
Kejahatan Ujang
"Benar juga ya!" tanggap Dadun setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Ujang.
"Benar, orang-orang suka menganggap saya jahat. karena saya suka mengasih pinjaman uang dengan bunga. padahal bunganya tidak terlalu besar hanya 20% itupun per tahun, dan kalau belum memiliki pembayaran, saya masih memberikan kelonggaran, mereka bisa membayar bunganya terlebih dahulu. bandingkan dengan Fathan. tanah kamu yang diakui oleh mata keranjang, dikelola oleh Fathan, penghasilannya sangat banyak. sedangkan orang yang mempunyai tanahnya, hanya diberikan uang yang sedikit, itupun dengan catatan harus bekerja."
Mendengar penjelasannya lagi seperti itu, Dadun pun berpikir kembali, seolah sedang menimbang dan menghitung apa yang disampaikan oleh Ujang. semakin lama berpikir semakin mengerti bahwa apa yang dikatakan oleh Ujang, itu benar adanya. dia telah merasa dibodohi oleh Fathan, yang mencari untung lebih.
"Menurut saya, kang Dadun kalau sekarang sudah mengerti, Akang harus memberitahu warga-warga yang lain, agar mereka tidak terlena oleh bujuk rayu pemuda itu. kalian itu sudah tua. masa, masih bisa dibodoh-bodohi dengan akal bulus bocah ingusan seperti Fathan." kompor Pardi mulai dinyalakan, memanaskan pikiran Dadun yang sedang Dilema.
"Benar juga Kang, Saya memang sudah ditipu oleh Fathan."
"Iya benar, kalau nggak ditipu diapain lagi?" Sahut Ujang.
"Tapi kalau Fathan tidak ada, saya tidak mungkin bisa mendapat penghasilan 3 juta perbulan tanpa harus Merantau."
"Iya, memang kita tidak menyanggah, bahwa Fathan lah orang yang pertama yang menggerakkan pertanian. tapi kalau mengambil keuntungan yang lebih, bahkan lebih mirip penjajah. itu sangat tidak wajar, kalau kita mau memberi Minimal seikhlasnya kita, atau hitungannya harus jelas. jangan sampai Fathan yang mengatur semuanya, sehingga kita hanya mendapatkan keringat dan kelelahan."
Dadun terdiam kembali seolah Sedang berpikir, berbicara terlalu lama dengan Ujang, membuatnya sedikit terpengaruh oleh rentenir kampung sukadarma itu.
Ujang dan Pardi terus menghasut, mempengaruhi Dadun. agar dia mau keluar dari kelompok keranjang sayur, setelah Dadun bersedia keluar dari kelompok yang didirikan oleh sang petani. maka mereka akan memanfaatkan Dadun agar bisa mempengaruhi para anggota-anggota yang lain, untuk ikut keluar dari kelompok. sehingga hancurlah pertanian Fathan, dan orang-orang, warga-warga Kampung sukadarma akan kembali meminjam uang sama ujang. sehingga usaha ujang yang sudah mulai diambang kebangkrutan akan hidup kembali. Karena sepinya peminjam hutang.
"Kalau seperti itu, apa yang harus saya lakukan?" tanya Dadun yang terlihat sudah menyerah.
"Gampang....! Kang Dadun tinggal mengajak orang-orang yang memiliki tanah yang luas, agar mereka mau berpisah dengan Fathan. Sayaa berbicara seperti ini, karena saya merasa kasihan sama warga, yang seharusnya hidup lebih maju dari orang lain," jawab Ujang.
"Setelah aku berhasil mengajak para anggota, Apa yang harus dilakukan selanjutnya?" Dadun bertanya kembali.
"Kalian kompak keluar dari kelompok pertanian mata keranjang itu. kemudian kalian membuat kelompok usaha mandiri, yang tidak tergantung kepada si sang petani norak itu." Jawab Ujang menyampaikan rencananya.
"Nah, Kalau kita sudah berhasil keluar, berarti kita akan mengembalikan semua fasilitas yang diberikan oleh kelompok pertanian keranjang sayur. kita sebagai petani yang sudah terbebas dari cengkraman Fathan. Kita harus membuat kerajaan Tani yang baru. untuk mewujudkan semua itu, kita butuh biaya yang tidak sedikit."
__ADS_1
"Benar, memang tidak membutuhkan biaya yang sedikit. tapi Kang Dadun nggak usah khawatir, soal biaya biar saya yang membiayai. tapi seperti biasa saya akan meminta presentase dari modal yang saya Keluarkan." Jawab Ujang.
"Caranya seperti apa, biar nanti ketika saya mengobrol dengan anggota kelompok lain, saya bisa menjelaskan."
"Saya hanya minta 20% setiap tahun, dari jumlah uang yang dipinjam. itu pun kalau dalam jangka waktu setahun tidak terbayar. kalau dalam waktu setahun bisa membayar, Saya akan meminta 15%. khusus bagi Kang Dadun, kalau Akang bisa mengajak para anggota keluar dari perkumpulan, saya akan membebaskan bunganya, sekaligus memberikan bonus yang tidak kecil." Jelas Ujang yang terlihat bersemangat, karena memang begitulah keinginannya.
Mendengar penuturan Ujang, Dadun kembali terdiam menimbang baik dan buruknya, apa yang dikatakan oleh lintah darat itu.
"Kang Dadun Jangan khawatir, 20% itu hanya setahun. sedangkan pertanian bisa beberapa kali panen, saya kira 20% itu bukan hal yang memberatkan. contoh kalau Akang Pinjam 10 juta, berarti bunganya hanya 2 juta dalam setahun, sama dengan 2 juta dibagi 365 hari, itu hanya Rp6.000 sehari Kang. uang segitu paling buat jajan si misro saja sudah habis," jelas Pardi yang terlihat sangat pintar mempengaruhi, karena Ujang punya pemikiran sejauh ini itu gara-garanya.
"Yah, benar apa yang dikatakan oleh Kang Pardi. coba kang Dadun bayangkan dengan modal 10 juta, akang menanam sawi yang 40 hari sekali panen, dalam setahun Kang Dadun bisa 9 kali panen, dengan untung rata-rata minimal 5 jutaan. Saya hanya meminta -setengah dari satu kali panen, untuk di setor sama saya. berbeda dengan Fathan, yang setiap kali para petani panen mereka akan mengambil keuntungan yang sangat banyak, hanya memberi tiga juta bagi pemilik lahan. bayangkan kalau akang mengurus sendiri tanah Akang. 8 kali 5 juta, setahun Akang bisa mendapat 40 juta, ditambah kalau sayuran lagi sepi, harga akan naik berkali-kali lipat. maka akang juga bisa mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda pula. berbeda ketika tanah diurus oleh Fathan, mau naik, mau sedang, gaji akang tetap 3 juta," jelas Ujang panjang lebar, tidak dipikir bahwa pertanian juga pasti akan mengalami masa surut, sehingga banyak para petani yang membuat aspal dari hasil pertanian mereka, sebagai bentuk protes karena tidak stabilnya harga.
Dadun yang tidak memiliki pendirian, dia semakin terpengaruh dan membenarkan apa yang disampaikan oleh kedua kakak ipar itu. sehingga dia pun memutuskan untuk mengikuti dengan apa yang disarankan oleh Ujang dan Pardi.
"Benar juga, selama ini saya dibodohi dan ditipu oleh anak kemarin sore, yang membuat saya masih bingung bagaimana cara menjual hasil pertanian kita."
"Itu masalah gampang, nanti saya akan siapkan mobil. kalian para petani hanya menyewa mobil saya, untuk pengiriman barang. itupun, sebelum kalian membeli mobil masing-masing, karena saya yakin kalau kalian berpisah dari Fathan, kalian bisa membeli mobil sendiri," ujar Ujang terus memasukkan hasutan-hasutan.
"Ya sudah nanti saya akan bicarakan dengan para warga yang lain, setelah kekuatan terkumpul, maka saya akan melepaskan diri dari anggota kelompok keranjang sayur." putus Dadun.
Mereka terus mengobrol, membahas Bagaimana caranya keluar dari kelompok keranjang sayur. hingga Akhirnya mobil yang mereka kendarai, berputar arah untuk kembali ke kampung sukadarma. keasikan mengobrol tak terasa mobil itu sampai keluar dari pertigaan yang biasa dijadikan tempat para warga menunggu saudaranya yang mau mudik. mobil itu terus melaju menuju ke arah Kampung sukadarma, sambil terus membicarakan agar apa yang mereka rencanakan bisa berjalan dengan lancar.
Dari upuk barat, terlihat matahari sudah mau bersembunyi di balik gunung, hanya memancarkan sinar kuning kehitaman, membuat Kampung sukadarma terlihat sangat sedikit seram. karena warna gelap seperti itu menandakan akan ada hujan yang sangat lebat.
sebelum adzan maghrib berkumandang, mobil yang dikendarai oleh Ujang terparkir kembali di depan rumah Dadun. setelah menurunkan orang yang diasutnya, Ujang pun pergi meninggalkannya, dia berjanji akan terus memantau dan membantu perkembangan usaha Dadun.
Sesampainya di rumah, Dadun pun dengan segera masuk ke dalam untuk mengambil sarung serta peci. kemudian dia berlari menuju ke arah masjid untuk melaksanakan salat magrib berjamaah bersama.
Selesai melaksanakan salat, ketika dia hendak pulang dia bertemu dengan dua orang anggota kerajaan sayur, yang memiliki tanah agak luas, sama seperti tanah yang dimilikinya. tanah yang diinvestasikan untuk diurus oleh kelompok keranjang sayur. Tanpa berpikir panjang dadon pun mengajak mereka berdua untuk mampir ke rumahnya.
"Ada apa nih, Kang Dadun, kok, kita dipanggil ke sini?" tanya salah seorang warga yang duduk di kursi yang berada di teras.
__ADS_1
"Begini Kang Parmin dan Kang Nanang, maksud saya mengundang kalian ke sini. ada hal yang penting yang harus kita bicarakan, untuk menaikkan taraf kehidupan kita."
"Hal penting apa?" Tanya orang yang bernama Parmin.
"Sebentar, misro.....! misro....!" Panggil Dadun sama anaknya.
Dari arah dalam terlihat anak kecil kira-kira berumur 8 tahun, yang keluar menemui panggilan Dadun. "Ada apa Pak?" tanya anak itu yang terlihat kesal karena sedang bermain handphone.
"Tolong belikan Bapak rok0k, nanti kamu jajan!" Rayu Dadun.
"Asik....!"jawab anak kecil itu sambil masuk ke dalam menyimpan handphonenya, tak lama dia kembali menghadap ayahnya. Wajahnya yang ditekuk sudah berubah menjadi riang.
"Beliin rok0k coklat 2 bungkus, sama kopinya...!" seru Dadun sambil menyerahkan uang Rp100.000. karena tadi sebelum keluar dari mobil. Ujang sang lintah darat itu memberikan uang sebesar Rp500.000. begitulah ketika orang yang sudah mempunyai iri, dengki. mereka akan terlihat sangat baik demi terwujudnya apa yang dicita-citakan.
Misro pun mengangguk, kemudian mengambil uang yang ada di tangan bapaknya. tanpa berbicara lagi dia pun berlari menuju ke arah warung yang berada di dekat rumahnya. kedua Tamu Dadun hanya saling menatap, penuh penasaran, tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Dadun.
"Kita ngopi dulu, sambil menunggu adzan isya berkumandang." Ajak Dadun yang terlihat terus mengulum senyum.
"Jujur, saya kaget kang, sebenarnya ini ada apa?" Ujar Parmin untuk kesekian kalinya dia bertanya.
"Iya Kang saya juga heran, sebenarnya ini ada apa?" tambah Nanang menyahuti.
"Sebenarnya nggak ada apa-apa, kalian jangan tegang seperti itu. Saya hanya ingin Berbicara masalah yang akan menguntungkan bagi kita semuanya."
"Masalah apa?"
"Sebenarnya kita sudah lama tergabung dengan kelompok keranjang sayur, namun selama itu pula kita tidak mendapatkan apa-apa, kita hanya mendapatkan capek dan keringat. yang untung hanyalah ketua kelompok, mereka sampai bisa membangun hotel dari tanah kita yang mereka garap."
"Tapi kan, kita dapat gaji Kang sebesar 3 juta perbulan."
"Benar memang, kita dapat gaji dari pertanian. tapi sebenarnya itu sangat wajar, karena kita bekerja setiap hari. Terus yang jadi pertanyaan, apa keuntungan kita memberikan pengurusan tanah kepada pihak keranjang sayur. tidak ada kan, kita hanya dapat Upah sama seperti orang yang tidak memiliki tanah."
__ADS_1
Mendapat penjelasan seperti itu, kedua orang yang duduk di hadapan Dadun terlihat mengurutkan dahi. seolah belum mengerti Ke mana arah pembicaraan orang yang mengundangnya.