
Setelah film selesai mereka mengambil tempat duduk di lobby untuk beristirahat sejenak.
"Haaaaah, kamu tahu dari mana tuan muda kalau aku suka film horor." ucap Zoya sembari meregangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, duduk selama hampir dua jam pasti membuat pinggang terasa encok.
"Aku sama sekali tidak suka, jika sejak awal aku tahu kalau itu film horor maka lebih baik aku menunggu di mobil tadi." Edi berceloteh sambil menyantap sisa popcorn.
Sementara Brian terus mendengarkan kedua orang itu dengan acuh tak acuh. Tidak lama kemudian tiba-tiba saja Brian mendapat sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Pesan itu bertuliskan, "Aku terima tantangan mu itu baj*ngan, datanglah ke klub judo ku sekarang! Tertanda Jhony."
Brian menyipitkan matanya saat membaca pesan itu. Sejak kapan dia mengirimi Jhony sebuah tantangan. Memang benar tadi siang dia berniat ingin memberi pelajaran pada Jhony, tapi mereka kan tidak sempat bertemu.
"Ada apa Brian?" tanya Zoya yang penasaran melihat ekspresi Brian tiba-tiba berubah.
Brian kemudian melirik Zoya dan Edi, dia berpikir sejenak, jika dia membawa mereka bersamanya itu mungkin akan sangat merepotkan. Brian akhirnya membuat keputusan.
"Cerewet kau bisa mengemudi?"
Sontak Zoya yang tengah asik mengisap minumannya dengan pipet langsung tersedak. Tiba-tiba saja Brian malah menanyakan hal seperti itu. Jangankan mengemudi, memegang setir saja dia belum pernah.
"Jika kau ingin kita menabrak tembok maka biarkan aku yang mengemudi."
"Kalau begitu akan aku pesankan taksi online untuk kalian, aku tidak bisa pulang dengan kalian ada hal yang harus aku lakukan."
"Tapi..."
Brian langsung berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Zoya dan Edi. Tidak tahu entah mengapa Jhony tiba-tiba mengirim pesan tadi. Tapi yang pasti Brian tidak akan melewatkan kesempatan ini, ini adalah waktu yang tepat untuk menaklukan Jhony. Sekaligus memberinya sedikit pelajaran karena telah berani melecehkan Zoya.
Brian bukan tipe orang yang mau menunda-nunda, ini adalah kesempatan emas baginya. Sekarang dia punya alasan yang jelas untuk menghajar Jhony. Yah Brian tidak mau memulai pertikaian sebelum dirinya terprovokasi.
Sementara itu Zoya dan Edi hanya bisa saling bertukar pandang karena keheranan. Mereka tidak tahu mengapa tiba-tiba saja Brian pergi.
"Tapi sudahlah untung semua sudah di bayar!" ucap Edi.
Zoya kemudian melemparkan es batu ke wajah Edi, "Kau ini."
...
Mobil Brian melaju kencang membelah jalanan kota. Terlihat wajahnya begitu tajam menatap aspal. Sesekali dia membuka ponselnya untuk melihat lokasi klub judo yang telah di share oleh Jhony tadi.
Akhirnya Brian sampai di klub judo, dia langsung turun dari mobil dan berjalan dengan santai menuju pintu masuk.
Akan tetapi tiba-tiba saja seseorang menahan bahunya dari belakang. Sontak Brian menoleh kebelakang dengan tatapan sedingin es.
"Hei kau mau kemana?" tanya pemuda yang menghentikan langkah Brian tadi.
"Aku mau masuk," ucap Brian dengan nada santai.
"Kau tidak boleh, hanya anggota klub saja yang bisa masuk," pemuda itu melarang Brian untuk masuk kedalam.
"Jhony yang mengundangku kesini, dia mengirimiku pesan tadi," Brian mengeluarkan ponselnya dan langsung menunjukan pesan Jhony tadi kepada pemuda itu.
Setelah melihat pesan itu, pemuda itu tiba-tiba mengangguk. Kemudian dia berpindah ke depan Brian dan menyilangkan kedua tangannya.
"Jadi kau orangnya, apa kau tahu dengan siapa kau berurusan saat ini."
"Kau memiliki nyali juga dengan datang kesini seorang diri."
Brian yang sudah mulai muak dengan celotehan pemuda itu, segera melangkah maju. Namun pemuda tadi tiba-tiba menahan dada Brian dan mendorongnya ke belakang.
"Eits tunggu dulu jagoan, aku tidak akan membiarkanmu masuk begitu saja."
__ADS_1
"Aku kemari untuk Jhony, aku tidak punya banyak waktu berurusan dengan keroco sepertimu."
"Apa kau bilang?"
Darah pemuda tadi seketika mendidih mendengar perkataan Brian. Dengan cepat dia melayangkan sebuah tendangan ke wajah Brian.
"Rasakan ini sampah!"
Buk.
Brian menahan tendangan itu hanya dengan satu tangan. Kemudian Brian memutar pergelangan kaki pemuda tadi hingga dia menjerit kesakitan.
"Arghhhh... dasar baj*ngan."
"Kau tidak mengizinkanku masuk, kan? Kalau begitu ku paksa kau untuk membukakan pintu itu!"
Brian kemudian menendang pemuda tadi hingga melayang dan menghantam pintu klub judo hingga terbuka lebar.
Setelah itu dia mulai berjalan masuk kedalam dengan santai. Terlihat di dalam sana sudah ada beberapa orang dengan seragam judo, mereka tampak sangat terkesiap melihat pemuda yang di tendang Brian tadi terseret masuk.
Mereke semua segera membantu pemuda yang meringkuk kesakitan di lantai itu.
"Siapa yang telah berani melakukan ini?" teriak salah satu dari mereka.
"Aku!" jawab Brian yang muncul dari pintu masuk, ekspresinya masih terlihat sangat tenang.
"Kau, siapa kau?"
"Namaku Brian, aku kesini untuk menerima tantangan dari Jhony."
Semua orang yang ada di sana langsung saling bertukar pandang satu sama lain. Mereka tidak tahu dari mana Brian berasal, tapi mereka tidak bisa menerima temannya di hajar begitu saja.
"Apa? Jadi dia belum sampai, benar-benar buang waktuku saja."
Brian langsung menengok arlojinya, sekarang jam sudah menunjukkan hampir waktunya makan malam. Karena Jhony belum sampai, jadi dia memutuskan untuk pulang saja.
"Tunggu, kau mau kemana?"
Seketika dua pria atlet judo menghalangi pintu. Tampaknya mereka tidak akan membiarkan Brian lolos begitu saja.
"Kau sudah berani datang kesini dan memukul salah satu dari kami."
"Kau tidak bisa pergi begitu saja."
Brian hanya menaiki salah satu alisnya dan mulai menatap sekeliling dengan serius. Terlihat semua atlet judo itu mulai mengelilinginya.
"Aku harus segera pergi, ini sudah waktunya makan malam." ucap Brian sembari memperlihatkan jam tangan peraknya.
"Heh, ternyata dia ini hanya si anak manja, kenapa? Apa kau takut ibumu nanti marah, karena pulang telat."
Para atlet judo itu, mulai menatap Brian dengan cemoohan. Mereka hanya tak menyangka kalau Brian akan mengatakan hal semacam itu. Apa itu hanya sebuah alasan untuk melarikan diri?
"Jangan pernah bawa-bawa ibuku!"
"Haha, tampaknya si jagoan ini sangat sensitif kalau soal ibunya. Lantas kenapa kau datang kesini dan membuat masalah. Seharusnya saat ini kau tetap berada di rumah dan memeluk ketiak ibumu itu, haha."
Plak.
Brian melayangkan sebuah tamparan pedas kepada salah satu atlet judo yang berani menyepelekan ibunya.
"Beraninya kau, hajar dia!"
__ADS_1
Semua atlet judo itu mulai bergerak dan menyerang Brian. Namun tidak satupun serangan mereka mengenai Brian. Dengan mudahnya Brian menghindari semua serangan yang terarah padanya.
Dia bergerak kesana dan kemari dengan sangat lincah. Tak hanya menghindar, dia juga memberi serangan balasan. Satu persatu para atlet judo itu tumbang dan tak bisa bangkit lagi karena tinju dari Brian.
Brian mampu mengalahkan mereka semua dalam waktu kurang dari lima menit. Terlihat para atlet judo tadi semuanya mengerang kesakitan di lantai. Mereka benar-benar tak mengira kalau Brian sehebat ini.
Bip, bip... bip, bip.
Tiba-tiba alarm jam tangan Brian berbunyi menandakan sudah waktunya makan malam. Dia juga bisa merasakan perutnya sudah mulai keroncongan.
Dengan segera dia mengeluarkan sapu tangan dari kantong dan menyeka telapak tangannya dengan santai.
"Katakan pada Jhony aku akan kembali, dan pastikan kalau dia tidak datang terlambat lagi. Aku benci menunggu tahu." ucap Brian dengan acuh tak acuh.
Kemudian dia segera beranjak dari tempat itu, dan mengendarai mobilnya menuju rumah. "Aku harap makan malam ku, belum dihabiskan Zoya," gumam Brian. Dia tahu kalau wanita itu memang memiliki postur tubuh yang mungil, namun Zoya memiliki porsi makan dua orang.
Tidak lama Brian pergi, tiba-tiba sebuah Lamborghini tiba di klub judo itu. Terlihat Jhony dengan kostumnya keluar dari mobil.
"Jhony, apa kira-kira dia sudah datang?" ucap temannya Jhony yang bernama Max.
"Kenapa kau tanya aku, mana kutahu!" balas Jhony dengan nada tinggi.
"Oh ya maaf, mari kita lihat saja ke dalam."
Mereka berdua pun mulai berjalan menuju pintu. Namun ketika Jhony hendak membuka pintu, Max juga malah ikutan mengulurkan tangannya ke gagang. Jhony pun menarik tangannya kembali, tapi Max juga malah ikutan.
"Kau yang buka atau aku."
"Maaf Jhony silahkan, kau saja."
Tampaknya Jhony dan Max itu sudah sangat akrab. Mereka pun mulai masuk kedalam, dan seketika mata Jhony dan Max terbelalak melihat semua anggotanya sudah tergeletak di lantai sambil mengerang kesakitan.
"Apa ini? Siapa yang telah melakukan ini semua?" teriak Jhony, ekspresinya sangat marah.
Kemudian Max berjalan dan mendekat satu dari mereka yang tergeletak di lantai.
"Siapa yang telah menghajar kalian semua?"
"Di... dia orang yang menantang Jhony, dia yang sudah menghajar kami semua."
"Sean?"
"Bukan, dia menyebut dirinya Brian."
"Apa?" seketika Jhony berteriak sekali lagi.
Tampaknya dia tidak mengira kalau Brian yang akan datang kesini dan menghancurkan klub judo miliknya.
"Tidak hanya itu, dia juga akan kembali lagi untuk mengalahkan dirimu Jhony."
Max dan Jhony segera bertukar pandang, tadi siang Vince bilang kalau Sean yang menantangnya. Karena itu dia meminta nomer Sean dari Vince, tapi tak di sangka ternyata itu malah nomernya Brian.
"Ini aneh Jhony, bukankah kau bilang yang menantang mu tadi adalah Sean."
"Kau benar Max, aku tidak mengerti. Tapi, si Brian itu berani-beraninya dia menghajar teman-teman kita, ini sudah kedua kalinya."
"Jhony, siapa Brian ini?"
"Dia adalah anak baru di kampus kami, aku tidak tahu pasti kenapa dia melakukan ini. Tapi aku tidak akan membiarkannya lolos setelah melakukan semua ini."
...****************...
__ADS_1