
Di jalan yang jauh ke mana-mana terlihat ada orang yang sedang bertarung entah memperebutkan Apa, karena belum jelas permasalahannya dimana. namun yang terlihat hanyalah pertarungan yang tak seimbang, dua lawan lima, ditambah dengan badan-badan yang kekar seperti orang-orang yang sudah terbiasa melakukan perkelahian.
Fathan dan Farhan mereka terus meladeni kelima preman yang hendak mencelakai Fathan. mereka terus bertahan dari gempuran-gempuran musuh, namun lama-kelamaan Mereka pun sedikit kewalahan beruntung. dari arah jauh terlihat ada beberapa mobil pick up yang menghampiri sambil berteriak-teriak membuat pertarungan itu berhenti seketika.
"Hahaha mampus kalian....!" gumam Farhan yang membuang ludahnya.
Orang-orang yang ditertawakan mereka tidak bergeming, Kemudian mereka pun menyerang kembali namun sekarang Farhan dan Farhan memiliki motivasi yang lebih, sehingga mereka bisa bertarung dengan begitu gagah. karena ternyata mobil pick up yang datang adalah mobil-mobil yang membawa warga kampung sukadarma
Melihat kenyataan yang seperti itu, kelima orang yang mengeroyok Fathan, Mereka pun sedikit bergeming hati mereka mulai merasa takut. karena sehago apapun seseorang, kalau dikeroyok oleh masa mereka tidak akan mampu menahannya.
"Celaka....! celaka! kabur....! kabur ...!" teriak salah seorang memberitahu.
"Iya , dasar orang kampung beraninya main keroyokan." Timpal yang satunya lagi sambil membalikkan tubuh mau berlari. namun belum sempat dia menjauh Fathan dengan cepat melayangkan tendangan ke arah samping kakinya, sehingga tubuhnya terjatuh ke tanah.
Farhan melihat musuhnya roboh, dengan cepat menduduki tubuh orang itu lalu memukul kepalanya beberapa kali. "rasakan Kau Bajingan! beraninya sama Anakku. kalau kamu mau melukai anak saya, langkahi dulu mayat bapaknya...!" Ujar Farhan sambil terus memukuli, kalau tidak diberhentikan oleh Fathan, Mungkin orang yang berada di bawah tekanannya bisa-bisa kehilangan nyawa.
Akhirnya mobil pun terhenti Di dekat Fathan dan Farhan, anggota keranjang sayur pun turun dari mobil, lalu mengejar orang yang sudah berlari berhamburan. dari para anggota itu terlihat ada yang berbeda karena ada Lardi yang tergabung di sana, bahkan Darmi pun terlihat keluar dari mobil pick up.
"Orang yang sudah ditangkap oleh Farhan mereka diambil alih oleh Asep dan Idan, kemudian diikat lalu didudukkan di tepian jalan. Fathan yang merasa heran karena kedatangan anggota kelompok kerajaan sayur dia pun mendekat ke arah Kamal.
"Kok tahu kalau saya sedang diserang Mang?" tanya Fathan sambil menatap heran ke arah kamar.
"Tadi Kang Pardi, siang-siang dia datang ke kantor keranjang sayur, menceritakan bahwa kamu akan diserang." jawab Kamal menjelaskan.
"Siapa yang menyerang saya?"
"Mungkin orang-orang suruhannya Kang Ujang."
__ADS_1
"Ya Allah, kurang ajar banget kang Ujang. semakin dibiarkan semakin melunjak...!" ujar Fathan sambil mengeratkan gigi, dia merasa kesal karena jangankan manusia yang memiliki akal sehat, semut pun kalau diganggu pasti akan menggigit.
Ketika sedang mengobrol terdengar suara teriakan teriakan dari salah satu rumpun yang berada di dekat Jalan. sehingga perhatian orang-orang pun menuju ke arah datangnya suara. Semakin lama suara itu semakin mendekat ternyata orang-orang yang tadi mengejar para pengeroyok Fathan, sebagian dari mereka ada yang berhasil ditangkap. namun yang membuat heran ternyata salah satu dari penjahat itu ada Ujang yang diboyong.
Fathan melihat Ujang sudah tertangkap, dia pun mendekat ke arah orang yang sudah Bonyok dengan tangan yang diikat ke belakang. begitu juga Darmi yang terdengar menangis histeris melihat keadaan suaminya yang memilukan. Bagaimana tidak menangis wajah Ujang terlihat lebam, bajunya terlihat banyak sobekan.
"Akang Kenapa, kamu Kang..., Kenapa bisa begini?" ujar Darmi yang menangisi Ujang, namun suaminya tidak menjawab. Dia hanya menundukkan pandangan tak berani sedikitpun mengangkatnya.
"Mau diapakan nih orang, ternyata dulu yang membuat Bapak saya sampai harus dilarikan ke rumah sakit. ternyata ini adalah biang keladinya...!' ujar Idan memberitahu mungkin sekarang dia sudah mengetahui cerita tentang kebusukan dan kejahatan Ujang.
"Ngapain harus susah-susah kita bakar saja hidup-hidup atau kita tusuk tenggorokannya dengan linggis, kemudian kita kubur di rumpun tebu timbarau. Saya yakin tidak akan ada orang yang mengetahuinya, asal kita bisa menjaga rahasia." ujar salah Seorang warga membuat Ujang sedikit beringis merasa ngeri.
"Setorkan saja ke pihak yang berwajib, biarkan dia membusuk di penjara." saran warga lain
"Kalau dibawa ke pihak yang berwajib, kita nggak akan puas menyiksanya gara-gara dia saya sampai keluar dari kelompok keranjang sayur," Timpal harga lain yang sempat keluar ikut bergabung dengan Dadun dan Nanang.
Sebelum melanjutkan pembicaraan, Fathan pun memindai keadaan rumpun tebu timbarau dan rumpun ilalang. ternyata ada salah satu tempat yang agak hampar dan agak luas, di sampingnya ada pohon mahoni yang sangat besar, di bawahnya hanya rumput pentul sehingga cocok untuk beristirahat. akhirnya sehingga Fathan pun mengajak mereka untuk mengobrol di sana, karena Fathan ingin segera menyelesaikan masalah yang sebenarnya sudah bisa diprediksikan, namun dia tidak menyangka kalau kejadiannya akan sehebat ini. Sampai-sampai Ujang menyewa pembunuh bayaran.
Akhirnya para warga yang datang untuk menolong Fathan mereka berkumpul seperti berkumpul ketika mereka mengadakan rapat di kampung sukadarma. Ujang dan kedua orang lain yang ditangkap tangan, mereka diikat ke belakang Lalu dulu didudukkan di depan, dijaga oleh orang-orang yang memiliki tenaga lebih, untuk mengantisipasi kaburnya tawanan mereka.
"Fathan...! Fathan...! tolong kasihan Bibi, Tolong jangan apa-apa kan suami saya...! tolong ampunilah dia...!" ujar Darmi yang sejak dari tadi terdengar menangis, membuat hati Ujang sedikit teriris ketika melihat sang istri mengiba keselamatannya seperti itu. dia hanya tertunduk menahan malu dengan apa yang sudah ia kerjakan semua kejahatan yang ditujukkan kepada Fathan berakhir dengan kegagalan.
"Iya Bi....! Bibi tenang aja Saya tidak akan menghukum atau memvonis Kang Ujang, karena yang memvonis dan menghukum adalah kesalahannya sendiri," jawab Fathan dengan suara datarnya.
"Terus mau diapakan Tan?" tanya Kamal yang duduk di atas rumput sama seperti para anggota keranjang sayur yang lainnya.
"Kita tanya dulu apa motifnya kang Ujang sampai tega melakukan hal ini terhadap saya. nanti kita putuskan sama-sama mau di Bagaimanakan orang ini karena menurut keterangan yang kita dapat , semua keretakan, kehancuran, kegaduhan yang ada di kampung kita, semuanya disebabkan oleh tingkah laku Kang Ujang yang jahat...!"
__ADS_1
"Ya sudah kamu tanya...! tapi jangan lama-lama secepatnya harus mengambil keputusan. Soalnya kita masih banyak orderan yang harus kita urus. dengan adanya kejadian seperti ini waktu kita terbuang sia-sia....!" saran Kamal.
"Kang Ujang....! Kenapa Kang Ujang tega melakukan seperti ini, kenapa Kang Ujang selalu ingin saya binasa?" tanya Fathan sambil menatap ke arah orang yang sedang tertunduk menahan malu.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Ujang tidak menjawab, bahkan jangankan untuk menjawab mengangkat pandangan pun dia tidak berani.
"Jawab Kang yang jujur.....! akui semua kesalahan Akang biar semuanya bisa memaafkan." pinta Darmi yang duduk di samping suaminya, dia tak henti-hentinya menangis. beberapa kali dia diingatkan agar mengecilkan suara volume tangisnya namun dia tetap terus melanjutkan kesedihannya.
"Sekali lagi saya tanya, kenapa Kang Ujang tega berbuat seperti ini?"
"Maafkan saya Tan...! Maafkan saya...!" hanya kata itu yang keluar dari mulut penghianat kampung sukadarma.
"Pasti saya akan memaafkan, tapi kesalahannya seperti apa?"
"Jawab Kang....! jawab...!"
"Kalau nggak mau menjawab, Coba buka pakai linggis Siapa tahu saja mulutnya bisa menganga....!" saran Seorang warga yang terlihat gemas seperti memiliki dendam pribadi.
"Aaaaa, a, a, a, a...!" Jawa bujang tergagap.
"Jawab Kang Ujang... biar semuanya cepat selesai dan kita bisa hidup dengan damai," ujar Farhan menunjukkan kedewasaannya sebagai orang tua.
"Iya saya mengakui semuanya!"
"MengAkui apa?" tanya Farhan yang terdengar lembut namun tegas.
"Saya yang membuat kericuhan di kantor keranjang sayur setahun yang lalu, saya membayar preman kampung sukaramah untuk melukai Fathan. namun bukannya Fathan yang terluka melainkan kamalah yang terluka. saya mohon maaf sama Kang Kamal dengan kejadian itu, sehingga akang sampai mau kehilangan nyawa. yang kedua saya sudah merencanakan kehancuran keluarga kamu Fathan agar usahamu hancur sehancur hancurnya. karena dengan adanya pertanian di kampung sukadarma, orang-orang yang suka meminjam uang terhadap saya mereka lebih percaya dengan hasil pertanian mereka. sehingga semakin lama orang-orang yang meminjam semakin sedikit, bahkan yang mempunyai hutang mereka mulai membayarnya. Saya takut kalau dibiarkan ini akan mengganggu kehidupan saya. Sekali lagi saya mohon maaf dan tolong ampuni saya...! jangan sampai saya diapa-apakan dan jangan sampai saya dilaporkan ke pihak yang berwajib," ujar Ujang panjang lebar mengakui semua kesalahan-kesalahan yang telah Ia perbuat.
__ADS_1