King Of School

King Of School
Bab 26


__ADS_3

Setelah sampai di rumah dengan kecepatan kilat, Brian segera masuk dan melemparkan tasnya ke sofa. Kemudian di segera menuju ke meja makan. Dia menanamkan prinsip untuk selalu on time, dia tampak tergesa-gesa karena sudah telat beberapa menit untuk makan malam.


"Tuan muda, anda sudah pulang?" sapa mbok Ratih tengah membereskan piring dari meja makan, ekspresinya menjadi kaku.


"Di mana makan malam ku?" Brian melirik kearah meja makan.


"Eee, anu..." Ratih tampak tak bisa berkata-kata karena makan malamnya sudah dihabiskan oleh Zoya dan pak Siman.


Brian kemudian menatap anak dan bapak itu dengan tajam. Mereka hanya bisa diam dan tertunduk malu karena telah menghabiskan makan malam dan tak menyisihkan sedikitpun untuk Brian.


Brian pernah pulang larut malam sebelumnya, saat itu Ratih memasak banyak makanan. Tapi Brian tidak makan, dan makanan pun terbuang sia-sia. Karena itu Zoya dan ayahnya sengaja menghabiskan makanan, mereka kira Brian akan pulang larut lagi.


"Jadi begini cara kalian," ucap Brian dengan nada dan ekspresi sedingin es. "Hanya di rumah ini pembantu diperlakukan setara, sebenarnya aku juga tidak terlalu peduli dengan itu. Tapi kalian juga harus ingat posisi kalian, sepertinya ibuku sudah terlalu baik dengan kalian."


Kata-kata kejam itu pun keluar juga, Brian sudah sangat lelah sehabis bertarung dengan para atlet judo tadi. Sekarang dia sangat lapar, biasanya dia tidak pernah mengungkit masalah ini, dia juga bahkan tidak terlalu peduli bagaimana ibunya Michelle memperlakukan keluarga Zoya dengan baik.


Namun saat ini dia lagi dalam kondisi hyper sensitive, dia tidak mau mentolerir kesalahan sekecil apapun.


"Maaf tuan muda ini semua salahku, aku yang menghabiskan makan malamnya." ucap pak Siman sembari berdiri dan menunduk mohon ampun pada Brian. Dia mencoba untuk melindungi putrinya, padahal jelas-jelas Zoya yang makannya paling banyak.


"Tidak tuan muda, aku yang salah. Kukira kau sudah makan di luar tadi, jadi dari pada semua makanan ini mubasir..." Zoya beralasan. Dia tahu dia salah, karena itu dia tidak akan membantah lebih jauh lagi.


Brian kemudian mengangguk ringan dan berkata, "Sudah cukup! Aku tidak mau tahu, cepat siapkan lagi makan malam ku! Dan segera hantarkan ke kamarku."


"Baik tuan muda aku akan segera menyiapkannya." ucap mbok Ratih dengan panik dan segera hendak pergi ke dapur.


"Tidak, jangan kau, aku ingin Zoya yang menyiapkannya. Dan itu harus sudah siap dalam waktu sepuluh menit!" Seru Brian sembari menunjuk ke arah Zoya. Tampaknya Brian ingin memberi pelajaran pada Zoya.


Kemudian dia langsung naik ke atas dan masuk ke kamar. Ekspresinya terlihat begitu kejam saat mengatakan semua tadi.


Ratih pun segera menyuruh Zoya untuk pergi ke dapur dan memasak sesuatu untuk tuan muda.


"Duh Zoya, ibu sudah bilang tadi, sekarang kau mau masak apa?" tanya Ratih, ekspresinya terlihat sangat tegang seperti seperti semvak baru.


"Masak telur dadar aja kali ya buk? Lagi pula tuan muda itu tidak pernah mengeluh kalau soal makanan apa yang kita siapkan untuknya, kan?" ujar Zoya yang mulai sedikit panik.


"Ya sudah cepat masak, tapi yang enak!" seru Ratih sembari menyodorkan spatula pada Zoya.


Zoya mengangguk-angguk dan segera menyalakan api kompor. Terlihat ibu dan anak itu begitu sibuk, padahal mereka hanya ingin memasak telur dadar. Tapi mereka merasa seperti mengikuti kompetisi master chef saja, begitu tegang karena makanan harus siap dalam waktu sepuluh menit.


Pak Siman yang mengintip dari kejauhan hanya bisa menggelengkan kepala melihat anak dan istrinya. Tampaknya, satu kesalahan kecil yang mereka buat tadi telah mengguncang seisi rumah.

__ADS_1


...


Tak lama kemudian Brian keluar dari kamar mandinya dengan memakai handuk yang menutupi bagian bawahnya saja. Dia menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk yang lebih kecil.


Tapi tiba-tiba saja Zoya menyelonong masuk ke kamarnya sembari membawa nampan yang berisi makan malam untuk Brian. Dan wala...


"Aaa..."


Seketika Zoya berteriak dan langsung memejamkan matanya, dia sangat terkejut melihat keadaan Brian yang telanjang dada dan hanya mengenakan sehelai handuk.


"Hei apa kau tidak bisa mengetuk." ketus Brian dengan tatapan tajam.


"Maaf, maaf, aku tidak tahu sungguh!" Zoya yang sudah mulai panik tak tahu harus berbuat apa, sesekali dia malah membuka matanya untuk mengintip tubuh sixpack Brian.


"Kenapa kau masih berdiri disana? Berbalik!"


Sontak Zoya langsung berputar 360 derajat dan langsung melangkah maju seperti paskibra yang sedang membawa bendera.


"Tunggu mau kau bawa kemana lagi nampan itu." Brian menghentikan Zoya yang ingin membawa pergi makan malamnya.


Karena panik Zoya menjadi sangat linglung, dia kemudian malah berbalik ke arah Brian lagi.


"Maafkan aku, ini makan malam mu!"


Zoya terus berjalan dengan kepala tertunduk dan meletakan nampan itu di meja yang ada di dekat Brian. Kemudian dia langsung pergi keluar.


"Tutup pintunya!" seru Brian dengan nada tinggi, "Dasar wanita aneh!"


...


"Sial... Zoya kenapa kau nyelonong begitu aja, tidak tahu apa yang akan di pikirkan tuan muda arogan itu nantinya."


Di kamar, Zoya memukul-mukul boneka beruangnya karena merasa malu telah memergoki Brian yang sehabis mandi. Tadinya dia sangat panik karena harus menyiapkan makan malam untuk Brian dalam waktu sepuluh menit.


Karena itulah dia tidak sempat mengetuk pintu dan nyelonong gitu aja. "Tapi jika ku lihat sekilas, tubuh tuan muda itu benar-benar sangat ideal. Seperti aktor yang ada di film-film."


Tiba-tiba Zoya malah memeluk bantalnya karena gemas, dan wajahnya berubah merah seperti tomat.


"Tidak, kenapa otakku ini?"


"Aku tidak boleh berpikir seperti itu, lagi pula aku sangat membenci sifat arogannya itu."

__ADS_1


Di saat Zoya asik bicara sendiri seperti orang tidak waras, tiba-tiba ponselnya berdering. Zoya melirik ponselnya dengan tatapan serius.


"Hah ini, tuan muda arogan itu, kenapa dia meneleponku? Dan sejak kapan aku menyimpan nomernya." Zoya menggaruk-garuk kepalanya karena keheranan. Dia belum pernah bertukar nomer dengan Brian sebelumnya. Lantas kenapa tiba-tiba saja nomor Brian sudah tersimpan di ponselnya, mana lagi sudah di beri nama.


Zoya kemudian dengan ragu-ragu mengangkat panggilan itu. "Halo?"


"Kenapa butuh waktu lama bagimu untuk mengangkat panggilanku!?" ketus Brian dari seberang telepon.


"Itu anu..." Zoya masih merasa sangat canggung untuk bicara dengan Brian.


"Kau tidak membawakan air minum untukku, apa kau sengaja ingin aku tersedak?"


Zoya kemudian menepuk jidatnya, itulah karena sangking paniknya dia lupa membawa air minum tadi.


"Oh iya, iya..."


"Apanya yang iya, cepat ambilkan dan bawa kesini!"


Brian membentak Zoya dan langsung menutup panggilan itu. Zoya tersentak dan langsung melompat dari kasur seperti kijang, dia bergegas lari turun ke dapur untuk mengambilkan air minum.


Gak nanggung-nanggung dia langsung membawa satu ceret penuh. Ratih yang ada di dapur mengernyitkan dahinya melihat Zoya yang tergesa-gesa seperti sedang sesak boker.


Setelah itu dia bergegas menuju kamar Brian, tidak mau kejadian yang sama terulang lagi Zoya pun mengetuk pintu sebelum masuk. Setelah mendapat izin, dia baru membuka pintu dan melangkah masuk.


Brian menyipitkan kedua matanya saat melihat Zoya masuk, "Dimana gelasnya? Maksudmu aku harus minum langsung dari ceret, begitu?" ketus Brian saat melihat Zoya yang tidak membawa gelas.


Zoya langsung lemas dan kembali berlari turun untuk mengambil gelas.


"Zoya dari tadi ibu lihat kau terus mondar-mandir, ada apa?" tanya Ratih yang sedang membersihkan dapur.


"Jangan tanya buk, otakku lagi blank." jawab Zoya, ekspresinya terlihat lemas, kemudian dia langsung bergegas kembali ke kamar Brian.


Setelah memberikan minum pada Brian, Zoya terduduk di sofa kamar Brian karena letih turun naik tangga dari tadi. Melihat Zoya yang tampak ngos-ngosan, Brian kemudian menawarkan minum juga padanya.


"Kenapa kau tidak minum juga!?"


Dengan sigap Zoya kemudian merampas gelas itu dari Brian dan langsung menuangkan segelas air untuknya.


Brian menyipitkan kedua matanya dan berkata, "Itu gelas bekas ku!"


Zoya kemudian melirik Brian dan berkata, "Masa bodo!"

__ADS_1


__ADS_2