Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 108


__ADS_3

"Terus bagaimana dengan orang tua Rana?"


"Aman....! Aku sudah mendapat izin!"


"Tolong rana kembali lagi ke rumah, cukup dulu Rana pergi tanpa izin. sekarang jangan lagi...! kita sudah dewasa, Saya berjanji saya tidak akan mengingkari janji saya."


"Sudah jangan banyak pembicaraan! kita lanjutkan perjalanan." ujar Kirana yang hendak menyalakan mobilnya, namun dengan cepat Fathan pun menolak. "Kenapa?" tanya Kirana sambil menatap heran ke arah sang petani itu.


"Ibu nggak boleh ikut sama saya. kasihan Pak Wira dan ibu Winda....!"


"Ya Allah kamu nggak percayaan banget sih....! Ya sudah aku telepon mereka, kalau kamu nggak percaya."  Ketus Kirana sambil mengambil handphonenya, kemudian dia pun menelepon ibunya dengan menggunakan video call.


"Kesusul nggak?" tanya Winda setelah video call itu tersambung.


"Nih ada orangnya Bu...!" ujar Kirana sambil mengarahkan kamera ponsel ke arah Fathan, membuat sang petani itu menunduk malu.


"Syukurlah kalau ketemu, kamu hati-hati di jalan!"


"Iya Bu, Tapi dia nggak percaya kalau ibu mengizinkan saya untuk ikut dengannya."


"Siapa sih, yang mau ditinggalkan oleh anaknya. Padahal baru sehari dia pulang ke rumah. tapi kalau ditolak pun kamu pasti akan tetap pergi," ujar Winda menjelaskan.


"Nih ngobrol sama Ibu...! kalau kamu nggak percaya," ujar Kirana sambil memberikan handphone yang ada di tangannya.


"Nitip anak Ibu....! jangan sampai ada yang tergores sedikitpun. kalau pekerjaanmu sudah selesai, Ibu tunggu di sini...!" ujar Winda yang menitipkan anaknya, itu membuktikan bahwa Kirana tidak kabur seperti waktu dulu.


Setelah mendapat kejelasan, Fathan pun memberikan handphone Kirana kembali. "Bagaimana sekarang kamu percaya kan?"tanya Kirana sambil menyimpan handphonenya di atas dashboard.


"Ya Bu...! kalau begitu saya yang nyetir," ujar Fathan sambil turun dari mobil.


Awalnya Kirana menolak untuk digantikan, namun setelah dibujuk beberapa kali, Akhirnya dia pun mau. hingga mobil pun melaju membelah kota Jakarta, yang terlihat mati karena penduduknya dilarang untuk keluar rumah.


****


Fathan dan Kirana Akhirnya sampai ke kampung sukadarma, kira-kira pukul 07.00 malam sebelum adzan isya berkumandang. melihat keponakannya datang Sari pun menyambut dengan menyiapkan makan bersama.

__ADS_1


Setelah makan anggota keranjang sayur yang memiliki keahlian di bidang software engineer, mereka berkumpul di rumah Idan ditambah Asep dan Kirana.


Semua anggota keranjang sayur Mereka terlihat giat bekerja, demi membuat aplikasi jualan online. sambil terus berpikir bagaimana caranya agar aplikasi Mereka banyak yang mendownload.


"Aplikasinya mau dikasih nama apa?" tanya Idan


"Keranjang sayur home shoping...!" Jawab sang petani memberi masukan.


Mereka terus terlarut dalam pekerjaan pekerjaan hingga tengah malam mereka masih bergelut membuat aplikasi jualan online tentang sayuran. sampai akhirnya beberapa anggota pun tumbang diserang rasa ngantuk, mereka tidur di tengah rumah kamal.  hanya tinggal Fathan dan Idan. Kirana sudah masuk ke dalam kamarnya, Sedangkan Yang lain sudah tertidur.


"Ya Allah...! kalian belum tidur?" tanya Sari ketika dia bangun dari tidurnya.


"Enggak ngantuk bu..!" Jawab Idan yang sama memiliki rasa tanggung jawab yang begitu besar atas kemajuan keranjang sayur.


"Jangan diforsir....! nanti kalian drop lagi," saran Sari


"Nggak kok Bu...! ini juga sudah mau selesai," jawab Idan.


Adzan subuh pun berkumandang, teman-teman Idan yang kelelahan mereka sudah terbangun, setelah melaksanakan salat subuh Mereka pun melanjutkan pekerjaan, sedangkan Idan dan Fathan masuk ke kamar untuk beristirahat sebentar.


Fathan dan Kirana mereka mulai membuat video promosi di kanal YouTubenya, bahwa sayuran yang mereka tawarkan adalah sayuran yang sangat higienis terbebas dari bakteri ataupun virus. karena mereka mengemas dan menanam sayurannya menggunakan teknik hidroponik, bahkan para konsumen bisa melihat siaran langsung dari awal mula pengambilan sayuran, pengemasan sampai sayuran yang mereka pesan, tiba di rumah pada konsumen, menggunakan video streaming di kanal YouTube keranjang sayur.


Setelah video itu di tayangkan, para konsumen pun mulai berbondong-bondong mendownload aplikasi keranjang sayur. yang berbeda sekarang aplikasi itu bernama keranjang sayur Home Shopping, kalau buat pengecek tanaman adalah keranjang sayur Smart farming.


Hari ke-5 setelah Fathan dan Kirana pulang dari Jakarta Mereka pun mulai kebanjiran orderan, sehingga Fathan meminta bantuan sahabatnya yang bernama Seno yang tinggal di kota Sukabumi, untuk menyediakan gudang penampung sayuran, sebelum dikirim ke konsumen yang berada di wilayah Kota Sukabumi.


Semakin lama keranjang sayur Home Shopping semakin banyak yang mengunduh, hingga daerah Jakarta pun mulai tertarik untuk berbelanja di aplikasi sayuran itu.


Hari itu Fathan ditemani Kirana, sedang meninjau orderan yang masuk lewat aplikasi.


"Bagaimana Warga Jakarta sudah banyak yang mau order, tapi kalau sayuran dikirim melalui jasa ekspedisi akan layu?" tanya Kirana matanya terus menatap ke arah layar laptop.


"Bagaimana ya?" jawab Fathan yang terlihat bingung.


"Kenapa harus bingung, kita cari gudang di Jakarta seperti yang sudah kamu lakukan di Sukabumi bersama Pak Seno." ujar Idan memberi masukan.

__ADS_1


"Iya benar...! sebentar aku tanyain Bapak dulu, siapa tahu saja ada rumah atau tempat yang tidak terpakai di sana. kita meminjam untuk digunakan sebagai gudang sayuran kita," saran Kirana.


"Jangan meminjam! kalau bisa kita sewa!" Jawab Fathan yang merasa tidak enak.


"Yah apalah itu, yang terpenting kita punya gudang di Jakarta. kalau bisa kita bikin gudang di Bandung agar konsumen yang berada di Kota Bandung  bisa terlayani dengan baik," jawab Kirana.


Akhirnya Gadis itu mengambil handphonenya, kemudian dia menekan tombol Panggil untuk menghubungi ayahnya. Namun setelah telepon itu terhubung Fathan pun meminta agar dia bisa mengobrol dengan Wira.


"Fathan mau ngobrol Pak...!" ujar Kirana memberitahu.


"Boleh...!" jawab Wira memberikan izin.


"Selamat siang pak!" Sapa Fathan yang terdengar ragu-ragu.


"Yah kenapa Pak Fathan?" tanya Wira yang sedikit merasa heran karena baru sekarang Calon menantunya Mau mengajaknya berbicara.


"Saya mau pulang ke Jakarta Boleh?" ujar Fathan membuat mata Kirana terbelalak kaget, mendengar perkataan sang petani yang di luar dugaannya.


"Boleh, kapan mau ke sini?"


"Insya Allah besok, sekalian saya ada urusan," jawab Fathan


"Urusan apa? Oh iya, bapak lihat di channel keranjang sayur kamu sudah membuat aplikasi buat menjual sayuran ya?" tanya Wira mengalihkan pembicaraan.


"Alhamdulillah sudah Pak, namanya keranjang sayur Home Shopping."


"Kapan mau buka gerai di Jakarta, kayaknya peluangnya sangat bagus, karena orang-orang tidak bisa keluar untuk berbelanja sayuran?"


"Insya Allah besok saya akan mencari gudangnya terlebih dahulu. Soalnya kalau tidak memiliki gudang penyimpanan seperti yang berada di Kota Sukabumi. takut sayurannya tidak fresh dan tidak sesuai dengan pesanan konsumen. kalau kita memiliki gudang di Jakarta, kita bisa sortir kembali sebelum sayuran kita sampai ke tangan konsumen."


"Emang kira-kira butuh gudang berukuran berapa?"


"Sebesar ruko juga kayaknya sudah cukup pak, yang terpenting bisa buat menyimpan dan mengemas barang-barang yang hendak dikirim ke konsumen."


"Bagaimana kalau kamu gunakan ruko bapak yang berada di jalan MH Thamrin, lumayan itu juga cukup luas dan berlantai tiga. Kamu bisa memanfaatkan lantai 1 dan lantai 2 untuk menyimpan sayuran-sayuran dan lantai tiganya bisa digunakan buat kantor," ujar Wira menerangkan.

__ADS_1


__ADS_2