King Of School

King Of School
Bab 114


__ADS_3

Tok, tok, tok.


"Siapa itu?" bisik Ratih ketika mendengar suara ketukan pintu.


"Biar aku lihat, buk." Zoya melepaskan pelukan ibu tadi dan langsung bangkit untuk membuka pintu. Dia menyeka air matanya terlebih dahulu, lalu mulai memutar gagang pintu tersebut.


"Tuan muda?" Zoya terkejut ketika mendapati Brian yang berdiri tepat di depannya. Bahkan Ratih yang melihat kemunculan Brian pun langsung bangkit dan bergegas menghampirinya.


"Ada apa tuan muda, anda butuh sesuatu?" tanya Ratih, walaupun dia sudah memutuskan untuk pergi. Dia tetap akan menjalankan tugasnya sebagai pelayan Brian untuk terakhir kalinya.


Namun pria dingin itu tidak menjawab, pandangannya jatuh ke koper yang ada di dalam lantai kamar. Seketika itu juga wajahnya menggelap.


"Kalian mau kemana?" tanya Brian dengan nada tidak bersahabat.


Zoya ingin menjawab tapi buru-buru ibunya menjawab lebih dulu, "Tuan muda, kejadian yang ada di Restoran tadi, telah membuat nama baik keluarga kalian jadi tercemar. Kami merasa sangat bersalah, untuk menebusnya, kami sebaiknya pergi saja dari rumah ini. Agar kalian tidak mendapatkan banyak masalah lagi karena kami, tuan muda."


Ratih mencari alasan sebaik mungkin agar Brian tidak curiga dan tersinggung.


Brian yang mendengar hal itu, tentu saja tidak senang. Sebelumnya Brian memang tidak pernah terlalu peduli dengan Ratih atau pun juga pak Siman, namun karena dia sangat mencintai Zoya. Brian tentu juga harus mencintai orang yang Zoya cintai, dia tidak akan membiarkan Ratih membawa Zoya pergi dari rumah ini.


"Apa kata-kata ayahku sudah membuat kalian benar-benar tersinggung? Sehingga kalian memutuskan untuk pergi?" tukas Brian.


"Tidak tuan muda, apapun yang telah dikatakan oleh tuan besar kepada kami, kami tidak pernah tersinggung. Hanya saja, kami tidak mau terlalu merepotkan kalian lagi. Jika kami terus bersama dengan kalian, kami takut kejadian yang menimpa suamiku akan membawa dampak buruk pada kalian nantinya." jelas Ratih dengan suara parau, karena saat dia memikirkan suaminya yang sedang ditahan polisi hatinya menjadi sangat sakit.


"Jangan pergi, aku akan membereskan masalah ini secepatnya. Dan soal apapun yang telah Ayahku katakan pada kalian, jangan dianggap terlalu serius. Terkadang pak tua itu memang sangat bawel."


Setelah mengatakan itu Brian menatap Zoya dengan dalam, seolah meminta wanita itu untuk meyakinkan ibunya. Kemudian dia langsung pergi begitu saja.


"Zoya, tuan muda tidak membiarkan kita pergi, bagaimana sekarang?" Ratih mulai gelisah, dia terus memikirkan keadaan suaminya yang sedang ditahan.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu, Bu. Mungkin besok aku harus negosiasi dengan pria itu?" usul Zoya yang tampak seperti tidak punya pilihan lain.


"Kau ingin menemuinya sendirian?"


"Tidak ada jalan lain, Bu. Jika kita memaksakan untuk tetap pergi sekarang, tuan muda pasti akan tahu. Satu-satunya jalan adalah meminta sedikit waktu, sebelum kita menemukan alasan yang bagus untuk keluar dari rumah ini. Dan sepertinya ayah juga harus sedikit menunggu lebih lama."


Kedua Ibu dan Anak itu pun hanya bisa menghela nafas pasrah, pada akhirnya tetap saja mereka tidak bisa menyelamatkan pak Siman dengan cepat. Jika saja Zoya tidak mendapatkan pesan yang mengancam itu, mereka pasti akan sabar dan membiarkan Brian menangani masalah pak Siman.


Keesokannya di Leighton University, Brian dan timnya sedang berkumpul di dalam gedung basket. Terlihat mereka baru saja selesai latihan mempersiapkan diri untuk kompetisi besok. Di sana terlihat juga Frans sudah bergabung dengan Brian.


"Brian aku rasa kita gak bakal bisa memenangkan kompetisi ini?" seru Jhony yang terduduk di lantai lapangan.


"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Brian sembari menyeka kepalanya yang basah karena keringat dengan handuk kecil.


"Itu karena ada beban di dalam kita." sahut Sean, menunjuk seseorang.


Sontak pandangan semua orang teralihkan ke seseorang yang tengah minum. Orang itu tidak lain adalah Edi. Yah, orang yang dimaksud beban oleh Jhony dan Sean adalah Edi, personil terakhir pilihan Brian.


Brian juga tahu kalau memasukkan Edi ke dalam tim ini adalah ide yang penuh kontroversi. Namun dia tidak punya waktu lagi untuk mengumpulkan orang-orang yang bisa ia percayai. Walaupun Edi tampak tidak bisa apa-apa dan tidak jago main basket. Setidaknya Edi bisa menjadi pelengkap saja, untuk memenangkan pertandingan besok, bagi Brian dia hanya butuh empat orang saja.


"Jangan pikirkan dia, pertandingan besok sudah di pastikan kita yang akan memenangkannya." tukas Brian dengan penuh percaya diri.


Brian sudah terlatih dalam seni bela diri sejak kecil, walaupun bela diri dalam olahraga semacam basket tidak ada kaitannya. Bagi Brian, basket tidak lah lebih sulit dari ilmu seni bela diri.


Frans hanya bisa menghela nafas mendengar Brian. Terkadang percaya diri itu memang bagus, tapi jika terlalu berlebihan maka akan berdampak buruk. Sepertinya Brian belum menyadari hal yang satu ini, pikir Frans.


"Ada apa Frans, apa kau tidak percaya dengan kemampuan ku?" tanya Brian ketika dia menyadari Frans menatapnya dengan aneh.


"Brian apa kau belum pernah mengalami kekalahan dalam hidup mu?" tanya Frans dengan serius.

__ADS_1


Brian berpikir sejenak, kemudian dia menjawab Frans dengan agak ragu, "Kekalahan memang tidak pernah menghampiri ku Frans, tapi aku sering hampir kalah. Kau tidak perlu khawatir, percaya diri ku ini berasal dari kalian semua."


Brian kemudian melanjutkan dengan suara lantang, "Sebenarnya aku mengumpulkan kalian bukan untuk merebut piala martabat atau gelar King Of School. Tapi ini tentang balas dendam kalian. Tujuan kita adalah menghancurkan Vince, kalau pun kita tidak menang itu tidak masalah. Yang terpenting adalah Vince harus digulingkan dari singgasananya."


"Tapi ingin menggulingkan Vince kita harus mengalahkannya dalam pertandingan besok. Brian, kau harus tahu Vince itu sangat ahli dalam bermain basket. Sedangkan kita, latihan saja kita baru satu kali. Bagaimana kita bisa mengalahkan Vince. Mana ada beban lagi." ucap Jhony.


"Heh, Jhony, jika memang Vince memiliki bakat. Dia gak bakal mau menyingkirkan aku sebelum kompetisi. Apa kau pikir selama ini Vince bermain jujur?"


"Maksudmu?"


Semua orang tampak kebingungan dengan apa yang dikatakan Brian barusan.


Brian mengambil bola basket yang ada di tangan Sean dan memutarnya di jari telunjuk seraya berkata, "Vince, itu pria yang sangat licik dan penuh manipulatif. Dia akan melakukan segala cara untuk mencapai tujuannya, aku menyadari itu sejak pertama kali melihatnya. Seseorang yang licik seperti Vince, pasti memiliki senjata rahasia yang membuatnya selalu jadi pemenang. Tapi saat senjata rahasianya kita hancurkan, maka dia tidak akan bisa apa-apa."


"Aku masih tidak mengerti Brian, senjata rahasia? Apa maksudmu Vince telah bermain curang selama ini, makanya dia bisa memenangkan kompetisi martabat selama ini, begitu?" tukas Jhony.


"Tepat sekali Jhony, pada awalnya aku tidak terlalu yakin apa senjata rahasia Vince ini. Tapi setelah banyak insiden yang aku hadapi, sekarang aku tahu apa senjata rahasianya."


Setelah mengatakan itu, Brian mendribel bola basket lalu melompat dengan tinggi dan memasukkannya kedalam keranjang dengan mantap.


Semua orang yang melihat skill basket Brian tadi, langsung menganga dan tak bisa berkata-kata. Dari segi kecepatan dan lompatan Brian saat mendribel bola barusan sangat luar biasa. Pantas saja dia cukup yakin untuk bisa menang, Brian cukup mampu.


Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja Kimberley pacarnya Sean muncul dengan keadaan sedikit terengah-engah karena habis berlari.


Sean pun sontak bertanya karena keheranan melihat sang kekasih, "Ada apa Kim, kenapa kau terlihat buru-buru begitu."


Kim mengangkat satu jarinya meminta jeda untuk membiarkannya bernafas lempang terlebih dahulu, kemudian dia pun berkata, "Zo-Zoya, Brian, aku melihat Zoya pergi bersama dengan pria asing tadi, karena itulah aku bergegas kemari untuk memberitahu mu."


"Apa?" Brian terkesiap. Kenapa Zoya pergi dengan orang asing? Dan siapa orang asing itu?

__ADS_1


Dia langsung memandangi Jhony, Sean dan Frans, memberi kode untuk langsung bergerak. Tanpa menunggu lagi mereka semua segera beranjak dari tempat itu.


__ADS_2