
TETAP semangat
Kirana terus memperhatikan setiap video yang ada di channel keranjang sayur, dia terus terkagum-kagum dengan laki-laki yang selama ini dia dambakan.
Tring! tring! tring!
Kesenangannya terganggu, oleh suara telepon dan mengubah layar handphone-nya ke mode panggilan. dengan kesal dia pun menggeser tombol telepon berwarna merah untuk merijek panggilan. namun beberapa saat teleponnya pun berbunyi kembali, dengan kesal akhirnya Kirana mengangkat panggilan itu.
"Yah ada apa Bu?" tanya Kirana dengan malas sama orang yang berada di ujung telepon.
"Ingat Nanti malam! ada acara makan malam bersama keluarga Wiraswasta. kamu jangan sampai lupa dan jangan sampai kabur!" ancam Winda memperingatkan anaknya.
"Kabur ke mana Ibu?"
"Ya siapa tahu aja! gelagatnya udah aneh gitu!" ketus Winda.
"Ibu yang aneh! orang nggak mau, Malah dipaksa-paksa." balas Kirana tak kalah ketus.
"Pokoknya, Ibu nggak mau tahu, Nanti sore kamu harus pulang dan bersiap-siap menyambut kedatangan keluarga Wiraswasta."
"Iya! iya! ya sudah, Kira lagi kerja." jawab Kirana tanpa menunggu ibunya menjawab, Dia langsung memutus telepon itu.
Setelah telepon terputus, dia pun menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu menarik nafas dalam, melepaskan beban yang sedang ia hadapi. walau sekeras apapun keluarganya mengenalkan dia kepada pria lain, namun di hatinya tetap hanya ada satu orang laki-laki, yaitu Fathan.
Sore hari. sesuai janji, Kirana pun sudah sampai di rumah dengan cepat ibunya menyuruh Kirana untuk segera membersihkan tubuh, tak lupa Winda juga menyuruh anaknya agar dandan yang cantik.
Pukul 19.00, sesuai janji terlihat ada mobil yang memasuki pekarangan rumah, dengan Sigap Wira Karna menyambut kedatangan sahabat lamanya, dengan begitu ramah.
"Ini anak kamu Kar?" tanya Wiraswasta sambil menunjuk ke arah Kirana yang tetap acuh.
"Yah! ini Putri semata wayang kami." jelas Wira sambil memperkenalkan Kirana.
Yang dikenalkan hanya tersenyum, lalu menyalami kedua orang yang bertamu ke rumahnya. namun dia tidak menyalami anak yang ikut dengan orang itu.
"Ini Putra kami, namanya David! Dia lulusan terbaik di Harvard University, Sekarang dia sedang mengembangkan bisnisnya di bidang software Engineer. kedepannya dia akan membuka star up baru!" Wiraswasta memperkenalkan anaknya, yang membuat Kirana hanya menyilangkan bibirnya, namun tak diperlihatkan.
"David, Om!" ujar orang yang baru dikenalkan sambil menyalami kedua orang tua Kirana, kemudian dia menghadap ke arah anaknya.
"David"
"Kirana!" dengan cepat Kirana menarik tangannya agar tidak terlalu lama bersentuhan dengan David.
"Ya sudah, malah di ajak ngobrol, Ayo masuk!" ajak Winda menyambut kedatangan tamunya.
"Iya sampai lupa, malah ditanya-tanya. Hehehe." tambah Wira.
Akhirnya Kedua keluarga itu pun masuk ke dalam rumah, kemudian mereka menyantap makan malam bersama. selesai makan malam Wira menyuruh Kirana untuk mengajak ngobrol David di halaman samping rumah dekat kolam. awalnya Kirana menggelengkan kepala, sebagai bentuk penolakan. namun setelah melihat sorot mata ibunya yang tajam. dia pun dengan kesal, mengajak David untuk pergi sesuai dengan perintah orang tuanya.
Sesampainya di kolam, suasana yang begitu nyaman untuk mengobrol. Namun tidak dengan Kirana. Dia tidak betah berada lama-lama di sana, Kalau tidak ingat dengan pesan orang tuanya, dia lebih memilih untuk pergi ke kamar tidur, sambil menonton channel keranjang sayur.
"Kegiatanmu apa kir?" tanya David memecah hening suasana malam.
__ADS_1
"Nggak apa-apa!" jawab Kirana singkat.
"Kok nggak apa-apa? kegiatanmu, Maksudnya keseharianmu bagaimana?"
"Oh maaf! maaf! aku lagi kurang enak badan, jadi kurang fokus."
Mendengar pengakuan Kirana, dengan cepat David pun melepaskan jasnya. untuk menutup tubuh Kirana yang menggunakan dress pesta yang memperlihatkan lekuk indah pundaknya. namun belum aja Jas itu sampai, Kirana sudah menahan.
"Mau Ngapain lo?" bentak Kirana sambil membulatkan mata.
"Katanya, kamu kurang enak badan. Aku mau melindungi dirimu dari Angin Malam, yang begitu jahat." jawab David dengan muka kalemnya.
"Nggak penting! nggak perlu! rumah gua kan ini, kalau lu benar-benar perhatian sama gua. sekarang lu pulang, ajak tuh sama keluarga lu, bilang sama mereka bahwa kamu nggak betah di sini." usir Kirana dengan menunjukkan wajah tegas.
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa! aku nggak enak badan, please ya! kamu pulang sekarang!" mohon Kirana.
"Iya! iya! oke, aku pulang tapi jangan halangi aku untuk mendekatimu."
"Ya sudah, kamu pulang! bilang sama keluargamu, kamu nggak enak badan."
"Apapun yang tuan putri inginkan, itu adalah perintah bagi saya." ujar David sambil tetap mengulum senyum, membuat Kirana menahan mulut menirukan orang yang mau muntah.
Akhirnya mereka pun kembali ke ruang tamu, di mana keluarga mereka sedang asyik mengobrol.
"Kenapa dingin ya, ngobrol di luar? sini gabung sama kami!" ajak Wira menyambut kedatangan kedua remaja itu.
"Mohon maaf, om Wira, Saya kayaknya kurang enak badan. saya mau pulang, nanti kapan-kapan saya main lagi ke sini." jawab David sambil melirik ke arah Kirana, namun yang dilirik hanya mendengus kesal. entah apa kemauannya, padahal David sudah mengikuti apa yang Kirana suruh.
"Nggak tahu nih, Om! kayaknya masuk angin."
"Perasaan tadi pas kamu ke sini kamu baik-baik aja, vid?" tanya bapaknya sambil menatap ke arah David.
"Nggak tahu nih, Pak! tiba-tiba aja. Lagian namanya juga sakit, kan datangnya juga suka tiba-tiba."
"Ya Sudah kalau begitu! Semoga saja pertemuan keluarga ini tidak sampai di sini, Saya berharap pertemuan keluarga kita sampai ke jenjang selanjutnya. kalau bisa kedua anak kita bisa menyatu." ujar Wiraswasta sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia mengulurkan tangan kepada keluarga Kirana untuk mengajak bersalaman.
Setelah berpamitan keluarga Wiraswasta pun pergi meninggalkan rumah elit yang berada di Menteng. setelah kepergian tamunya, Winda pun menatap Kirana dengan penuh selidik.
"Kenapa Ibu menatapnya, seperti itu?" tanya Kirana yang merasa tidak enak ditatap dengan penuh selidik.
"Kamu ngomong apa sama David? kok, tiba-tiba dia sakit seperti itu, pasti ini gara-gara ulah kamu!" selidik Winda.
"Enggak lah, Bu! orang dianya saja, yang Cemen! masa baru saja ngobrol sebentar di luar, udah masuk angin aja!" jawab Kirana.
"Jangan bohong!"
"Ibu dengar sendiri kan, tadi dia ngomong apa. ya sudah, Bu! Kirana capek habis kerja, Kirana mau istirahat." ujar Kirana sambil masuk ke dalam rumah, diantarkan oleh tatapan kedua orang tua yang menggeleng-gelengkan kepala.
"Anak kamu tuh Bu! urusin. masa penyambutan sama tamu seperti itu."
__ADS_1
"Anak kamu! anak kamu! anak kita gitu bilangnya. kalau lagi jelek anak aku, kalau lagi bagus anak kamu." dengus Winda dengan mengkerlingkan mata, kemudian dia pun masuk menyusul anaknya.
"Ibu sama anak, sama-sama saja sifatnya." ujar Wira sambil mengikuti masuk ke dalam rumah.
Truk! truk! truk! truk!
"Siapa?" tanya Kirana yang mau mengganti dress pestanya dengan baju tidur.
"Ibuuuu, ibu boleh masuk?" tanya Winda.
"Bentar! Kirana lagi ganti baju."
Dengan sabar Winda pun berdiri di ambang pintu, yang masih tertutup. namun tak lama menunggu, akhirnya pintu kamar anaknya pun terbuka.
"Mau apa? Mau marahin Kirana lagi, gara-gara kesalahan orang lain?" tanya Kirana.
"Enggak! emang Ibu pernah marah sama kamu. Ibu mau curhat aja!"
"Curhat apa, tumben! Bapak galak ya, atau uang bulanan ibu kurang ya?" Ujar Kirana memberondong ibunya dengan banyak pertanyaan.
"Hush! Sok tahu kamu!" jawab Winda sambil masuk ke dalam kamar, Kirana kemudian dia berbaring di ranjang tidur anaknya.
Melihat ibunya sudah berbaring, Kirana pun naik keranjang kemudian mengikuti apa yang dilakukan oleh ibunya.
"Oh ya, Ibu tahu nggak?"
"Tahu apa? kamu aja belum cerita."
"Makanya jangan dipotong, Kirana kan belum selesai."
"Iya, mau cerita apa? Ibu dengerin!"
Dengan cepat kirana pun mengambil handphone yang ada di nakas. kemudian dia membuka aplikasi penayang video lalu menunjukkan kepada ibunya.
"Kurang kerjaan amat, kamu nunjukin ibu orang yang lagi ngebajak sawah!" Dengus Winda yang belum mengerti siapa yang berada di video itu.
"Jangan ngedumel dulu! Coba lihat Siapa orang yang menjalankan traktornya!"
Winda pun mengikuti apa yang diperintahkan oleh anaknya, dia memperhatikan video itu dengan teliti, sehingga dia mulai paham siapa pria yang ada di video itu.
"Ini Fathan?"
"Iya Bu, ini Fathan, Dia sekarang sudah menjadi petani sukses."
"Sukses dari mana, ini aja baru ngebajak?"
Dengan cepat kirana pun mengalihkan video itu, ke video-video yang lainnya. terlihat Fathan yang sedang menjelaskan hasil panennya yang begitu melimpah.
"Bagus-bagus ya, sayurannya!" Puji Winda.
"Iyalah, Bu! kalau yang menggarapnya cakep, pasti hasil pertaniannya juga ganteng."
__ADS_1
"Hubungannya apa?"
"Para sayuran itu, merasa bahagia. karena yang merawatnya cowok secakep Fathan." jawab Kirana sambil tersenyum membayangkan pria yang selalu mengganggu saraf otaknya.