
Pagi hari.
Saat matahari mulai menyingsing, seperti biasa, Brian dan Zoya akan pergi berangkat ke kampus bersama-sama.
Brian berpenampilan sangat menawan pagi ini, wajahnya yang seukuran telapak tangan memancarkan pesona anggun ala bangsawan terhormat. Setiap wanita yang melihatnya pasti akan langsung hanyut dan jatuh cinta padanya.
Sementara Zoya, wajahnya terlihat lebih cerah dari bunga matahari. Dia mengenakan stelan pakaian yang cukup sederhana, dengan kaus coklat berlengan panjang dan rok abu-abu bergaris kotak-kotak selutut, Zoya tampak seperti peri polos yang memancarkan aura feminim alami. Rambutnya yang berwarna coklat diikat dengan pita kupu-kupu membuatnya tampak semakin menggemaskan.
Brian yang sedang berdiri di teras sampai tidak berhenti untuk tidak menatap Zoya yang sedang berjalan kearahnya.
Hingga akhirnya Brian pun tersadar saat mendengar seseorang berdeham. Brian melirik ke samping dan menatap ayah dan ibunya yang sedang duduk di sofa teras.
Ya, ternyata Alex dan Michelle masih belum kembali ke ibu kota pemerintahan. Hal itu membuat Brian sedikit terheran dan tidak nyaman. Tidak biasanya Alex meninggalkan pekerjaannya lama-lama seperti saat ini. Satu hal yang membuat Brian bisa menebak kenapa ayahnya mau tinggal lebih lama, itu pasti untuk menjauhkannya dari Zoya.
"Brian, kau akan pergi ke kampus?" tanya Alex dengan suara serak.
Brian memutar kedua bola matanya sambil berkata, "Apa matamu sudah sangat rabun? Pertanyaan konyol?"
Wajah tampan Alex menjadi suram seketika, ternyata Brian masih belum berubah juga. Dia masih seperti biasa, dingin dan berlidah tajam saat berhadapan dengan Alex.
Kemudian Alex bertanya sekali lagi sambil melirik Zoya, "Lalu apa dia juga akan pergi bersamamu?"
Brian hanya mendengus kesal dan tidak menjawab apa-apa lagi. Dia kemudian segera beranjak dari sana dan masuk ke mobil.
Sementara Zoya masih terdiam di teras dengan kepala tertunduk, dia sangat takut pada Alex. Semenjak pertama kali Zoya bertemu dengan Alex, dia mengerti kalau dirinya tidak begitu disukai. Zoya juga tahu penyebabnya, itu pasti karena dia telah memeluk Brian di hadapan semua orang waktu itu.
Zoya merasa sangat tidak enak, dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sekarang, Alex pasti memiliki opini yang buruk terhadap Zoya. Dia tidak berani untuk pergi ke kampus bersama Brian lagi.
Melihat Zoya yang masih berdiri di teras, membuat Brian sedikit kesal. Dia kemudian menurunkan kaca jendela, berteriak, "Nona cerewet, kenapa kau masih berdiri di sana, cepatlah aku tidak punya waktu lagi."
__ADS_1
Zoya memandangi Brian dengan bingung dan sesekali melirik kearah Alex, dia tampak seperti orang linglung. "Jika aku pergi bersama tuan muda, pasti tuan besar mengira kalau aku sangat lancang. Seorang pembantu sepertiku tidak seharusnya dekat-dekat dengan majikannya, bukan?" gumam Zoya dalam hati.
Detik berikutnya Michelle pun berbicara dan menegur Zoya, "Zoya, Brian sudah menunggumu, cepatlah. Kalian bisa terlambat nanti."
Akhirnya dengan ragu-ragu Zoya pun mengangguk dan segera beranjak dari tempatnya. Setelah dia memasuki mobil, Brian yang sedikit kesal menegur.
"Kau tahu betul aku tidak suka menunggu, kenapa kau masih membuatku melakukannya?"
Zoya sudah terbiasa jika berhadapan dengan Brian yang dingin, tapi tidak dengan Alex, dengan polos dia berkata, "Tidakkah kau lihat cara ayahmu menatapku? Matanya itu seperti monster yang baru saja keluar dari gua kuno, benar-benar mengerikan."
Sebelah sudut bibir Brian naik keatas membentuk seringai saat ia berkata, "Aku tahu itu."
Zoya tiba-tiba tersadar, dia baru saja mengumpat tentang ayah seseorang di depan anaknya langsung. Zoya seketika menjadi canggung, "Maaf tuan muda, aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu..."
Brian dengan santai menyalakan mobil dan berkata, "Tidak masalah, kau bisa meluapkan semua kekesalan mu terhadapnya kepadaku. Dia memang seperti itu, dingin dan tidak berperasaan."
Seketika Zoya tertegun dan tidak bisa berkata-kata, dia terjebak antara tawa dan air mata.
Zoya mengira, Brian pasti anak yang tak tahu diri.
Sementara itu Alex terus menatap mobil Brian yang perlahan pergi meninggalkan mansion. Kemudian dia balik memelototi Michelle yang duduk di sebelahnya, berkata, "Sepertinya kau sudah biasa dengan pemandangan ini, bukan?"
Michelle menghela nafas tak berdaya, "Brian dan Zoya kuliah di universitas yang sama, tidak masalah kan jika mereka pergi bersama?"
"Tentu saja itu sebuah masalah, putraku adalah seorang pewaris dari keluarga terhormat. Dia tidak boleh bergaul dengan orang-orang kalangan bawah." ucap Alex dengan penuh ketegasan.
Kemudian dia melanjutkan, "Kau sudah tahu hal ini sejak lama, tapi kenapa kau masih membiarkan mereka. Jika ini terus berlanjut maka putraku akan semakin dekat dengan putri pembantu itu. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, ini harus segera di hentikan!"
Ketika Alex mengatakan itu, secara kebetulan mbok Ratih muncul dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat. Dia sedikit terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan tuan besar barusan.
__ADS_1
Melihat mbok Ratih termenung, Michelle segera menyapanya, "Mbok, teh itu untuk kita kan?"
Mbok Ratih tersentak dan mengangguk. Kemudian mbok Ratih berjalan mendekat dan segera berlutut di lantai meletakkan dua cangkir teh tadi di atas meja dengan penuh hormat.
"Silakan nyonya, tuan." ucap Mbok Ratih lemah lembut, kemudian dia langsung bergegas pergi meninggalkan tempat.
Namun, tiba-tiba saja Alex menghentikannya, "Tunggu!"
"Ya tuan."
"Aku ingin bertanya satu hal padamu, apa putrimu itu murahan?" tanya Alex dengan nada pelan namun memiliki makna yang tajam hingga menusuk ke jantung.
Sontak seketika mbok Ratih menjadi bingung, pupilnya yang gelap mulai berkontraksi menunjukan ketidaksenangan. Bagaimanapun di tidak bisa menerima putrinya dihina begitu saja oleh sang majikan, dia membela, "Maaf tuan, saya tidak paham maksud anda? Setahu saya, Zoya selalu menjadi anak yang baik saat berada di rumah dan tidak pernah melakukan hal aneh-aneh jika di luar. Dia gadis yang baik,."
"Aku tidak peduli seperti apa karakter putrimu itu, tapi dia harus ingat posisinya di rumah ini. Suruh dia untuk segera berhenti menggoda Brian. Status kalian di rumah ini adalah pelayan, dan seorang pelayan harus tahu menjaga jarak dengan majikannya, apa kau dengar?" seru Alex dengan penuh ketegasan.
Menurut Alex, Brian selalu dingin dan cuek terhadap wanita. Dia selalu membuang surat cinta yang dikirimkan oleh putri-putri konglomerat yang ada di ibukota pemerintahan. Mereka semua cantik dan memiliki penampilan kelas atas. Lantas, bagaimana mungkin gadis sederhana seperti Zoya bisa menarik perhatian putranya? Pasti Zoya lah yang telah mencoba menggoda Brian.
Melihat tuan besar menunjukkan ketidaksenangannya terhadap Zoya. Mbok Ratih hanya bisa mengangguk patuh dan tak berani mengatakan sepatah kata pun lagi. Dia pergi dengan perasaan sedih yang tak terkatakan. Baginya, Zoya adalah segalanya. Dia tidak akan terima jika putrinya di remehkan sama seperti dirinya. Jika itu orang lain mungkin Ratih akan memberi pembelaan lebih, tapi yang menghina Zoya barusan adalah majikannya. Ratih tidak mungkin bisa melawan, lagi pula keluarganya banyak berhutang pada Alex.
Saat mbok Ratih melangkah masuk ke dalam rumah, dia terkejut melihat nona muda Kiara bersandar di daun pintu. Sepertinya Kiara sudah berada disana sejak lama untuk menguping. "Non, kenapa anda berdiri di sana?" tanya mbok Ratih, suaranya terdengar sedikit serak.
"Mbok aku minta maaf ya?" ucap Kiara sambil menyatukan kedua telapak tangannya ke udara.
"Untuk apa non?" Ratih segera menurunkan tangan Kiara.
"Ayahku memang seperti itu, dia suka berbicara kasar dan meremehkan orang lain. Tapi sebenarnya dia memiliki hati yang baik, dia hanya belum melihat kebaikan yang dimiliki kak Zoya." Kiara mencoba memberi mbok Ratih penjelasan atas sikap ayahnya barusan.
"Sudahlah non, saya sudah terbiasa dengan sikap tuan besar. Saya tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Lagi pula tuan besar benar, seorang pelayan harus menjaga jarak dengan majikannya."
__ADS_1
Kiara tidak setuju, "Tidak mbok, itu tidak benar. Kak Zoya dan si mbok bukan pelayan di rumah ini. Mommy selalu berkata, kalian adalah bagian dari keluarga kami. Mbok tidak perlu khawatir, apapun yang terjadi di antara kak Zoya dan Brian, biarlah itu terjadi oke."
Ratih hanya tersenyum penuh arti dan tidak mau berdebat dengan Kiara.