King Of School

King Of School
Bab 27


__ADS_3

Keesokan hari setelah menyelesaikan kelas mata kuliahnya, seperti biasa Brian duduk menyendiri di kafetaria kampus sembari menikmati secangkir cappuccino hangat.


Semua mahasiswi yang ada disana terus memperhatikan Brian sedari tadi. Mereka tidak bisa menahan lidah mereka untuk tidak bergosip tentang dirinya.


"Andai saja dia itu tidak dekat dengan Zoya, sudah pasti aku akan mengejarnya."


"Yah wanita itu pasti sudah mencuci otak Brian, sangat disayangkan pria tampan dan kaya seperti Brian mau jatuh kedalam cengkraman pembantunya sendiri."


Namun Brian tidak menghiraukan orang-orang sekitarnya. Baginya, provokasi yang dilakukan Vince terhadap dirinya ini hanyalah permainan anak-anak. Vince sengaja menyebarkan rumor palsu ini hanya untuk membuat mental Brian down. Tapi Brian sudah tidak mau terpancing lagi semenjak pertarungan waktu itu.


Tidak lama Brian duduk bersantai, tiba-tiba saja ada seorang gadis cantik menepuk bahunya dari belakang. Penampilan gadis itu sangat modis, rambutnya terurai dan berwarna hitam dengan gradasi merah di bagian bawah.


"Hei kamu pasti Brian si anak baru itukan?" tegur wanita itu dengan nada lemah lembut.


Sontak Brian menoleh kebelakang dan menatap dengan acuh tak acuh wajah yang seindah lukisan itu.


"Apa aku boleh gabung denganmu?" tanya wanita itu yang ingin duduk di sebelah Brian.


Namun Brian tidak memperdulikannya dan malah bersikap cuek. Hal semacam ini sering terjadi pada dirinya, semasa dia duduk di bangku SMA dulu juga banyak wanita yang ingin caper. Jadi dia mencoba untuk tidak peduli, sehingga pada akhirnya jika dicuekin terus gadis ini akan pergi dengan sendirinya. Begitulah yang ada di dalam pikiran Brian.


Akan tetapi gadis tadi bukannya merasa tersinggung dengan sikap Brian, dia malah semakin tertarik.


"Sikap diam mu ini benar-benar berbeda dari pria yang pernah aku temui." ucapnya.


"Apak kamu tahu, semenjak perkelahian antara dirimu dan Vince waktu itu. Kamu sudah menjadi perbincangan panas banyak murid di kampus ini."


"Aku tidak menyangka ada orang yang berhasil lolos dari Vince, bahkan Sean saja terpaksa kehilangan martabatnya karena menentang Vince."


"Tapi kau dengan hebatnya telah berani menantang Vince di hadapan semua orang, aku sangat kagum padamu."


Sepertinya gadis ini sangat terkagum saat Brian menantang Vince dihadapan semua orang waktu itu.


Pada awalnya Brian sangat cuek, tapi seketika salah satu alisnya naik keatas saat saat mendengar wanita itu menyebut nama Sean.


"Kau bilang tadi Sean kehilangan martabatnya?" tanya Brian dengan ekspresi yang mulai sedikit serius.


"Dari mana kau tahu?"


Setelah Brian akhirnya mau bicara juga, wanita itu pun langsung memberanikan diri untuk duduk di sebelah Brian. Dia mulai tersenyum manis seperti aktris di iklan pasta gigi.


"Tentu saja aku tahu, bahkan semua orang di kampus ini juga tahu."


"Oh ya, perkenalkan namaku Kimberly Deffon, orang-orang biasa memanggilku Kim." ucapnya sembari mengulurkan tangan kearah Brian.


Bukannya menyambut jabat tangan dari Kimberly, Brian malah membuang pandangannya ke samping sembari menyesap capuccino hangat itu.

__ADS_1


"Tidak ada jabat tangan ya, oke..." gumam Kim.


"Aku ingin tahu kenapa Sean melawan Vince?"


Brian sedikit tertarik dan menjadi penasaran karena Kim membahas soal Sean.


"Karena Vince mencoba merebut diriku dari Sean." Kim langsung menjawab dengan cepat.


Brian mengernyitkan alisnya kemudian melirik wajah cantik Kim dengan penuh arti. Dia baru saja bilang kalau dirinya diperebutkan oleh Vince dan Sean?


"Sebenarnya kejadian itu sudah sangat lama, saat itu Sean tak sengaja melihatku jalan dengan Vince."


"Dan perseteruan diantara mereka pun terjadi."


"Tapi Sean dan teman-temannya berhasil dikalahkan oleh Vince, dan apa kamu tahu Sean bahkan sampai terpaksa mengenyam tidur satu malam di balik jeruji besi."


Kim sengaja menjelaskan semua konflik antara Sean dan Vince, karena dia tahu hanya dengan membahas topik inilah Brian mau bicara dengannya.


Sementara Brian terus mendengarkan dengan seksama. Dari yang ia dengar, tampaknya Vince tak hanya berpengaruh di dalam kampus ini saja. Namun di luar sana dia juga memiliki otoritas yang cukup kuat.


Buktinya Sean sang penguasa jalanan tak mampu mengalahkan Vince di luar kampus. Brian semakin mengerti kalau Vince ini bukanlah orang sembarangan.


"Kau sepertinya tahu banyak tentang Sean." ucap Brian dengan memasang wajah datar.


"Kalau kau pacaran dengan Sean selama itu, lalu kenapa kau mau jalan dengan Vince." Brian bertanya dengan acuh tak acuh. Brian mulai berpendapat buruk pada Kimberly.


Kimberly tadinya ingin menjawab pertanyaan itu, tapi tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Dia kemudian berdiri dan mengangkat panggilan itu.


Sementara Brian masih duduk dengan santai sembari mengaduk secangkir Cappuccino, sesekali dia melirik wajah Kim yang tengah asik ngobrol dengan orang yang sedang meneleponnya.


"Maaf yah Brian, aku harus pergi sekarang."


"Jika kau ada waktu mungkin kita bisa jalan untuk minum kopi atau semacamnya sambil melanjutkan pembahasan kita tadi."


"Senang bicara denganmu, bye muach."


Kimberly kemudian melenggang pergi sambil melemparkan kecupan tangan kearah Brian. Mata Brian menyipit menatap wanita itu, tampaknya ada yang aneh. Kenapa tiba-tiba saja Kim datang menemuinya hanya untuk mengatakan semua itu.


"Wow Brian aku tidak tahu ternyata kau tukang selingkuh ya."


Tiba-tiba saja kepala Edi nongol dari samping kiri wajah Brian. Dia membisikan kata-kata itu ke telinga Brian sambil menatap Kimberly yang berjalan pergi.


Sontak Brian melirik ke samping dengan ekspresi wajah sedingin es.


"Katakan itu sekali lagi, maka akan ku robek mulutmu itu dengan sendok ini."

__ADS_1


Seketika Edi langsung menjauhi Brian dan berkata, "Maafkan aku Brian, tapi kurasa kau tidak akan melakukan itu. Jika tidak nanti aku akan memberitahu Zoya kalau kau..."


"Kalau aku apa?"


Belum sempat Edi menyelesaikan kalimatnya, Brian langsung menodongkan sendok ke mulut Edi. Satu hal lagi yang membuat Brian tidak senang adalah sebuah ancaman. Beraninya Edi mengancam Brian seperti itu.


"Apa kau ingin memberitahu pada Zoya kalau aku seorang playboy, maka silahkan saja."


"Tidak, tidak, aku hanya bergurau saja tahu."


Edi langsung ketakutan saat melihat tatapan mata Brian yang seperti harimau itu. Seharusnya dia tahu kalau Brian bukan orang yang suka bercanda. Brian kemudian dengan tenang kembali menyesap cappucino.


"Oh ya ngomong-ngomong soal Zoya, tadi dia bilang padaku kalau kau tidak perlu menunggunya. Saat ini dia sedang pergi ke gedung studio kami untuk menyelesaikan masalahnya dengan Jhony."


"Hei apa cappuccino ini belum diminum." ucap Edi yang mencoba mengambil secangkir Cappuccino yang sengaja dipesankan Brian untuk Zoya.


Brian tertegun sejenak saat mendengar perkataan Edi tadi. Zoya ingin menyelesaikan masalah dengan Jhony? Tanpa memberi tahu dirinya? Lagi?


Brian kemudian berdiri dan menatap dengan tajam kearah Edi, terlihat dia sepertinya sangat marah.


"Apa yang kau katakan tadi ha?" bentak Brian.


Seketika semua orang terkejut dan langsung menoleh kearah Brian. Sementara Edi yang di bentak oleh Brian, langsung meletakan kembali secangkir Cappuccino yang diambilnya tadi.


Dia tampak sangat terkejut, ekspresi wajahnya langsung pucat. Brian benar-benar sangat menakutkan, dia bisa merasakan aura yang begitu kuat keluar dari tubuh Brian.


"Katakan padaku dimana saat ini Zoya berada!" seru Brian sembari menarik kerah baju Edi, badannya begitu tinggi sehingga kaki Edi berjinjit ketika di tarik Brian.


"Sa-saat ini Zoya sedang ke studio bersama dengan Jhony." Edi sangat ketakutan, bisa didengar dari cara bicaranya yang terbata-bata.


"Kenapa kau membiarkannya pergi sendiri! Bukankah kau bilang Jhony itu sangat berbahaya." ucap Brian dengan nada tinggi.


Melihat semua orang mulai memperhatikannya, Brian pun langsung memilih untuk beranjak pergi dari sana sambil menyeret kerah baju Edi. Dia tidak ingin sampai menimbulkan keributan yang sama lagi.


"Hei kau mau bawa aku kemana."


"Kau harus ikut denganku untuk menyelesaikan perkara tentang Jhony ini untuk selamanya."


Mendengar perkataan Brian itu, membuat Edi meneguk kembali air ludahnya. Sepolos apapun dirinya, tentu dia tahu maksud dari perkataan Brian.


"Tidak Brian biarkan aku pergi! Lihat, cappuccino sangat sayang kalau tidak diminum."


Namun Brian tidak menghiraukan Edi yang meronta-ronta dan tetap menyeretnya.


Zoya benar seharusnya aku tidak mengatakan pada Brian, kalau dia pergi dengan Jhony, huhu.

__ADS_1


__ADS_2