
Frans memulai serangannya, dengan kecepatan yang luar biasa dia terbang dan menerkam Brian. Tinjunya yang besar langsung di luncurkan tepat ke wajah Brian.
Semua orang yang melihat itu langsung memberi sorakan riuh. Mereka tidak menyangka kalau Frans berniat ingin mengakhiri Brian dengan satu serangan. Itu adalah teknik andalan Frans.
Tapi ekspektasi semua orang langsung terpatahkan saat melihat Brian dengan mudah menghindari serangan itu. Bahkan dia tidak bergeming sedikitpun, hanya bergeser tidak kurang dari dua inci untuk menghindari serangan Frans.
"Kecepatan yang bagus, tapi itu masih belum cukup." ucap Brian dengan ekspresi datar.
Frans menggertakkan giginya, ini pertama kalinya ada orang yang bisa menghindari serangan mematikannya dengan begitu mudah.
Frans mulai memberi serangan selanjutnya pada Brian, dia mengayunkan kakinya ke kepala Brian, mencoba memberi tendangan menyapu. Tapi sekali lagi Brian menghindar dengan sangat mudah.
Melihat serangannya dua kali meleset, akhirnya kemarahan Frans mulai meledak. Pembuluh darah di matanya menjalar menunjukan emosi yang tak terkatakan. Frans memang pria yang sangat mudah emosi, dia terlihat seperti serigala buas saat marah, siap menggigit mangsanya.
Frans pun meluncurkan serangan yang bertubi-tubi, namun tidak ada satupun yang berhasil menyentuh walaupun sehelai dari rambut Brian. Brian hanya menghindar dengan lincah, bagaikan sehelai bulu yang tertiup angin.
"Ada apa Frans, ku dengar kau adalah juara bertahan disini. Apa kau sedang menahan diri, ayolah jangan sungkan-sungkan. Leo tidak akan memaafkanmu jika kau tidak bisa mendaratkan satu pukulan pun padaku!" ucap Brian sambil terus menghindar, tatapan mengejek tersorot dari bola matanya yang indah itu.
Sementara Leo yang melihat pertarungan itu, mencengkeram sandaran tangan kursi rodanya dengan sangat erat. Dia merasa tidak puas, sesekali dia melirik arlojinya.
Ini sudah hampir setengah jalan!
"Kenapa kau terus menghindar, apa kau tidak memiliki kemampuan untuk membalas. Aku mengerti, kau hanya mengulur waktu saja kan." Frans yang sudah menghabiskan hampir setengah dari kekuatannya, mulai terlihat kelelahan.
Sementara Brian masih terlihat sangat santai, walaupun pagi ini dia dilanda demam, tidak membuat kemampuan Brian berkurang sedikitpun.
Sejak kecil latihan yang diberikan Alex begitu keras, dia tidak peduli walau Brian sedang sakit sekalipun. Alex benar-benar mendidik Brian dengan sistem militer, itulah mengapa mental Brian sudah tebal seperti baja.
"Sepertinya kau hampir mencapai batasmu, aku sarankan kau menyerah saja dan berlutut lah!" seru Brian dengan sangat santai dan kedua tangannya yang masih menyilang di belakang punggungnya.
Frans sangat kesal mendengar Brian terus-terusan meremehkannya. Dia meludah dengan jijik lalu berkata, "Walau aku kehilangan kedua kakiku, aku tidak akan pernah mau berlutut padamu. Aku akan segera mengakhiri ini, akan aku hancurkan kesombonganmu itu."
__ADS_1
"Jika aku meluncurkan serangan, aku takut kau tidak akan mampu menahannya."
"Setidaknya akan ada salah satu anggota tubuhmu yang patah nanti."
"Aku masih membutuhkanmu dalam kondisi yang utuh, jadi aku tidak akan melakukan itu."
Brian mengatakan semua itu dengan sangat santai. Ternyata sedari tadi dia hanya mempermainkan Frans.
Frans berdecak kesal lalu mencibir, "Bahkan kalau kau belajar seni bela diri sejak dalam rahim ibumu, kau tidak akan bisa melumpuhkan ku hanya dalam satu serangan, jangan terlalu percaya diri!"
"Apa kau bilang!"
Brian mengepalkan kedua tangannya, sekarang dia mulai marah juga. Darahnya mendidih dan naik ke kepala sehingga wajahnya terlihat memerah. Dia sangat sensitif jika ada seseorang membawa-bawa nama ibunya.
Aura yang tak terkatakan langsung menyeruak keluar dari tubuh Brian. Seketika suhu disekitar turun dan mencapai titik beku.
"Frans, aku beri kau waktu tiga detik jika kau tidak mau berlutut maka aku-"
Seringai keji mulai muncul di kedua sudut bibir Brian, para penonton yang melihat ekspresi Brian itu juga bisa merasakan ada sesuatu yang menakutkan dari pemuda itu.
"Baiklah Brian, mari kita akhiri ini." Frans mulai bergerak lagi, dengan kecepatan tinggi dia terbang kearah Brian dan bersiap memberi tendangan mematikannya.
Namun Brian juga bergerak dengan sangat cepat dan langsung melompat kearah Frans. Lompatannya begitu kuat hingga terlihat retakan di arena.
Selanjutnya tak sampai satu detik Brian tiba-tiba sudah ada di depan Frans.
Melihat itu wajah Frans mulai berubah, dan kehilangan semua warnanya.
Plak.
Brian mengayunkan punggung telapak tangannya ke wajah Frans, hingga pria itu terlempar keluar ring.
__ADS_1
Semua penonton menjadi terkesiap, mereka menganga dan tak bisa berkata-kata lagi. Brian mampu mengalahkan Frans hanya dalam satu tamparan?
'Ini benar-benar sulit dipercaya.'
Setelah itu Brian langsung mendekati Frans, dia berjalan santai dengan kedua tangannya yang masih terlipat ke belakang.
Sementara itu Frans yang tersungkur di tanah mencoba untuk bangkit sambil menatap Brian dengan keji. Terlihat bekas telapak tangan di wajah Frans, sudut bibirnya juga mengeluarkan darah. Dia tidak menyangka kalau Brian ternyata sekuat ini.
"Bagaimana, apa kau masih ingin lanjut?" tanya Brian dengan nada dan tatapan yang sangat dingin.
Frans menyeka darah di sudut bibirnya sambil berkata, "Kau menang!"
Mendengar itu sontak Brian mengerutkan dahinya, keheranan. Sejalan dengan sifat dinginnya Brian bertanya pada Frans. "Apa sekarang kau menyerah?"
Frans yang semulanya terlihat agresif tiba-tiba menjadi tenang seperti air, namun tatapan tajamnya yang bagaikan pisau pemotong daging tetap ada.
Dengan nada pelan dia menjawab, "Ini sudah lewat lima menit, jadi kau menang. Tidak ada alasan lagi untuk melanjutkan pertarungan ini."
Kemudian Frans langsung berbalik dan pergi begitu saja meninggalkan Brian yang masih membeku di tempatnya. Para penonton juga terdiam melihat Frans andalan mereka lari dari pertarungannya.
"Dia kabur." suara Brian seperti embun beku, matanya menyipit saat menatap punggung Frans yang mulai menghilang di baling lorong.
Dengan sangat kecewa semua penonton bangkit dari tempat duduk mereka dan menyoraki Brian dan Frans sambil beranjak pergi juga. Mereka sangat kecewa karena pertarungan itu sama sekali tidak sesuai dengan keinginan mereka.
Sementara itu Leo yang ada di ruangannya mulai memberi komando pada semua bawahannya. "Cepat habisi dia!"
Brian yang tadinya berniat ingin mengejar Frans, tiba-tiba langkahnya langsung berhenti di tengah lorong saat melihat belasan pria dengan jaket kulit merah tua menghadang jalannya.
Melihat itu Brian kedua mata Brian menyipit.
"Aku tahu Leo tidak akan menepati janjinya." gumam Brian sambil mengeluarkan ponselnya, dan mulai menghubungi sebuah nomer, "Kalian boleh masuk sekarang!"
__ADS_1