dengan Lahab Kirana habiskan, sampai tak tersisa. kemudian Dia meminum air teh hangat, membuat tubuhnya kembali terasa hangat.


"Mau ke mana Neng? pagi-pagi sudah sampai ke sini?" Tanya ibu-ibu penjual bubur ayam.


"Saya mau ke kampung sukadarma, yang ada di Kecamatan nyalindeng."


"Nyalindung, kali Neng!"


"Iya itu, Nyalindung." jawab Kirana sambil tersenyum.


"Mau ngapain ke kampung itu, bukannya kampung itu Kampung mati, karena ditinggal sebagian penduduk yang merantau ke kota-kota besar."


"Mau cari seseorang Bu?"


"Kenapa, asisten rumah tangga Neng kabur membawa harta neng Yah?"


"Nggak bu! nggak! bukan !"Jawab Kirana "dia tidak mencuri harta, tapi dia mencuri hatiku Bu!" lanjut Kirana dalam hati.


"Terus mau apa?"

__ADS_1


"Ada Kepentingan aja Bu! Oh iya, dari sini masih jauh nggak Bu ke nyalindeng itu?"


"Dekat, nanti kalau ada pertigaan ambil belok kiri."


"Oh begitu! totalnya jadi berapa."


"Rp7.000 Neng!"


"Murah amat!"


"Kalau mahal, di sini nggak laku Neng."


Kirana pun mengeluarkan uang Rp50.000, namun ketika ibu-ibu penjual bubur ayam mau mengembalikan uang kembaliannya. Kirana menolak, namun dia meminta teh yang baru saja ia minum. untuk dibawa ke dalam mobil, karena menurutnya, itu adalah teh ternikmat yang pernah masuk ke dalam perutnya.


Kirana mulai melanjutkan kembali perjalanan, dia mulai menyusuri jalan yang berbelok-belok, dan lumayan sempit. sehingga mobil itu tidak bisa melaju dengan cepat, apalagi ketika berpapasan dengan mobil angkutan umum, yang melaju kencang membuat Kirana sedikit ngeri.


Beberapa kali dia turun dari mobil, untuk bertanya di mana letak Kampung sukadarma. seperti biasa orang-orang menjawab sebentar lagi, Sebentar lagi dan sebentar lagi. sehingga akhirnya setelah 1 jam, dia baru melihat pertigaan yang diceritakan oleh ibu-ibu penjual bubur ayam.


"Ngomongnya deket! deket! deket! 10 km baru ketemu  pertigaan." gerutu Kirana sambil membanting setirnya ke arah kiri. di mana Prapatan itu, adalah Prapatan yang biasa digunakan oleh para warga kampung sukadarma, untuk menunggu kedatangan keluarganya yang baru mudik dari kota.


20 menit, berlalu Akhirnya dia sampai di salah satu kampung yang terlihat masih Asri, dengan sawah yang membentang luas, seluas mata memandang


Kirana terhenti karena melihat gapura yang tertulis." Selamat datang di kampung sukaujang." membuatnya ragu-ragu untuk masuk ke kampung itu, namun setelah dia melihat map, dia yakin bahwa itu adalah kampung sukadarma. dengan penasaran dia turun dari mobil lalu menghampiri salah satu rumah warga.


"Selamat pagi Ibu! Maaf numpang tanya!"


"Iya ada apa?" Jawab ibu-ibu yang sedang menyapu halaman rumahnya.


"Apa benar ini kampung sukadarma?"


"Mau cari siapa?"


"Kok tulisannya Kampung sukaujang?"


"Yah namanya juga orang aneh! Oh iya, neng belum jawab pertanyaan saya. Neng ke sini, mau cari siapa,"


"Fathan Bu!" Jawab Kirana sambil malu-malu.


"Fathan Anaknya Farhan bukan, yang dulu jadi arsitek."


"Iya, Itu! benar Bu!" jawab Kirana seolah bersorak.


"Neng lurus aja, ikuti terus jalan ini. nanti Eneng akan melihat rumah yang di depannya banyak peralatan mesin pertanian."


"Di situ ya rumahnya?"


"Bukan, tapi Itu rumah bibinya!"


"Terus rumahnya di mana?" Tanya Kirana lagi, sambil mengerutkan dahi.


"Di belakang rumah itu, namun dia lebih sering tinggal di rumah bibinyan nanti tanya aja di situ."


"Ya sudah, terima kasih banyak Bu!" ujar Kirana sambil tersenyum bahagia, karena perjuangan semalam mengendarai mobil tidak sia-sia.

__ADS_1


__ADS_2