
Brian merupakan orang yang menjunjung tinggi kebersihan, karena bajunya sudah kotor tertumpah teh, dia memilih untuk pulang saja. Brian sangat tidak nyaman jika pakaiannya ternoda, bahkan dia begitu jijik melihat dirinya saat ini.
Di dalam mobil yang menuju perjalan pulang, Brian mengemudi dengan ekspresi yang begitu dingin. Wajah tampannya benar-benar diselimuti es, hawa dingin pun merembes dari tubuhnya.
Saat ini Zoya yang berada disebelahnya pun bisa merasakan betapa menakutkannya hawa dingin Brian. Namun karena dia sudah terbiasa akan hal itu, Zoya akhirnya memberanikan dirinya untuk bicara pada Brian.
"Tuan muda, kau marah? Maaf ya soal tadi!" sebuah penyesalan terdengar dari nada Zoya.
Brian tidak menjawab, dia fokus mengemudikan mobilnya, tatapannya begitu tajam seolah-olah ingan menebas semua yang ada didepannya.
Dalam perjalanan pulang itu, seketika awan gelap menutupi langit. Zoya kemudian perlahan menuruni kaca jendela dan menjulurkan tangannya keluar. Semilir angin itu menerkam lembut tangan Zoya, dia bisa merasakan kesejukan itu menjalar keseluruh kulitnya yang halus.
Namun ketika dia melirik kesamping, Zoya ditembak oleh tatapan dingin Brian. Kesejukan yang ia rasakan langsung berubah menjadi hawa dingin yang membekukan.
"Jika kau tidak sayang dengan lenganmu, setidaknya jangan bahayakan pengandara lain dengan menjulurkannya keluar." seru Brian dengan sangat dingin.
Zoya menganga saat Brian menegurnya seperti itu, kenapa Brian tidak bisa memberi peringatan padanya dengan sedikit lebih lembut, apa lidah pria ini memang setajam ini. Zoya pun langsung menarik masuk tangannya kembali.
Kata-kata Brian memang selalu tajam seperti pedang yang ditempa khusus untuk menikam langsung ke jantung.
Padahal yang Zoya inginkan hanyalah menikmati kesejukan dari tiupan angin sepoi-sepoi. Tapi Brian merusak semuanya.
"Tuan muda pernahkah kau berpikir, untuk selalu menikmati hidup yang penuh warna ini?" Zoya mengajukan pertanyaan yang sangat aneh, membuat jidat Brian mengkerut sempurna.
Kehidupan yang dijalani Brian selalu dibawah kekangan ayahnya, dia tidak pernah merasakan kebebasan mutlak dalam kehidupannya ini.
"Satu-satunya warna yang ada dalam hidupku, hanyalah kelabu." jawab Brian dengan ekspresi suram.
Zoya kemudian menatap wajah yang seindah lukisan itu dengan penuh arti seraya berkata, "Apa maksudmu? Kau terlahir dari keluarga kaya, bagaimana mungkin kau mengatakan hidupmu itu tidak berwarna?" sejauh ini Zoya tidak pernah menyinggung masalah pribadi Brian, entah mengapa hari ini rasanya dia ingin sekali mengetahui semua tentang Brian.
"Apa menurutmu kekayaan menjamin kebahagiaan?"
Zoya mengerucutkan bibirnya keatas, dan berkata dengan nada jelas, "Kebahagiaan seharusnya didapatkan saat kau dikelilingi orang-orang yang mencintaimu dengan tulus."
Brian tiba-tiba mendengus dan berkata dengan nada dingin, "Itulah yang tidak kudapatkan dalam hidup ini!"
__ADS_1
Zoya tidak bisa berkata-kata lagi dan menatap wajah tampan Brian dalam-dalam. Sejenak dia mengira mungkin Brian hanya bicara omong kosong belaka, soalnya mana ada orang yang memiliki segalanya seperti Brian tidak merasa bahagia.
Tapi setelah menatap ekspresi itu, Zoya sekarang mengerti. Sikap dingin Brian ini sama sekali tidak melambangkan kesombongan keluarga kaya, namun itu menunjukan kekosongan yang ada di dalam hatinya.
Brian memang terlihat tidak bahagia!
Zoya menjadi simpati melihat Brian, dengan hati-hati dia berkata, "Kenapa kau berkata seperti itu, aku melihat kau juga banyak dikelilingi orang-orang yang menyayangimu, Kia, bibi Michelle..."
Zoya tidak berhenti berbicara, membuat kepala Brian merasa pusing. Tiba-tiba kenangan masa kecilnya yang kelam berputar di kepalanya. Pandangan Brian mulai sedikit kabur, matanya terasa berdenyut saat menatap jalanan. Brian memang sangat sensitif jika membahas masalah keluarganya.
Namun Zoya terus saja bicara, "Dan ayahmu, jangan bilang kalau ayahmu juga tidak menyayangimu, keluargamu sangat sempurna jadi kenapa kau masih..."
"Cukup Zoya!" Brian berteriak. "Jika kau menyebut pak tua itu lagi, aku akan..."
Brian tampak begitu murka, aura buas merembes keluar dari tubuhnya. Brian gemetar hebat.
Zoya tersentak kaget karena bentakan Brian, ini adalah pertama kalinya dia melihat Brian semarah ini. Ditambah dengan cuaca yang semakin gelap dan kilatan cahaya dari ledakan guntur, membuat Vibes Brian tampak semakin menakutkan.
Karena Brian terlalu murka, fokusnya terhadap jalan raya teralihkan. Dia tidak menyadari kalau di depan ada gadis kecil yang sedang ingin menyeberang.
Brian tersentak dan langsung menginjak rem dengan sekuat tenaga, namun laju dan jarak mobilnya dengan gadis kecil itu, tidak memungkinkan lagi bagi mereka untuk menghindar.
"Cloe..." terdengar teriakan keras seorang pria dari seberang kiri jalan.
Brian membanting setirnya ke kanan, sehingga Bmw itu nyasar ke trotoar dan akhirnya berhenti juga.
Mereka berdua selamat, namun gadis tadi?Wajah Zoya tampak begitu pucat dengan nada gemetar dia berkata, "Tuan muda, anak kecil itu..."
Brian segera melepas sabung pengamannya dan segera keluar, dia berlari menuju gadis kecil tadi yang saat ini sudah terbaring di aspal.
Ketika Zoya juga ikut keluar, dia tampak kaget dan syok. Dengan segera dia menutup mulutnya yang menganga saat melihat peristiwa yang sedang terjadi dihadapannya ini.
Seorang pria berbadan tinggi tegap, berlari kearah gadis kecil itu dan dengan segera dia memeluknya. "Cloe..." seru pria tadi sambil memegang wajah mungil polos itu, darah pun juga mulai mengalir.
Sementara Brian yang tidak terlalu jauh berdiri dari korban kecelakaan, semakin terperangah melihat sosok pria yang sedang memeluk gadis kecil malang itu. Wajahnya semakin suram dan dipenuhi ketidakpercayaan.
__ADS_1
Dia begitu terkejut karena pria yang sedang memeluk gadis kecil itu adalah 'Frans Zephyr.'
Frans memelototi Brian dengan sangat marah, matanya terlihat merah dan berlinang. Ekspresinya begitu buas seperti singa yang sedang murka. Tubuhnya gemetar hebat dan emosinya memuncak bagaikan bom yang sedang meledak-ledak.
Dengan gigi terkatup dia berkata, "Kau... beraninya kau menabrak adikku."
Orang-orang mulai mengerumuni lokasi kejadian, mereka begitu terkejut saat melihat kondisi gadis kecil malang yang ada di pelukan Frans. Kata-kata simpatik dari semua orang pun mulai terdengar.
Sesekali mereka juga menatap si pelaku, Brian. Ada tatapan kebencian di mata semua orang. Namun karena tidak mau ikut campur tangan, orang-orang hanya bisa mengutarakan kata-kata cacian padanya.
Brian mengabaikan orang-orang dan berjalan mendekati Frans dengan ekspresi yang sangat kusut, "Kita harus segera membawanya ke rumah sakit." nada Brian terdengar tidak berdaya, namun dia masih mencoba untuk mengendalikan diri agar tetap tenang.
Padahal dia sudah berusaha sebisa mungkin untuk menghindari kecelakaan itu, akan tetapi nasib tragis tak terelakan lagi. Sepertinya kepala gadis kecil itu telah terserempet kap mobil Brian.
Sebenarnya saat ini Frans sangat murka pada Brian, ingin sekali rasanya ia menghajar Brian. Namun karena melihat kondisi adiknya saat ini, Frans memilih mengabaikan Brian dan langsung menggendong adiknya pergi.
"Bertahanlah Cloe..."
Akan tetapi Frans tidak punya kendaraan untuk membawa adiknya ke rumah sakit, orang-orang juga tidak ada yang mau membantunya membuat Frans semakin putus asa.
'Tapi kenapa tidak ada satupun yang mau membantu Frans?'
Ternyata setiap orang di Golden Sea mengetahui tentang geng Crimson, geng itu terkenal sangat kejam dan brutal. Banyak yang membenci geng itu.
Semua orang sadar kalau Frans adalah salah satu dari gangster itu, bisa terlihat jelas dari jaket kulit merah tua yang ia kenakan. Karena itulah tidak ada yang mau membantu Frans.
Melihat semua orang tidak peduli, dengan sangat kesal Frans berteriak, "Apakah tidak ada diantara kalian yang mau membantuku, setidaknya kasihanilah adikku..." Frans sungguh putus asa dan terlihat tidak berdaya.
Tak satupun ada yang mau membantunya, taksi pun juga tidak ada yang lewat. Frans kehabisan akal.
Hujan pun mulai turun dengan sangat lebat sekarang. Kerumunan tadi segera bubar, meninggalkan Frans yang berdiri di pinggir jalan sambil menggendong adiknya. Walaupun mereka merasa kasihan pada gadis kecil yang tak bersalah itu, tapi mereka tidak akan mau membantu gangster kejam seperti Frans.
Namun di tengah keputusasaan itu, Brian tiba-tiba memegang bahu Frans dari belakang seraya berkata, "Aku akan bertanggung jawab, bawa adikmu ke mobilku."
Frans pun menoleh dan menatap Brian dengan penuh amarah. "Kau...."
__ADS_1