Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
ks 31


__ADS_3

UJANG


"Sudah! sudah! jangan diteruskan, nanti ibu mencelakai diri sendiri." tolak Fathan, dengan cepat dia pun turun ke sawah untuk mengambil Cangkul yang dipegang oleh Kirana.


"Biarkan saya belajar!" Kelak Kirana sambil menyembunyikan cangkul itu ke belakang tubuhnya


"Sini buruan!" paksa Fathan, sambil memegang tangan Kirana hendak mengambil cangkul yang disembunyikan di belakang tubuhnya.


"Kok, Bapak mainnya peluk-pluk seperti ini ?"ujar Kirana sambil tersenyum, membuat Fathan mengurungkan niatnya.


"Bahaya Bu! itu tajam! Buruan sini." Pinta Fathan sambil mengulurkan tangan


"Nih!" Akhirnya Kirana mengalah, Dia memberikan cangkul yang ia pegang. kemudian Fathan menyuruhnya untuk segera naik dan pulang. namun Kirana malah menjahili Fathan, dengan melempar Lumpur, membuat muka Fathan terlihat blepotan.


Fathan tidak merespon kejahilan itu, dengan cepat dia mendekati selokan untuk mencuci mukanya.


"Bales dong, Nggak seru tahu!" rengek Kirana berharap.


"Sudah pulang, jangan ganggu saya kerja." jawab Fathan tanpa mempedulikan Kirana lagi, Dia Kembali ke tempat pertanian. namun seperti biasa Kirana akan terus mengikuti kemana langkah pria itu melangkah.


Siang hari, seperti biasa para petani akan pulang terlebih dahulu, untuk melaksanakan kewajibannya, serta beristirahat makan siang.


Kirana yang terus mengikuti Fathan, dia mengikutinya sampai ke rumah.


"Ini cewek dari mana Tan?" tanya Sri, yang merasa asing dengan wajah Kirana.


"Ini anak Pak Wira, Bu! mantan Bos saya dulu ketika bekerja di Jakarta." Jawab Fathan memperkenalkan wanita yang mengikutinya.


"Kirana!" kenal Kirana sambil mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan ibunya Fathan.


"Ada apa ke sini, mau nagih hutang Yah?" tanya Sri yang selalu berpikiran jelek.


"Hutang apa?"  Kirana balik bertanya sambil mengerutkan dahi.


"Kirain Fatan dipecat, gara-gara berhutang sama perusahaan?"


"Enggak lah, Bu! Fathan orangnya baik, malahan sangat baik."


"Ya sudah, ayo masuk! Oh iya mau tinggal lama, apa mau pulang lagi?" tanya Ibu Fathan.


"Saya mau belajar Tani, Bu! sama anak Ibu! saya tertarik setelah melihat videonya."


"Video apa?" Tanya Sri sambil mengerutkan dahi.


"Video YouTube bu."


"Emang kamu punya YouTube tan?" Tanya Sri sambil menatap ke arah anaknya, karena sepengetahuan sri anaknya hanya bertani.


"Punya Bu!"


"Boleh kan Bu, aku belajar bertani di sini!" tanya Kirana yang belum mendapat jawaban.


"Oh boleh! nanti kamu tidur sama Farah atau Sarah. Jangan tidur sama Fathan"


"Terima kasih banyak, ibu! tapi kenapa aku nggak boleh tidur sama Fathan?" tanya Kirana dengan polosnya.


"Ya, Nggak boleh lah! kalian Kan belum nikah."


"Ya kalau gitu! Ibu nikahin dong!" Jawaban Kirana membuat Fathan mengkerlingkan mata ke arah Kirana.


"Udah ah! malah ngobrol, Ayo masuk, kita makan siang bersama!" ajak Sri sambil menarik tangan Kirana masuk ke dalam rumahnya.


Akhirnya Fathan dan Kirana pun membersihkan tubuh terlebih dahulu, dilanjutkan dengan makan siang bersama. setelah selesai melaksanakan salat zuhur Fathan kembali ke rumah Kamal, seperti biasa Kirana pun mengekor di belakang.

__ADS_1


"Mau ke mana mang, sudah rapi saja?" Tanya Fathan ketika melihat Pamannya sudah naik motor bersiap untuk pergi.


"Saya mau ketemu Kang Ujang! Saya mau bayar hutang. seperti yang pernah kita bicarakan." jawab Kamal.


"Ya sudah, hati-hati!"


Kamal mulai menarik tuas gas motor, pergi meninggalkan rumah, menuju jalan besar. dia terus berada di jalan besar Sampai akhirnya dia sampai di salah satu rumah terbesar dan termegah, yang ada di kampung sukadarma.


"Assalamualaikum!" ucap Kamal setelah berada di depan pintu gerbang, terlihat yang punya rumah seperti biasa sedang mencuci motor antiknya.


Melihat ada orang yang bertamu, dengan cepat Ujang bangkit dari tempat jongkoknya, lalu membukakan pintu gerbang.


"Ada apa Mal? Kok tumben-tumbenan kamu datang ke sini? mau pinjam uang lagi ya, Buat modal bertani." tanya Ujang menyimpulkan.


"Enggak kang! tapi boleh nggak saya masuk dulu, biar kita ngobrolnya leluasa."


"Boleh! tapi lepas sendal kamu di sini ya! Soalnya kalau Kamu memakai sendal ke dalam, nanti halaman saya kotor. kamu kan seorang petani." Pinta Ujang dengan menunjukkan sikap aslinya


"Kan halaman itu, buat tempat jemur padi kang! nggak apa-apa kali, kalau diinjak pakai sendal. Lagian sandal saya bersih kok." Jawab Kamal sambil mengangkat kaki untuk menunjukkan bahwa sandalnya bersih.


"Mau masuk nggak? Kalau nggak saya lagi sibuk nih!" tolak Ujang yang tak mau berbasa-basi.


Dengan menggelengkan kepala, akhirnya Kamal pun mengikuti semua apa yang diperintahkan oleh Ujang. dia melepaskan sandalnya di dekat pintu gerbang, dengan perlahan dia pun masuk menginjak tembokan, yang biasa dipakai menjemur padi.


"Jangan duduk Dulu!" tolak Ujang ketika melihat kamal hendak duduk di kursi yang berada di terasnya. "Pardi! Pardi!" teriak Ujang memanggil adik iparnya. dengan cepat orang yang dipanggil keluar dari gudang penyimpanan padi.


"Ada apa Kang?" tanya Pardi.


"Tolong kamu ambilkan karung buat alas Kamal duduk. Nanti kalau dia duduk di atas, bisa-bisa kursi saya rusak." dengan ragu-ragu Pardi pun mengangguk, namun dia tidak berani membantah Apa yang diperintahkan oleh kakak iparnya, dengan cepat dia pun pergi ke gudang, tak lama kembali dengan membawa karung yang biasa dipakai penyimpanan padi.


"Maaf nih, Mal! duduk di bawah aja. nanti kursi saya kotor!" seru ujang sambil menggeserkan karung, yang diberikan oleh Pardi dengan kaki.


"Baik kang! terima kasih." ujar Kamal dengan tetap menunjukkan rasa hormat, menyembunyikan kekesalan yang sudah memenuhi dadanya.


"Maaf Kang! saya datang ke sini bukan untuk meminjam uang, namun saya ingin menyicil hutang saya."


"Sombongnyaaaaa! minta ampun, kamu sudah keracunan kata mutiara anaknya Si Farhan ya?" jawab Ujang sambil mengangkat satu sudut bibirnya.


"Nggak kang! saya mau bayar hutang, Emang saya nggak boleh bayar hutang."


"Hati-hati Mal! itu uang, pasti uang hasil korupsi keponakanmu. nanti lama-lama juga ketahuan. Kalau sudah ketahuan kamu juga nanti ikut terseret, masuk ke dalam penjara." ujar Ujang yang semakin tidak nyambung.


"maaf Kang Ujang! kok bicaranya semakin ngelantur. Jadi bagaimana saya mau bayar hutang nih!"


"Ya sudah kalau nggak mau diKasihani, saya sebagai Tetangga kampung yang baik, Hanya mengingatkan. mana uang pembayarannya." Pinta Ujang sambil mengulurkan tangan.


Dengan Cepat Kamal, mengeluarkan amplop coklat dari kantong bajunya. namun sebelum menyerahkan uang itu kepada Ujang, Dia berbicara terlebih dahulu. "tapi maaf Kang Ujang, Saya hanya bisa bayar sepertiganya, uang saya hanya ada 15 juta!"


"Apaaaaa! 15 juta?" tanya Ujang dengan menaikan intonasi suara sambil membulatkan mata, menirukan orang yang terkejut.


"Iya kang! Cuma ada 15 juta. nggak apa-apa surat tanahnya jangan dikasih dulu ke saya, pegang dulu sama Akang! sebelum saya bisa melunasi semua hutang saya." ujar Kamal menjelaskan.


"Kamal! Kamal!!! emang kamu pikir, dengan uang segitu saya bisa membeli sawah lagi! ingat ya Mal! dulu kamu pas minjem uang ke saya, saya tidak nyicil tuh ngasihnya. enak saja sekarang kamu mau nyicil, mau jadi apa uang segitu!" tolak Ujang dengan nada serius, sedikit mengejek.


"Yah, Soalnya! saya takut kang, Kalau disimpan di rumah nanti habis lagi."


"Nggak bisa Mal! nggak bisa! saya nggak akan terima kalau pembayaran hutang hanya setengah, apalagi ini hanya sepertiga. mending kamu bawa lagi uang kamu, Kecuali kalau kamu ingin membayar bunga buat tahun depan. baru saya terima!" jelas Ujang, seperti yang kita ketahui bahwa kamal harus menyetor padi 1 ton setiap tahunnya. Sebagai bunga yang harus dibayarkan.


"Terus saya harus bagaimana sekarang, kang?" tanya Kamal yang sudah merasa bingung.


"Ya sudah, kamu pulang! bawa lagi uang kamu, Saya nggak butuh!"


"Jadi uang saya nggak diterima"

__ADS_1


"Kamu nggak Budek kan?" tanya Ujang dengan menyilangkan kaki.


Dengan kesal kamal pun bangkit, namun dia tak meluapkan kekesalannya. karena Ujang adalah orang yang nekat, walaupun tak pernah dianggap. sampai-sampai nama kampung sukadarma, diganti dengan Kampung sukaujang.


"Ya sudah! saya pamit dulu, kang!" ujar Kamal sambil berjalan menuju ke arah gerbang.


"Pardiiiiiii! Pardi!" teriak Ujang lagi, memanggil adik iparnya.


"Ada apa, Kang? saya kan dekat! Kenapa harus pakai berteriak teriak segala!" jawab Pardi yang terlihat kesal.


"Tolong kamu pel bekas duduk orang miskin! nanti rumah saya ke bawa sial!" seru Ujang dengan intonasi yang agak meninggi, agar terdengar oleh Kamal yang masih berjalan di pekarangan rumahnya.


"Besok aja Kang! lagian terasnya gak kotor ini!" Tolak Pardi yang sedang menyusun padi di gudang, dia nggak terima kalau pekerjaannya ditambah lagi, ditambah lagi. sebelum menyelesaikan pekerjaan yang satunya.


"Kamu sudah berani mulai membantah, sama kakakmu ini? Buruan atau kamu nggak bisa makan setahun!"


Dengan kesal Pardi pun mendekati Keran air, lalu mengambil pel-an untuk melaksanakan perintah kakak iparnya.


"Kurang ajar! gara-gara si Fathan, Si Kamal Sudah berani menghina saya!" cerita Ujang sama Pardi yang masih mengepel lantai yang tidak terlalu kotor.


"Kurang ajar bagaimana? terus menghina bagaimana?" tanya Pardi tanpa melihat ke arah kakak iparnya.


"Iya si Kamal menghina dengan membayar hutang 15 juta, padahal hutangnya sangat besar sama saya! coba kamu pikir, Uang 15 juta cukup buat apa?"


"Beli motor baru, Cukup Kang!"  jawab Pardi yang terlihat cuek.


"Dasar Beg0! ngobrol sama kamu, sama aja seperti ngobrol sama tembok!"


"Kenapa emang Kang?"


"Nggak nyambung!" kata Ujang sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia masuk ke dalam rumah diantarkan tatapan adik iparnya.


"Lagian, sama orang tega banget! masa iya orang mau bayar hutang, tapi ditolak. Dasar orang bod0h, pintar bilang orang beg0! padahal dianya sendiri yang seperti itu." gerutu Pardi sambil terus menyelesaikan tugasnya.


Sedangkan orang yang mau membayar hutang, dia sudah pergi meninggalkan rumah Ujang. dengan membawa hati yang kesal karena mendapat penghinaan dan penolakan. padahal dia sudah berniat baik untuk menyicil, melunasi hutang-hutangnya.


Sesampainya di rumah, istrinya yang tahu dengan perubahan sikap suaminya. dengan cepat dia pun menghampiri sambil membawa air minum.


"Kenapa mukanya lesu seperti itu, Kang?"


"Kurang ajar! Kang Ujang dia menghina kita. nggak kayak kalau kita lagi mau membayar bunga, Dia sangat baik. tapi kalau mau bayar Pokoknya, dia jahatnya minta ampun!" Adu Kamal kepada istrinya.


"Emang gimana ceritanya?" tanya Sari yang terlihat penasaran.


Kamal pun menceritakan kejadian yang tidak mengenakan yang terjadi di rumah kang ujang. membuat sari mengeratkan gigi, tidak terima suaminya diperlakukan seperti itu.


"Terus bagaimana sekarang?" tanya Sari setelah mendengar cerita dari suaminya.


"Nggak tahu lah, Bu! Bapak juga bingung harus bagaimana lagi, bapak takut uangnya kepakai." Jawab Kamal sambil menghela nafas.


"Iya juga sih! Coba Bapak tanya sama Fathan, Siapa tahu saja dia punya solusi untuk masalah kita."


"Oh bener! ide bagus itu. kalau dia mau, sekalian aja kita titipkan uang kita agar tidak terpakai. nanti setelah uang terkumpul kita bayarkan ke kang Ujang, agar surat-surat sawah kita bisa kembali."


"Ya udah, buruan temuin Fathan! nanti uangnya keburu habis."


"Habis dipakai apa? Masa sehari langsung habis?"


"Siapa tahu aja, kan hati-hati boleh kali, pak!"


"Iya! Iya! sekarang Fathannya di mana?"


"Tadi bilangnya mau ke kebun, sama cewek yang dari Jakarta itu." jelas Sari.

__ADS_1


"Ya sudah, bapak ke kebon dulu Bu! nggak enak kalau membuat Fathan menunggu." pamit Kamal sambil kembali menghampiri motornya .dengan segera ia mengkcik starter motor itu, untuk pergi meninggalkan rumahnya.


__ADS_2