King Of School

King Of School
Bab 84


__ADS_3

Mansion Cody Famili.


Setelah mengalami tragedi yang tak terduga, akhirnya Zoya dan Brian sampai juga di rumah. Zoya berjalan kearah sofa ruang tamu dengan tubuh yang sangat lemas, kejadian tadi sudah membuat tubuhnya terasa limbung, dan dia pun menjatuhkan dirinya ke sofa yang empuk itu.


Sementara Brian terus berjalan dan menaiki tangga menuju arah kamarnya. Saat berada di tangga dia berselisih dengan adiknya, Kiara.


"Kakak, kalian sudah pulang." sapa Kia dengan senyuman sehangat cahaya mentari pagi.


Brian tidak menjawab dan berlalu begitu saja.


Melihat wajah kakaknya yang dipenuhi gunung es, Kia pun hanya bisa mengangkat kedua bahunya keatas. Dia sudah terbiasa melihat ekspresi kaku itu sejak kecil.


Namun karena sudah tiga tahun semenjak Kiara melanjutkan sekolah tahap akhirnya di London, hawa dingin Brian sedikit mempengaruhi Kiara, sehingga membuat dia tidak mau mengganggu kakaknya kali ini.


Siapa sangka sifat Brian yang dingin itu semakin bertambah seiiring dengan usianya?


Sekarang perhatian Kia justru lebih terfokus pada Zoya yang sedang menyandarkan dirinya di sofa, tampak lemas dan tak berdaya.


Kiara gadis yang periang, dia tidak mengerti saat ini kondisi mental Zoya sedang tidak baik dan tetap melakukan hal yang diinginkannya.


Dor...


Kiara mengagetkan Zoya dari belakang, sehingga membuat gadis malang itu melompat di sofa.


"Kia..." Zoya meraung.


Melihat reaksi Zoya membuat Kiara terkekeh puas, "Setelah menghabiskan waktu bersama di kampus dengan kakakku, kenapa wajahmu masih terlihat kusut? Katakan kak, ada apa?"


Zoya memutar kedua bola matanya kearah Kia sembari menghela nafas, "Tidak ada Kia, aku hanya lelah." Zoya saat ini sedang tidak mau berdebat, kejadian tuan mudanya yang memarahinya tadi masih terngiang-ngiang di telinganya.


Walaupun Zoya selalu tampak tegar didepan orang asing, tapi dia sebenarnya sangat rapuh di dalam. Dia masih bisa terima dimarahi dan dibentak oleh orang lain, tapi tidak dari orang yang ia cintai.


Kenapa Brian begitu marah tadi? Padahal Zoya sama sekali tidak mengatakan hal yang salah, bukan? Justru niat Zoya sangat baik, ingin memberi semangat pada Brian yang mengatakan kalau dirinya tidak pernah mendapat kasih sayang.

__ADS_1


"Kakak, kau berbohong, apa kakakku sudah menyinggung perasaanmu?" Kiara gadis yang pintar, matanya sangat tajam membaca mimik wajah seseorang sama seperti Brian.


"Enggak kok Kia..." lirih Zoya.


"Lalu apa, kakakku selingkuh? Kakak ipar jika kau memiliki masalah dengan dia, ceritakan saja padaku, aku akan memberinya pelajaran." seru Kia dengan penuh tekad.


Zoya melepas kacamatanya dan memijat hidungnya, jika terus begini Kiara akan terus mengatakan hal-hal omong kosong yang akan membuat kepalanya semakin pusing saja.


Dia pun menceritakan tragedi tabrakan tadi kepada Kia untuk mengalihkan topik. "Kia, kami tadi tidak sengaja menyerempet seorang anak kecil."


"Apa?" Kia terkejut. "Lalu... lalu...?"


"Yah, kakakmu pria yang sangat bertanggung jawab dan membawa anak itu ke rumah sakit. Syukurlah kondisinya tidak parah, hanya cedera ringan saja." Zoya menjelaskan.


"Hufff, kakak, kau baru saja membuat jantungku berasa mau copot dengan memberi kabar seperti itu." Kiara menarik nafas lega.


"Yah, kejadian tadi sama sekali tak terduga, hanya saja sepertinya takdir memang telah merencanakan segalanya, tapi..."


"Tapi apa kak?"


Dan secara tiba-tiba dia bangkit, lalu naik keatas.


"Hah, apa yang sebenarnya terjadi dengan kak Brian dan kakak ipar?" Kiara yang ditinggal sendirian terheran.


...


Di satu sisi, kabar tabrakan Brian tadi siang sampa juga di telinga Vince. Ternyata Jullyan secara tak sengaja ada di rumah sakit tempat yang sama Frans melarikan adiknya. Jullyan mendengar semuanya dan melihat pertikaian antara Brian.


Mendapat kabar ini, bagaikan mendapat sebuah pesan dari surga bagi Vince. Seringai licik pun mulai terukir di wajahnya.


"Itu berita bagus, kita tahu benar kalau Frans pria yang seperti apa. Dia tidak akan melepaskan Brian dengan begitu mudah, sepertinya kali ini Brian bakal mendapat masalah secara beruntun."


Vince tertawa lepas seperti iblis, kejadian yang menimpa Brian benar-benar akan sangat menguntungkannya.

__ADS_1


"Belum lagi, Frans itu adalah bagian dari geng Crimson, dan juga beberapa hari yang lalu kita sudah menyulut api antara Brian dan geng Crimson. Brian pasti tidak akan punya kesempatan hidup kali ini." ujar Vince.


"Kau benar Vince, ide untuk mengkambing hitamkan Brian sebagai pelaku pembunuhan Raven itu, ternyata sangat tepat. Geng Crimson saat ini pasti sedang mengejar Brian, karena Leo selaku pemimpin pasti tidak akan tinggal diam kalau sepupunya dibunuh." jelas Jullyan dengan senyuman jahat yang sama seperti Vince.


Kedua orang itu menuangkan segelas sampanye dan bersulang untuk merayakan kemenangan mereka yang masih belum pasti.


Di tengah menikmati suasana yang begitu bahagia, tiba-tiba suara dering dari ponsel Vince pun terdengar.


Dengan segera ia mengangkat saat mengetahui nama kontak orang yang meneleponnya.


"Ada apa, kenapa kau menelponku malam-malam begini?" tanya Vince, nadanya terdengar sedikit lebih rendah dari biasanya.


"Kau terdengar sangat bahagia saat ini, sehingga kau merasa terganggu saat aku menelpon." suara seorang pria terdengar dari seberang telepon.


"Kau tahu aku tidak mungkin akan menolak panggilan mu, hanya saja tidak biasanya kau menelpon jam segini?"


"Heh, terserah padaku ingin menelepon mu siang atau malam, apa kau mulai keberatan dengan hal itu?"


Vince terdiam dan tak berkata-kata lagi, jujur saja di dunia ini tidak ada yang ia takuti selain pria yang saat ini sedang menelponnya. Itu karena pria yang sedang bicara padanya saat ini, memiliki status yang sangat luar biasa.


Bahkan seharusnya Vince bersujud jika ingin bicara padanya. Namun karena mereka sudah saling kenal, jadi Vince sedikit bisa lebih santai.


"Kawan, kau adalah prioritas utamaku, kau tahu betul betapa aku sangat menghormatimu." Vince benar-benar menyanjungnya.


"Begitulah seharusnya, kau harus ingat! Aku memberimu status yang tinggi di Leighton hanya untuk sementara saja. Jangan sampai itu menjadikanmu bisa bersikap sombong di hadapanku." ucap pria di seberang telepon dengan sangat angkuh, kalimat dan nadanya penuh dengan dominasi.


Vince tersenyum getir mendengar itu, lalu dia berkata, "Tentu saja aku ingat. Lagi pula saat kau mengambil alih nanti, aku sudah tidak berada di Leighton lagi."


Tawa iblis terdengar keras, sehingga memekakkan telinga Vince, "Bagus, aku menjadikanmu raja sementara di Leighton agar saat aku tiba tidak ada hama yang menjengkelkan lagi di sana, dengan begitu aku dapat menduduki tahtaku secara tenang. Dan ngomong-ngomong soal hama, apa kau sudah membereskannya?"


"Tenang saja, karena para elit yang kau kirimkan sudah sampai, hama itu akan segera lenyap. Saat ini aku sedang menyusun rencana yang tepat agar dia tidak bisa lolos lagi." jelas Vince.


Pria yang diseberang telepon tertawa puas sekali lagi, "Baiklah kuserahkan padamu, beberapa hari lagi aku akan kembali kesana dan kuharap semuanya sudah beres. Saat aku menginjakan kaki di Leighton, aku ingin semua orang menyambut ku dengan penuh hormat!"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2