Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
ks. 89


__ADS_3

Sepeninggalnya Fathan yang masuk ke kamarnya, Farhan juga mengajak istrinya masuk ke dalam kamar, membuat Sri mengerutkan dahi, tidak mengerti apa maksudnya. namun dia tidak bisa menolak, dia tetap mengikuti kemauan sang suami.


"Ada apa sih Kang? kok, pakai narik-narik segala!" Ketus Sri yang terlihat menekuk wajah.


"AKang mau ngobrol sebentar!"


"Kenapa nggak di luar aja kang, apa mau minta gituan? nanti malam aja, sekarang akang sana ambil air wudhu terus ke masjid salat berjamaah!" Tebak Sri sambil hendak bangkit dari tempat duduknya.


"Pikiranmu ke mana-mana saja sih! kita ini sudah tua, sudah tidak pantas melakukan hal-hal begituan, sekarang kita harus memikirkan nasib anak kita Farah, Yang sebentar lagi mau menjadi istri seorang dokter. Karena kalau mengandalkan Fathan kayaknya itu tidak akan mudah, soalnya jangankan untuk mengadakan uang 150 juta, untuk dirinya sendiri saja sekarang terlihat sulit," tahan Farhan sambil menjelaskan maksudnya.


Sri Yang awalnya tadi mau keluar,  dia pun kembali duduk di tepian ranjang, di samping suaminya. "Terus sekarang rencana Akang bagaimana?" tanya Sri sambil menatap seolah ingin tahu apa yang sedang direncanakan oleh sang suami.


"Dulu, ketika Farah dilamar oleh Pak dokter. Kang Ujang menawarkan uang untuk modal pernikahan anak kita, dia berani membayar sawah kita 150 juta, itu baru kemauannya. Mungkin kalau kita naikkan sedikit pasti dia akan membayar tanah kita," jelas Farhan.


"Terus?"


"Bagaimana kalau sawah kita jual, karena kalau kebun kan masih banyak bangunan-bangunan milik si Fathan, dia pasti tidak akan setuju Kalau menjual kebun kita."


"Kalau sawah itu dijual, terus kita ke depannya bagaimana."


"Kamu sebagai istri tidak usah pusing, tidak usah khawatir. Serahkan semuanya sama Akang, karena akang juga masih punya tanah di kampung akang sendiri yang belum diapa-apakan, Nanti kita urus tanah itu kalau buat makan kayaknya cukup," jawab Farhan memberikan solusi.


Mendengar penjelasan suaminya, Sri pun terlihat diam, dia berpikir dan menimbang apa yang harus dia ambil. di satu sisi rasanya tidak rela kalau harus menjual tanahnya, namun di sisi lain dia tidak punya jalan untuk mendapatkan uang, ketika mengadakan resepsi pernikahan buat anaknya.


"Bagaimana kamu setuju apa enggak?" Ujar Farhan mengulangi pertanyaannya.


"Sri Hanya sebagai seorang istri, hanya bisa menurut apa kemauan suaminya, yang terpenting akang bisa bertanggung jawab tentang kehidupan kita di masa yang akan datang."


"Iya Akang sudah pikirkan matang-matang, bahkan hampir seminggu akang memikirkan keputusan ini. Lagian kalau harta Kita habis bukan dimakan oleh siapa-siapa, melainkan oleh anak kita sendiri, darah daging sendiri."


"Iya, terus sekarang mau bagaimana?" tanya sri yang tak mau memperpanjang perdebatan, apalagi terdengar dari arah Masjid azan maghrib sudah mulai berkumandang.


"Kalau kamu setuju, nanti sehabis melaksanakan salat magrib, akang mau menemui Kang Ujang, untuk menanyakan tawarannya."

__ADS_1


"Ya Sudah, temui saja dulu, nanti kalau harganya sesuai dengan tawaran yang dulu, yang sempat Kang Ujang tawarkan, maka kita jual sawah kita."


"Kalau kamu setuju, Terima kasih! akang mau siap-siap dulu untuk salat berjamaah," ujar Farhan sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia masuk ke kamar mandi, untuk mengambil air wudhu terlebih dahulu.


Selesai mengambil air wudhu, dia pun bergegas berlari menuju ke arah Mushola, yang dekat dengan rumahnya. untuk melaksanakan salat Maghrib berjamaah.


Sesudah melaksanakan salat Magrib, sesuai dengan apa yang direncanakan. Farhan berjalan menyusuri jalan besar menuju ke rumah Ujang, diantar oleh suara jangkrik yang terdengar berbunyi di samping kanan kiri jalan, di Sahuti oleh suara kodok yang terdengar dari arah sawah.


Bapak sang petani itu terus berjalan hingga akhirnya dia tiba di salah satu rumah terbesar yang berada di kampung sukadarma. setelah sampai di depan gerbang dia pun mengucapkan salam sambil memukul-mukul pintu dengan slot kunci, agar bisa terdengar sampai ke dalam rumah.


Lama mengetuk gerbang, akhirnya pintu rumah Ujang pun terbuka, dia yang sedang memakai sarung menatap tajam ke arah orang yang berdiri di depan pintu. "siapa sih, magrib-magrib begini bertamu, ngeganggu aja?" bentak Ujang yang merasa kesal karena waktu istirahatnya merasa diganggu.


"Saya Farhan Kang, maaf mengganggu." jawab Farhan dengan sedikit berteriak mungkin suaranya agar terdengar oleh ujang.


Mengetahui orang yang bertamu adalah Bapak dari musuh bebuyutannya, dengan merubah sikap Ujang pun berjalan dengan cepat membuka pintu pagar. Eh Kang Farhan, Maaf Kang kirain  tadi siapa, Ayo masuk kang!" ujar ujanh sambil membukakan pintu, raut wajahnya sudah dirubah dengan raut wajah sumringah.


"Terima kasih Kang Ujang, sekali lagi saya mohon maaf!"


Mereka berdua berjalan melewati halaman yang biasa dipakai menjemur padi, hingga akhirnya mereka tiba di teras. Farhan yang sudah mengetahui sifat ujang, dia pun memilih salah satu kursi untuk duduk.


"Jangan duduk di sini Kang, dingin! mending ayo kita ngobrol di dalam," tahan Ujang ketika melihat Tamunya sudah duduk.


"Di sini aja Kang! Saya malu kalau masuk ke rumah sebesar ini,"


"Halah... Akang ini, ngomong apaan sih, kayak sama siapa aja, ayo masuk!" paksa Ujang.


"Enggak apa-apa, kalai saya masuk?" tanya Farhan ragu-ragu.


"Ya Allah Kang...! Emangnya Saya ini orang apa, sampai melarang orang untuk bertamu ke rumahnya, ayo...!"


Dengan sedikit Ragu-ragu Farhan pun bangkit kembali dari tempat duduknya, kemudian dia masuk ke ruang tamu. namun Ujang dengan segera membawanya masuk ke ruang tengah, terlihat ruangan itu sangat mewah dengan TV berukuran 42 in, di dekat dinding terpampang barang-barang mewah yang ditata dengan rapi, membuat Farhan celingukkan mengagumi semua benda yang ada di ruang tengah rumah Ujang. karena sebenarnya, Walaupun dia hidup bertetanggaan dengan Ujang, baru kali ini dia bisa masuk ke rumah megah itu.


"Mau kopi apa kang?" tanya Ujang dengan ramah.

__ADS_1


"Nggak usah ngerepotin Kang!" tolak Farhan.


"Masak kopi aja repot Kang, Lagian Sekarang kan sudah modern, kopinya tinggal tuang lalu diseduh dengan air panas. sebentar saya akan suruh Darmi untuk membuatkan kopi," jawab Ujang sambil masuk ke kamarnya, terlihat istrinya seperti biasa setelah melaksanakan salat aktivitasnya hanya memegang handphone, bahkan mukenanya belum dibuka.


"Ya Allah kamu tuh, emang nggak bosen main HP terus?" gerutu Ujang ketika melihat istrinya.


"Emang harus ngapain lagi, harus kuli gitu?"  jawab Darmi yang terdengar ketus.


"Kamu tuh kalau berbicara dengan suami harus sopan! Emang nggak malu sama tamu kita."


"Emang ada Tamu siapa?" Tanya Darmi yang melirik dengan sudut matanya.


"Ada Kang Farhan, sudah sana tolong buatkan kopi Sekalian bawa cemilannya!"


Darmi pun bangkit dari tempat tidurnya, kemudian dia keluar dari kamar lalu menemui Farhan. "Eh ada Kang Farhan, Bagaimana sehat kang?" tanya Darmi yang seperti biasa terlihat ramah, ketika ada tamu datang ke rumahnya, seperti Pak Darma yang sangat baik.


"Alhamdulillah sehat, enak ya kalau jadi orang kaya, kerjaannya di rumah saja, tapi uang terus mengalir. Bisa bertemu saya saja paling setahun sekali, itupun ketika hari raya Idul Fitri."


"Yah kadang saya juga bingung kang, harus ngapain lagi. Alhamdulillah kehidupan saya diberikan kemudahan, ya sudah kang Farhan Mau kopi apa?"


"Nggak usah ngerepotin Teh!"


"Nggak repot kok Kang, Ya sudah kopi moccacino mau?" tawar Darmi memberi pilihan.


"Kalau tidak merepotkan boleh," jawab Farhan malu-malu.


Akhirnya Darmi yang masih memakai mukena dia masuk ke dalam dapur, untuk menyiapkan jamuan buat tamunya, sedangkan Ujang sudah duduk di samping Farhan.


"Kadang saya suka bingung kalau melihat kelakuan istri saya kerjaannya. setiap hari main handphone, paling sibuk dia menyiapkan makanan, setelah itu tiduran lagi, main handphone lagi, diajak ke sawah nggak mau, diajak usaha nggak mau," ujar Ujang mengeluhkan sikap istrinya.


"Ya nggak apa-apa kang, lagian kan Akangnya mampu menafkahi istri, tanpa harus meminta bantuanya, kalau kehidupan saya seperti Akang, mungkin istri saya akan bahagia seperti teh Darmi yang tak harus pergi ke sawah."


"Alhamdulillah untuk kebutuhan sehari-hari saya bisa mencukupi. Oh iya, ampir lupa, maaf nih cepat-cepat ditanya. Karena sebenarnya saya merasa kaget ketika akang mengunjungi rumah saya, karena udah berapa tahun Akang tidak pernah main ke rumah saya."

__ADS_1


__ADS_2