
Dasar, aku sudah seperti istrinya saja, dia seenaknya membangunkan aku tengah malam begini dan memasak untuknya
Gumam Zoya sembari membawakan semangkuk mi ke meja makan. Brian yang sudah duduk di sana menyipitkan matanya saat melihat wajah tak ikhlas Zoya. Ekspresi Zoya benar-benar sangat masam, di tambah dengan lampu yang hanya hidup sebagian membuat Zoya tampak seperti nenek sihir yang keluar dari kegelapan.
"Ini." Zoya menaruh mie itu ke meja dengan kasar dan beranjak hendak pergi.
"Tunggu, kau tetap di sini sampai aku selesai makan." seru Brian yang mencekal lengan Zoya.
"Tapi ini sudah malam, aku juga sudah melakukan apa yang kau pinta, jadi aku mohon, biarkan aku kembali ke kamar dan beristirahat." ucap Zoya dengan kedua tangannya yang memohon.
Namun Brian tidak menghiraukannya dan menarik Zoya untuk duduk di kursi meja makan.
Dengan penuh perasaan kesal Zoya pun duduk, dia benar-benar tidak paham dengan tuan mudanya itu. Sesekali Brian bertingkah seperti superhero yang melindunginya, tapi Brian juga bisa berubah dan bertingkah seperti penjahat yang menyiksanya.
"Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Brian, dia mulai sedikit terusik melihat Zoya sedari tadi menatapnya dengan sinis.
"Tidak ada?" bantah Zoya sembari memutar kedua bola matanya ke samping.
"Besok aku ingin membawamu ke suatu tempat apa kau mau?"
"Heh, terserah kau sajalah!"
Zoya benar-benar sangat mengantuk dan tidak tahan lagi hingga akhirnya dia tertidur pulas di meja makan, bahkan dia pun sampai mengences.
Melihat itu Brian menggelengkan kepalanya, dan berkata. "Sepertinya aku terlalu berlebihan."
Setelah selesai makan Brian menyeka bibirnya dengan tisu. Dia kemudian berdiri dan dan segera menepuk punggung Zoya yang tertidur.
"Hei cerewet."
Namun Zoya tidak mau bangun juga, akhirnya Brian pun mau tak mau menggendong tubuh Zoya dan membawanya ke kamar.
"Wanita ini tubuhnya mungil, tapi berat seperti sapi." ucap Brian sembari menggendong Zoya.
"Ah aku tidak segemuk itu." balas Zoya, tampaknya dia sedang mengigau.
Brian menatap wajah Zoya dengan penuh makna, semakin dekat dia melihat Zoya semakin cepat pula jantungnya berdebar. Wajah polos Zoya benar-benar sudah membuat Brian terpikat.
Zoya yang tertidur di dalam gendongan Brian itu, terus mengigau dan sesekali tangan nakalnya meraba bulu-bulu di dada Brian yang bidang.
"Heh Tedy tubuhmu benar-benar hangat."
Brian pun mengerutkan keningnya dan merasa sedikit kegelian karena Zoya terus meraba dadanya.
"Ada apa dengan si cerewet ini, dan siapa Tedy?"
Setelah sampai di kamar, Brian membaringkan Zoya secara perlahan di kasur. Kemudian dia pun menyelimutinya dan langsung pergi, namun lagi-lagi Zoya mengigau dan menahan tangan Brian.
"Kau mau kemana Tedy? Jangan pergi!"
Zoya yang mengigau menarik Brian ke kasurnya.
__ADS_1
"Apa...?"
Buk.
Brian menimpuk tubuh Zoya. Namun wanita itu tetap tidak terbangun walau saat ini Brian berada di atas tubuhnya.
Wajah Brian langsung memerah saat merasakan dua gundukan kenyal itu menempel ke tubuhnya. Seketika pikirannya langsung melayang entah kemana.
"Tidak, ini salah!" Brian pun segera bangkit lagi, namun Zoya masih saja merangkul lengan Brian.
"Tedy..." lirih Zoya.
Brian mulai merasa sedikit pusing menghadapi Zoya yang sedari tadi mengigau. Dia tidak menyangka kalau kekuatan Zoya meningkat di saat dia mengigau.
"Dari tadi si cerewet ini menyebut Tedy, memangnya siapa Tedy. Apa dia teman tid.."
Brian yang sudah mulai kehabisan akal tak sengaja melihat boneka beruang di seberang tubuh Zoya.
"Oh jadi kau yang namanya Tedy," ucap Brian pada boneka beruang itu, kemudian dia dengan segera mengambilnya.
"Apa kau tahu Tedy? Aku merasa kasian padamu karena harus tidur bersama si cerewet ini setiap malam, tapi aku tidak mau mengantikan posisimu. Yang ada tubuhku nanti bisa remuk."
Brian malah berbicara pada boneka beruang itu seperti orang tidak waras. Lalu dia meletakkannya ke samping Zoya, dan secara perlahan dia meletakkan tangan Zoya ke bonekanya.
"Selamat malam Tedy, aku harap si cerewet itu tidak melepaskan lehermu." ucap Brian pada boneka itu, karena dia sudah merasakan betapa kuatnya tarikan Zoya tadi.
Akhirnya Brian bebas juga dan langsung beranjak pergi dari kamar Zoya. Tapi saat dia keluar tiba-tiba saja Brian kepergok dengan ibunya Zoya.
"Tuan muda? Apa yang tuan muda lakukan di kamar Zoya."
Brian langsung menjadi panik saat melihat ibunya Zoya. Entah apa yang akan di pikirkan ibunya Zoya melihat dirinya yang baru keluar dari kamar putrinya malam-malam begini.
"Oh ya, tadi aku mau menanyakan tugas kuliah pada Zoya, tapi kelihatannya dia sudah tidur, jadi aku tidak mau membangunkannya."
"Sepertinya besok pagi saja aku menanyakannya."
Brian menggunakan jurus seribu alasannya dan langsung pergi masuk ke kamar.
Sementara Ratih mencoba mengecek putrinya dan ternyata benar Zoya sudah tertidur pulas. Tapi pikiran-pikiran aneh membayang di dalam benak Ratih.
"Malam-malam begini tuan muda ke kamar putriku?"
"Tidak-tidak, tuan muda Brian bukan pemuda seperti itu, dia berasal dari kalangan terhormat. Lagi pula jika terjadi sesuatu pasti Zoya akan berteriak."
Ratih langsung menghilangkan pikiran aneh itu, karena dia tidak mau sampai berprasangka buruk pada Brian.
...
Pagi harinya Brian duduk di meja makan menikmati sarapan roti yang di siapkan mbok Ratih. Sarapan apa pun yang terhidang di meja Brian tidak akan pernah menolaknya asalkan datangnya tepat waktu.
"Selamat pagi bu." sapa Zoya pada ibunya dan mencium pipi.
__ADS_1
"Pagi, kau terlihat bahagia sekali ada apa ini?" tanya Ratih.
"Ibu tahu malam tadi aku bermimpi tentang seorang pangeran." jawab Zoya kegirangan.
Heh, pangeran apanya? gumam Brian dalam hatinya, tiba-tiba dia merasa geli saat mengingat kejadian tadi malam.
"Benarkah? Oh, semoga putri ibu suatu saat nanti benar-benar bertemu dengan pangerannya." ucap Ratih sambil mencubit pipi Zoya, gemas.
Brian yang tak ingin melihat drama di pagi hari, langsung segera menyelesaikan sarapannya. Setelah dia minum teh dan menyeka mulutnya dengan tisu, dia langsung pergi.
"Cepat selesaikan sarapan mu, aku akan menunggumu di mobil, waktumu 5 menit."
Zoya dan ibunya langsung terkaget keheranan melihat sikap Brian. Kenapa tiba-tiba saja Brian pergi begitu saja.
"Ada apa dengannya?" tanya Zoya sambil memasang ekspresi wajah keheranan.
"Sudahlah, cepat habiskan sarapan mu, jangan buat tuan muda menunggu." seru Ratih.
Lagi pula Brian memang seperti itukan? Jadi Mereka tidak perlu heran lagi melihat sikapnya.
"Oh iya, Zoya kemarin malam ibu melihat Brian keluar dari kamarmu?"
"Benarkah?"
Zoya mengernyitkan dahinya saat mendengar perkataan ibunya tadi. Dia pun langsung teringat saat Brian membangunkannya untuk memasak tadi malam. Setelah dia memasak, dia tidak di langsung kembali ke kamar dan malah molor di meja makan.
"Oh jadi dia yang memindahkan ku ke kamar."
"Memindahkan mu? Memangnya kau tidur dimana tadi malam?"
"Ibu tahu, tadi malam dia membangunkan ku untuk memasak, dia bilang padaku kalau dia sangat lapar, setelah aku memasak untuknya dia tidak mengizinkanku untuk kembali ke kamar, akhirnya aku pun tertidur di meja makan."
"Oh, tapi kok saat ibu memergokinya, dia malah beralasan ingin menanyakan tugas kuliah padamu."
Ratih menjadi bingung dan tidak paham kenapa Brian berbohong. Tapi sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Lagi pula dia lega kalau tuan mudanya itu tidak berbuat macam-macam pada putrinya.
Malahan Brian sudah berbuat baik dengan membawa Zoya kembali ke kamarnya.
"Sudah ayo jalan!" seru Zoya pada Brian saat masuk kedalam mobil, sepertinya mood Zoya lagi baik hari ini.
Brian menyipitkan matanya menatap serius wajah gadis itu. Kemudian dia segera menginjak pedal gas dan beranjak dari sana.
Di dalam mobil Brian sesekali Brian melirik Zoya, "Ada pepatah mengatakan jika kau tiba-tiba bahagia, maka kau akan segera mendapatkan kabar baik?" ucap Brian acuh tak acuh.
Sontak Zoya langsung kegirangan saat mendengar Brian berkata seperti itu. Dia sampai memiringkan badan kesamping dan menatap Brian.
"Benarkah?" tanya Zoya dengan matanya yang berbinar.
"Tidak juga," jawab Brian dengan nada dan ekspresi datar.
Zoya langsung cemberut dan mendecak kesal pada Brian.
__ADS_1
"Tapi kau tidak perlu khawatir aku yakin pangeran Tedy yang kau mimpikan tadi malam pasti akan menjemputmu suatu hari nanti." ucap Brian, sepertinya dia sengaja ingin mengejek Zoya.
Seketika Zoya langsung berkata, "Dari mana kau tahu?"