Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 109


__ADS_3

Bergabung kembali


Setelah menelepon Asep Fathan pun meminta izin untuk ikut menunggu di saung dadun, indah bersama para istri lainnya, mereka pun menyambut Fathan dengan begitu baik, karena Fathan Tak sedikitpun terlihat marah, karena suami-suami mereka sudah keluar dari kelompok keranjang sayur.


"Mau ngopi nggak Tan?" tanya indah.


"Nggak usah repot-repot Bi...! yang ada aja keluarin!" jawab Fathan sambil bercanda.


"Ah cuma kopi doang nggak repot kok! lagian tinggal nyeduh ini," jawab Indah sambil membuka bungkusan kopi, lalu dituangkan ke gelas kemudian diseduh lalu diaduknya.


"Sudah lama sayurannya tidak bisa dikirim?" tanya Fathan memecah kekakuan antara dirinya dan anggota kelompok keranjang sayur yang sudah keluar.


"Semenjak diadakan psbb di Kota Sukabumi, kita tidak bisa mengirim sayuran, sehingga hasil panen kita banyak yang busuk. pernah mencoba berjualan berkeliling, namun hasilnya sangat nihil, hanya menghabiskan ongkos saja. sehingga bukan keuntungan yang didapat, malah menambah kerugian," jawab Indah sambil menyerahkan kopi yang sudah diseduhnya.


"Iya sama saya juga mengalami hal yang sama, Alhamdulillah saya memiliki ide, sehingga saya bisa keluar dari masalah ini."


"Maafkan suami-suami kita yang serakah ya Tan!" Ujar istri Parmin tanpa ragu-ragu meminta maaf.


"Nggak ada yang salah kok, jadi nggak perlu meminta maaf. perdebatan, perselisihan paham itu adalah hal yang wajar ketika berada di satu golongan," jawab Fathan Tak sedikitpun merubah raut wajahnya.


"Yah, saya mewakili suami saya minta maaf, karena telah keluar dari kelompok," sahut istri Nanang seperti ada jalan untuk mengakui kesalahan yang tidak mereka lakukan.


"Sudah ah, Jangan bahas itu! mau dijual berapa nih sayurannya?" tanya Fathan mengalihkan pembicaraan.


"Berapapun kami akan jual, yang terpenting sayuran kami tidak ada di sini. sayang kalau harus busuk Lagi Dan Lagi," jawab indah yang sudah tidak memiliki solusi.


"Nggak boleh seperti itu walaupun kita dalam keadaan terdesak, tapi kita harus memikirkan modal untuk pertanian."

__ADS_1


"Kalau kita terserah yang mau beli aja, sudah keluar saja kami sudah sangat bersyukur banget," jawab istri Nanang membenarkan.


Akhirnya Fathan pun dikerumuni oleh ibu-ibu pertanian, Mereka terlihat mengobrol dengan begitu santainya. berbeda dengan para laki-laki yang terlihat terdiam, merasa bersalah karena sudah menganggap Fathan penipu. padahal sebenarnya mereka mengakui hanya Fathan lah yang sangat mengerti dengan pertanian, ketika ada masalah pasti dia memiliki jalan keluar.


Lama mengobrol, akhirnya Asep ditemani oleh Kamal dan beberapa kelompok tani keranjang sayur datang dengan membawa karung dan video untuk merekam aktivitas mereka, agar para konsumen semakin percaya bahwa sayuran yang mereka jual, adalah sayuran terbaik dengan pengemasan yang luar biasa.


Para kelompok yang masih tergabuung di keranjang sayur, Mereka pun bekerja dengan giat sambil diselingi canda tawa, terlihat begitu gembira. sehingga membuat kelompok Dadun merasa iri, karena mereka tidak bisa ikut merasakan kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh anggota yang masih tergabung dalam kelompok keranjang sayur.


Selesai menimbang dan menghitung jumlahnya, Fathan pun menyuruh Zahra dan Kirana untuk membayar sayuran pertanian kelompok dadun. dengan cepat kedua Gadis itu memberikan bayaran sesuai dengan harga yang berada di pasaran, membuat senyum senyum Terukir manis di bibir para istri kelompok Dadun yang keluar dari keranjang sayur.


Setelah semuanya selesai, sayuran yang menumpuk mulai diangkut oleh Asep bersama para petani lainnya. dikomandoi oleh Kamal, dicatat oleh Kirana dan Zahra. hingga akhirnya kira-kira sebelum maghrib semua hasil pertanian kelompok Dadun sudah tidak ada yang tersisa, dibawa ke gudang sayuran milik keranjang sayur.


"Ya sudah besok kalau ada yang panen lagi, hubungi saya atau Asep atau bisa juga Kirana dan Zahra, sebanyak apapun hasil pertaniannya, kami akan terima," ujar Fathan sebelum pergi, memberi kelonggaran kepada para petani kelompok Dadun, agar mereka tidak kebingungan lagi ketika hendak menjual hasil pertaniannya.


"Yah siap tan! terima kasih banyak sudah menjadi penolong kami," ujar indah yang terlihat berseri-seri setelah mendapat uang dari hasil pertaniannya.


"Maafkan kami Tan...!" ujar Dadun sambil menundukkan pandangan.


"Maaf untuk apa Kang Dadun?" jawab Fathan sambil mematikan kembali motornya, kemudian dia turun menghampiri mantan anggota kelompoknya.


"Kami sudah salah, kami sudah egois, kami memang tidak bisa menjaga kerukunan kelompok, sehingga kami memutuskan untuk keluar. Sekali lagi maafkan kami...!" ujar Dadun menjelaskan.


"Hehehe, sama-sama Kang! mungkin akang keluar dari kelompok bukan murni salah Akang, tapi mungkin juga ada kesalahan saya yang belum bisa diperbaiki, jadi Akang juga harus memaafkan saya. dan seperti yang tadi saya bilang, bahwa perbedaan, perdebatan di kelompok itu adalah hal yang wajar, namanya juga orang banyak," jawab Fathan yang terlihat bijak sana.


"Boleh nggak kami ikut kembali gabung bersama kelompok keranjang sayur?" ujar salah Seorang warga memberanikan diri.


"Sangat boleh, semua keluarga Kampung sukadarma boleh ikut bergabung dengan kelompok keranjang sayur, bahkan ke depannya bukan hanya warga sukadarma. namun seluruh Petani Indonesia harus ikut bergabung, agar pertanian mereka bisa terarah, agar pertanian mereka bisa memiliki visi misi sehingga menghasilkan kualitas yang terbaik," jawab Fathan sambil mengulum senyum merasa bahagia karena anggotanya yang sudah berkhianat terlihat mau kembali.

__ADS_1


"Emang nggak apa-apa kami ikut gabung kembali?" tanya Dadun yang terlihat ragu-ragu.


"Nggak apa-apa lah, justru saya senang. karena semakin banyak orang yang bergabung, semakin banyak juga sayuran yang bisa dihasilkan. Ya sudah besok kita mengadakan syukuran, karena walaupun dalam keadaan pandemi pertanian kita masih bisa berjalan," ujar Fathan


"Terima kasih banyak Tan! Maafkan kami....!" ujar dadun kemudian dia mengawali mengulurkan tangan, kemudian memeluk sang petani itu dengan pelukan begitu erat, dari sudut matanya terlihat keluar cairan bening sebagai bentuk penyesalan, karena sudah terpengaruh oleh ucapan Ujang, sehingga dia meninggalkan pekerjaan yang sudah pasti, demi mewujudkan keserakahan.


Akhirnya para anggota-anggota lain pun sama-sama meminta maaf, dan akhirnya mereka pun saling bermaaf-maafan, untuk menandai bahwa kelompok Dadun sudah bergabung kembali dengan kelompok keranjang sayur, Fathan mengajak mereka untuk membantu mengemas sayuran yang hendak dikirim ke beberapa gudang yang tersebar di beberapa kota.


Setelah semuanya dirasa selesai, Fathan pun kembali ke rumah dan berjanji besok mereka akan berkumpul di kantor keranjang sayur.


Keesokan paginya, sesuai dengan apa yang sudah disepakati, anggota Dadun yang terlihat malu-malu mulai mendatangi kantor gudang keranjang sayur, namun setelah melihat respon beberapa anggota yang masih tetap bertahan di keranjang sayur, Mereka pun menjadi lega karena para anggota itu, sama seperti Fathan menyambut dan memeluk mereka kembali bergabung dengan kelompok keranjang sayur.


Malam harinya, sesuai yang direncanakan oleh Fathan, anggota kelompok keranjang sayur pun mengadakan syukuran atas nikmat yang mereka terima. karena mereka masih bisa bertahan walaupun di tengah-tengah pandemi. dan syukuran Karena anggota Dadun sudah kembali ke kelompok keranjang sayur, sehingga para anggota kelompok yang awalnya terpecah belah sekarang sudah menyatu kembali, mengembangkan pertanian bersama, yang berada di kampung sukadarma.


Semakin hari aplikasi keranjang sayur Home Shopping, semakin dikenal luas oleh para kalangan. karena dengan adanya aplikasi penjual sayur itu, mereka tidak harus repot-repot keluar dari rumah untuk melengkapi kebutuhan sayuran mereka. ditambah sayur yang mereka terima masih terlihat segar, karena sebelum adanya pandemi Fathan bersama anggota kelompoknya sudah melakukan kerjasama dengan supermarket, sehingga Fathan sangat Paham bagaimana cara memuaskan pelanggan.


Keberhasilan Fathan di bidang pertanian, membuat para stasiun TV mulai melirik untuk melakukan wawancara, ini adalah keuntungan bagi pertanian keranjang sayur, selain pencapaian yang begitu luar biasa, ini juga bisa menjadi media promosi secara gratis.


Wira Karnna yang kesehariannya hanya dihabiskan untuk berolahraga dan menonton berita, ketika melihat calon menantu dan anaknya tampil di layar televisi, tak terasa butiran bening mengalir di pipinya, dia merasa terharu dengan perjuangan sang petani muda itu.


"Tumben-tumbenan amat Pak...! kok bapak menonton berita sampai menangis seperti itu?" tanya Winda yang baru keluar dari dapur, tangannya terlihat memegang mug berisi minuman lemon panas.


Wira tidak menjawab, Dia hanya menempelkan telunjuk ke bibirnya, matanya terus terfokus melihat kedua muda-mudi yang sedang diwawancara oleh salah satu channel televisi, membuat Winda pun menatap ke arah layar.


"Itu Kirana kan pak?" tanya Winda seolah tidak percaya.


"Siapa lagi, Makanya sering-sering nonton berita, jadi kamu bisa tahu ini beritanya, berita apa?" Ketus Wira

__ADS_1


Mendengar keterangan dari suaminya, Winda pun duduk kemudian mereka menonton bersama, keberhasilan anak dan calon menantunya yang disiarkan secara eksklusif setengah jam hanya untuk mengepost pertanian warga kampung sukadarma.


__ADS_2