
"Zoya!?" ucap Jhony serentak dengan Edi dan Max yang juga menyusul dari belakang.
Ini sungguh mengejutkan bagi mereka, barusan kan Zoya ada di dalam klub itu. Lalu bagaimana bisa sekarang dia ada bersama dengan Brian?
Namun setelah mereka semua menatap kearah mata tajam Brian, akhirnya mereka mengerti. Brian lah yang telah mematikan listrik tadi untuk membawa Zoya keluar.
Edi tampak senang melihat keadaan Zoya yang sudah aman bersama dengan Brian. Namun sialnya, Brian saat ini sedang menatap dirinya dengan tatapan yang seolah-olah ingin membunuh.
Tentu saja Edi mengerti arti tatapan itu, bukankah dia yang sudah membawa Zoya kesini?
Sekarang dia harus bertanggung jawab atas apa yang hampir terjadi pada Zoya. Padahal semua ini terjadi bukan karena kehendaknya.
Dengan kepala tertunduk, Edi pun berjalan mau mencoba mendekati Brian untuk memohon ampun.
"Brian maafkan aku, seharusnya aku tidak membawa Zoya kesini tadi."
Hahaha....
Zoya tertawa.
"Kenapa kau tiba-tiba meminta maaf Edi, apa kau takut Brian akan marah karena membawa lari diriku?"
Apa? Aku membawamu lari? Bukankah kau yang mengajakku?
Edi bergumam dalam hatinya, dengan ekspresi sebelah alisnya yang naik keatas.
"Ya Brian akan sangat marah, dia akan memberikan hukuman pada kalian semua, benarkan sweaty."
Zoya tiba-tiba saja memeluk tubuh Brian dari belakang dan menaruh kepalanya di pundak Brian. Kemudian Zoya meliriknya dan menatap wajah Brian.
Dia sama sekali tidak segan melakukan itu, padahal saat ini dihadapannya ada Jhony, Max dan Edi. Mereka mulai saling bertukar pandang melihat aksi Zoya yang tak terduga.
Sementara itu Brian hanya bisa menghela nafas dan membuang pandangannya ke atas langit. Dia mulai merasa sedikit geli saat Zoya memanggilnya dengan Swaety.
Sweaty?
Julukan apalagi yang di buat Zoya saat ini?
"Zoya kita harus pulang sekarang, kau semakin aneh saja." pinta Brian sambil mencoba untuk melepaskan dekapan Zoya.
Zoya masih dalam pengaruh obat bius, dia sekarang semakin melakukan hal yang aneh-aneh di sana.
Sejenak Jhony menggelengkan kepalanya melihat itu, sebelum matanya mulai terbelalak saat melirik kearah mobil Brian.
"Astaga, apa kau habis kecelakaan Brian?"
Max dan Edi pun juga mulai terkejut saat melihat keadaan mobil Brian yang sudah penyok seutuhnya.
Sama sekali tidak tampak seperti mobil lagi!
"Ceritanya panjang sekali, tapi yah aku terlalu memaksa mobil ini tadi, sekarang bukan hanya luarnya saja yang rusak, tapi mesinnya juga."
"Lalu bagaimana sekarang, mana ada taxi jam segini."
"Kau benar bagaimana yah?"
Brian memegangi kepalanya seolah-olah berpikir.
Ekspresinya sangat menjengkelkan untuk dilihat.
Sejenak mereka semua diam membeku kecuali Zoya yang masih saja berlari kesana-kemari seperti anak kecil.
__ADS_1
Pengaruh obat itu membuat hatinya merasa sangat gembira, seolah-olah dia memiliki dunianya sendiri.
Bahkan dia juga sesekali mengusili Edi dan Max.
"Aku tahu sekarang, berikan kunci mobilmu!" cetus Brian, sebenarnya sebelum dia sampai kesini tadi. Dia sudah memikirkan hal itu karena dia sudah melihat tanda-tanda kalau mobilnya sudah mulai mogok.
Apa? Jhony kaget.
Kenapa Brian malah meminta kunci mobilnya?
"Kau tidak usah kaget Jhony, anggap aja ini sebagai ganti dari uang Zoya yang harus kau kembalikan, ingat?"
Brian dengan santainya mengatakan hal itu, sementara mulut Jhony menganga karena tidak percaya dengan apa yang iya dengar.
Apa kupingnya masih kemasukan air?
"Lagi pula kau tadi tidak menjalankan tugasmu dengan baik tadi kan, bukannya kau menjaga Zoya kau malah asik menguntit wanita yang ada disana."
Jhony semakin terdiam dan tak berani untuk berkata-kata lagi. Sepertinya Brian terus mengungkit setiap inci kesalahannya agar Jhony tidak bisa membantah.
"Sekarang berikan kuncinya!"
Dengan berat hati Jhony pun akhirnya memberikan kunci mobilnya, dia tidak menyangka kalau Brian akan setegas ini dalam mengambil keputusan.
Padahal harga mobilnya itu jauh diatas uang yang harus ia kembalikan kepada Zoya.
Ya memang seperti itulah cara kerja Brian.
Jhony belum tahu saja kalau Brian adalah tipe orang yang tegas dalam segala hal.
"Hei Jhony kenapa murung begitu, ayo tersenyum."
Tiba-tiba Zoya malah mencubit kedua pipi Jhony untuk memaksanya tersenyum.
Jhony mengumpat dalam hatinya karena kesal, dan dengan segera menjauhkan wajahnya.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" kata Brian sembari menggapai tangan Zoya.
"Ti-tidak Brian, oh ya bagaimana dengan mobil mu ini?"
"Kalian semua harus mendorongnya ke bengkel!" seru Brian dengan acuh tak acuh kemudian langsung berbalik pergi sambil menarik tangan Zoya.
Apa?
Mereka semua terkejut, wajah mereka mulai kehilangan semua warna. Mereka tidak mengira kalau Brian akan meminta mereka melakukan hal semacam ini.
"Hahaha, itulah hukuman kalian, wleee..."
Zoya pun mengikuti Brian untuk beranjak pergi dari sana sambil mengejek Edi, Jhony dan Max.
"Sial Jhony, kenapa kau membiarkan Brian melakukan ini padamu?" tanya Max yang mulai bergidik kesal.
"Sudah lakukan saja apa yang ia katakan, aku lebih baik menuruti perintah Brian dari pada haris menjilat kaki Vince."
Sepertinya Jhony sekarang sepenuhnya sudah sangat setia dengan Brian. Bagaimanapun Brian jauh lebih baik dari Vince, walaupun ada kemiripan diantara mereka.
Yaitu sama-sama kejam!
...
Di dalam mobil Zoya terus meraba semua benda yang ada di sana, dia bertingkah seperti anak kecil sekarang. Semua yang dia lihat tampak begitu menyenangkan baginya.
__ADS_1
Brian pun mendengus melihat itu, namun sesekali dia malah tersenyum saat melihat Zoya menaruh sebuah pulpen di atas moncongnya.
Imut sekali!
"Kenapa kau tersenyum." Zoya berkata, kemudian pulpen tadi pun jatuh ke bawah.
"Heh, bukan apa-apa."
"Hmm~" Zoya memanyunkan bibirnya, kemudian mencoba menggapai pulpen yang jatuh tadi.
"Hei apa ini?" bukannya meraih pulpen tadi, Zoya malah mendapatkan benda lain.
Benda itu berwarna merah dan tampak seperti balon, ukurannya juga hanya sebesar jempol.
"Aromanya seperti strawberry."
Zoya yang sangat penasaran mulai hendak memasukan benda itu kedalam mulutnya dan mencoba untuk meniupnya.
Tapi seketika Brian langsung merampas benda itu dari Zoya.
"Berikan! Ini bukan mainan!" seru Brian dan langsung membuang keluar jendela benda yang sering disebut orang sebagai tisu magic itu.
Sial kenapa Jhony menyimpan benda semacam itu di dalam mobilnya. umpat Brian.
"Huh, padahal aku hanya ingin meniupnya." lirih Zoya, dia mulai merengek seperti anak kecil.
Brian hanya bisa kebingungan melihat Zoya yang saat ini semakin aneh saja. Kalau dia dalam keadaan sadar saat ini, dia mungkin tidak mau memegang benda seperti itu.
Menjijikan!
Saat mereka sampai di rumah, Brian sengaja membuka pintu secara perlahan agar tidak membangunkan orang-orang. Dia pun mulai masuk kedalam sambil menggendong Zoya yang sudah tertidur di pelukannya.
Brian melangkah perlahan agar tidak menimbulkan suara. Jika ibunya Zoya tahu, dan melihat keadaan putrinya yang saat ini. Maka dia pasti akan sangat terkejut, dan bertanya-tanya.
Namun seperti biasanya, saat sedang tidur Zoya selalu saja mengigau hal yang aneh-aneh. Bahkan saat ini dia mengigau lebih parah lagi, sesekali dia bahkan mencoba meraih wajah Brian untuk menciumnya.
Sepertinya obat itu pun berpengaruh pada mimpinya.
Di dalam kamar, Brian membaringkan Zoya secara perlahan. Dia mulai menatap wajah mungil itu dengan dalam.
Tampak sangat mempesona.
Ingin sekali Brian rasanya mencubit pipi itu.
Tapi dia langsung membuang pikiran itu, dia mulai berbalik hendak pergi. Namun saat dia beranjak pergi tiba-tiba saja Zoya terbangun dan malah memeluk perutnya dengan erat dari belakang.
"Jangan pergi Swaety." lirihnya.
Dia pasti sedang memimpikan si Teddy. cetus Brian dalam hati.
Sontak Brian pun langsung mencari-cari dan mengambil boneka beruang milik Zoya kemudian memberikannya. Sejenak Brian menatap boneka beruang itu.
Apa yang terjadi denganmu Teddy, apa si cerewet ini sudah memutilasi dirimu saat dia tidur.
Brian benar-benar terkejut melihat keadaan boneka itu karena tidak seperti sebelumnya. Dia mengira kalau Zoya pasti sudah menghancurkannya saat dia tidur.
Tapi Brian salah, boneka itu bonyok karena ulah Zoya yang tadi siang marah-marah karena merasa cemburu pada Brian.
"Ini, peluk saja Teddy mu ini! Sekarang lepaskan aku." Brian tetap memberikan boneka buluk itu pada Zoya.
"Ih, apaan sih? Aku mau meluk kamu bukan boneka jelek ini!"
__ADS_1
Sontak Brian langsung memasang ekspresi terkejut saat melihat Zoya melempar boneka itu ke lantai.
Sekarang malah dirinya sebagai ganti boneka tadi, tubuhnya pun langsung di tarik ke kasur sebagai bahan pelukan Zoya.