King Of School

King Of School
Bab 41


__ADS_3

Trisha kembali dengan membawa beberapa gelas berisi jus. Dia pun mulai meletakkannya satu persatu ke atas meja. Dan saat dia meletakkan gelas ke Zoya, terlihat tatapannya begitu jahat.


"Terima kasih Trish, tapi bukankah aku tadi minta air putih." tanya Zoya dengan ekspresi yang agak aneh.


"Maaf Zoya, air putihnya habis aku sudah berusaha mencari kemana-mana. Jadi aku bawakan kamu sirup ini aja gapapa kan?" Trisha beralasan, memang dia tadi membawakan air putih untuk Zoya tapi sekarang air itu berubah warna menjadi kuning seperti sirup.


"Baiklah gapapa kok."


"Kalau begitu minum dong, kamu gak mau makan tapi setidaknya kamu harus minum, inikan pesta ulang tahunku."


Trisha memaksa Zoya untuk meminum air itu, tapi saat ini Zoya benar-benar kehilangan seluruh seleranya, bahkan untuk minum. Dia mulai merasa ada yang tidak beres, seharusnya Brian dan Kimberly sudah muncul dari tadi.


Ada yang aneh, seharusnya Brian dan Kimberly sudah datang. Apa Brian tidak jadi pergi, atau jangan-jangan mereka pergi ke tempat lain.


Tiba-tiba Zoya malah berpikiran yang aneh-aneh. Dia tidak tahu kalau saat ini Brian sedang berhadapan dengan seorang penguasa jalanan, Sean Claude.


...


Disisi lain, terlihat mobil Brian sedang melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan. Di belakangnya ada sebuah Ferrari berwarna merah yang mencoba untuk menyusulnya.


Beruntung saat ini jalanan cukup sepi, jadi mobil Brian dan Ferrari itu dapat melaju tanpa ada halangan sedikitpun.


Brian mengemudikan mobilnya dengan sangat hebat, dia mampu melakukan drift dengan sangat mulus di setiap tikungan.


Akan tetapi si pengemudi Ferrari yaitu Sean, juga sama hebatnya. Bahkan dia mulai mendekati Brian dan mencoba untuk menyenggolnya.


"Kau cukup mengesankan, Sean." gumam Brian sambil melirik spionnya.


"Aku tidak pernah bertemu dengan pembalap jalanan sehebat dirimu, tapi saat ini aku sedang terburu-buru. Ada seseorang yang harus aku selamatkan, jadi mari kita akhiri ini segera."

__ADS_1


Brian menancap gas hingga mencapai kecepatan maksimumnya. Dia sangat ingin sekali berhadapan langsung dengan Sean saat ini. Akan tetapi Zoya lebih membutuhkannya saat ini.


"Kau ingin kabur dariku ha," ucap Sean, dengan tatapan yang sangat mematikan, "jangan harap kau bisa lolos."


Sean menarik tuas persnelingnya dan memencet sebuah tombol, seketika dia melaju dengan secepat kilat mengejar Brian.


"N.O.S?" ucap Brian ekspresinya mulai berubah sekarang.


Dari segi kecepatan aja mobil mereka sudah berbeda jauh, Ferrari adalah mobil sport sedangkan Roll Royce bukan. Tapi Sean masih menggunakan N.O.S untuk mengejar Brian?


Tampaknya dia benar-benar tidak ingin membiarkan Brian lolos. Seketika posisi mobil mereka mulai setara, Brian pun melirik ke samping. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Sean lebih sulit dari yang ia duga.


Sean yang sudah sangat marah pada Brian, langsung membanting setirnya ke kiri dan seketika mobilnya menghantam mobil Brian.


"Heh, kau benar-benar menyebalkan ya."


Brian pun tidak mau tinggal diam dan ikut juga membalasnya. Kedua mobil itu pun saling bergesekan, terlihat beberapa pecahan kap mobil berceceran di aspal.


"Biasanya aku tidak pernah mundur dari pertarungan, tapi kali ini berbeda. Aku masih harus menyelamatkan si cerewet itu. Aku akan berurusan denganmu lain waktu."


Brian melihat di depan ada sebuah penghalang yang memblokir jalan. Tapi bukannya mencoba untuk berhenti, Brian justru menancap gasnya.


"Apa dia sudah gila, dia ingin mati?" umpat Sean sambil menginjak rem. Dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan Brian. Tapi yang pasti itu sebuah kegilaan, Brian akan menabrak penghalang yang memblokir jalan itu.


Swosssh.


Seketika mobil Brian terbang melewati pembatas jalanan, Sean yang melihat itu langsung menganga dan sangat terkejut.


Mobil Brian melayang di udara dan akhirnya mendarat kembali dengan mulus di aspal. Ternyata dia terbang melewati penghalang tadi dengan cara memanfaatkan sebuah tanjakan papan yang ada di sana. Dia kemudian berhenti sejenak dan membuka jendela mobilnya untuk memberikan sedikit ejekan pada Sean.

__ADS_1


Sean yang melihat itu langsung keluar dari mobil dan membanting topinya ke aspal karena kesal. "Sial! Baiklah, kau bisa lolos kali brengs*k. Tapi lain kali aku pasti akan menghabisi dirimu!" umpat Sean dengan kesal.


Brian pun langsung puas melihat ekspresi wajah Sean yang merasa jengkel. Kemudian dia langsung menginjak gasnya dan meninggalkan tempat itu.


...


Sementara di dalam klub, terlihat Zoya mulai mengambil gelas dan hendak meminum sirup yang diberikan Trisha. Tapi tiba-tiba saja dia berhenti sejenak dan mulai merasa sedikit ragu.


"Ada apa Zoya?" tanya Trisha.


"Kayaknya aku pulang aja deh Trish, sepertinya ini sudah terlalu larut." jawab Zoya dan meletakkan kembali gelasnya.


Trisha pun menghela nafas ringan dan memutar kedua bola matanya ke samping, "Zoya ayolah masih jam sepuluh, lagian ini pestaku dan kau sahabatku. Bagaimana kau bisa pulang tanpa makan dan minum sedikitpun? Minum dulu sirup itu, baru ku izinkan kau pulang."


Zoya pun tersenyum ringan dan berkata, "Baiklah, untuk sahabatku."


Perlahan dia mulai menyesap sirup itu sedikit, "Kenapa sirup ini rasanya agak aneh," setelah mengecap sedikit, Zoya merasakan sirup yang dia minum itu terasa aneh dan baunya juga seperti bau sebuah obat.


"Mungkin karena gelasnya kali, kalau memang terasa agak aneh ya udah jangan di minum lagi." Trisha sengaja mengatakan itu agar membuat Zoya merasa segan.


Dan benar aja, bukannya menyudahi minumannya. Zoya malah menghabiskan segelas penuh air yang sudah dicampur obat itu. Melihat itu Trisha benar-benar terkekeh di dalam hatinya, dia tahu kalau Zoya pasti akan selalu patuh padanya.


Karena mereka sudah bersahabat sejak lama, Zoya menjadi tidak enak jika menolak minuman yang diberikan Trisha. Dia benar-benar masih menaruh kepercayaan penuh pada Trisha.


Zoya memang tipe orang yang sulit dekat dengan orang asing, tapi sekalinya nyantol, maka hatinya tidak akan pernah bisa move on. Karena itu, walaupun Trisha sudah mengkhianatinya, Zoya merasa harus memberikan kesempatan sekali lagi pada Trisha. Dia tidak mau sampai kehilangan sahabatnya ini.


Setelah itu, Trisha langsung pergi ke meja dj yang ada di sana. Dia meminta dj untuk mulai memainkan musik dengan sangat keras, itu ia untuk memancing reaksi dari obat yang telah diminum Zoya.


"Sebelumnya aku sangat berterima kasih pada kalian semua atas kehadiran kalian di pesta ulang tahunku ini." ucap Trisha kepada semua orang yang hadir dengan menggunakan mik.

__ADS_1


"Sekarang mari kita mulai berpesta!"


Seketika musik langsung di mainkan, semua orang yang hadir juga ikut bersorak riuh setelah mendengar Trisha mengatakan itu. Mereka semua pun mulai menari secara bersama-sama di ruangan itu.


__ADS_2