Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 80


__ADS_3

Kembali


"Bagaimana Pak RT, pak ustad, Apakah ada tambahan?" tanya Fathan setelah mendengar beberapa pendapat.


"Kayaknya nggak ada Tan, kita tetap jalankan sistem yang pertama, sistem gaji. Untuk menutupi kebutuhan ke supermarket, semuanya Bapak Serahkan sama Fathan, karena bapak kurang mengerti hal-hal yang begituan. Kamu nggak usah khawatir karena bapak akan mengikuti Semua yang akan kamu sarankan!" jawab Pak Ustad.


"Benar Jang, kita ikut saja dengan apa yang akan Ujang rancang," timpal Pak RT membenarkan.


"Kalau seperti itu, Saya berharap Siapa saja yang masih mau bergabung dengan kita, agar saya bisa mempeta-petakan pertanian kita, agar bisa menunjang kebutuhan supermarket."


Akhirnya para warga pun mengulang kembali pendaftaran sebagai bentuk komitmen yang kuat bahwa mereka akan tetap selalu setia dengan Fathan, akan selalu ikut Terus Bersama sang petani sampai titik darah penghabisan.


Sedangkan biang kerok yang menghancurkan pertanian Fathan, mereka juga sudah mengadakan acara rapat di saung Dadun. walaupun tidak besar, namun itu cukup untuk menampung 30 warga, terlihat Ujang sama Pardi bergabung di sana karena dadun mengundang mereka berdua.


"Maksud saya mengumpulkan para bapak, para saudara sekalian. saya ingin menyampaikan berita baik bahwa Fathan sudah menyerah dan membiarkan kita untuk bertani Mandiri. jadi mulai besok kita mulai bisa mengurus tanah masing-masing, tanpa harus membagi hasilnya dengan orang lain." Jelas Dadun memulai pembicaraan.


"Baguslah kalau kita sudah keluar, Jadi kita tidak harus terus ditipu oleh anak ingusan itu."


"Benar kita sudah keluar, tapi bagaimana dengan kondisi tanah saya yang baru saja dipanen. Sedangkan untuk modal, Saya tidak ada uang sama sekali, gajian pun nggak mungkin Fathan berikan karena saya sudah keluar dari kelompok." usul salah Seorang warga menyampaikan kekhawatirannya.


"Hehehe, itu sangat mudah kang Ilman. Kenapa saya mengundang kang Ujang ke sini, karena beliaulah yang akan menjawab semua keresahan kita. silakan kang Ujang!" ujar Dadun memberikan waktu kepada orang terkaya di kampung sukadarma berbicara.


"Siang bapak-bapak..! benar apa yang dibicarakan oleh kang Dadun, kalau untuk Modal saya siap memberikan modal sesuai kemampuan dan kemauan para bapak. namun saya tidak akan meminta untung lebih seperti Fathan yang mengambil semua harta kalian. Saya hanya minta 20% setiap tahun dari uang yang para bapak pinjam. kalaupun tidak bisa membayar dalam jangka waktu setahun, Saya hanya minta bunganya saja. dengan catatan para Bapak harus menitipkan surat-surat tanah kepada saya. Namun para Bapak nggak usah takut kalau surat tanah Bapak hilang, karena saya sudah berbisnis seperti ini, sudah sekian lama bergelut di dalamnya namun saya tidak menyalahgunakan surat tanah bapak-bapak." ujar Ujang bak pahlawan yang sedang mengepakkan sayap.


"Kalau masalah pinjam meminjam, kami semua sudah bosan Kang Ujang. soalnya semenjak dari dulu kami tidak bisa membayar hutang ke Kang Ujang, kami hanya bisa membayar bunganya saja. kami takut tidak bisa membayar sehingga kami terbebani," tolak salah Seorang warga yang terlihat keberatan.

__ADS_1


Mendengar sanggahan seperti itu, Ujang hanya mengulum senyum kemudian menjawabnya. "memang Pasti kalian sudah bosan karena kalian merasa saya memeras kalian. padahal secara tidak langsung saya sedang menolong kalian. Coba bayangkan! kalau tidak ada saya anak-anak kalian tidak mungkin bisa sekolah tinggi, ibu-ibu kalian tidak mungkin bisa keluar dari rumah sakit. Saya menolong kalian dengan ikhlas, saya tidak mengharapkan apapun, Saya hanya meminta hak saya sendiri, dan itupun Dulu ketika kalian tidak mempunyai pekerjaan seperti sekarang.


"Terus apa bedanya dulu sama sekarang"


"Jelas berbeda, sangat berbeda! dulu kalian meminjam uang untuk hal-hal yang tidak bergerak, atau bersifat pasif tidak menghasilkan apapun. sekarang kalian meminjam uang untuk modal usaha, yang setiap kali panen akan menghasilkan untung yang sangat melimpah. Coba kalian bayangkan, kalau tanah kalian dalam setahun dua kali Panen seperti tanah Kang Parmin yang ditanami oleh kentang. penghasilan dari tanah Kang Parmin kemarin hampir 50 jutaan, bahkan bisa lebih. sedangkan biaya yang dibutuhkan hanya 20 juta, kalian sudah mendapat untung 30 juta. Itupun kalau Kalian mau membayar hutang sama saya, kalau mau dicicil dalam setahun dua kali membayar, kalian sudah mendapatkan 38 juta dalam sekali panen. bukannya itu hal yang luar biasa, hal yang menguntungkan," jelas Ujang panjang lebar.


"Benar Kang Roni, Kang Ujang hanya meminta 4 juta dari setahun, Kalaupun kita meminjam uang 20 juta. sedangkan dari uang 20 juta itu kalau kita gunakan untuk bertani seperti tanah Kang Parmin yang ditanami kentang maka dalam setahun, kita akan mendapat 100 juta, bahkan lebih. kalau kita mau membayar bunganya saja, dalam setahun kita mendapat uang 96 juta, kalau 2 tahun sudah 192 juta.nanti bapak-bapak ke kebun tidak jalan kaki lagi, tapi menaiki mobil." tambah Dadun yang sangat meyakinkan. padahal namanya pertanian itu tidak bisa diprediksi, karena harga yang tidak konsisten, tidak seperti produk-produk yang dikeluarkan oleh pabrik. ditambah kegagalan panen selalu menghantui pertanian, seperti yang dikhawatirkan oleh Farhan bapaknya sang petani.


"Wow....! mantap juga ya. bagaimana kalau nanti di pinggir kebun bukan motor butut lagi yang terparkir, melainkan mobil-mobil keluaran terbaru yang nongkrong." ujar salah Seorang warga yang sudah mulai terpancing.


"Benar....! bahkan kita bisa konvoi untuk main ke Pelabuhan Ratu atau main ke tempat-tempat wisata yang lainnya. maka derajat warga kampung sukadarma yang awalnya sebagai pekerja pertanian, sekarang menjadi sang petani." Jawab Dadun yang mengulum senyum membayangkan hal-hal yang indah yang akan mereka lalui.


"Terus sekarang bagaimana?" tanya Nanang.


"Sekarang siapapun yang membutuhkan modal, Silahkan hubungi Kang Ujang! berapapun biaya yang kalian butuhkan, maka Kang Ujang akan siap membantu dengan Sesuka Hati," Timpal Dadun mempromosikan produk Ujang.


"Tapi sekarang kita belum Membawa surat tanahnya Kang?"


"Gampang...! nanti bisa diatur, nanti saya akan jemput ke rumah akang-akang. yang terpenting sekarang saya sudah menunjukkan keseriusan saya, yang mau membantu para bapak-bapak." jawab Ujang yang tak sedikitpun terlihat ketakutan.


"Kalau buat modal hidup boleh nggak kang,? soalnya kan bulan ini kita nggak akan mendapat gaji dari keranjang sayur." tanya Nanang matanya terlihat tak melepaskan pandangan ke isi koper.


"Boleh...! boleh...apapun itu, akagĀ  akan membantu semua warga, namun walaupun pinjamannya sedikit, tapi tetap harus menyimpan surat tanah Kang Nanang di rumah saya."


"Kalau Boleh saya mau, soalnya sayuran saya baru panen bulan depan, Saya tidak meminjam uang banyak, hanya cukup untuk makan saja."

__ADS_1


"Nggak apa-apa, silakan...!" jawab Ujang yang terlihat sumringah.


Akhirnya seluruh anggota Dadun pun mulai mengantri, menyampaikan kebutuhan terhadap Ujang. dengan setulus hati sang lintah darat itu melayani. tak ada sedikitpun penolakan ketika para warga meminjam.


Anggota keranjang sayur yang sudah keluar dari kelompok pertanian yang Fathan dirikan, mereka mulai kembali ke kehidupan yang semula, mulai menggantungkan hidup dari pinjam meminjam, dengan mengandalkan hal yang tidak pasti, ini bisa jadi bumerang kalau tidak bisa mensiasatinya dengan baik.


Akhirnya acara pinjam meminjam pun selesai, para anggota Dadun memulai kembali kehidupan dengan meminjam uang dari 5 juta sampai 25 juta. semuanya anggota itu tidak ada satupun yang tidak meminjam, karena omongan Ujang sangat mempengaruhi pemikiran mereka.


Setelah selesai melaksanakan pekerjaannya, Ujang pun berpamitan dan dia berjanji Nanti sore dia akan kembali menemui para warga di rumahnya, untuk mengambil surat tanah yang mereka jaminkan sebagai pinjaman hutang.


Ujang dan Pardi mereka menaiki mobil menuju kembali ke rumah terbesar dan termegah di kampung sukadarma. setelah sampai Pardi dengan cepat membuka pintu sehingga mobil Jeep Rubicon milik Ujang bisa masuk ke dalam halaman rumah yang sangat luas.


Mereka berjalan menuju ke arah teras, sambil menenteng koper yang hanya menyisakan beberapa uang, karena habis dipinjam oleh para warga.


"Maaf nih Kang, bagian saya mana?" ujar Pardi memberanikan diri.


"Bagian apa...?" tanya Ujang sambil membulatkan mata.


"Janji Akang yang dulu belum ditepati."


"Janji yang mana lagi?" sanggah Ujang mengerutkan dahi.


"Janji di mana aKang mau memberikan 5 juta, Ketika saya bisa menghancurkan kelompok pertanian keranjang sayur. sekarang mereka sudah terpecah belah, dan mereka sudah kembali meminjam uang ke akang."


"Iya emang mereka sudah keluar, tapi kan Akang belum mendapatkan hasil dari pekerjaan kamu."

__ADS_1


"Lah, perjanjiannya nggak seperti itu kang. Kalau saya tahu Akang akan khianat seperti ini. dulu saya tidak akan menguras otak, memikirkan Bagaimana caranya menghancurkan kelompok tani keranjang sayur."


__ADS_2