Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
ks. 62


__ADS_3

Wira Karna


Setelah pengemudi itu mengecek handphone, dia pun manggut-manggut kemudian menginjak pedal gasnya kembali, sehingga mobil yang dikendarainya melaju masuk ke dalam kampung sukadarma.


Setelah berada didalam Kampung, mobil itu kembali terhenti. kemudian pengemudinya turun menghampiri salah Seorang warga yang sedang menjemur pakaiannya.


"Permisi....!" Sapa laki-laki itu sambil manggut memberi hormat.


"Iya, ada apa Pak?" tanya perempuan itu sambil menyimpan pakaian yang hendak ia jemur, kemudian dia menatap heran ke arah pria yang berdiri di hadapannya.


"Apa benar ini kampung sukadarma?"


"Benar sekali Pak, emang kenapa?" Tanya perempuan itu yang masih kebingungan.


"Kok tulisan di gapuranya kampung sukaujang?" Tanya pria paruh baya mengungkapkan rasa herannya.


"Yah, karena Kang Ujang yang membuat gapuranya, Jadi dia menamai kampung dengan nama sendiri. Tapi walau begitu, kami tidak terlalu mementingkan nama gapura. Sekarang bapak benar, sudah berada di kampung sukadarma, emang kenapa?"


"Terima kasih kalau Saya tidak salah tempat berkunjung, Saya mau menemui anak saya yang bernama Kirana? Apakah ibu kenal dengan gadis yang bernama Kirana?" jawab laki-laki itu membalikkan pertanyaan.


"Oh mau mencari non Kirana, kekasihnya Kang Fathan," wanita itu memastikan.


"Iya benar Bu, tapi..!" laki-laki itu tidak melanjutkan perkataannya, terlihat dia menghela nafas dalam seperti enggan melanjutkan pembicaraan.


"Tapi apa Pak?"


"Nggak apa-apa bu. Oh ya, Ibu kenal sama anak saya?" tanya Wira yang tak mau memperpanjang pembahasannya.


"Semua orang yang ada di kampung ini, pasti kenal dengan gadis kota Jakarta yang bernama Kirana, Pak."


"Kalau ibu tahu dan kenal, sekarang di mana dia tinggal?"


"Dia tinggal di rumah Kang Farhan, bapaknya sang petani muda."


"Oh begitu....! emang para warga mengijinkan ada seorang anak perempuan yang menginap di rumah laki-laki, tanpa ada ikatan yang jelas?"


"Gak Apa-apa pak! selama yang kita ketahui mereka tidak pernah melakukan bermacam-macam, bahkan dari Desas desus warga mereka berdua tidak pernah mengobrol berdua dengan serius. Jadi kami tidak curiga.....! Lagian itu urusan mereka," jawab ibu itu menjelaskan.


Mendengar penjelasan warga Kampung sukadarma, Wira hanya menarik napas pelan, kemudian menatap kembali ke arah wanita yang tadi mau menjemur pakaian.

__ADS_1


"Saya boleh tau di mana rumahnya Pak Farhan?"


"Bentar.....! bentar....! Bapak mencari Kang Farhan atau mencari non Kirana?" tanya perempuan itu sambil mengurutkan dahi.


"Saya mau mencari anak saya, tapi kata ibu tadi anak saya tinggal di rumah Pak Farhan."


"Kalau jam segini biasanya non Kirana tidak ada di rumah, dia biasanya sedang berada di kantor keranjang sayur membantu para warga untuk bertani. menurut keterangan warga, bulan depan pertanian keranjang sayur akan mulai menjadi penyuplai supermarket yang berada di Kota Sukabumi. itu semua gara-gara bantuan Putri bapak, karena Gadis itu selalu aktif di media bansos."


"Media Apa itu Bu?" tanya Wira yang mengerutkan dahi tidak paham dengan apa yang disebutkan oleh perempuan yang ada di hadapannya.


"Itu media aplikasi HP yang menunjukkan video-video."


"Medsos kali bu!"


"Oh iya medsos, hehehe...! maaf kurang paham masalah yang begituan."


"Ibu boleh nggak saya minta tolong?" Pinta Wira sambil mengulum senyum.


"Minta tolong apa?"


"Antar saya ke kantor keranjang sayur!"


"Kalau mau ke kantor keranjang sayur, Bapak tinggal lurus aja nanti ada pertigaan, Bapak ambil belok kanan. dari situ sudah terlihat ada Saung besar berbentuk rumah, di sampingnya ada Saung kecil. Namun menurut para warga itu disebutnya adalah Mini hotel." Jelas Ibu-ibu itu panjang lebar.


"Enggak Pak, tuh belokannya aja sudah terlihat," ujar ibu itu sambil menunjuk ke arah depan.


"Dari arah gapura kampung sukadarma terdengar suara deru mobil yang hendak masuk ke dalam Kampung. mobil pick up berwarna hitam yang menekan klakson, karena jalan yang sedikit agak sempit, sehingga mobil pick up itu tidak bisa lewat terhalang oleh mobil Wira.


"Asep.....! Asep....!" Panggil wanita itu sambil mendekat ke arah Asep yang menatap heran.


"Ada apa Bi, terus ini mobil siapa?"


"Ini mobilnya Bapak non Kirana, dia mau menemui anaknya. Tolong kamu antarkan bapaknya non Kirana, soalnya bibi tanggung lagi menjemur pakaian."


Mendengar nama Kirana disebut-sebut, Asep pun dengan segera turun dari mobil, kemudian menghampiri Wira yang sedang menatap ke arahnya.


"Selamat siang pak!" ujar Asep sambil tersenyum kemudian mengambil tangan orang tua itu lalu diciumnya.


"Siang juga, ini siapa?" Tanya Wira sambil menatap penasaran ke arah pemuda yang berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Saya Asep...! saya pekerjanya kang Fathan dan Bu Kirana," jawab Asep menjelaskan.


"Bisa Tolong antarkan saya bertemu dengan Bu Kirana!" jawab Wira yang terlihat menghormati anaknya.


"Ayo bareng pak...! kebetulan saya mau pulang," jawab Asep sambil menganggukan kepala, kemudian dia kembali masuk ke dalam mobil pick up, diikuti oleh Wira. sebelum pergi tak lupa pria paruh baya itu mengucapkan terima kasih sama si bibi yang sedang menjemur pakaian.


Setelah Berada di mobil masing-masing Wira pun menyampingkan mobilnya, agar mobil Asep bisa berjalan duluan. setelah mobil Asep berada di depan Wira pun mengikuti mobil pick up itu, menuju kekantor keranjang sayur.


Benar Saja apa yang disampaikan oleh ibu-ibu yang menjemur pakaian tadi. ternyata dari arah mereka terlihat ada pertigaan jalan, kemudian mobil pick up yang dikendarai oleh Asep berbelok masuk ke jalan itu, hingga akhirnya mobil mereka sampai di bangunan rumah berbentuk Saung yang sangat besar dengan desain yang begitu elegan.


Wira menatap kagum dengan apa yang dia lihat, selain bangunannya megah, terlihat juga di sekeliling tempat itu tertanam rapi sayuran-sayuran yang sangat segar, dan tidak jauh dari kantor keranjang sayur, berdiri green house, green house tempat tanaman hidroponik ditanam.


Setelah memarkirkan mobil, Asep pun turun lalu menghampiri ke arah Wira, yang sama-sama sudah keluar dari mobilnya.


"Ayo masuk Pak! non Kirana pasti ada di dalam," ajak Asep mempersilahkan Wira berjalan duluan.


Wira pun mengangguk kemudian dia berjalan menuju ke arah Saung yang terlihat agak tinggi. dia pun naik ke atas dengan melepas sepatu, kemudian Asep mempersilahkan duduk di tikar, karena di saung itu tidak ada kursi. Fathan sengaja membuatnya seperti itu, agar ketika ada acara makan besar, atau acara rapat mereka bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi.


Setelah mempersilahkan tamunya duduk, Asep masuk ke dalam ruangan untuk memberitahu Kirana bahwa ada orang yang mencarinya. tak lama setelah itu, dia pun kembali diikuti oleh gadis cantik yang menatap nanar ke arah bapaknya.


"Bapak........!" Panggil Kirana sambil berlari menuju ke arah orang tua yang sama sedang menatap nanar ke arahnya.


Dengan cepat Wira pun bangkit lalu meregangkan tangan, menyambut, memeluk Putri semata wayangnya itu. air mata mereka tumpah membasahi pipi masing-masing, merasa sedih karena mereka sudah lama tidak bertemu. Wira yang awalnya sangat yakin bahwa Kirana akan kalah, Kirana akan pulang Setelah uangnya habis. namun sampai sekarang Kirana belum mengambil uang kembali, tabungannya masih utuh, tak berkurang sedikitpun. hingga akhirnya dia memutuskan untuk datang ke kampung sukadarma, ingin mengetahui kabar Putri semata wayangnya.


"Bapak.....! Bapak sama siapa ke sini?" tanya Kirana sambil mendongakan pandangan menatap ke arah bapaknya.


"Sendiri....., bapak ke sini sendiri. Bapak sudah kangen sama kamu, Kenapa kamu nggak pulang ke Jakarta? Apa kamu sudah lupa sama Bapak, sama Ibu. Apa kamu masih marah?" tanya Wira sambil menatap Putri kecilnya itu, meski Kirana sudah sangat dewasa, namun begitulah orang tua, mereka akan selalu menganggap anaknya itu adalah gadis kecil yang tidak berubah sama sekali.


"Maafkan Kirana Pak, Maafkan!" Jawab gadis itu sambil memeluk kembali pria yang sangat Ia sayangi.


Wira tidak bisa menjawab, namun matanya basah dengan cairan-cairan bening yang mengalir membasahi pipinya. di satu sisi dia merasa bingung Bagaimana cara agar Kirana mau pulang ke Jakarta, namun di sisi lain melihat perubahannya yang begitu drastis, Kirana yang anak manja sekarang sudah menjadi anak yang mandiri, itu sangat mengagumkan baginya.


Setelah mereka saling melepas rasa kangen, Mereka pun melepaskan pelukan, kemudian duduk berhadap-hadapan. dari arah dalam terlihat Zahra yang mengetahui ada tamu, dengan cepat membawakan air minum bersama buah-buahan hasil dari pertanian keranjang sayur.


"Diminum Pak! lumayan pelepas dahaga," tawar Gadis berkerudung coklat itu sambil manggut. kemudian dia pun kembali ke dalam, Mungkin dia tidak mau mengganggu waktu berdua keluarga yang sudah terpisah lumayan lama.


"Kenapa Ibu nggak diajak?" tanya Kirana setelah mereka terdiam agak lama.


"Harusnya bapak yang bertanya seperti itu, kenapa kamu tidak mau pulang menjenguk ibumu. Apa perasaan cintamu sudah mengalahkan perasaan seorang anak terhadap ibunya?" jawab Wira membalikan perkataan.

__ADS_1


"Maafkan Kirana Pak, Maafkan bukan Kirana tidak sayang sama ibu, bukan Kirana tidak kangen sama Ibu, namun Kirana ingin terfokus mengejar cita-cita Kirana yang belum kesampaian."


"Cita-cita apa?"


__ADS_2