
Konfilk
Setelah mendengar penjelasan dari pihak yang berwenang, Ketua kampung sukaramah menghampiri warganya yang berada di sebelah kiri. mereka dari tadi terdiam menyaksikan kejadian yang begitu mengerikan, karena sebenarnya mereka pun tidak tahu kenapa mereka bisa tiba-tiba menyerang seperti itu.
"Kalian semua sudah pada tua! namun otaknya ditaruh di mana? bikin malu nama kampung saja! Coba bayangkan kalau kejadian yang barusan menimpa kalian!" bentak ketua kampung sukaramah yang membulatkan mata, membuat para warga kampung itu menundukkan pandangan.
"Bod0h! Ayo kita pulang, dan nanti setelah sampai ke kampung sukaramah, jangan ada yang pulang dulu. saya akan mendata kalian agar mudah menjebloskan kepenjara. Dan kalau kalian masih membandel, Maka jangan salahkan saya kalau saya sendiri yang akan menjebloskan kalian." lanjut tetuah kampung itu mengancam.
Dibentak seperti itu para warga kampung sukaramah terdiam tak ada yang menjawab. mereka hanya bisa menundukkan kepala, mengakui dan menyesali kesalahannya.
"Kenapa diam? ayo pulang!" bentaknya membuat para warga itu bergeming sedikit, kemudian dengan menundukkan pandangan mereka mulai melangkahkan kaki hendak meninggalkan halaman kantor keranjang sayur.
"Jangan pulang dulu! ada warga Kampung kalian yang tergeletak di kebun." tahan seorang wanita yang tadi diselamatkan oleh Fathan. ketika tadi dia disuruh pulang keberaniannya yang sudah bangkit, wanita itu malah menghampiri ke arah kerumunan, mungkin kelewat takut sehingga keberanian lah yang muncul.
"Siapa?"
"Nggak tahu! tapi dia hendak memperkosa saya." jelas wanita itu tiba-tiba terjatuh, karena setelah mengingat kejadian yang tadi dialami membuat pemikirannya kembali ke seperti semula, Kembali ke pemikiran layaknya seorang wanita yang memiliki perasaan lembut. akhirnya wanita itu tersendu menangis. Membuat para warga kampung sukadarma menghampiri untuk menenangkannya.
"Ya Allah! siapa lagi?" ujar tertua Kampung sambil mengajak beberapa orang menuju tempat yang ditunjukkan oleh wanita itu, diikuti oleh beberapa polisi. karena kejadian itu, sudah bukan hal yang wajar. meski pertikaian tidak dibenarkan, kalau hendak memperkosa perempuan, itu kejahatan yang bukan dipengaruhi oleh hasutan, melainkan kejahatan sendiri.
Sesampainya di tempat yang dituju, benar saja terlihat ada Seorang warga terbaring di sela-sela kebun sayuran. di dekat kepalanya ada pepaya yang terlihat baru dipetik, karena masih mengeluarkan getah.
Para warga Kampung sukaramah pun dengan cepat menghampiri, lalu mengecek denyut nadi orang itu. setelah dicek ternyata nadinya masih bergerak, Mungkin dia hanya pingsan, karena tidak kuat menahan rasa sakit. "nih! Ini akibat kelakuan kalian!" bentak Pak ketua kampung menyalahkan warga yang mengikutinya.
"Pak ketua! pak ketua! ada lagi orang kita yang menjadi korban." Lapor seseorang yang menghampiri sambil berlari.
"Siapa?"
__ADS_1
"Sobri dan Eden, mereka berdua masih belum bisa bangun di jalan." lapor orang itu kepada ketua kapung sukaramah.
"Ya Allah! ada apa lagi." hanya kata itu dan kata itu yang keluar dari ketua kampung sukaramah. dia pun memerintahkan para warga untuk mengangkut tubuh pria yang masih belum sadarkan diri ke arah mobil, kemudian dengan cepat dia pun berlari menuju ke arah Sobri dan Eden.
Setibanya di tempat yang dilaporkan. benar saja Sobri dan satu temannya yang masih belum bisa terbangun. namun mereka tidak pingsan hanya rintihan dan darah yang terus bercucuran keluar dari mulut Sobri.
Akhirnya ketua kampung sukadarma menyeru, memerintahkan membawa Sobri ke Saung, bahkan dia tak enggan membantu para warga menggotong tubuh itu.
Setelah dikumpulkan, ternyata ada tiga korban yang kondisinya sangat mengkhawatirkan. tanpa berdiskusi ketua Kampung sukaramah meminta bantuan ke pihak yang berwajib untuk membawa ketiga orang itu diantar ke Puskesmas terdekat. Karena tidak ada kendaraan yang bisa digunakan.
Tak lama berdiskusi, Kemudian pihak yang berwajib pun dengan sigap membawa korban, menggunakan mobil menuju ke arah Puskesmas, untuk memberikan pertolongan pertama kepada korban perkelahian.
Para warga Kampung sukaramah, yang diketuai oleh ketuanya, Mereka pun pulang dengan membawa perasaan masing-masing. Tanpa berpamitan terlebih dahulu dikawal oleh pihak yang berwajib agar pertikaian itu tidak terulang kembali.
Sedangkan Para warga kampung sukadarma, mereka masih berkumpul di halaman kantor keranjang sayur, sambil mengobati luka masing-masing. Pak RT dan Pak ustad pun menghampiri ke tengah-tengah mereka.
"Nggak tahu Pak RT! saya tadi sedang mengurus tanaman, tiba-tiba mendengar suara teriakan dari arah kantor. dengan cepat Saya pun berlari menuju ke sini. terlihat orang-orang yang bekerja di kantor keranjang sayur. mereka sedang berkelahi. namun entah bagaimana awalnya tiba-tiba pertempuran itu semakin meluas, semakin banyak. warga Kampung sukaramah yang awalnya hanya terlihat beberapa orang, Mereka pun terus bertambah sampai ada 30 orang." jawab salah seorang memberikan penjelasan sesuai pengalaman yang terjadi.
"Siapa yang bertugas di kantor?"
"Biasa Pak RT! Farah, Idan, Zahra dan keempat remaja."
"Zahra! Zahraaaaaa!' Panggil Pak Ustad yang baru sadar bahwa anaknya sedang berada dalam bahaya, dengan cepat dia pun bangkit lalu berlari menuju ke arah Saung, untuk mencari keberadaan anaknya.
"Zahraaaaaaa! Zahraaaa!" teriak pak ustad memanggil anaknya, sambil terus mencari keberadaan putrinya ke arah dapur. Namun sayang orang yang dicari tidak ada ,dia pun menatap ke arah tangga. tanpa berpikir panjang pak ustad menaiki anak tangga, terlihat di lantai 2, yang hanya ada satu kamar. anaknya sedang berjongkok di pojokan kamar, dengan tubuh yang sedikit bergetar, Mungkin dia merasa takut melihat kengerian yang baru saja terjadi, ditambah teriakan-teriakan warga yang sedang bertarung.
"Ya Allah, kamu kenapa Nak!" ujar pak ustad sambil lari kemudian memeluk tubuh Zahra, untuk memberikan ketenangan kepada orang yang sedang ketakutan.
__ADS_1
"Pak ustad! Bagaimana Zahranya ketemu?" terdengar suara Pak RT yang bertanya dari arah bawah. mungkin beliau penasaran hingga mengikuti masuk ke dalam Saung. namun orang yang ditanya tak menjawab, dia terus memeluk erat tubuh anaknya.
Pak RT yang tidak mendapat jawaban, dia pun terus mencari Sampai akhirnya dia naik ke lantai 2. terlihat anak dan bapak saling berpelukan sambil terus menangis.
"Udah tenang kamu jangan takut! Sekarang sudah aman." Tenang Pak Ustadz sambil mengelus kepala anaknya yang tertutup oleh hijab.
"Ya Allah! Kenapa kejadiannya sampai seperti ini?" Gumam Pak RT yang merasa ngeri dengan kejadian yang menimpa warga kampungnya, walaupun luka luar bisa cepat sembuh namun trauma akan terus menghantui. Seperti yang menimpa Zahra anaknya Pak Ustad.
Setelah menenangkan zahra, pak ustad Memminta tolong kepada salah seorang warga untuk memanggil istrinya, agar menjemput Zahra. karena beliau ingin membahas masalahnya Seperti apa sehingga banyak orang yang terluka, sampai-sampai anaknya menjadi korban.
Pak ustad menuntun Zahra turun menapaki tangga, sambil terus memegangi tangannya, agar anaknya tidak merasa trauma. Sesampainya di lantai bawah, Pak ustad pun mengajak Zahra untuk duduk. para warga yang dari tadi menunggu mereka mengerumuni Pak Ustad bertanya seperti apa kejadiannya. ada orang yang merasa kasihan melihat kondisi anaknya Pak Ustad, dengan inisiatif dia pun mengambilkan air minum untuk Zahra.
Setelah lama menunggu, akhirnya orang yang dipanggil pun datang. Ibu Zahra yang melihat anaknya sangat memprihatinkan dengan cepat beliau memeluk anaknya dengan erat, menghujani anak itu dengan air mata. membuat suasana kampung sukadarma menjadi semakin mencekam.
Di rumah Kamal pun sama seperti itu, penuh dengan tangisan dan kekhawatiran. setelah mengetahui bahwa Suaminya dilarikan ke rumah sakit, Sari istrinya Kamal. dia langsung pingsan tidak kuat menerima kejadian yang menimpa suaminya yang begitu parah, Sampai sampai harus dilarikan ke rumah sakit.
Kirana ditemani Sarah dan Sri, karena tadi ketika Sari pingsan Kirana meminta bantuan ibu dan anak itu. mereka terus berusaha menyadarkan Sari, sebisa mereka, semampu mereka. karena para warga masih terfokus dengan masalah yang sedang mereka hadapi.
"Kasih minyak kayu putih ya Bu, biar Bibi Sari bangun." saran Kirana yang terlihat matanya memerah karena seumur hidup dia baru merasa kengerian seperti sekarang. Kirana merasa sedang tinggal di wilayah yang sedang ada konflik.
"Buat apa?" tanya Sari yang tidak mengerti.
"Agar Jalan pernapasannya lancar! dan bibi sari bisa bangun." jawab Kirana memberi penjelasan
"Ya sudah, Tolong bangunkan bibimu!" Jawab Sri yang sudah tidak tahu Harus Berbuat Apalagi. hanya deraian air mata sebagai ungkapan kesedihan.
Kirana pun mulai mencoba menjalankan pertolongan, dia mulai mengoles mengoles minyak kayu putih ke pelipis Sari. kemudian mengangkat kakinya agar lebih tinggi dari tubuh, agar darah bisa masuk ke otaknya. tidak berhasil menggunakan cara itu, Kirana mulai memijat-mijat bagian antara Telunjuk dan ibu jari. Gadis itu terus melakukan pertolongan kepada orang yang hilang kesadaran. sebisanya, semampunya, hingga akhirnya perjuangan Kirana tidak sia-sia. Mata Sari mulai bekerejap seperti orang yang hendak bangun dari tidur. Kirana terus memijat-mijat tubuh Sari sampai akhirnya matanya terbuka dengan sempurna. terlihat dari sudut mata itu mengembun cairan bening. ketika dia mengedipkan matanya, cairan itu tumpah membasahi pelipis sampai ke telinga.
__ADS_1