
Ketiga anggota keranjang sayur pun terus mengobrol sampai adzan dzuhur berkumandang, hingga Mereka pun pulang ke rumah masing-masing. meski di kantor tidak ada pekerjaan namun, mereka memilih tetap pergi untuk mengontrol sayuran yang belum dipanen.
Sesampainya di rumah, mereka bertiga pun berpisah di depan gang. Fathan masuk ke dalam gang itu, Sedangkan kamal masuk ke rumahnya. sesampainya di rumah terlihat Farhan sedang menunggu.
"Fathan sini dulu...!" panggil Farhan setelah melihat anaknya masuk.
"Yah, Ada apa Pak?" tanya Fathan yang hendak masuk ke kamar, dia pun kembali ke ruang tengah, di mana bapaknya duduk sambil menonton TV.
"Duduk dulu....!" seru Farhan.
Fathan Mengangguk kemudian dia duduk di kursi yang ada di ruang tv, lalu menatap ke arah Bapaknya yang terlihat berwajah serius. "ada apa Pak?" Ujar Fathan mengulang pertanyaannya.
"Kapan mau menyerahkan uang buat acara pernikahan Adik kamu?" tanya Farhan seolah tidak mengerti masalah yang sedang dihadapi oleh anaknya, dengan mudahnya Dia berbicara seperti itu.
"Nanti saja Pak..! sekarang saya sedang banyak pengeluaran. apalagi hasil pertanian tidak bisa dikirim, sehingga banyak yang busuk dan kering," jawab Fathan menjelaskan kondisi keuangannya.
"Makanya jadi orang itu nurut sama orang tua, soalnya tidak mungkin seorang orang tua akan menjerumuskan anaknya. Coba kalau kamu nurut, kamu masih bekerja di perusahaan bapaknya Kirana. Mungkin sekarang kamu tidak akan kesusahan untuk mencari uang yang hanya sebulan gaji kamu," ujar Farhan seperti ada celah untuk mengungkapkan kekesalan yang sudah lama bersemayam di dalam dada.
"Sama Pak...! perusahaan Pak Wira karna pun tutup, bahkan sudah hampir sebulan."
"Tapi walaupun tutup, mereka masih tetap menggaji karyawannya. namun lumayan ada yang 70% ada yang 50% tergantung kebijakan perusahaan. coba kamu bayangkan 50% dari 150 juta, kamu masih tetap punya gaji 75 juta perbulan meski tanpa bekerja. Makanya kalau dinasehati orang tua itu nurut, Jangan membangkang! Kerasa sendiri kan sekarang akibatnya seperti apa?"
"Maaf Pak...!" nanti saya usahakan agar uangnya segera ada!" jawab Fathan yang terlihat hendak mengakhiri perdebatan, dia sadar berbicara dengan orang tuanya tidak akan.
"Nanti....! Nanti kapan? dari kemarin kamu bilangnya nanti-nanti, tapi sampai sekarang Mana buktinya? asal kamu tahu kalau Farah tidak jadi menikah tanpa resepsi, mau ditaruh dimana muka bapak? kalau ketemu sama para warga yang menghadiri lamaran Adik kamu.
"Tunggu dulu saja Pak! sampai kondisinya benar-benar membaik, lagian sekarang kita tidak boleh mengadakan acara pernikahan dengan resepsi, karena kita sedang dalam psbb."
"Psbb Apaan...! psbb itu di kota, Kalau di kampung seperti kita tidak ada psbb-psbban,"
"Yah Pak...! nanti saya usahakan secepatnya agar uang itu cepat ada,"
__ADS_1
"Daripada nanti-nanti, mendingan kamu antarkan Kirana pulang dan lamar dia kepada orang tuanya. tapi kamu harus memberi syarat, ketika mau menikah dengan Kirana, kamu meminta pekerjaan yang dulu pernah di tawarkan agar diberikan." Saran Farhan yang terlihat materialistis.
"Solusi Apaan itu Pak, Itu solusi sangat konyol. masa iya saya akan meninggalkan pertanian yang sudah saya bangun dari nol, setelah tinggi ditinggalkan begitu saja!"
"Daripada kamu pusing memikirkan uang pernikahan buat adik kamu yang tak tahu didapat dari mana, mendingan kamu mengalah dan Menikahlah dengan Kirana, Bapak yakin seluruh harta kekayaan yang dimiliki oleh ayahnya Kirana, akan jatuh semua sama kamu."
"Apa....! itu bukan solusi yang baik, saya pamit dulu karena mau ikut berjamaah ke masjid," ujar Fathan sambil bangkit dari tempat duduknya, Karena dia sudah tidak sanggup berdebat dengan ayahnya.
"Kamu....! Bapak belum selesai berbicara!" bentak Farhan yang tidak suka ditinggalkan begitu saja.
"Kita lanjut lagi nanti sehabis melaksanakan salat zuhur Pak!"
"Nggak usah! ingat ya Fathan, kalau sampai minggu depan kamu tidak bisa mendapatkan uang sesuai dengan kebutuhan untuk pernikahan Farah maka bapak akan menjual sawah dan kebun,"
"Janganlah Pak ...!itu adalah hal paling bodoh yang Bapak lakukan!" Timpal Fathan sambil masuk ke kamarnya.
"Apa kamu bilang...? bapak bodoh, Kamu yang bodoh karena kamu tidak mau bekerja dengan gaji 150 juta, kamu lebih memilih pertanian yang penghasilannya tidak konsisten," teriak Farhan sambil bangkit kemudian menuju ke kamar Fathan.
Sepulangnya dari masjid Fathan pun pulang ke rumah untuk makan siang terlebih dahulu, setelah itu dia pun pergi ke kantor keranjang sayur, karena walaup tidak ada pekerjaan dia lebih nyaman tinggal di sana daripada di rumahnya.
Sesampainya di kantor, terlihat Idan bersama keempat teman lainnya yang bekerja di bagian software engineer, Mereka terlihat duduk sambil mengobrol. setelah melihat kedatangan Fathan edan pun mengajaknya untuk bergabung.
"Ada apa dan?" tanya Fathan sambil duduk.
"Gini Tan...! Saya masih kepikiran tentang solusi yang kamu tawarkan tadi pagi ketika ngobrol sama bapak." ujar Idan mulai menjelaskan."
"Solusi yang mana?"
"Solusi yang kita berjualan menggunakan mobil pick up, mengelilingi kampung-kampung terdekat dengan Kampung sukadarma. walaupun kenyataannya sangat sulit tapi apa salahnya kita mencoba, daripada kita hanya terdiam dan terpaku menunggu nasib,"
Mendengar pernyataan sepupunya, Fathan pun terdiam seolah memikirkan apa yang disampaikan oleh Idan, menimbang baik buruknya ketika dia menjajakan dagangnya mengelilingi kampung-kampung terdekat, yang tidak memiliki pertanian sayuran, Setelah lama berpikir akhirnya Fathan pun mendapat keputusan.
__ADS_1
"Kalau ada yang mau berjualan berkeliling, nggak apa-apa. karena memang benar apa yang kamu ucapkan kita harus terus bergerak, agar pertanian kita tidak terlalu lumpuh total, terus apa rencanamu sekarang?" Jawab Fathan diakhiri dengan pertanyaan.
"Kalau kamu setuju, maka kami akan memanfaatkan mobil-mobil pengirim sayuran untuk berjualan berkeliling ke kampung-kampung, kita tinggal menambahkan beberapa alat untuk menunjang penjualan kita."
"Alat apa?" tanya Fathan yang pemikirannya sedang kalut sehingga dia tidak secerdas biasanya.
"Kita butuh tenda buat mobil agar sayuran kita tidak terkena hujan, ditambah kita butuh horn spiker, pengeras suara. supaya kita tidak serak Ketika Harus menjajakan jualan kita,"
"Kira-kira butuh biaya berapa."
"Untuk biaya mungkin kita hanya membeli speaker, soalnya untuk membuat tenda mobil pick up kita bisa menggunakan bahan-bahan yang ada," jelas idan.
"Ya sudah apa yang menurutmu baik, lakukanlah..! karena jujur Saat ini saya sedang banyak pikiran, otak saya terbagi-bagi ke mana-mana. sebentar lagi Farah mau menikah, Bapak saya secepatnya meminta uang untuk mengadakan resepsi."
"Iya nggak apa-apa yang terpenting kamu mengijinkan saja, Biarkan kami yang bekerja. kamu Tenangkan pikiran dan kalau bisa kamu, pikirkan juga apa yang tadi disarankan oleh Bapak."
"Yah dan! Makasih ya telah membantu keranjang sayur," jawab Fathan sambil menepuk pundak idan.
"Sama-sama...! karena ini semua bukan tanggung jawab kamu sendiri, melainkan tanggung jawab kita semua yang tergabung dalam kelompok pertanian."
Akhirnya musyawarah itu pun terhenti, mereka berlima mulai mengajak para petani lainnya untuk mempersiapkan mobil pick up agar bisa dipakai jualan sayuran.
Sedangkan Idan dia pergi ke Kecamatan untuk membeli Horn speaker buat jualan. para anggota keranjang sayur pun mulai disibukkan dengan membantu persiapan untuk mewujudkan rencana Idan.
Keesokan paginya Asep bersama para anggota lainnya yang masih muda, mereka mulai membawa sayuran-sayuran mereka berkeliling ke kampung-kampung terdekat untuk dijajakan.
Hari itu, mereka mendapatkan kebahagiaan karena ketika ada usaha maka pasti akan ada hasil. sayuran-sayuran mereka bawa tadi pagi ketika kembali ke kampung sukadarma hanya tinggal 25% lagi, membuat para anggota keranjang sayur mulai memiliki harapan baru, harapan ketika mereka tidak akan terus terpuruk.
Hari kedua perkiraan mereka sangat salah, Awalnya mereka menyangka bahwa hari itu akan lancar seperti hari kemarin. Namun sayang harapan hanya tinggal Harapan, Asep yang ditemani Idan berjualan berkeliling Kampung, mereka pulang dengan membawa kekecewaan yang sangat besar, karena sayuran yang mereka bawa hanya laku 25% saja.
Sesampainya di kampung sukadarma, Idan bersama para penjual penjual sayuran lainnya menghadap ke ketua mereka, untuk melaporkan hasil penjualan hari itu.
__ADS_1