King Of School

King Of School
Bab 47


__ADS_3

"Aku tidak menyangka kalau kau tidak sabaran juga, Sean!?"


"Baiklah, karena kau yang memulainya duluan~dengan senang hati aku akan melayanimu."


Brian berjalan dengan langkah cepat melintasi lorong kampus. Dia tahu saat ini Zoya pasti sudah di culik oleh Sean. Tapi dia bingung, kenapa selalu saja Zoya yang menjadi sasaran empuk setiap lawannya.


Bukankah itu terdengar sedikit pengecut?


Sebelum Brian berangkat untuk menyusul Zoya, dia menarik paksa Edi yang tengah asik membaca buku di perpus dan juga menarik Jhony yang sedang asik pacaran.


Kedua orang itu pun langsung terkaget saat Brian menarik paksa mereka begitu saja.


"Hei Brian apa-apaan ini, aku belum selesai membaca novel itu tadi."


"Yah, seharusnya aku sudah mendapatkan ciuman tadi. Kenapa kau menyeret kami seperti ini."


Ucap Edi dan Jhony yang sedang di seret Brian menuju ke area parkir.


Setelah sampai disana, Brian langsung menyuruh mereka untuk masuk ke dalam BMW itu.


Ya BMW, mobilnya Jhony yang di tukarkan ke Brian kemarin malam.


"Dengar, saat ini aku ingin kalian melacak lokasi Zoya." Brian memberikan ponselnya kepada Edi dan Jhony, "Cepat!" seru Brian dengan nada tinggi, seperti ala komandan angkatan darat.


Jhony dan Edi pun langsung mengambil ponsel itu, dan langsung mencoba untuk melacak lokasi Zoya. Sementara Brian mulai menginjak gas dan beranjak pergi meninggalkan kampus.


Brian sudah menanamkan sebuah aplikasi pelacak di ponsel Zoya beberapa hari yang lalu, bersamaan saat dia memasukan nomornya.


"Brian ketemu, saat ini Zoya sedang berada di gudang dermaga Golden Sea." ujar Edi sambil berkeringat dingin.


"Gudang dermaga?" Brian menanggapi dengan sebelah alisnya naik keatas.


"Ya, tapi sedang apa dia disana?" tanya Jhony yang penasaran.


"Kau akan tahu saat kita sampai kesana!" jawab Brian dengan nada sedingin kutub utara.


"Apa kita?" ucap Edi dan Jhony bersamaan.

__ADS_1


Mereka mulai saling memandang satu sama lain di kursi belakang. Mereka tahu pasti saat ini Brian akan membawa mereka ke dalam masalah lagi. Ekspresi mereka pun mulai berubah menjadi jelek. Sekarang mereka hanya bisa pasrah dan saling berpelukan satu sama lain karena ketakutan.


Edi memang seorang pengecut dan Jhony dia tidak bisa apa-apa jika tidak ada bodyguardnya. Tapi Brian, dia sama sekali tidak peduli dengan siapa atau apapun yang sedang ia hadapi. Saat ini hanya satu yang ada dalam pikirannya, menyelamatkan kekasihnya, Zoya!


...


Sementara itu di sebuah bengkel mobil yang bernama Sean Service, terlihat Vince sedang duduk kap mobil depannya dengan kedua tangan terlipat.


Matanya menatap tajam ke arah pria yang saat ini sedang berdiri di hadapannya. Pria itu berkulit putih, tinggi dan wajahnya seperti orang asia. Dia juga menatap Vince dengan sangat tajam.


"Seperti yang kau katakan, akan lebih mudah berurusan dengannya jika aku menculik gadis itu." ucap Sean.


"Heh, tentu saja, dia kan sama sepertimu!" balas Vince sambil membuang pandangannya kesamping.


"Apa maksudmu? Jangan samakan aku dengan anak baru itu!"


"Yah kalian sama, sama-sama dibutakan oleh cinta!"


Vince kemudian bergerak dari posisinya saat ini dan segera masuk ke mobilnya. Tugasnya disana sudah selesai, yaitu mengibaskan api antara Sean dan Brian.


"Tunggu Vince! Jika aku berhasil menghabisi si anak baru ini, maka kau harus menjauhi Kimberly juga."


Vrooom...


Lamborghini itu pun meninggalkan Sean disana sambil menghisap sisa asap knalpotnya.


"Baj*ngan kau Vince!" umpatnya.


Sean sangat kesal dan menendang batu kerikil yang ada di tanah, batu itu pun melambung jauh dan menghantam sebuah drum sehingga malah berbalik arah kembali, dan mengenai jidat Sean.


"Ouch, sial..." teriak Sean yang meringis kesakitan.


...


Disisi lain Brian akhirnya sudah sampai ke sebuah dermaga yang ada di Golden Sea. Dermaga itu tampaknya masih belum bisa berfungsi, bisa dilihat dari pembangunannya yang masih belum selesai.Padahal jika diamati dermaga ini memiliki potensi yang sangat besar.


Tapi karena meningkatnya kasus korupsi di dalam sana, membuat pembangunan dermaga ini akhirnya diberhentikan. Para oknum yang tidak bertanggung jawab itu hanya mementingkan diri mereka sendiri dan merugikan negara.

__ADS_1


Sungguh sangat di sayangkan!


"Kalian ikut aku masuk atau tunggu disini?" Brian bertanya pada Edi dan Jhony sembari melepas sabuk pengamannya.


"Tidak, lebih baik kami menunggu disini saja untuk jaga-jaga, mana tahu nanti ada orang lain yang masuk juga, benarkan Edi?"


Mereka menolak ajakan Brian untuk masuk ke tempat yang mereka anggap sebagai jurang maut itu.


"Bagus, jadi jika ada bala bantuan dari musuh, kalian bisa langsung menghajar mereka semua nanti."


Brian mengatakan itu dan langsung berjalan pergi menuju sebuah gudang yang sangat besar.


Mendengar hal itu, Jhony dan Edi mulai saling memandang lagi. Wajahnya mereka mulai menjadi pucat seperti mayat. Jika ternyata benar nanti ada bala bantuan musuh datang, mereka bisa apa tanpa Brian.


Dengan segera mereka keluar dari mobil dan berlari mengejar Brian.


"Tunggu boss!" teriak mereka dari kejauhan dengan serentak.


"Heh," Brian mendengus tanpa melirik kebelakang sedikitpun.


Mereka pun mulai memasuki gudang itu secara perlahan. Terlihat suasana di dalam sana sangat minim akan cahaya, benar-benar begitu mencekam.


Di dalam gudang yang luas itu, mereka juga menemukan banyak peti kemas seukuran truk saling bertindihan. Peti-peti itu biasa digunakan untuk kargo mengangkat berbagai barang-barang komersial.


Brian terus berjalan melewati barisan peti-peti raksasa itu, ekspresinya terlihat acuh tak acuh. Dan saat dia sampai di ujung, Brian bisa melihat Zoya yang sudah duduk terikat di kursi dengan mulutnya disumpal oleh kain.


"Zoya~" lirih Brian sambil menatap tajam kedepan.


Betapa senangnya Zoya saat melihat Brian yang secara tak di duga muncul di hadapannya. Dia meneriaki nama tuan mudanya itu untuk minta tolong, tapi karena mulutnya sedang tersumpal yang terdengar hanyalah suara tidak jelas saja.


Disana juga sudah ada dua orang pria yang menculik Zoya tadi, tentu saja Brian masih mengingat wajah-wajah itu. Mereka adalah berandalan yang mencoba merampok Brian dan Zoya saat di lift.


Brian sama sekali tidak menyangka kalau ternyata merekalah yang menculik Zoya.


"Ternyata kalian, apa kalian tidak punya pekerjaan selain menganggu kami!?" Brian bertanya dengan ekspresi santai dan kedua tangan yang masuk kedalam kantong celana.


"Anak muda, kau sudah menghajar kami waktu itu, sekarang waktunya bagi kami untuk membalas mu." pekik salah satu dari mereka sambil mengacungkan pisau.

__ADS_1


"Heh, aku sudah pernah menghajar kalian, dan aku bisa melakukannya lagi."


"Kau sangat percaya diri ha? Dengar kali ini kalian semua tidak akan bisa lolos dari sini hidup-hidup."


__ADS_2