
Peduli
"Oh seperti itu!" ujar Kamal yang terlihat kaget karena dia sama sekali belum mengetahui Apa penyebab Dadun ingin keluar dari keranjang sayur.
"Iya Kang! mereka menganggap harusnya mereka mendapat penghasilan lebih dari saya, karena tanah yang mereka investasikan di keranjang sayur lebih luas, daripada para anggota yang lainnya.
"WAduh...! Ini paham yang harus secepatnya dihentikan. karena seperti yang sudah kita ketahui, bahwa keranjang sayur didirikan untuk menyetarakan semua kehidupan seluruh warga Kampung sukadarma. bukan untuk bersaing, siapa yang mendapat untung paling besar, dan siapa yang mendapat untung paling kecil. kita sudah berjanji akan berjalan beriringan demi terwujudnya kampung gemah ripah loh jinawi aman Sentosa Kerto Raharjo ." ujar Kamal yang terlihat menyayangkan kejadian itu.
"Ya sudah mang, ayo kita cepat temui Kang Dadun!" ujar Asep yang terlihat sudah tidak sabar.
Akhirnya mereka bertiga melanjutkan perjalanan, karena petani yang tadi bertanya dia ingin ikut untuk meluruskan paham Kang Dadun yang sangat membahayakan bagi kelangsungan kehidupan warga kampung sukadarma.
Di perjalanan menuju kebun Kang dadun, mereka bertemu dengan para petani yang lain, yang senasib dengan petani yang tidak memiliki tanah yang tidak luas. Hingga akhirnya orang yang mengikuti pun semakin banyak, seperti hendak menyerang kebun Dadun.
Para anggota keranjang sayur pun, terus berjalan menyusuri Jalan Gang kebun sambil terus mengobrol membicarakan rasa heran mereka terhadap orang yang bernama Dadun. hingga akhirnya orang-orang itu pun sampai di depan Saung. terlihat Dadun bersama para petani yang lain, sedang duduk hendak makan nasi liwet yang mereka buat. ini sudah menunjukkan bahwa mereka membuat kegiatan tanpa mengajak anggota yang lain, padahal Fathan sang petani. selalu mengajarkan mereka agar terus kompak, terus solid, terus saling membantu. Jangan saling berpencar seperti sekarang.
Melihat ada gerombolan orang yang datang ke saungnya, dadun pun bangkit dari tempat duduk, diikuti oleh anggota yang sudah terpengaruh oleh ucapannya.
"Assalamualaikum...!" ujar Kamal setelah sampai di halaman Saung. dia tidak masuk karena di sana sudah terlihat nasi liwet yang terhidang di atas daun, ditambah dengan lauk pauk yang begitu beragam, wanginya tercium menggugah selera menggetarkan perut perut yang sedang lapar.
"Waalaikumsalam....! maaf kami masaknya sedikit, jadi kalian jangan minta!" jawab Dadun dengan memasang wajah yang masam.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Kamal yang mengerutkan dahi, tidak mengerti apa yang disampaikan oleh lawan bicaranya.
"Kalian datang ke sini mau minta makan kan, sama seperti si sang petani penipu itu, yang menumpang hidup dari tanah kami yang sangat luas," ujar Dadun yang terlihat tak berbasa basi, karena mungkin dia sudah memiliki anggota yang lumayan banyak, sehingga dia tidak takut berbicara seperti itu.
"Maaf nih Kang...! Saya benar-benar tidak mengerti dengan apa yang akang sampaikan. tapi kalau bisa jangan bilang Fathan penipu. karena sepengetahuan saya, Fathan bukan orang seperti itu, berkatnya lah kita bisa hidup layak seperti sekarang, tanpa harus Merantau keluar daerah."
"Kamu pasti membela si Fathan, karena kamu juga adalah salah satu penikmat hasil dari menipu kami."
"Maksudnya menipu bagaimana?" tanya Kamal yang semakin tidak mengerti.
"Sudahlah Mal! jangan pura-pura nggak tahu, ini semakin jelas menunjukkan bahwa kamu dan Fathan adalah penipu. kami sudah muak dengan keluguanmu! memang kamu kira kami ini bodoh, sehingga kamu bisa terus menipu. nggak mal! kita nggak bodoh, kita cuma khilaf." ujar Dadun yang mulai menyerang Kamal.
"Lah, kok! bicaranya ngelantur ke mana-mana Kang?"
"Kang Dadun....!" Panggil Kamal dengan sedikit menaikkan intonasi suara. "asal kamu ketahui, Fathan membangun Mini hotel Mini hotel di tanahnya dan di tanah saya. karena tanah itu adalah tanah terdekat dari kantor keranjang sayur. sehingga ketika ada tamu yang mau menginap, mereka tidak harus jauh-jauh berjalan, karena kalau membuat akses jalan ke Tanah akang, ke sini! itu akan membutuhkan banyak biaya."
"Ya, nggak apa-apa membutuhkan banyak biaya juga, itu kan duit kami! kalian hanya kebetulan dipercayakan memegang uang." ketus Dadun. "Para warga semua! yang hadir di tempat saya. kalian sebenarnya sedang ditipu oleh Kamal dan Fathan, buktinya mereka membangun kantor keranjang sayur di tanah mereka, membangun Mini hotel di tanah mereka, membangun fasilitas-fasilitas lain di tanah mereka. karena mereka sudah berencana suatu saat mereka akan membubarkan diri, namun walaupun sudah bubar mereka masih mendapat keuntungan, yakni bangunan-bangunan megah yang dibuat dari penghasilan tanah kita. Kalian harus sadar sekarang kita sedang diperah oleh mereka, dengan berlindung atas nama kelompok. Padahal mereka adalah mafia yang sangat jahat yang mungkin kedepannya akan mengambil kepemilikan tanah kita." lanjut Dadun bak orator yang sedang berjuang di depan gedung Perwakilan Rakyat.
"Benar! kita yang memiliki tanah yang sangat luas, hanya mendapat 3 juta. sedangkan si Roji tidak memiliki tanah sama sekali, Dia mendapat 3 juta juga. Lantas apa itu namanya kalau bukan nipu." Timpal Parmin yang terlihat sudah gemas ingin ikut berbicara.
"Masih untung mendapat tiga juta, Karena dulu tanah kalian, tanah kita! hanya tanah yang ditumbuhi oleh Ilalang dan rumput-rumput liar, sehingga tidak menghasilkan apapun. sekarang kalian selain mendapat uang tiga juta. Kalian juga tidak harus repot-repot membeli sayuran untuk lauk makan," balas Asep yang terlihat mengancingkan gigi, merasa tidak suka ketika orang yang dianggapnya sangat luar biasa dijelekan seperti itu.
__ADS_1
"Cuih! orang miskin jangan ikut berbicara! kita tidak level." sanggah Dadun sambil meludah ke arah samping, membuat amarah Asep yang sudah memuncak pecah seketika.
Bugh!
Satu hantaman Asep melayang ke arah wajah Dadun, gerakannya begitu cepat sehingga Kamal yang menyaksikan hanya terperangah kaget. dengan cepat dia pun menarik tubuh pemuda itu, ketika hendak melayangkan serangan keduanya. "mampus Kamu b4ngsat! kamu memang nggak tahu diri, padahal dengan adanya Kang Fatan kehidupan kita semua sangat maju, tidak ada yang tertinggal." ujar Asep sambil menggerinjal ingin lepas dari genggaman para warga.
"Kehidupan Siapa yang maju, kehidupan kalian yang miskin yang maju. kehidupan kami jalan di tempat, bahkan mundur ke 100 tahun yang lalu," jawab Dadun yang mengulum senyum kemudian menyeka darah yang mengalir di bibirnya. "nih! lihat kalau kita bergabung dengan orang-orang miskin dan orang-orang yang tidak berpendidikan, ketika mereka kalah berbicara, mereka akan bermain kasar. untuk itu sekarang kita tidak boleh bergabung lagi dengan orang-orang seperti ini, bisa-bisa kita ketularan miskinnya!" Lanjut Dadun memberikan komando kepada anggota-anggota yang sudah terpengaruh.
"Benar juga ya! nanti bukan harta saja yang mereka curi, ke depannya bisa-bisa keselamatan kita pun mereka akan ambil!" timbal Nanang yang menjunggingkan Senyum sinis ke arah para petani yang dikomandoi oleh Kamal.
"Hey Kamal, dengarkan! mulai sekarang kami semua akan keluar dari kelompok keranjang sayur. kamu nggak usah khawatir kami meminta bagian atas apa yang kalian bangun menggunakan penghasilan dari tanah kami. Anggap saja itu sebagai bentuk sumbangan kami yang memiliki tanah sangat luas. Dan sebagai bentuk Terima kasih karena kalian sudah melepaskan jajahan kalian." ujar Dadun sambil menatap tajam ke arah Kamal.
"Tapi kang Dadun, kita bisa bicarakan ini dengan tenang, enggak di tempat seperti ini."
"Hehehe, kayaknya kalian tidak bisa diajak berbicara, karena kalau kalian kalah berdebat maka wajah kam yang akan menjadi taruhannya. dan kamu Asep! Anak kemarin sore yang laganya sudah tingkat dewa. Kalau saya tidak kasihan dengan bapakmu sabroni yang miskin itu, saya akan melaporkanmu atas tindak penganiayaan. Tapi walau begitu! ketika kamu mengulangnya, baik sama saya atau para anggota lainnya. Saya tidak akan senggan-senggan menjebloskanmu ke dalam Bui!" ancam Dadun sambil menatap tajam ke arah Asep yang masih dipegangi.
"Laporkan saja....! saya nggak takut," jawab Asep dengan membalas tatapan dadun, Tak sedikitpun raut ketakutan di wajahnya.
"Sudah Kang....! kita ngobrol sama mereka sama seperti kita mengobrol dengan dinding, mereka tidak akan mengerti apa yang orang kaya ucapkan. Karena selain taraf kehidupannya yang rendah, SDMnya pun jeblok. mendingan kita temui si Fathan, sang petani penipu itu. agar dia tidak harus mengurus tanah kita lagi!" pisah Nanang menengahi.
"Betul! lama-lama dekat mereka, Badan saya terasa gatal, karena mungkin mereka tidur di kasur yang sudah lepek penuh tumila." jawab Dadun sambil Beranjak Pergi mengajak para anggota untuk menuju ke kantor keranjang sayur, meninggalkan Kamal yang terpaku menatap kepergiannya.
__ADS_1
"Sudah lepaskan....! Biarkan saya menghajar si Dadun itu sampai terkapar," ujar Asep sambil mengepaskan tangannya hingga genggaman para warga terlepas.