
"Brian awas..." teriak Zoya.
Kedua preman yang lain langsung bergerak hendak menyerang Brian. Tapi dengan lihai Brian menghindari serangan dari kedua preman itu dan menggunakan tubuh preman yang satu lagi sebagai tameng.
Mereka tidak bisa mendaratkan pukulan kepada Brian, yang ada malahan mereka semua di permainkan olehnya. Brian saling membenturkan kepala mereka. Dan juga membuat mereka saling pukul satu sama lain.
Zoya benar-benar tidak bisa percaya dengan apa yang dia lihat ini. Brian mampu melawan ketiga preman itu dengan mudah, dia bahkan juga mempermainkan mereka.
Tidak lama lift pun kembali menyala, dan begitu saat pintu lift terbuka ketiga preman tadi langsung jatuh tersungkur di depan pintu. Beberapa orang yang sudah menunggu di depan lift terkesiap melihat pemandangan itu. Mereka sangat terkejut dan mulai menatap Brian.
"Ayo lari, dia benar-benar kuat." ucap para preman itu sambil mencoba untuk bangkit dan segera kabur dari sana.
Sementara itu Brian terlihat masih sangat kalem sambil mengeluarkan sapu tangannya. Kemudian dia berjalan keluar melewati kerumunan orang-orang yang terus memperhatikannya.
Mereka semua tercengang melihat Brian, dan saat mereka melihat kedalam lift lagi, ada Zoya yang tersenyum dan melambaikan tangan pada semua orang seolah-olah tidak ada kejadian.
Zoya kemudian bergegas mengejar Brian, "Tuan muda, aku tahu kau pandai berkelahi tapi tadi itu sangat luar biasa." ucap Zoya dengan penuh kagum.
Brian tidak menjawab dan melirik Zoya dengan acuh tak acuh.
"Apa yang aku lihat tadi, itu seperti adegan di film action saja."
"Kau terlalu berlebihan, aku tidak melakukan apapun, mereka lah yang saling pukul." ucap Brian dengan ekspresi datar.
Mata Zoya berbinar menatap tuan mudanya itu, dia tidak menyangka kalau Brian lebih hebat dari yang dia bayangkan. Padahal Brian tadi sengaja tidak melakukan perlawanan langsung kepada preman-preman tadi.
Dia sengaja membuat para preman itu saling pukul satu sama lain karena Zoya ada disana. Jika tidak para preman itu tadi pasti benar-benar keluar dari lift dengan tangan yang patah.
Tidak lama mereka berjalan di Mall, akhirnya Brian menemukan toko brand kesukaannya. Mereka pun memasuki toko itu dan disambut dengan sangat sopan oleh para pegawainya. Namun sambutan itu hanya untuk Brian saja, terlihat seorang pegawai wanita yang bertubuh ramping langsung mendekati Brian seperti semut yang menemukan gula.
Zoya pun hanya bisa mendengus dan memanyunkan bibirnya melihat cara pegawai itu memperlakukan Brian.
__ADS_1
"Silakan tuan, anda bisa memilih mana yang anda sukai." ucap pegawai itu dengan sangat ramah, dia tampak sangat terpesona melihat ketampanan Brian.
"Carikan aku sebuah kaos yang nyaman." seru Brian.
Pegawai toko itu mulai langsung mencarikan pakaian untuk Brian, sementara itu Zoya mengambil kursi untuk duduk dan terus memantau.
"Bagaimana dengan yang ini tuan, kainnya lembut dan modelnya juga sangat simpel."
"Bagus tapi aku tidak suka warnanya..."
Ternyata tuan muda arogan ini pilih-pilih juga, kalau begini pasti akan memakan waktu yang lama. gumam Zoya sambil duduk dengan menopang dagunya.
Brian kemudian tak sengaja melirik kearah Zoya, dia tidak suka melihat ekspresi wajah Zoya yang terlihat masam begitu. Kemudian Brian langsung menjentikkan jari pada dua orang pegawai yang sedang asik mengobrol dari tadi.
"Hei, kalian berdua dari pada bergosip terus dan makan gaji buta, lebih baik kalian carikan sesuatu yang cocok untuk dia." seru Brian sembari menunjuk kearah Zoya yang sedang duduk.
Sontak Zoya pun melirik ke kanan dan ke kiri, "Siapa, aku? Tidak tuan muda, aku tidak mau apapun."
Zoya pun mau tak mau menuruti perintah tuan mudanya. Padahal dia memang sama sekali tidak berniat untuk membeli apapun.
Setelah beberapa saat kemudian, Zoya keluar dari ruang ganti. Brian langsung menaiki salah satu alisnya saat menatap Zoya mengenakan sebuah dress panjang yang indah. Dress itu terlihat sangat cocok dengan kepribadian Zoya. Dia tampak semakin cantik, bahkan lebih cantik dari ketiga pegawai toko itu.
"Lumayan," ucap Brian sambil mengangguk ringan.
Seketika wajah Zoya merona, jantungnya berdegup kencang. Ini pertama kalinya dia mendapat pujian dari Brian.
"Kau tampak lebih baik, setidaknya lebih baik dari dia." ucap Brian sambil menunjuk kearah patung peraga.
Seketika raut wajah Zoya langsung berubah mendengar ledekan Brian tadi. Bisa-bisanya dia membandingkan Zoya dengan sebuah patung peraga.
"Kau membandingkan aku dengan patung, lebih baik aku ganti lagi." ucap Zoya sambil hendak berbalik pergi.
__ADS_1
Tapi seketika Brian mencekal lengannya dan berkata, "Jangan diganti,"
Sontak Zoya terhenti dan melirik mata Brian dengan penuh arti, sekali lagi jantungnya berdegup kencang seperti piston mobil nascar yang melaju dengan kecepatan 200km/jam.
Para pegawai yang melihat adegan itu juga merasa sedikit iri, menurut mereka Zoya adalah gadis yang sangat beruntung.
"Pakaian ini cocok untukmu, kau tidak perlu menggantinya lagi. Lagi pula untuk apa kau memakai bajumu yang basah itu lagi." ujar Brian dengan ekspresi yang agak sedikit lembut.
Zoya tersenyum manis dan mulai berkata, "Tapi dress ini sangat mahal, aku..."
"Ssst... kemasi saja pakaian lamamu."
Brian menutup bibir Zoya dengan jari telunjuk seperti biasanya. Kemudian dia langsung pergi ke kasir meninggalkan Zoya yang masih diam mematung.
Kenapa dia tiba-tiba sebaik ini, aku benar-benar tidak bisa mengerti dirimu tuan muda, kau adalah pria yang sangat sulit ditebak.
Setelah berbelanja beberapa pakaian, Brian dan Zoya menuju sebuah restoran yang ada di mall itu. Biasanya seorang pria yang membawa belanjaan saat berjalan di mall, tapi kali ini tidak. Zoya berjalan sambil menginting dua bungkusan belanja di kedua tangannya.
Namun dia tidak merasa keberatan sama sekali, karena Brian sudah membelikannya sebuah pakaian yang sangat bagus. Hatinya saat ini sangat gembira, lagi pula Brian kan memang tuan mudanya. Jadi sudah seharusnya dia yang membawakan bahan belanjaan.
"Aku lapar, kau juga bisa pesan apa kau mau." ucap Brian dengan santai.
"Aku tidak lapar kok tuan muda," ucap Zoya dengan lembut, jujur saja dia merasa malu untuk memesan makanan karena Brian barusan membelikannya pakaian hampir tiga juta.
"Kau yakin? Aku dengar mie di restoran ini sangat terkenal di seluruh Neosantara." Brian mencoba menggoda Zoya.
"Benarkah? Mas, aku pesan mienya satu, tidak dua porsi." Zoya menggebrak meja dan langsung berteriak pada mas-mas pelayan yang baru saja mau datang.
Brian tersenyum melihat itu, dia tahu Zoya bakal tidak tahan kalau digoda dengan mie. Melihat sikap Zoya tadi, Brian sama sekali tidak merasa malu padahal orang-orang memperhatikan mereka. Justru hal itulah yang membuat Brian tertarik pada Zoya, dia tidak seperti gadis lain yang mementingkan image mereka.
Pesanan mereka pun tiba, dan tanpa ragu Zoya mulai menyantapnya dengan lahap. Mereka terlihat begitu menikmati makanan. Tapi tak lama seorang wanita tiba-tiba muncul dan memanggil Brian.
__ADS_1
"Brian!"