Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 88


__ADS_3

"Kalian sudah pulang?" tanya Fathan menyambut anggota yang baru datang sehabis jualan sayuran di kampung-kampung terdekat.


"Iya Tan, namun hasilnya sangat mengecewakan. barang yang kita bawa hanya laku 25% saja," lapor Idan yang terlihat lesu.


"Nggak apa-apa, yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin. kita jangan menyerah sampai di sini, kita harus berjuang sampai mana akhirnya," ujar Fathan memberi semangat.


"Iya, tapi kalau kita hanya bisa menjual sayuran 25%, sayuran kita akan busuk, karena mobil yang menjadi alat jualan itu tidak mampu membawa sayuran kita yang sangat banyak, kita Sekali berangkat hanya mampu membawa 10%, hasil dari pertanian. Itupun hanya laku 25% Jadi setiap hari kita hanya mampu menjual 2,5% dari seluruh hasil pertanian keranjang sayur." keluh Idan


"Yah lumayan kita bisa menjual 2,5% ditambah 10% yang dibawa ke pasar, daripada semuanya busuk. mulai besok saya akan ikut berjualan," jawab Fathan.


"Nggak usah lah kang! mending Akang di sini aja, urus kantor! Biarkan kami yang berjualan," timpal Asep yang tidak setuju.


"Nggak apa-apa, kita harus berjuang bersama demi memajukan semua warga. ya sudah! turunkan sayuran yang tidak laku, kemudian kalian istirahat," seru Fathan mengakhiri diskusi sore itu.


Akhirnya para anggota keranjang sayur pun mulai menurunkan sayuran-sayuran yang tidak laku dijual, kemudian disimpan kembali ke gudang, dibantu oleh para petani yang belum pulang.


Keesokan paginya, seperti yang sudah dijanjikan oleh Fathan. Sang petani mulai ikut berjualan bersama Idan dan Asep, dia terlihat bersemangat ketika menawarkan sayuran kepada orang-orang yang dilewati oleh mobil pick up yang mengangkut sayurannya.


Hari itu Fathan terus berjualan, sampai larut Maghrib dia baru sampai ke kantor keranjang sayur. meski lemas karena hasil yang didapat belum maksimal. dia dibantu oleh Idan dan Asep mulai menurunkan sayuran yang tidak bisa dijual.


"Kalau begini terus bisa-bisa sayuran Kita busuk semua, Kang!" ujar Asep mengungkapkan kekhawatirannya.


"Bagikan ke seluruh warga kampung..!" seru Fathan.


"Sudah Kang, tapi mau bagaimana lagi, soalnya semua warga Kampung sukadarma memiliki pertanian sendiri, sehingga jangankan mengambil dari gudang, sayuran yang mereka tanam pun tidak bisa mereka makan."


"Tawarkan ke kampung sukaramah dan kampung-kampung yang terdekat dari kampung kita, tapi kita harus memberitahu bahwa sayurannya udah layu" jawab Fathan.


"Apa itu nggak akan menghancurkan pasar kita, kalau kita bagikan secara gratis..!" sanggah Idan yang terlihat Tidak setuju.


"Nggak akan, karena yang mengatur Rezeki itu bukan kita, melainkan Allah sang pencipta. Ya sudah ayo kita pulang biar besok kita semangat lagi bekerja."

__ADS_1


Akhirnya para pemuda anggota keranjang sayur kembali ke rumah masing-masing, untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga agar hari esok mempunyai tenaga lebih, ketika mulai menghadapi hari yang sangat berat.


Begitulah hari-hari Fathan sekarang, siang disibukkan dengan berkeliling berjualan, menjajakan sayuran ke kampung-kampung, sedangkan sore ketika sayurannya tidak laku dijual dia akan membagikan ke masyarakat-masyarakat yang kurang mampu, yang berada di dekat Kampung sukadarma. sehingga dari hasil jualannya bukannya untung yang didapat, melainkan kerugian. Namun Walau begitu dia tetap bersyukur karena sayuran yang busuk bisa dikurangi dan dimanfaatkan.


Fathan terus bergelut dengan kesusahan-kesusahan yang dihadapi olehnya dan dihadapi oleh kelompok keranjang sayur. Fathan sudah melakukan berbagai cara agar bisa keluar dari tekanan wabah pandemi covid, Namun sayang kegagalan selalu menghampiri. hingga tak terasa akhirnya tiba dengan waktu yang dijanjikan, di mana Fathan harus memberikan uang kepada orang tuanya, untuk mengadakan resepsi pernikahan adiknya yang sebentar lagi akan digelar.


Sore itu ketika waktu Sebentar lagi mendekati adzan maghrib, karena matahari sudah bersembunyi di balik gunung, hanya menyisakan warna kuning keemasan yang menyinari Kampung sukadarma, sehingga kampung itu terlihat hijau kekuningan. Fathan yang baru pulang berjualan, seperti biasa dengan membawa kekecewaan yang begitu berat, karena hasil dari penjualannya sama sekali belum membuahkan hasil, yang ada hanya rugi dan rugi, karena para pembeli bukan tidak mau membeli barangnya, melainkan tidak punya uang, karena mereka pun sama-sama dilarang untuk bekerja.


Dengan gontai sang petani itu terus berjalan menyusuri Gang yang masuk ke rumahnya, sampai akhirnya tiba di salah satu rumah yang tidak kecil dan tidak pula besar. terlihat Kirana dan Zahra sedang mengobrol di teras sambil menatap ke arah laptop, mungkin mereka sedang sibuk mengurus video YouTube yang mereka kelola.


"Baru pulang Kak?" Tanya Zahra yang melirik sebentar, sedangkan Kirana acuh cuek seolah tidak memiliki rasa apapun, mungkin karena sering dicuekkan sehingga dia sudah tidak menganggap keberadaan Fathan lagi.


"Yah, kamu lagi ngapain?" Jawab Fathan sambil melepas sepatu.


"Biasa lagi ngedit video Kak," jawab Zahra.


"lanjutkan...! Nanti Kakak bantu, Kakak mau mandi dulu, soalnya gerah baru pulang jualan."


Fathan pun masuk ke dalam rumah, ketika sampai di ruang tengah. bapaknya terlihat bangkit sambil menatap orang yang baru datang.


"Assalamualaikum pak, bu!" Sapa Fathan sambil mencium kedua punggung tangan orang tua.


"Waalaikumsalam..! Kamu duduk dulu! Ibu dan Bapak mau berbicara," ujar Sri meminta waktu sama anaknya.


"Ada apa Bu? boleh nggak Fathan mandi dulu?" Sanggah Fathan karena memang benar badannya terlihat kucel dan dekil, sehabis seharian terus berjuang menjual sayuran.


"Tunggu sebentar Bapak mau bicara...! kamu nggak boleh menolak kehendak orang tuamu," tahan Farhan dengan wajah sangarnya.


Dengan Terlihat agak malas, Fathan pun duduk di kursi dengan menjatuhkan tubuh. sebenarnya dia merasa capek sehingga dia tidak mau berdebat dengan orang tuanya, karena ketika ada obrolan serius, hanyalah perdebatan yang akan dibutuhkan.


"Ada apa ya pak?" tanya Fathan sambil menatap ke arah bapaknya.

__ADS_1


"Mana Uang rp150.000.000?"


"Uang apa?" tanya Fathan tidak mengerti.


"Masa kamu lupa? kamu kan sudah janji mau mengadakan uang rp150.000.000 untuk resepsi pernikahan adikmu. Minggu kemarin kamu janji hari ini akan menyerahkan uangnya," jelas Farhan sambil membulatkan mata seolah tidak percaya ketika anaknya mengelak seperti itu.


"Mau mengadakan hajatan Seperti apa Pak, sedangkan di desa-desa lain saja banyak acara hajatan yang dibubarkan. Masa Bapak mau menentang aturan yang sudah berlaku," jawab Fathan menjelaskan.


"Itu kan di kampung orang, di desa orang. di desa kita mana mungkin ada yang berani melarang bapak untuk mengadakan acara syukuran pernikahan. Lagian kalau ngomong kamu jangan ke mana-mana, sekarang Mana uangnya, biar bapak tenang kalau sudah memegang uang itu."


"Maaf Pak...! Fathan belum ada uang, ada juga uang kantor. itupun buat menggaji para anggota bulan ini, Entah bulan depan saya masih bisa menggaji mereka atau tidak."


"Apa Kamu bilang...! uangnya nggak ada, apa Bapak nggak salah dengar?"


"Iya Pak,  Fathan belum punya uang, tapi emang bapak sudah memastikan Farah nikahnya mau kapan, sedangkan Sekarang dia sedang sibuk merawat pasien di rumah sakit.


"Farah itu tergantung Bapak. Farah adalah anak yang nurut nggak seperti kamu yang membangkang dan sering menipu orang tua. Adikmu pasti akan menyetujui Apa yang Bapak perintahkan, sekarang Mana uangnya?" paksa Farhan.


"Maaf, belum ada Pak! Tapi kalau Farah mau nikah, Saya akan menjual Motor dan beberapa aset yang saya miliki. karena sebagian mesin yang ada di keranjang sayur itu bukan semuanya milik kelompok, tapi ada beberapa mesin yang murni milik saya,"


"Ya sudah kapan kamu mau jual? Karena waktunya sudah mepet. Dua minggu lagi adikmu akan menikah dengan dokter Ardi."


"Bapak pastikan dulu Kapan Farah mau menikah, kalau sudah pasti baru saya akan menjual aset saya. lagian kan kemarin orang tua dari dokter Ardi mereka sudah bilang akan menangguhkan pernikahan, sampai pandemi ini berakhir."


"Mereka berbicara seperti itu karena mereka tidak punya duit untuk mengadakan resepsi. lagian resepsi kita dan resepsi orang tua dokter Ardi itu beda, jadi pernikahan akan tetap dilaksanakan namun resepsi di rumah orang tua dokter Ardi nanti belakangan." Sanggah Farhan tidak mau kalah.


"Ya sudah kan pernikahannya diundur, Bapak dan Ibu sabar aja. Saya berjanji ketika Farah mau menikah maka uang yang 150 juta sudah ada," jawab Fathan memberi keputusan karena berdebat dengan orang tuanya itu adalah hal bodoh yang dia lakukan.


"Apa kamu yakin?"


"Yakin pak, kalau ditotal mesin pemanen padi, sama motor saya itu bisa dijual di harga 200 jutaan. Ya udah saya mandi dulu Pak, Bu..!" ujar Fathan sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia masuk ke kamar untuk mengambil handuk hendak membersihkan badan terlebih dahulu, sebelum melaksanakan salat berjamaah di Masjid.

__ADS_1


__ADS_2